NovelToon NovelToon
Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Assassin Reborn: Membunuh Demi Bayi Sang Taipan

Status: sedang berlangsung
Genre:Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Transmigrasi
Popularitas:5.2k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Sabrina Maureen mati sebagai pembunuh bayaran.

Dia bangun… sebagai wanita hamil yang sedang sekarat.

Di dalam tubuh Sabrina Tanjung, pewaris konglomerat yang disekap kakaknya sendiri, dia tidak diberi waktu untuk memahami takdir barunya.

Bayinya lahir di lantai dingin. Darah mengalir. Dan kematian menunggu di depan pintu.

Tapi mereka lupa satu hal.

Dia bukan korban.

Dengan bayi di pelukannya, Sabrina melarikan diri dari neraka, hanya untuk jatuh ke tangan Adrianus Halim, sang taipan, pewaris imperium bisnis yang dingin, manipulatif, dan terbiasa mengendalikan segalanya.

Termasuk dirinya.

Adrian mengurungnya dalam pernikahan paksa.

Kakaknya menginginkan kematiannya.

Dan sindikat yang dulu ia layani… kini memburunya.

Semuanya terhubung.
Berkolaborasi untuk menghancurkannya.

Dunia mengira Sabrina akan tunduk.

Mereka salah.

Karena wanita ini pernah membunuh untuk bertahan hidup...

dan sekarang, dia punya alasan untuk menjadi lebih kejam.

Membunuh… atau kehilangan anaknya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

28. Serangan Panik

Suara gelas pecah berpadu dengan alunan orkestra. Di lantai dua, Sebastian menangis sangat keras.

Ledakan mesiu kembang api menghantam kaca jendela ballroom tanpa peringatan. Getarannya merambat lewat lantai marmer, naik menyengat telapak kaki telanjang Sabrina. Cahaya merah dan keemasan meledak beruntun di langit malam. Perayaan puncak ulang tahun Halim Group resmi dimulai.

Tamu undangan bersorak ramai. Tepuk tangan menggema memenuhi ruangan. Denting gelas sampanye yang saling beradu terdengar di setiap sudut.

Sabrina menulikan telinganya terhadap semua euforia murahan itu. Radar di kepalanya hanya menangkap satu frekuensi spesifik. Tangisan melengking yang menyobek udara dingin dari arah balkon lantai atas.

"Sabrina." Adrian menyentuh siku istrinya. "Menghadap ke jendela. Fotografer sedang mengambil gambar kita berdua."

Sabrina menepis tangan suaminya kasar. Sentuhan pria itu terasa seperti besi panas yang menempel di kulitnya.

"Sebastian menangis," ucap Sabrina. Matanya menatap lurus ke arah langit-langit ballroom.

"Itu cuma reaksi kaget karena suara ledakan kembang api." Adrian memasukkan tangannya kembali ke saku celana. Nada suaranya datar. "Tirta dan empat pengawal bersenjata menjaga pintunya rapat. Dia aman di atas sana. Berdiri di sini, jalankan tugasmu sebagai istriku."

"Tugas utamaku bernapas untuk menjaga anak itu tetap hidup."

Sabrina memutar tubuhnya seketika. Gaun sutra robeknya berdesir menyapu lantai. Peniti perak di pinggangnya bergemerincing pelan. Luka sayatan operasi di perut bawahnya berdenyut brutal merespons gerakan mendadak tersebut. Cairan hangat merembes membasahi perban di balik korsetnya. Ia mengabaikan rasa perih yang menjalar.

Insting pembunuh bayarannya terkunci pada satu target. Melindungi bayinya.

Sabrina melangkah membelah kerumunan.

"Nyonya Halim, pertunjukan kembang apinya sungguh meriah, ya?" Seorang istri direktur mencoba menghalangi jalannya. Wanita itu mengangkat gelas kristalnya sambil memasang senyum palsu.

"Minggir." Sabrina menabrak bahu wanita itu tanpa mengurangi kecepatan langkah.

Gelas di tangan wanita itu bergoyang hebat. Cairan keemasan tumpah membasahi karpet merah.

