Note: Ini cuma sekedar novel santai aja, kemungkinan besar dari kalian akan bosan membacanya. karena alurnya yang lambat, jadi jangan tanya author masalah debeh, aksi gelut gelut dan semacamnya yaa...😀
Xiao Yan bereinkarnasi ke dunia kultivasi modern sebagai bayi dengan status dan keahlian maksimal menyentuh angka 9999. Di tengah tragedi serangan monster yang merenggut nyawa ayahnya dan mengancam ibunya, dia tanpa sengaja melepaskan satu tembakan energi mematikan yang menghapus sang monster beserta daratan sejauh tiga kilometer dalam sekejap. Demi kehidupan yang damai dan tenang, Xiao Yan memutuskan untuk menyembunyikan identitasnya, meski takdir dan sistem di kepalanya seolah terus memaksanya untuk bertindak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ex, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Dia tidak berdiri. Dia tidak memancarkan energi Qi dari tubuhnya. Xiao Yan hanya duduk diam di tempatnya.
Beruang sisik itu baru saja akan melompat maju. Kuku-kuku tajamnya sudah menancap di tanah.
Tepat pada detik itu, Xiao Yan menatap mata merah beruang tersebut.
"Mengakses atribut Kekuatan Mental dan Intimidasi. Kapasitas: 9999. Mengurangi keluaran energi menjadi 0,0001 persen. Mengubah bentuk penyebaran energi dari area luas menjadi pancaran lurus setipis jarum. Target Saraf optik dan otak depan monster," batin Xiao Yan menghitung presisi serangannya.
Xiao Yan memusatkan tekanan mental yang sangat pekat dan membunuh hanya melalui tatapan matanya, lalu menembakkannya lurus melewati udara, langsung menusuk ke dalam retina mata sang beruang sisik.
Bagi Lin Fan, Chen Ping, dan Song Jia, tidak ada yang terjadi. Udara tetap tenang, tidak ada cahaya yang melesat, dan tidak ada suara ledakan.
Namun, bagi monster beruang itu, dunianya baru saja kiamat.
Begitu tatapan Xiao Yan terhubung dengan matanya, insting purba monster itu langsung meledak dalam ketakutan yang absolut. Otak kecil beruang itu memproses ilusi energi dari Xiao Yan. Di mata beruang tersebut, remaja berwajah datar yang duduk di sudut itu bukanlah seorang manusia, melainkan sesosok dewa kematian raksasa yang siap menelan alam semesta beserta isinya.
Sistem saraf beruang itu kelebihan beban karena ketakutan yang melampaui batas logika biologisnya. Jantungnya berdetak ribuan kali dalam satu detik, lalu berhenti seketika.
Beruang sisik itu mematung di tempatnya. Lompatannya tertahan di udara.
Mata merah yang tadinya menyala buas itu tiba-tiba memudar, berubah menjadi putih sepenuhnya. Mulutnya menganga mengeluarkan busa putih.
"Bruuuuk!"
Beruang seberat dua ton itu jatuh menghantam tanah dengan sangat keras. Tubuhnya ambruk tepat satu meter di depan ujung sepatu Lin Fan. Debu tanah berterbangan.
Lin Fan yang baru saja berhasil menarik setengah pedangnya langsung terdiam. Dia membelalakkan matanya, menatap tumpukan daging besar yang kini tidak bergerak sama sekali di depannya.
"Ugh... Hah?" Lin Fan mengeluarkan suara kebingungan.
Chen Ping yang sudah menutup matanya dengan tangan perlahan mengintip dari sela-sela jarinya. Song Jia masih mengatur napasnya yang terengah-engah.
Ruangan di bawah akar pohon itu menjadi sangat sunyi. Hanya terdengar suara dengkuran sangat pelan dari hidung beruang yang pingsan tersebut.
"Monster... monsternya mati?" tanya Chen Ping dengan suara bergetar. Dia merangkak mundur mendekati Song Jia.
"T-Tidak tahu," jawab Lin Fan. Dia memegang pedangnya dengan kedua tangan.
Lin Fan menelan ludah. Dia memberanikan diri berjalan maju satu langkah, lalu menggunakan ujung sarung pedangnya untuk menyodok hidung beruang tersebut.
"Tuk."
Tidak ada reaksi. Monster itu benar-benar lumpuh total.
"Dia pingsan! Atau mungkin mati karena serangan jantung!" seru Lin Fan. Wajahnya langsung berubah dari pucat pasi menjadi penuh kelegaan. "Hahahaha! Syukurlah! Langit masih melindungi kita!"
"Ugh... T-Tapi kenapa dia tiba-tiba pingsan?" tanya Song Jia bingung. "Dia baru saja mau menerkam kita."
Chen Ping melihat ke sekeliling dengan panik.
"Pasti ada senior atau pengawas rahasia yang menyelamatkan kita dari jarak jauh!" tebak Chen Ping. "Mungkin pengawas itu melihat monster ini tidak sesuai dengan simulasi ujian dan langsung mematikannya dengan sihir."
"Masuk akal," setuju Lin Fan sambil menyarungkan kembali pedangnya. "Guru Li bilang sekolah selalu memantau kita. Hah... Aku hampir saja ngompol tadi."
Di sudutnya, Xiao Yan sudah menurunkan kembali masker penutup matanya.
"Hah... Analisis yang sangat bagus, Chen Ping. Pertahankan pola pikir logis yang salah itu," batin Xiao Yan dengan puas.
Xiao Yan menyandarkan kepalanya lagi ke bantal lehernya. Otot-ototnya rileks.
"Tolong geser badannya sedikit agar baunya tidak masuk ke dalam tenda," kata Xiao Yan dengan nada suara yang mengantuk dan datar. "Dan tolong jangan berteriak lagi. Aku mau tidur."
"Ugh! Kau ini benar-benar tidak punya hati, Xiao Yan!" omel Lin Fan sambil menunjuk Xiao Yan. "Kita baru saja hampir dimakan monster beruang, dan kau cuma peduli pada tidurmu?!"
"Kalian kan tidak jadi dimakan," balas Xiao Yan dari balik maskernya. "Itu artinya kita aman."
"Hah... Terserah kau saja," dengus Lin Fan kesal.
Lin Fan menoleh ke arah Chen Ping.
"Chen Ping, bantu aku mendorong monster ini menjauh. Kita tidak bisa tidur jika dia tiba-tiba bangun lagi."
Chen Ping mengangguk cepat. "B-Baik."
Kedua remaja itu berjalan mendekati tubuh besar sang beruang. Mereka mencoba mendorong badan beruang itu sekuat tenaga.
Sementara teman-temannya sibuk mengatur posisi bangkai monster yang pingsan itu, napas Xiao Yan kembali teratur. Dia masuk kembali ke dalam fase hibernasinya tanpa beban pikiran sedikit pun.
Puncak bahaya di malam itu telah diselesaikan hanya dengan satu lirikan mata, dan kedamaian kembali menguasai Zona Selatan. Setidaknya, untuk sementara waktu.