Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Orang -orang sekitar
Pagi ini Nayra bangun dengan perasaan yang lebih berat dibanding hari-hari sebelumnya, bukan karena tubuhnya lelah, melainkan karena pikirannya tidak benar-benar beristirahat sejak percakapan kemarin tentang “perbedaan dunia” yang terus berputar di kepalanya, membuatnya duduk lebih lama di tepi ranjang tanpa langsung bergerak, hanya menatap kosong ke arah jendela.
Ia tidak langsung mengambil ponselnya.Untuk pertama kalinya.
“Tumben.” Suara Sinta terdengar pelan.
Nayra menoleh. “Apanya?”
“Gak langsung cek HP.”
Nayra terdiam sejenak. Lalu menghela napas. “Aku lagi mikir.”
Sinta bangun perlahan. “Mikirin dia?”
Nayra tidak menjawab. Namun ekspresinya sudah cukup.
“Na…”
“Iya?”
"Kamu mulai capek ya?”
Nayra menunduk. “…iya.”
Sunyi beberapa detik. Lalu—
Ponselnya bergetar. Refleks. Nayra langsung menoleh.
Sinta tersenyum tipis. “Refleks banget.”
Nayra meraih ponselnya. Layar menyala.
“Udah bangun?”
Nayra menatap pesan itu lebih lama dari biasanya. Tidak langsung membalas.
“Kenapa diem?” tanya Sinta.
Nayra menggigit bibir bawahnya. “Aku bingung harus jawab apa.”
Sinta mengernyit. “Loh? Biasanya jawab aja.”
Nayra menghela napas. “Aku takut… kalau aku terus jawab, Aku makin kebawa.”
Sinta menatapnya lebih serius. “Kamu gak harus jawab cepat.”
Nayra mengangguk pelan. Beberapa detik. Akhirnya ia mengetik.
“Udah.”
Balasan datang seperti biasa. Cepat.
“Sarapan.”
Nayra menutup mata sebentar. “Dia gak berubah ya,” gumamnya.
Sinta tersenyum kecil. “Yang berubah kamu.”
Nayra terdiam. Dan kali ini—
Ia tidak menyangkal.
Di kampus, suasana terasa berbeda. Lebih terasa. Lebih nyata. Beberapa mahasiswa benar-benar memperhatikan saat Nayra lewat. Tidak lagi sekadar lirikan. Tapi juga bisikan yang mulai terdengar jelas.
“Dia ya yang sama itu…”
“Iya, yang kemarin dijemput…”
Nayra mempercepat langkahnya. “Denger?” bisiknya pelan.
Sinta mengangguk. “Denger.”
“Aku gak nyaman…”
Sinta menyenggol pelan. “Fokus aja ke depan.”
Mereka sampai di taman. Namun kali ini Nayra tidak langsung duduk santai. Ia terlihat gelisah. “Aku gak suka kayak gini,” ucapnya.
Sinta duduk di depannya. “Ini baru awal, Na.”
Nayra langsung menatap. “Maksud mu?”
Sinta menarik napas. “Kalau kamu tetap dekat sama dia… ini bakal makin kelihatan.”
Nayra menunduk. “Aku gak siap.”
Sinta mengangguk. “Aku tahu.”
“Tapi Aku juga gak bisa… ninggalin.” Kalimat itu keluar pelan. Namun jujur.
Sinta tersenyum tipis. “Itu masalahnya.”
Ponsel Nayra bergetar lagi. Ia langsung melihat. “Di kampus?”
Nayra menatap pesan itu.
Sinta bersandar. “Jawab?”
Nayra mengangguk pelan. “Iya.”
Balasan datang. “Aku ke sana.”
Nayra langsung menutup matanya sebentar. “Lagi…”
Sinta tersenyum. “Ya udah, hadapi.”
Beberapa menit kemudian, Arsen datang. Namun kali ini, Ia tidak sendiri. Seorang wanita berjalan di sampingnya. Berpakaian rapi. Tinggi. Percaya diri.
Langkah Nayra langsung berhenti. “Itu siapa…” bisiknya.
Sinta ikut melihat. “Kayaknya… bukan sembarang orang.”
Arsen berhenti di depan mereka. “Nayra.”
Nada suaranya tetap sama. Tenang.
Nayra mengangguk. Namun matanya sempat melirik ke wanita di samping Arsen.
Wanita itu tersenyum tipis.
“Kenalin,” kata Arsen, "Dia Livia.”
Wanita itu menyela halus sambil mengulurkan tangan.
Nayra sedikit ragu. Namun tetap menyambut. “Nayra.”