"Hei! Kasar sekali sih jadi orang!" jerit wanita itu kaget, menatap gaunnya yang terkena cipratan.

Sabrina tidak menoleh ke belakang. Telinganya terus menyaring suara tangisan Sebastian di antara rentetan dentuman kembang api. Tangisan itu makin serak. Bayi kecilnya ketakutan setengah mati. Udara dingin dari ventilasi lantai dua pasti menusuk paru-paru mungilnya. Dada Sabrina sesak. Pasokan oksigennya terputus paksa.

"Tahan istrimu, Adrian!" teriak Tante Rosalinda dari arah meja prasmanan. Wanita tua itu memukul marmer menggunakan tongkat kayunya berulang kali. "Dia mempermalukan kita semua! Berlari keluyuran di tengah acara sakral perusahaan!"

Adrian memberi isyarat dua jari pada pengawal di dekat pilar. "Hentikan dia sebelum mencapai tangga utama."

Dua pria berjas hitam bertubuh masif bergerak maju. Mereka memotong jalur lurus Sabrina.

Sabrina menghentikan langkahnya mendadak. Jaraknya dengan anak tangga pertama tinggal dua belas meter. Ia menatap wajah kedua pengawal itu bergantian. Sorot matanya sedingin lapisan es di danau beku.

"Nyonya, Tuan Halim meminta Anda kembali ke sisi beliau sekarang juga," ucap pengawal pertama. Tangannya terentang kaku memblokir jalan.

Sabrina mengambil napas panjang. Udara ballroom yang penuh kontaminasi aroma parfum, alkohol, dan napas orang asing mengisi paru-parunya. Ia membuang napas itu perlahan lewat mulut.

Di momen sepersekian detik ini, otaknya memutar kembali memori malam bersalin. Bau darah pekat. Suara mesin monitor jantung yang berdenging panjang. Tubuh Sebastian yang membiru saat pertama kali diangkat oleh perawat. Anak itu berjuang hidup sendirian di ruang bersuhu delapan belas derajat Celsius.

Kesunyian batin itu berakhir. Predator buas di dalam urat nadinya mengambil alih total kendali fisik.

"Kalian dibayar mahal untuk mati menjaga aset Halim Group," desis Sabrina. Nada suaranya rendah, langsung mengancam urat leher. "Tapi aku akan membunuh kalian berdua gratis jika berani menghalangi jalanku menjemput anakku malam ini."

Dua pengawal itu bertukar pandang bimbang. Mereka prajurit bayaran yang terlatih menghadapi ancaman senjata api jarak dekat. Tapi aura membunuh pekat yang memancar dari pori-pori wanita bergaun robek di depan mereka ini murni teror. Ini bukan amukan nyonya sosialita manja. Ini insting purba hewan buas yang siap merobek dada mereka.

"Menepi," perintah Sabrina tajam.

Pengawal pertama menelan ludah. Tangannya masih terentang meragu di udara.

Sabrina tidak memberikan kesempatan kedua. Tangan kanannya yang terbalut perban sutra putih bergerak kilat memecah udara. Ia mencengkeram paksa ibu jari pengawal itu, lalu memelintirnya ke arah bawah dengan torsi maksimal.

Bunyi tulang rawan bergeser terdengar samar.

"Argh!" Pengawal itu memundurkan tubuhnya refleks. Ia memeluk pergelangan tangannya yang mendadak lumpuh terbakar rasa sakit.

Pengawal kedua memucat. Pria itu langsung mundur tiga langkah ke belakang, membuka jalan selebar mungkin. Ia menundukkan kepala dalam-dalam, menolak melakukan kontak mata dengan sang nyonya besar.

Sabrina melanjutkan langkahnya. Irama hak sepatunya kembali menghantam lantai marmer. Tamu undangan membelah diri menjadi dua sisi. Kawanan herbivora berbalut perhiasan mahal itu mundur teratur, memberi jalan lapang untuk sang ibu singa.

