NovelToon NovelToon
The Dancing Soul

The Dancing Soul

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Diam-Diam Cinta
Popularitas:1.4k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Liana adalah seorang wanita bertubuh gemuk yang menemukan kemerdekaan sejatinya melalui tarian. Baginya, setiap gerak tubuhnya adalah bentuk pelarian, sebuah rahasia yang ia simpan rapat-rapat karena ia hanya menari untuk jiwanya sendiri.
Keajaiban—atau mungkin petaka—datang ketika Adrian, seorang produser film ambisius, menemukannya secara tidak sengaja. Adrian sedang mencari sosok penari yang memiliki aura "kebebasan murni" untuk proyek besarnya, dan ia melihat hal itu dalam diri Liana. Namun, saat tawaran diberikan, Liana menggeleng tegas; ia tak ingin tarian sucinya menjadi konsumsi publik.
Tak kehilangan akal, Adrian mulai mendekati Liana dengan pesona dan perhatian palsu. Ia melangkah lebih jauh dengan menyatakan cinta, membuai Liana hingga wanita itu luluh dan setuju untuk tampil di atas panggung dunia. Namun, di puncak popularitasnya, Liana menemukan kebenaran pahit bahwa pernyataan cinta Adrian hanyalah skenario matang untuk memanfaatkannya demi kesuksesan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 32

Suasana di dalam kabin jet pribadi itu mendadak hening, hanya menyisakan dengung halus mesin pesawat yang membelah kegelapan langit menuju Korea.

Liana akhirnya tertidur pulas setelah pengaruh obat penenang bekerja, napasnya teratur namun wajahnya tetap menyimpan sisa keletihan yang mendalam.

Mama Liana bangkit dari kursi belakang, melangkah pelan mendekati tempat tidur putrinya.

Ia membetulkan letak selimut Liana dengan tangan yang gemetar, lalu berbalik menatap dua pria yang duduk menjaganya.

"Duduklah, Nak Adrian, Nak Erwin," bisik Mama lirih, matanya yang sembab menatap mereka bergantian.

"Mama ingin bicara jujur."

Adrian dan Erwin saling lirik, lalu duduk di kursi yang berhadapan dengan Mama.

Suasana canggung yang biasanya dipenuhi persaingan antara keduanya, kini mencair menjadi ketegangan yang menyesakkan dada.

"Kalian berdua mencintai Liana, Mama tahu itu," mulai Mama, suaranya parau menahan tangis.

"Tapi lihatlah dia sekarang. Kakinya, mimpinya... semuanya hancur dalam semalam. Dan sekarang ada nyawa kecil di perutnya."

Mama menatap Adrian dengan tatapan yang dalam.

"Nak Adrian, kamu orang hebat, kaya, punya segalanya. Tapi apakah kamu sanggup mendampingi Liana yang mungkin tidak akan pernah bisa menari lagi? Yang mungkin akan kehilangan kepercayaan dirinya seumur hidup?"

Adrian menunduk, ia menggenggam tangannya sendiri dengan kuat.

"Ma, saya tahu saya salah sejak awal. Saya yang membawanya ke Jakarta, saya yang membuatnya terjebak dalam masalah ini. Tapi demi Tuhan, Ma. Saya tidak akan meninggalkannya. Cacat atau tidak, dia tetap wanita yang saya cintai. Dan bayi itu, dia adalah penebusan dosa saya."

Mama lalu beralih pada Erwin, pria yang selama ini selalu ada di sisi Liana tanpa pamrih. "Dan kamu, Erwin. Kamu sudah terlalu banyak berkorban. Sampai kapan kamu mau berdiri di balik bayang-bayang pria lain? Liana mengandung anak Adrian, Erwin. Apa kamu kuat melihat itu setiap hari?"

Erwin terdiam sejenak, ia menatap jendela pesawat yang gelap.

"Ma, cinta saya pada Liana bukan tentang kepemilikan. Kalau saya harus melihatnya membesarkan anak Adrian, saya akan melakukannya. Selama Liana bahagia dan aman, itu cukup bagi saya. Saya tidak akan membiarkan siapa pun menyakitinya lagi, termasuk Adrian jika dia berani berulah."

Air mata Mama jatuh menetes. "Mama hanya ingin Liana tenang. Tolong, jangan bertengkar di depannya lagi. Dia sedang hancur. Dia butuh kalian berdua sebagai pelindung, bukan sebagai dua singa yang berebut wilayah."

Adrian mengangguk pelan, matanya berkaca-kaca.

"Saya berjanji, Ma. Di Korea nanti, fokus saya hanya kesembuhannya. Saya akan menurunkan ego saya."

Erwin hanya mengangguk singkat, namun sorot matanya menunjukkan tekad yang sama kuatnya.

Di ketinggian ribuan kaki, di atas samudera yang luas, sebuah perjanjian bisu tercipta di antara mereka bertiga—perjanjian untuk menjaga Liana dan janinnya, apa pun taruhannya.

Adrian bangkit perlahan dari kursinya, memastikan selimut Liana sudah terpasang sempurna dan Mama sudah kembali memejamkan mata.

Dengan langkah berat yang ia seret, ia berjalan menuju bagian belakang kabin dan mengunci pintu kamar mandi pesawat yang sempit namun mewah itu.

Begitu kunci berbunyi klik, pertahanan yang ia bangun setinggi tembok raksasa di depan Erwin dan Mama seketika runtuh.

Adrian menumpukan kedua tangannya di pinggiran wastafel, menunduk dalam-dalam hingga helai rambutnya jatuh menutupi mata.

