NovelToon NovelToon
Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Untuk Pertama Kalinya Aku Takut Kehilangannya

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:540
Nilai: 5
Nama Author: zehn hart

Di sekolah elit yang dipenuhi anak pejabat dan keluarga terpandang, Leon Knight de Arther dikenal sebagai murid paling tenang sekaligus paling sulit didekati. Tatapannya dingin, hidupnya sempurna, dan tak seorang pun berani mencari masalah dengannya.

Namun tidak ada yang tahu bahwa di balik seragam putih dan sikap tenangnya, Leon adalah putra kedua dari keluarga mafia paling berpengaruh di kota.

Sebagai putra kedua, Leon hidup di bawah bayang-bayang keluarganya sendiri. Ia tidak pernah benar-benar dianggap, tetapi juga tidak pernah bisa bebas dari dunia gelap yang diwariskan kepadanya. Hingga kedatangan seorang siswi pindahan mengubah segalanya.

Rachael Velencia.

Gadis itu berbeda dari semua orang yang pernah ditemui Leon. Rachael tidak takut padanya, tidak peduli pada rumor tentang dirinya, dan perlahan masuk ke hidup Leon yang selama ini dipenuhi kekosongan.

Untuk pertama kalinya, Leon mulai merasakan kehidupan normal yang selalu ia inginkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zehn hart, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 22 - Mencurigakan

Rachael akhirnya duduk pelan di kursinya. Namun kali ini tubuhnya tidak benar-benar rileks.

Tangannya tetap masuk ke saku jaket hitamnya. Bahunya sedikit tegang meski wajahnya masih terlihat biasa saja.

Leon yang duduk tidak jauh darinya memperhatikan perubahan kecil itu diam-diam.

Tadi di lorong, Rachael memang sempat terlihat lebih hidup.

Sekarang gadis itu kembali seperti saat pertama datang ke mansion. Lebih tenang. Lebih hati-hati.

Dan Leon tidak suka perubahan itu.

Axel yang tidak menyadari apa pun masih sibuk mengambil dessert tambahan dari meja kecil samping ruang makan. “Kalau kalian lanjut tur mansion tanpa gua, itu pengkhianatan.”

“Kamu tadi malah duduk makan terus,” balas Rachael cepat.

“Itu karena makanan mansion ini terlalu mahal buat dilewatin.”

“Itu alasan klasik.”

Sebastian tertawa kecil pelan mendengar itu.

Suasana kembali terasa lebih ringan untuk sesaat.

Namun perhatian Rachael diam-diam kembali bergerak ke sisi ruangan.

Pria paruh baya tadi masih ada di sana.

Sekarang ia berdiri dekat jendela besar sambil berbicara pelan dengan salah satu staf mansion.

Gerak-geriknya normal.

Dan justru itu yang membuat insting Rachael semakin tidak nyaman.

Tatapan pria itu sesekali bergerak cepat memeriksa ruangan sebelum kembali fokus. Lebih seperti seseorang yang sedang memastikan sesuatu berjalan sesuai rencana.

Rachael langsung mengalihkan pandangan lagi sebelum ketahuan terlalu memperhatikan.

Pikirannya mulai bekerja terlalu cepat sekarang.

“Kalau penyadap tadi berhubungan sama dia?”

“Atau aku cuma overthinking?”

“Kalau salah curiga malah repot.”

Ia langsung menggigit kecil bagian dalam pipinya sendiri refleks. Kebiasaan lama saat mulai terlalu fokus berpikir.

Leon menangkap gerakan kecil itu.

“Kamu kenapa?”

Rachael langsung tersadar lalu buru-buru mengambil gelas tehnya.

“Nggak kenapa-kenapa.”

“Kamu dari tadi kelihatan kayak mau kabur.”

“Aku memang pengen pulang sebenernya.” Jawaban itu keluar terlalu cepat.

Entah kenapa membuat Leon sedikit diam.

Rachael sendiri baru sadar apa yang ia katakan lalu buru-buru menambahkan, “Bukan karena di sini nggak nyaman.”

“Terus?”

Rachael menatap permukaan teh hangatnya sendiri beberapa detik sebelum menjawab lebih pelan,

“Kalau terlalu nyaman nanti malah susah.”

Kalimat itu membuat Leon menatap Rachael lebih lama.

Axel yang tadi masih makan langsung berhenti mengunyah pelan.

Bahkan Evelyn ikut memperhatikan Rachael sekarang.

Namun gadis itu sendiri tampaknya tidak sadar kalau ucapannya terdengar jauh lebih dalam dari yang ia maksud.

