"Bismillah… percaya sama Mas.”
Kalimat itu membawa Aira pada pernikahan yang tak pernah ia bayangkan. Hamil enam bulan membuatnya harus menikah dengan Dika, pria yang ia cintai selama tiga tahun. Namun bagi Aira, pernikahan itu terasa seperti tanggung jawab, bukan cinta.
Belum sempat bahagia, Aira harus menghadapi penolakan keluarga Dika, ibu mertua yang syok hingga pingsan, dan rahasia besar yang belum diketahui ayahnya.
Di tengah tekanan keluarga dan hadirnya masa lalu Dika, Aira mulai bertanya… apakah ia benar-benar dicintai, atau hanya diperjuangkan demi anak dalam kandungannya?
Satu rahasia, sejuta luka. Dan menjadi istri Dika mungkin adalah luka terbesar bagi Aira.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon biru🩵, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18
Seharian ini aku memaksa diriku untuk tetap tegak. Aku keluar masuk dapur, mengangkat baki berisi jajanan, dan membantu menata piring-piring meskipun pinggangku mulai terasa nyeri dan napas sesekali terasa sesak. Aku memutuskan untuk menulikan telinga dari setiap sindiran halus maupun bisikan kasar para tetangga yang mengerubungi dapur. Setiap kali aku lewat, percakapan mereka mendadak berhenti, digantikan oleh lirikan mata yang tajam menuju perutku, lalu disusul oleh tawa kecil yang sarat akan penghinaan.
"Eh, Aira makin subur ya sekarang, pipinya tembem," celetuk salah satu ibu-ibu sembari menyenggol lengan temannya.
Aku hanya diam, terus menunduk tanpa membalas sepatah kata pun. Aku tahu, ini adalah konsekuensi dari perbuatanku. Rasa panas menjalar di pipiku, bukan karena hawa panas dari tungku dapur, melainkan karena rasa malu yang membakar hingga ke tulang.
Pikiranku mendadak terbang ke beberapa bulan lalu. Saat itu, rumah ini sempat didatangi oleh beberapa laki-laki baik dari desa sebelah yang datang untuk melamarku secara terhormat. Saat itu, aku menolak mereka semua dengan kepala tegak. Aku selalu beralasan, "Aku mau fokus bekerja dulu, mau nabung buat kuliah, mau membahagiakan Bapak."
Kini, kata-kata itu terasa seperti senjata yang berbalik menusukku. Aku bisa membayangkan apa yang mereka gunjingkan sekarang. "Oalah, pantesan dulu nolak lamaran orang baik-baik, ternyata sudah punya 'simpanan' sampai jadi begini," atau "Gayanya mau kuliah, ternyata malah sudah isi duluan."
Penolakan-penolakan sok suci yang kulakukan dulu kini menjadi bahan tertawaan yang paling menggiurkan bagi mereka. Aku telah menghancurkan citra diriku sendiri yang kususun dengan rapi selama bertahun-tahun. Kebanggaan Ibu dan Bapak yang dulu selalu membela penolakanku karena percaya pada niat muliaku, kini telah runtuh tak bersisa.
Sore itu, saat aku sedang mencuci tumpukan nampan di belakang rumah, aku melihat Bapak dari kejauhan. Beliau sedang duduk di teras samping, menatap kosong ke arah kebun. Tidak ada lagi senyum bangga saat beliau bercerita tentang aku kepada para tamu. Bapak lebih banyak diam, merokok satu demi satu seolah sedang membakar rasa kecewanya yang tak bertepi.
"Ra, sudah... istirahat di dalam saja. Biar Bulek yang lanjutin," ucap Mbah Neni yang rupanya sedari tadi memerhatikanku. Beliau mengambil alih cucian piring dariku dengan lembut.
Aku hanya bisa mengangguk lemah. Saat aku berjalan melewati kerumunan tetangga untuk kembali ke kamar, aku merasa seperti sedang berjalan di atas panggung eksekusi. Aku telah menjadi buah bibir satu desa, dan besok adalah puncak dari segala kehancuran itu. Aku hanya berharap, setelah akad nikah besok, mulut-mulut tajam itu akan sedikit mereda, meskipun aku tahu noda ini akan membekas selamanya dalam sejarah hidupku di kampung ini.