Livia menatapnya dari atas ke bawah sekilas. Senyumnya tetap ada. Namun terasa… berbeda.
“Jadi ini Nayra,” ucapnya pelan. Kalimat itu terdengar biasa.
Namun ada sesuatu yang membuat Nayra tidak nyaman.
“Temen kampus?” tanya Livia.
Nayra mengangguk. “Iya.”
Livia tersenyum tipis lagi. “Masih kuliah?”
“Iya.”
“Semester berapa?”
“Lima.”
Livia mengangguk pelan. “Masih muda ya.”
Sunyi.
Sinta langsung melirik Nayra.
Nayra hanya tersenyum tipis.
Arsen memotong. “Kita makan dulu.”
Nayra langsung menggeleng. “Aku udah makan.”
Arsen menatapnya. “Barusan?”
Nayra mengangguk. “Iya.”
Arsen tidak langsung membalas.
Livia menyela dengan suara halus, “Kalau lagi sibuk, kita gak usah ganggu.”
Kalimat itu terdengar sopan. Namun— Ada jarak yang terasa.
Nayra menunduk sedikit. “Aku ada kelas,” ucapnya.
Arsen mengangguk. “Iya.” Tidak ada paksaan. Tidak ada ajakan.
Dan justru itu, yang terasa aneh.bSaat Arsen dan Livia pergi. Nayra tetap diam beberapa detik.
“Na…” panggil Sinta pelan.
Nayra menatap ke depan. “Aku gak suka.”
“Yang mana?”
“Cara dia lihat ku.”
Sinta mengangguk. “Iya… aku juga ngerasa.”
Nayra menggenggam tangannya, “aku keliatan kecil banget ya…”
Sinta langsung menggeleng, “jangan gitu.”
“Tapi itu kenyataannya.”
Sinta menatapnya serius, “bukan kamu yang kecil. Tapi dunianya yang beda.”
Nayra terdiam.Kalimat itu, Kembali.
Siang hari. Nayra tidak benar-benar fokus di kelas. Pikirannya terus kembali ke satu hal, tentang Wanita itu. Cara dia bicara, cara dia melihat dan cara Arsen… tetap tenang di sampingnya.
Setelah kelas selesai, ponselnya bergetar dan itu pesan dari Arsen. “Udah selesai?”
Nayra menatap layar, beberapa detik, lalu membalas.“Udah.”
Balasan datang. “Aku jemput.”
Nayra langsung menatap layar lebih lama.
“Kamu mau dijemput?” tanya Sinta.
Nayra menghela napas,"…iya.”
Sore hari, di dalam mobil, suasana berbeda. Lebih sunyi dari biasanya.
Arsen fokus menyetir dan Nayra menatap ke depan.
Seberapa menit berlalu tanpa suara.Akhirnya, Nayra yang membuka. “Itu siapa?”
Arsen melirik sekilas. “Rekan kerja.”
“Dekat?”
“Lumayan.”
Sunyi lagi. Nayra menarik napas. “Dia keliatan… cocok sama dunia mu.”
Arsen tidak langsung menjawab, “Dan aku gak.”
Mobil tetap berjalan. Arsen akhirnya berkata pelan, “Aku gak bandingin.”
Nayra tersenyum kecil, “Tapi dunia mu membandingkan.” “kamu juga lihat kan tadi?”
Arsen tidak menyangkal. “Iya.”
“Dan kamu tetap… biasa aja.”
Arsen menarik napas, “Aku terbiasa sama itu.”
Nayra menoleh, “Tapi aku enggak.”
Kalimat itu keluar pelan dan terasa berat.
Mobil berhenti di depan kos dan Nayra tidak langsung turun. “Arsen…”
“Iya?”
Nayra menatap ke depan. “Aku mulai ngerti.”
"Mengerti apa?”
Nayra menarik napas panjang. “Kenapa aku takut.” Sunyi sejenak, “Karena aku masuk ke dunia yang bukan punyaku. Dan aku gak tahu… Aku bisa bertahan atau enggak.”
Beberapa detik hening.
Arsen akhirnya berkata, “aku gak minta kamu langsung cocok. Tapi juga gak mau kamu pergi.”
Nayra mengangguk kecil, alu membuka pintu. Sebelum turun, ia berkata pelan, “Aku masih di sini.”
Arsen mengangguk, "itu cukup.”
Nayra turun, langkahnya pelan. Namun hatinya, tidak lagi sama.
Karena sekarang, Ia tidak hanya menghadapi Arsen.Tapi juga dunia di sekitarnya dan orang-orang di dalamnya.
To be continued 🙂🙂🙂