Rachael hanya menghela napas kecil lalu menyandarkan dagunya di tangan. “Aku biasanya nggak lama di satu tempat.”

Arthur yang sejak tadi diam akhirnya membuka suara rendah dari ujung meja.

“Kamu selalu siap pergi.” Bukan pertanyaan.

Rachael perlahan mengangkat pandangan ke arahnya. Lalu tersenyum kecil samar. “Iya.”

Jawaban itu terdengar ringan. Namun justru terasa paling berat.

Karena semua orang di ruangan itu sadar kalau Rachael benar-benar hidup seperti seseorang yang tidak pernah yakin akan tinggal cukup lama di mana pun.

Leon merasakan sesuatu kembali mengganjal di dadanya.

Sementara di sisi ruangan, pria paruh baya itu perlahan mengangkat pandangannya.

Tatapannya bergerak singkat ke arah meja keluarga de Arther. Lalu berhenti sepersekian detik pada Rachael.

Hanya sepersekian detik. Namun cukup membuat insting Rachael langsung menegang lagi.

Matanya sedikit menyipit samar. Rachael mulai merasa dirinya mungkin sudah terlambat untuk tidak ikut terlibat.

Rachael perlahan menurunkan pandangannya lagi ke cangkir teh di tangannya.

Permukaan teh hangat itu memantulkan cahaya lampu kristal secara samar. Tenang. Stabil.

Berbeda dengan isi kepalanya sekarang.

Ia sudah terlalu terbiasa dengan perasaan seperti ini.

Perasaan saat insting mulai berteriak kalau ada sesuatu yang salah. Dan biasanya… instingnya jarang meleset.

Namun Rachael juga tahu satu hal penting lain. Bertindak gegabah tanpa bukti hanya akan membuat dirinya terlihat paranoid.

Apalagi ini mansion keluarga de Arther. Tempat dengan sistem keamanan ketat.

Kalau ia tiba-tiba berkata ada penyadap dan kemungkinan pengkhianat tanpa bukti jelas, itu hanya akan menciptakan kekacauan.

Jadi sekarang, ia harus tenang.

Rachael menarik napas kecil perlahan. Lalu mulai menyusun rencana di dalam kepalanya.

Pulang dulu.

Catat semuanya.

Posisi penyadap.

Lokasi lorong.

Pria paruh baya tadi.

Jam kejadian.

Arah pergerakan staf.

Lalu kembali diam-diam nanti.

Menyelidiki sendiri.

Karena kalau memang ada orang dalam di mansion ini, semakin sedikit orang yang tahu dirinya curiga… semakin aman.

Tatapannya kembali naik sekilas.

Dan benar saja.

Pria paruh baya itu sedang melihat ke arah meja mereka lagi.

Kali ini lebih singkat. Namun cukup membuat bulu kuduk Rachael meremang tipis.

Rachael langsung memalingkan wajah sambil menopang dagunya santai seolah tidak terjadi apa-apa.

Padahal otaknya sekarang bekerja sangat cepat.

“Kalau dia sadar aku lihat penyadap tadi?”

“Kalau sebenarnya aku juga sedang diperhatikan?”

“Kapan benda itu dipasang?”

“Dan… sejak kapan mansion ini bocor?”

Leon yang duduk di sampingnya memperhatikan Rachael beberapa detik lagi sebelum akhirnya bicara pelan.

“Kamu makin diam.”

Rachael berkedip kecil lalu memaksa ekspresi santai lagi. “Aku lagi mikir mau pulang naik apa.”

“Nanti di antar pulang.”

“Aku bisa naik taksi.” Jawaban cepat itu terdengar normal.

Leon justru semakin merasa ada yang aneh.

Karena Rachael biasanya akan membalas lebih spontan. Lebih berantakan. Sekarang gadis itu malah terdengar teratur. Seolah sedang hati-hati memilih setiap kata.

Evelyn yang duduk di dekatnya tersenyum lembut. “Kalau capek, kamu boleh istirahat dulu di sini.”

Rachael langsung menggeleng halus. “Nggak usah. Aku cuma bisa tidur di kasur ku di rumah.”

“Kasur bagaimana yang membuat mu nyaman?” tanya Axel santai.

Rachael menoleh kecil. “Adalah pokoknya.”

“Apaan jawaban begitu, fitur bawaan?” Axel tertawa kecil.

Leon tetap tidak ikut tertawa. Tatapannya masih tertuju pada Rachael.

Karena semakin lama, ia semakin sadar kalau gadis itu punya banyak kebiasaan aneh.