Langkah Adrian terdengar berat menyusul dari belakang. Pria itu menembus kerumunan dengan rahang mengeras.

"Sabrina!" Adrian menyambar lengan kiri istrinya tepat di tengah ruangan. Cengkeramannya terlampau kuat hingga meninggalkan jejak merah di kulit pucat Sabrina. "Kau merusak skenario pestaku. Ratusan kamera jurnalis di luar sana sedang merekam bayangan kita."

Sabrina menghentikan langkah. Ia memutar tubuhnya perlahan, membiarkan lengannya tetap dicengkeram.

"Lepaskan lengan ini, Adrian."

"Kau kembali ke meja utama sekarang," perintah Adrian mutlak. "Tirta dokter anak terbaik di kota ini. Dia tahu cara menenangkan bayi menangis. Kau cuma memancing keributan yang tidak perlu."

Sabrina menatap lurus tepat di titik tengah pupil mata suaminya.

"Berapa harga saham perusahaanmu ini, Adrian?" tanya Sabrina. Suaranya tidak bergetar sama sekali.

Adrian mengerutkan dahi. "Apa hubungannya dengan..."

"Jual seluruh sahammu malam ini juga," potong Sabrina dingin. Ia mencondongkan wajahnya mendekat. "Gunakan semua uang itu untuk membeli peti matimu sendiri, karena aku bersumpah akan membakarmu hidup-hidup jika terjadi sesuatu pada anakku di lantai atas."

Napas Adrian tertahan di dada. Cengkeraman tangannya di lengan Sabrina melonggar perlahan. Pria tiran itu baru menyadari satu fakta krusial malam ini. Wanita di depannya ini tidak sedang menggertak. Ada kegelapan absolut tanpa dasar di mata istrinya. Kegelapan yang sanggup menelan seluruh kerajaan bisnisnya tanpa sisa.

Sabrina menarik lengannya kasar dari tangan Adrian. Ia kembali berbalik.

Tangisan Sebastian makin melemah menjadi isakan serak. Anak itu kehabisan napas. Waktu Sabrina menipis. Nyeri di jahitan perut bawahnya kini berubah menjadi tikaman pisau bergerigi. Setiap kali ia memindahkan berat badannya ke depan, otot rahimnya menjerit minta diistirahatkan paksa.

Ia tiba di dasar tangga marmer melingkar tersebut. Puncak tangga berkarpet merah itu terlihat menjulang tinggi. Gaun panjang berkerut yang membalut kakinya akan menjadi hambatan fatal untuk bergerak cepat ke atas sana.

Kuku Sabrina menancap di telapak tangannya hingga berdarah. Ia berlari menaiki tangga tanpa mempedulikan gaunnya.

1
Lini Krisnawati
saya suka cerita nya bagus
Titi Liana
menarik
Rina Yulianti
tegang banget
Fatacea
keren ih si ibu, lanjutttt Bu.... ❤️❤️❤️❤️❤️❤️
gina altira
Balaskan dendam Sabrina, ayo Mauren bikin gila tuh Kania.
gina altira
Sabar Sabrina,, mundur dulu bikin taktik biar Adrian yg besar kepala itu lengah.
gina altira
dua predator beradu
gina altira
Adrian kejam banget,,
gina altira
brutal
Fatacea
Lanjut
gina altira
ngilu,, udah lahiran tuh tenaga pasti habis. ini malah harus berjuang menyelamatkan nyawa
gina altira
hadeuh jd inget waktu lahiran 🤭
Fatimah n Najwan
keren lanjutin yuk bisa yuk
Fatimah n Najwan
nah iya gitu, pinter ni bocil
Fatimah n Najwan
dih bocil diem Bae ngapa. kaga ngerti pisanlagi tegang ini🤣
Fatimah n Najwan
makin ngilu, mana sambil makan w bacanya 👍👍👍👍
CACASTAR
hadir, Thor
UaOneS
brojol juga 👍👍👍👍👍😍
UaOneS
👍👍👍👍👍
Fatimah n Najwan
naluri nya muncul💪💪💪💪💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!