Di sebuah kabupaten kecil di provinsi Jawa Barat, di Negara Nusantara, Arkan Wijaya baru saja lulus SMA, namun saat pulang dia mendapati rumahnya kosong, kedua orang tuanya tidak ada, dia mencari kesana kemari namun tidak ada kabar tentang mereka, hanya menemukan secarik kertas bertuliskan "Arkan kamu sudah dewasa, carilah jalanmu sendiri, kami tidak bisa terus menjagamu, dan ada kewajiban yang harus kami lakukan, suatu saat nanti mungkin kamu akan mengerti, maafkan kami Arkan." Dan di samping kertas itu ada cincin emas berbentuk kepala dan permata kecil berkilau di kedua matanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon suryadharma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 Singgasana Hitam di Jakarta
Jakarta menyambut mereka dengan hiruk-pikuk yang penuh energi gelap. Arkan dan Sela tiba di sebuah apartemen mewah milik keluarga Juanda di kawasan Sudirman pada sore hari. Juanda sudah menunggu di ruang tamu bersama dua orang pengawal berpakaian hitam.
“Akhirnya kalian datang,” kata Juanda sambil memeluk putrinya sekilas. Matanya langsung tertuju pada Arkan. “Kau sudah membunuh anak buah Naga Hitam di Salak. Berita cepat menyebar di kalangan bawah tanah.”
Arkan duduk santai di sofa kulit. Tubuh kekarnya terlihat semakin dominan setelah breakthrough terakhir. “Bagus. Berarti mereka tahu aku datang. Om punya informasi lokasi markas utama mereka?”
Juanda meletakkan tablet di meja. Layar menampilkan peta Jakarta dan sekitarnya. “Markas resmi mereka ada di gudang pelabuhan Tanjung Priok. Tapi markas sebenarnya berada di bawah tanah sebuah klub malam elit bernama ‘Black Dragon Palace’ di kawasan Thamrin. Itu tempat berkumpulnya kultivator gelap dan pejabat korup.”
Sela yang duduk di samping Arkan langsung berkata tegas, “Kita serang malam ini juga.”
Arkan mengangguk setuju. “Tidak ada gunanya menunggu. Mereka sudah ancam orang tuaku.”
Malam pukul 11, mereka bergerak. Arkan memakai jaket hitam sederhana, Sela mengenakan hoodie dan celana training yang tetap menonjolkan tubuh seksi dan cantiknya. Juanda menyediakan mobil SUV hitam tanpa logo dan tiga pengawal tingkat rendah.
Black Dragon Palace terlihat mewah dari luar — lampu neon merah-hitam, mobil-mobil mewah parkir di depan. Arkan dan Sela masuk sebagai tamu biasa setelah menyogok satpam dengan beberapa lembar uang besar.
Di dalam, musik keras berdentum. Para tamu — pengusaha, selebriti, dan kultivator — bergoyang di lantai dansa. Arkan merasakan banyak aura Qi di sekitar. Ada beberapa orang di tingkat Qi Condensation menengah.
Mereka turun ke basement melalui lift khusus yang dijaga dua pria kekar. Begitu pintu lift terbuka, suasana langsung berubah. Koridor panjang dengan lampu redup, dinding penuh simbol naga hitam.
Dua penjaga langsung menghadang. “Kalian siapa?”
Arkan tidak jawab. Ia melesat maju menggunakan Naga Step. Dua pukulan telak membuat keduanya pingsan sebelum sempat berteriak. Sela mengambil kartu akses dari jas mereka.
Semakin dalam mereka masuk, semakin banyak ruangan penyiksaan dan sel tahanan. Arkan membuka satu sel dan menemukan beberapa tawanan yang lemah.
“Orang tuaku ada di sini?” tanyanya pada seorang tawanan tua.
“Orang baru dibawa ke ruang utama… lantai paling bawah,” jawab pria itu lemah.
Arkan memberikan dua pil penyembuhan yang ia buat sebelumnya. “Bertahanlah.”
Mereka terus turun. Di lantai dasar, sebuah aula besar terbuka. Di tengahnya ada singgasana hitam dari batu obsidian. Seorang pria berusia 40-an bertubuh besar duduk di sana. Aura Core Formation awal terpancar kuat darinya. Di sampingnya berdiri dua orang tua yang tangan dan kakinya dirantai — orang tua Arkan.
“Ayah… Ibu!” Arkan suaranya bergetar tapi cepat terkendali.
Pemimpin Naga Hitam tertawa kasar. “Pewaris Naga Emas akhirnya muncul juga. Serahkan cincin itu, dan aku bebaskan mereka.”