Malam semakin larut, menyisakan kesunyian yang mencekam di dalam rumah. Suara hiruk-pikuk tetangga di luar mulai mereda, menyisakan obrolan samar para lelaki yang berjaga di teras depan. Aku masih terjaga di dalam kamar, menatap langit-langit dengan perasaan yang berkecamuk. Detak jantungku seolah berpacu dengan detik jam dinding, mengingatkanku bahwa waktu sebagai "anak gadis" Bapak tinggal hitungan jam.
Dengan langkah yang sangat berat dan tangan yang bergetar, aku bangkit dari tempat tidur. Aku merapikan hijabku, lalu melangkah keluar kamar. Di ruang tengah, aku melihat sosok Bapak sedang duduk sendirian di depan meja kayu. Lampu ruangan yang temaram membuat bayangannya tampak begitu lelah dan rapuh. Beliau tidak sedang melakukan apa-apa, hanya menatap kosong ke arah segelas kopi yang sudah dingin dan sebuah asbak yang penuh dengan puntung rokok.
Aku berjalan mendekat, setiap langkahku terasa seperti menyeret beban berton-ton. Saat sudah berada di depan Bapak, aku langsung bersimpuh dan bersujud di kakinya. Tangisku yang sejak tadi kutahan kini pecah seketika. Dinginnya lantai tegel terasa kontras dengan panasnya air mata yang membasahi tanganku yang memeluk kaki Bapak yang kasar.
"Pak... maafkan Aira..." bisikku di sela isak tangis yang menyesakkan dada. "Maafkan Aira yang sudah menghancurkan harga diri Bapak. Maafkan Aira yang sudah membunuh harapan dan kebanggaan Bapak..."
Bapak tidak langsung menjawab. Aku bisa merasakan kaki Bapak sedikit bergetar. Hening yang tercipta di antara kami terasa begitu menyiksa. Aku merasa menjadi manusia paling hina karena telah mengkhianati pria yang rela bertahun-tahun hidup di negeri orang hanya untuk memastikan aku bisa memiliki masa depan yang layak.
"Ampuni Aira, Pak... Aira tahu Aira berdosa besar. Aira siap jika Bapak membenci Aira selamanya, tapi tolong... ampuni kesalahan Aira malam ini," pintaku lagi dengan suara yang nyaris hilang karena sesak.
Aku merasakan tangan Bapak yang kasar perlahan menyentuh kepalaku. Beliau tidak menarik kakinya, namun beliau juga tidak langsung membantuku berdiri. Napas Bapak terdengar berat dan tersengal, seolah beliau sedang berusaha menelan seluruh rasa kecewa yang menyumbat tenggorokannya.
"Nduk..." suara Bapak terdengar sangat rendah dan serak. "Bapak bekerja di sana bukan untuk uang. Bapak bekerja di sana supaya kamu punya kehormatan, supaya kamu tidak dipandang rendah oleh orang lain. Tapi sekarang... kamu sendiri yang membuang kehormatan itu ke lumpur."
Kalimat Bapak terasa lebih tajam dari sembilu. Aku hanya bisa semakin menekan wajahku ke kaki Bapak, menangis sejadi-jadinya.
"Bapak sudah memaafkanmu, karena bagaimanapun kamu adalah darah daging Bapak," lanjut Bapak, suaranya mulai pecah oleh tangis yang ia tahan sejak kedatangannya. "Tapi ingat satu hal, Ra... maaf Bapak tidak bisa mengembalikan kepercayaan yang sudah hilang. Besok, saat Bapak menjabat tangan Dika untuk menyerahkanmu, Bapak sedang menyerahkan kegagalan Bapak dalam menjagamu."
Mendengar itu, aku merasa duniaku benar-benar runtuh. Maaf dari Bapak ternyata bukan berarti luka itu sembuh; itu adalah maaf yang penuh dengan kepasrahan atas mimpi-mimpi yang telah mati. Malam itu, di bawah temaram lampu ruang tengah, aku menyadari bahwa meskipun besok aku sah menjadi istri orang, aku telah kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupku: bintang di mata Bapak saat beliau menatapku.