NovelToon NovelToon
Pernikahan Kontrak

Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Yvone Larasati, seorang desainer interior freelance yang keras kepala dan mandiri, terpaksa menelan harga dirinya dan menandatangani kontrak pernikahan satu tahun dengan Dylan Alexander Hartono, CEO Alexander Group yang dingin dan tak tersentuh. Pernikahan ini adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan ayah Yvone dari jerat penjara akibat jebakan korupsi politik. Di sisi lain, Dylan membutuhkan citra "pria beristri yang sempurna" untuk mengamankan mega-proyek infrastruktur dan pariwisata pemerintah senilai triliunan rupiah.

Berawal dari selembar kertas yang didasari kebencian dan pragmatisme, batasan antara sandiwara dan kenyataan mulai mengabur. Dikelilingi oleh intrik mematikan dari pejabat korup, ancaman masa lalu keluarga, dan empat rival cinta yang mematikan, Dylan dan Yvone menemukan tempat berlindung pada satu sama lain. Di bawah matahari Bali yang hangat, dinding es Dylan runtuh, dan ketakutan Yvone sirna, melahirkan gairah yang tak terbendung dan pengorbanan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

CHAPTER 32

Enam bulan telah berlalu sejak tendangan pertama yang meruntuhkan sisa-sisa trauma sang tiran.

Kini, di minggu ketiga puluh dua kehamilannya, perut Yvone telah membuncit sempurna. Ia berjalan dengan langkah yang sedikit lebih lamban, menopang pinggang bagian bawahnya yang sering pegal. Namun, pesonanya sama sekali tidak memudar; hormon kehamilan justru membuat kulitnya bercahaya dan senyumnya semakin cerah.

Sebaliknya, sang CEO legendaris Alexander Group tampaknya sedang mengalami krisis kewarasan tingkat lanjut.

"Katakan pada vendor di Munich itu, jika cat kayunya mengandung lebih dari 0,01 persen Volatile Organic Compounds (VOC), aku akan menuntut perusahaan mereka hingga bangkrut. Aku ingin ruangan ini 100% bebas dari emisi bahan kimia kimia. Apa kau mengerti, Marco?!"

Suara bariton Dylan yang menggelegar terdengar dari ujung lorong lantai dua Villa Karang Putih.

Yvone yang baru saja keluar dari kamar utama setelah tidur siang, hanya bisa menggelengkan kepalanya sambil tersenyum geli. Ia berjalan pelan menyusuri lorong menuju ruangan yang dulunya adalah perpustakaan mini, namun kini telah dirombak total oleh suaminya.

Setibanya di ambang pintu, Yvone menyandarkan tubuhnya ke kusen. Ia melipat kedua tangannya di atas perut buncitnya, mengamati kekacauan yang terjadi.

Di dalam ruangan yang luas itu, Dylan berdiri dengan kemeja putih yang lengannya digulung asal-asalan. Di tangannya terdapat sebuah tablet berisi layar video call dengan Marco, sementara di sekelilingnya, tiga orang kontraktor interior kelas atas berdiri dengan wajah pucat pasi.

Boks bayi yang diletakkan di tengah ruangan itu bukanlah boks bayi biasa. Itu adalah mahakarya kayu maple solid yang diimpor langsung dari Selandia Baru, dirakit tanpa menggunakan satu pun paku besi atau lem kimia untuk menghindari risiko toksisitas.

"Dylan, cat water-based yang mereka gunakan itu sudah bersertifikat rumah sakit internasional," Yvone bersuara, memecah ketegangan di ruangan itu.

Mendengar suara istrinya, aura membunuh Dylan seketika menguap tak bersisa. Ia mematikan tablet-nya, meletakkannya di atas meja, dan langsung melangkah panjang menghampiri Yvone.

"Kenapa kau bangun? Dr. Amanda bilang kau harus tidur minimal dua jam di siang hari," Dylan merengkuh pinggang Yvone dengan sangat hati-hati, mengecup kening wanita itu, lalu menuntunnya masuk.

"Aku sudah tidur dua jam, Tuan Hartono. Punggungku pegal jika terlalu lama berbaring," Yvone beralasan. Ia menatap ke sekeliling kamar bayi yang didominasi warna putih tulang dan hijau sage pastel. Desainnya sangat elegan, tenang, dan tentu saja... bernilai miliaran rupiah.

"Kau menyukainya?" tanya Dylan, matanya meneliti ekspresi Yvone dengan saksama. "Aku sudah memasang filter udara standar ruang operasi di ventilasi sentralnya. Kacanya anti-peluru dan anti-UV. Lantainya dilapisi matras peredam benturan di bawah karpet bulu domba organik ini."

Yvone memutar bola matanya, meski hatinya menghangat luar biasa. "Sayang, ini kamar bayi, bukan bunker perlindungan nuklir presiden. Bayi kita tidak akan langsung melompat dari boks dan membenturkan kepalanya ke lantai di hari pertama dia lahir."