Arkan melangkah maju. Matanya dingin. “Lepaskan mereka dulu. Atau aku habisi kalian semua malam ini.”
Pertarungan meledak.
Dua pengawal Core Formation menyerang sekaligus. Arkan memanggil Sword Qi penuh. Naga emas kecil muncul di belakangnya. Pedang emas menebas cepat, memaksa kedua lawan mundur.
Sela melindungi belakang Arkan dengan formasi pertahanan sederhana yang baru ia pelajari. Ia juga melemparkan beberapa pil peledak rendah yang Arkan buat, mengacaukan formasi musuh.
Arkan melompat tinggi. “Teknik Tubuh Naga – Sisik Emas!”
Kulitnya mengeras sempurna. Ia menghadapi pemimpin Naga Hitam langsung. Tinju mereka bertemu. Aula berguncang. Arkan terdorong mundur beberapa meter, tapi lawannya juga mundur dengan telapak tangan berdarah.
“Kau hanya tingkat 3, tapi kekuatanmu sudah mendekati tingkat 6!” bentak pemimpin itu marah.
Arkan tersenyum dingin. “Ini baru pemanasan.”
Ia menggabungkan Naga Step dan Sword Qi. Gerakannya semakin cepat. Dalam sepuluh serangan, ia berhasil melukai bahu lawan. Sela membantu dengan menyerang dua pengawal lain menggunakan energi yang Arkan berikan, membuat mereka lengah.
Juanda dan timnya akhirnya masuk dengan bala bantuan setelah mendengar keributan. Mereka mengurus penjaga kelas rendah.
Dengan amarah memuncak, Arkan melepaskan jurus baru yang baru ia pahami.
**Naga Emas Mengamuk!**
Bayangan naga emas raksasa muncul di atas kepalanya. Serangan itu menghantam pemimpin Naga Hitam telak. Pria itu terbang dan menabrak singgasana hingga hancur. Darah menyembur dari mulutnya.
Arkan mendekat, mencengkeram lehernya. “Di mana orang tuaku yang sebenarnya? Yang ini hanya umpan!”
Pemimpin itu tertawa lemah. “Kau… terlambat. Mereka sudah dibawa ke Pulau Naga… milik Sekte Naga Hitam sejati. Cincin itu… akan jadi milik kami.”
Arkan mematahkan lehernya tanpa ragu. Ia berlari ke orang tua palsu itu — ternyata dua orang yang dirias mirip. Bukan orang tuanya yang asli.
Amarah Arkan meledak. Dantiannya berputar ganas. Di saat itu, ia berhasil breakthrough ke Qi Condensation Tingkat 4.
Sela memeluknya dari belakang. “Kita akan cari mereka. Bersama.”
Arkan mengangguk. Ia mengambil token kepemimpinan dari mayat pemimpin Naga Hitam dan sebuah peta rahasia yang menunjukkan lokasi “Pulau Naga” di perairan timur Indonesia.
Malam itu, mereka membersihkan markas Black Viper. Juanda mendapatkan banyak bukti korupsi yang bisa ia gunakan untuk memperkuat bisnisnya.
Kembali ke apartemen, Arkan mandi darah dan keringat. Sela menunggunya di kamar dengan gaun tipis. Gadis itu memeluknya erat begitu Arkan keluar kamar mandi.
“Kamu semakin kuat… dan semakin menakutkan,” bisik Sela sambil mencium lehernya.
Arkan mengangkat tubuh Sela dan melemparkannya ke ranjang. “Kamu suka yang menakutkan, kan?”
Malam itu mereka menghabiskan waktu untuk saling menguatkan. Naga Qi Arkan mengalir deras ke tubuh Sela saat mereka menyatu, membantu gadis itu naik ke tingkat Qi Condensation Tingkat 1.
Pagi harinya, Arkan berdiri di balkon apartemen, menatap kota Jakarta yang sibuk.
“Pulau Naga… Sekte Naga Hitam… Aku akan datang.”
Juanda mendekat. “Aku akan siapkan kapal dan tim. Tapi kau butuh sekutu yang lebih kuat.”
Arkan mengangguk. “Saya tahu. Kita akan bangun kekuatan sendiri.”
Sela keluar bergabung, memeluk pinggang Arkan dari samping. “Kita bertiga mulai hari ini.”
Arkan tersenyum. Naga di dalam dadanya meraung penuh semangat.
Perjalanan menuju Pulau Naga baru saja dimulai. Musuh yang lebih besar, sekte kuno, harta karun, dan rahasia asal-usul cincin Naga Emas menanti di depan.
Pewaris Naga Emas tidak akan berhenti sampai ia menjadi yang terkuat di Nusantara.
cerita bagus dan menarik, kak.
semangat🐳