Bayangan kejadian di studio itu kembali berputar seperti film horor yang diputar berulang-ulang di benaknya.

Ia ingat suara derit besi itu. Ia ingat bagaimana ia hanya terpaku diam karena terkejut. Dan yang paling menghancurkan hatinya adalah ingatan saat tubuh mungil Liana—wanita yang seharusnya ia lindungi—justru melesat maju.

Ia merasakan dorongan kuat dari tangan Liana di bahunya, sebuah dorongan yang menyelamatkan nyawanya namun mengorbankan segalanya bagi Liana.

"Bodoh, aku bajingan bodoh..." desis Adrian parau.

Isak tangis yang tertahan sejak di rumah sakit akhirnya pecah.

Tubuh tegap produser ternama itu bergetar hebat. Air matanya jatuh menetes ke atas wastafel marmer, mengaburkan pandangannya.

Ia membayangkan wajah Liana saat berteriak "Awas!". Wajah yang penuh ketulusan, bukan ketakutan akan nyawanya sendiri, melainkan ketakutan kehilangan Adrian.

Liana mengorbankan kaki yang menjadi napas hidupnya sebagai penari, hanya agar Adrian tetap berdiri tegak tanpa luka sedikit pun.

Adrian memukul pinggiran wastafel dengan kepalan tangan, mencoba meluapkan rasa benci pada dirinya sendiri.

Seharusnya dia yang ada di bawah besi itu. Seharusnya dia yang tergeletak berdarah.

"Kamu menyelamatkanku, Li. Tapi aku malah menghancurkanmu," bisiknya dengan suara serak yang penuh penyesalan.

Ia membasuh wajahnya dengan air dingin berkali-kali, mencoba menghapus jejak air mata dan kemerahan di matanya.

Ia tahu ia tidak boleh terlihat lemah di depan Erwin, apalagi di depan Liana.

Ia harus menjadi karang yang kuat untuk mereka di Korea nanti.

Namun di dalam kamar mandi kecil itu, di ketinggian 35.000 kaki, Adrian Pratama hanyalah seorang pria yang hancur karena menyadari bahwa wanita yang ia cintai telah memberikan segalanya untuknya, sementara ia hanya memberikan luka dan penderitaan.

Adrian menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum membuka kunci pintu. Namun, begitu ia melangkah keluar, sosok Erwin sudah berdiri bersandar di dinding kabin yang sempit.

Mata Erwin yang tajam langsung menangkap sisa kemerahan di sudut mata Adrian dan jejak air yang masih membasahi kerah kemejanya.

Erwin tidak mencemooh.

Ia hanya menatap Adrian dengan sorot mata dingin yang penuh pengertian pahit.

"Cuci muka sebanyak apa pun tidak akan menghapus rasa bersalahmu, Adrian," desis Erwin rendah.

"Tapi simpan air matamu. Liana tidak butuh tangisanmu sekarang. Dia butuh seseorang yang tidak hancur saat dia sendiri sedang berkeping-keping."

Adrian hanya terdiam, rahangnya mengeras. Ia tidak punya energi lagi untuk mendebat Erwin. Namun, sebelum ia sempat membalas, sebuah suara erangan kecil dari arah tempat tidur medis memecah ketegangan di antara mereka.

Liana terbangun, wajahnya yang semula tenang kini tampak sangat menderita.

Ia memegang dadanya, napasnya memburu dan tidak teratur.

"Adrian, perutku mual..." bisik Liana lirih, tangannya meremas selimut dengan kuat.

Seketika, perselisihan ego antara Adrian dan Erwin menguap.

Keduanya menghambur ke sisi Liana. Adrian dengan sigap mengambil wadah kecil yang tersedia di samping tempat tidur, sementara Erwin menyangga punggung Liana agar posisinya lebih tegak.

Liana membungkuk, ia mengalami mual hebat akibat pengaruh kehamilan yang diperparah dengan trauma fisik dan guncangan ringan pesawat.

Ia memuntahkan sedikit cairan lambung, tubuhnya gemetar hebat dalam dekapan kedua pria itu.

"Ssh... pelan-pelan, Li. Tarik napas," gumam Adrian sambil mengusap punggung Liana dengan lembut, tangannya yang tadi memukul wastafel kini bergerak sangat protektif.

Erwin dengan cekatan mengambil tisu basah dan segelas air hangat, membantu membersihkan bibir Liana.

"Ini pengaruh hormon dan stres, Li. Tenang, ada kami di sini."

Setelah rasa mualnya sedikit mereda, Liana bersandar lemas di dada Adrian.

Matanya terpejam, peluh dingin membasahi keningnya.

Di ketinggian ribuan kaki, di tengah kabin jet yang mewah, Liana menyadari bahwa tubuhnya bukan lagi miliknya sendiri—ada nyawa lain yang sedang berjuang bersamanya, menuntutnya untuk tetap kuat meski kakinya tak lagi bisa berpijak.

Adrian mengeratkan pelukannya, mencium puncak kepala Liana dengan sisa keberanian yang ia miliki.

Ia menoleh ke arah Erwin, dan untuk pertama kalinya, mereka berbagi tatapan yang sama: tatapan dua pria yang sadar bahwa perjalanan mereka di Korea akan jauh lebih sulit daripada sekadar urusan medis.

1
Laila Isabella
awal cerita yg menarij
my name is pho: terima kasih kak 🥰
total 1 replies
merry yuliana
hmmmmmm bioin si adrian bertekuk.lutit bucin abis sama liana kak
winpar
ceritanya seru
merry yuliana
hadir kak
ditunggu crazy upnya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!