"Aku hanya bersiap untuk segala skenario," Dylan membela diri dengan wajah datar yang khas, meskipun telinganya sedikit memerah. Ia memberi isyarat dengan tangannya, menyuruh para kontraktor itu keluar dari ruangan. "Aku ingin semuanya sempurna. Tidak ada margin untuk kesalahan."

Yvone mengalungkan lengannya di leher suaminya, menatap pria yang dulu begitu dingin dan kejam itu. Dylan telah menjelma menjadi calon ayah yang sangat protektif, nyaris obsesif.

"Semuanya sudah lebih dari sempurna," bisik Yvone, mengecup rahang tegas Dylan. "Sekarang, berhentilah meneror karyawanku. Tara sedang dalam perjalanan dari bandara. Dia bilang akan membawa beberapa hadiah untuk baby shower kecil-kecilan kita besok."

Mendengar nama adiknya dan kata 'baby shower', kening Dylan berkerut tajam. "Aku sudah bilang pada Tara, tidak ada pesta berisik. Hanya kita, dia, dan ayahmu. Aku tidak akan membiarkan vila ini dipenuhi oleh teman-teman sosialitanya yang membawa kuman dari luar."

"Aku tahu, Dylan. Dan Tara sudah berjanji hanya akan datang bersama Paman Budi dan Lia," Yvone menenangkan, mengelus dada bidang suaminya. "Kau harus sedikit bersantai. Darah tinggimu nanti naik."

"Darah tinggiku naik setiap kali bayi kita menendang dan kau meringis kesakitan," gerutu Dylan, namun tangannya dengan lembut mengusap perut buncit istrinya.

Seolah mengerti sedang dibicarakan, bayi di dalam perut Yvone merespons dengan satu tendangan kuat yang langsung terasa di telapak tangan Dylan.

Yvone terkesiap kecil, memegangi perutnya.

"Sst, Jagoan. Jangan menendang ibumu terlalu keras," bisik Dylan, menundukkan wajahnya hingga sejajar dengan perut Yvone. Suara baritonnya melembut hingga terdengar seperti beludru. "Kau membuatnya kelelahan. Jika kau ingin menendang, tunggulah sampai kau lahir dan kau bisa menendang bola sungguhan denganku."

Yvone mengusap rambut hitam suaminya, merasakan matanya memanas oleh air mata bahagia. Hormon kehamilannya membuat emosinya sangat mudah tersentuh. Siapa yang menyangka, tiran yang ditakuti di dunia bisnis ini akan berlutut di lantai, bernegosiasi dengan janin yang belum lahir agar tidak menyakiti ibunya?

Sore Harinya. Teras Belakang Villa Karang Putih.

Sesuai janjinya, Tara datang hanya bersama Budi Larasati dan Lia. Kedatangan mereka membawa suasana hangat dan meriah yang sangat dirindukan Yvone.

Sore itu, mereka duduk di teras belakang yang menghadap Samudra Hindia, menikmati teh kamomil dan camilan sehat (yang tentu saja telah disetujui secara ketat oleh Dylan).

Tara mengeluarkan beberapa kotak kado berhias pita dari tas belanjanya. Matanya berbinar penuh semangat.

"Buka yang ini dulu, Yvone! Aku memesannya khusus dari butik di Paris!" seru Tara antusias.

Yvone tersenyum, membuka pita kotak tersebut. Di dalamnya terdapat sebuah setelan jas mini lengkap dengan dasi kupu-kupu kecil berbahan wol yang sangat halus.

"Ya ampun, Tara! Ini lucu sekali!" Yvone tertawa, mengangkat jas mungil itu.

Lia ikut memekik kegirangan. "Astaga, dia akan terlihat seperti miniatur Kak Dylan!"

Dylan, yang duduk di sebelah Yvone dengan tangan yang tak pernah lepas dari pinggang istrinya, memicingkan mata menatap setelan jas tersebut. Pria itu menyentuh bahan kainnya dengan ujung jari, lalu menggeleng.

"Ini wol cashmere. Terlalu panas untuk cuaca tropis di Bali," komentar sang CEO dengan nada mengkritisi. "Lagipula, bayi tidak butuh dasi kupu-kupu. Itu bisa mencekiknya. Aku akan menyuruh Marco mengembalikannya dan menukarnya dengan piyama katun bambu yang breathable."

Tara memutar bola matanya hingga nyaris melihat tengkoraknya sendiri. "Ayolah, Kak! Itu hanya untuk sesi foto! Kau benar-benar tidak punya jiwa fashion!"

"Aku punya jiwa untuk mempertahankan anakku tetap hidup dan nyaman," balas Dylan datar tanpa merasa bersalah.

Budi Larasati, yang duduk berseberangan, tertawa terbahak-bahak melihat perdebatan kakak beradik itu. Ia menyesap tehnya dan menatap Yvone dengan sorot mata penuh kebanggaan.

Melihat ayah dan adiknya bisa tertawa lepas dan aman di bawah perlindungan pria yang dulu ia anggap sebagai 'iblis', membuat hati Yvone dipenuhi kedamaian yang tak ternilai. Ini adalah keluarga. Keluarga yang utuh, kuat, dan saling melindungi.

"Dylan benar, Tara," Budi menengahi dengan senyum kebapakan. "Kenyamanan bayi adalah yang utama. Dulu saat Vone lahir, aku bahkan hanya memakaikannya kaus oblong tua yang sudah dicuci berkali-kali agar kainnya sangat lembut di kulitnya."

Dylan mengangguk setuju pada ayah mertuanya, merasa mendapat validasi. "Tepat sekali, Ayah."

Yvone menyandarkan kepalanya di bahu suaminya, tersenyum geli. "Jika kau memakaikan kaus oblong tua pada bayi kita, Marco mungkin akan pingsan karena stres memikirkan image ahli waris Alexander Group."

"Persetan dengan image," gumam Dylan, mengecup kening Yvone. "Yang penting adalah dia sehat, dan ibunya bahagia."

Tengah Malam.

Suara debur ombak Samudra Hindia terdengar sayup-sayup memecah keheningan malam.

Di dalam Master Suite yang luas, Yvone terbangun. Rasa tidak nyaman di pinggang belakangnya kembali menyerang. Memasuki trimester ketiga, menemukan posisi tidur yang pas adalah sebuah tantangan berat. Ia mencoba berbalik ke sisi kanan, namun perutnya terasa berat.

Yvone mendesah pelan. Ia baru saja akan bangun untuk berjalan-jalan kecil merenggangkan ototnya, ketika sebuah lengan kokoh melingkar di bawah perutnya, menopang beban buncitnya dari belakang.

Dylan, yang selalu memiliki tidur seringan bulu sejak Yvone hamil, langsung terbangun.

"Pegal lagi?" bisik Dylan dengan suara serak khas orang bangun tidur.

"Sedikit," gumam Yvone, membiarkan tubuhnya bersandar sepenuhnya pada dada bidang suaminya. "Maaf, aku membangunkanmu."

Bukannya menjawab, Dylan justru menyingkap selimut dari tubuh Yvone. Pria itu bangkit duduk di belakang istrinya, menarik bantal hamil Yvone agar wanita itu bisa bersandar dengan nyaman di antara kedua kakinya.

Lalu, tangan-tangan besar yang biasa memegang pena untuk menandatangani akuisisi bernilai triliunan rupiah itu, kini menempel di punggung bawah Yvone. Dylan mulai memijat titik-titik yang pegal dengan tekanan yang sangat pas—sebuah teknik yang secara diam-diam ia pelajari dari fisioterapis elit yang ia datangkan minggu lalu.

Yvone memejamkan mata, melepaskan desahan nikmat saat rasa tegang di otot punggungnya perlahan mengendur.

"Ini jauh lebih baik," bisik Yvone, merasakan kehangatan menjalar ke seluruh tubuhnya.

Dylan tidak berhenti memijat. Ia menciumi tengkuk Yvone, menyapukan bibirnya di kulit halus istrinya dengan pemujaan yang mendalam.

"Sembilan bulan terasa sangat lama saat aku harus melihatmu menahan semua ketidaknyamanan ini sendirian, Sayang," gumam Dylan, suaranya dipenuhi rasa bersalah yang tak masuk akal. "Andai saja aku bisa memindahkan bebannya padaku."

Yvone meraba ke belakang, menemukan pipi suaminya, dan mengusapnya pelan. "Aku tidak menahannya sendirian, Dylan. Kau selalu ada di sini. Setiap malam."

Yvone menoleh sedikit, mempertemukan matanya dengan mata kelam Dylan di bawah temaram lampu tidur.

"Dulu, saat aku menandatangani kontrak pernikahan kita," Yvone memulai, suaranya melembut, "aku mengira aku akan menghabiskan sisa hidupku di dalam penjara yang dingin. Aku tidak pernah membayangkan bahwa penjara itu akan berubah menjadi surga seperti ini."

Dylan menghentikan pijatannya. Ia merengkuh tubuh Yvone dari belakang, menenggelamkan wajahnya di leher wanita itu.

"Aku mengurungmu karena aku takut kehilanganmu, Vone," bisik Dylan, kejujuran yang rapuh mengalun di malam yang sunyi. "Tapi sekarang aku tahu... aku tidak perlu mengurungmu. Karena ke mana pun kau pergi, kau adalah satu-satunya tujuan hidupku."

Tangan Dylan turun ke perut buncit Yvone, mengusapnya dengan sangat lembut. Bayi di dalam sana kembali merespons dengan gerakan halus, seakan menyetujui ikrar malam sang ayah.

Di tengah keheningan Uluwatu, pasangan itu tidak membutuhkan kata-kata lagi. Mereka telah melewati pengkhianatan, konspirasi, dan hujan peluru, hanya untuk menemukan bahwa kekuatan terbesar mereka bukanlah harta atau kekuasaan, melainkan detak jantung kedua yang kini berdegup nyaman di antara pelukan mereka.

1
Titien Prawiro
Bacanya deg2gan terus.
k
bagus sekali
k
lia kasihan
p
memang bagus😍
p
👍👍👍👍
1
lanjut
1
absen
Sang_Imajinasi
Jangan Lupa beri vote dan dukungan 🙏
Xiao Bar
lanjut thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!