Saat benar-benar gugup atau tidak nyaman, Rachael justru akan terlihat lebih tenang dari biasanya.

Sekarang ia terlalu tenang.

Di sisi lain ruangan, pria paruh baya itu akhirnya berjalan pergi bersama salah satu staf mansion menuju lorong samping.

Tatapan Rachael mengikuti sepersekian detik sebelum buru-buru berhenti.

Jangan terlalu jelas.

Jangan terlihat curiga.

Namun sayangnya, rasa penasarannya sekarang sudah terlanjur tumbuh.

Karena Rachael mengenal dirinya sendiri. Semakin ia mencoba menjauh dari suatu masalah…semakin besar kemungkinan dirinya justru akan masuk lebih dalam ke dalamnya.

Ia perlahan mengepalkan jemari kecil di dalam saku jaketnya. Lalu tersenyum tipis kecil ke arah Evelyn seolah semuanya baik-baik saja.

“Aku mungkin pulang sebentar lagi.” Nada suaranya tetap lembut dan tenang.

Tidak ada yang tahu kalau di balik kepala gadis itu sekarang, sudah mulai terbentuk langkah demi langkah untuk menyelidiki mansion de Arther sendirian.

Evelyn langsung terlihat sedikit kecewa mendengar itu. “Cepat sekali?”

Rachael buru-buru menggeleng kecil. “Bukan begitu. Aku cuma nggak mau terlalu malam.”

“Padahal aku masih mau ngobrol banyak,” gumam Evelyn lembut.

Kalimat sederhana seperti itu membuat Rachael sedikit bingung harus bereaksi bagaimana.

Karena tidak banyak orang yang benar-benar mengatakan ingin dirinya tinggal lebih lama. Biasanya justru sebaliknya.

Rachael akhirnya hanya tersenyum kecil samar. “Lain kali mungkin.”

“Janji?” tanya Evelyn cepat.

Rachael membeku sepersekian detik.

Janji.

Kata itu terasa aneh di telinganya. Namun melihat tatapan hangat wanita itu, akhirnya ia mengangguk kecil pelan. “...Iya.”

Evelyn langsung tersenyum puas seperti baru memenangkan sesuatu kecil.

Axel yang melihat itu langsung menunjuk Rachael dramatis. “Nah loh. Udah terikat kontrak keluarga mafia.”

“Aku belum tanda tangan apa-apa.”

“Secara emosional udah.”

“Kamu lebay.”

Sebastian kembali tertawa kecil pelan melihat mereka.

Tapi di balik suasana hangat itu, pikiran Rachael tetap tidak benar-benar tenang.

Matanya sesekali bergerak kecil memperhatikan area ruangan secara refleks. Lorong samping tempat pria paruh baya tadi pergi kini terlihat kosong.

Rachael perlahan menurunkan pandangannya lagi sambil berpura-pura fokus pada cangkir tehnya.

Otaknya mulai menyusun kemungkinan satu per satu. Kalau memang ada penyadap di lorong mansion... berarti seseorang sedang mencari informasi.

Dan kalau seseorang berani memasang alat seperti itu di mansion keluarga de Arther— itu berarti orang tersebut punya akses masuk. Orang dalam atau seseorang yang dipercaya.

Karena kalau benar ada pengkhianat di dalam mansion ini, keluarga de Arther mungkin sedang diawasi tanpa sadar.

Tatapannya bergerak pelan ke arah Evelyn yang masih tersenyum berbicara dengan Sebastian.

Lalu ke Axel yang sibuk bercanda. Dan akhirnya berhenti pada Leon.

Leon sedang menatapnya lagi. Tatapan tenang itu langsung membuat Rachael refleks mengalihkan pandangan cepat.

Bahaya.

Terlalu banyak hal terjadi malam ini.

Terlalu nyaman.

Terlalu hangat.

Dan sekarang ditambah kemungkinan masalah lain.

Kepalanya mulai penuh lagi.

Leon akhirnya bicara pelan, cukup rendah sampai hanya Rachael yang mendengar.

“Kamu mikir terlalu keras.”

Rachael berkedip kecil. “Hm?”

“Keningmu dari tadi tegang.”

Refleks, Rachael langsung menyentuh dahinya sendiri. “Oh.”

Leon memperhatikannya beberapa detik sebelum melanjutkan pelan.

“Kalau ada yang ganggu pikiranmu… nggak harus dipikirin sendirian terus.”

Kalimat itu sederhana.

Namun entah kenapa membuat dada Rachael terasa sedikit sesak kecil.

Karena ia sadar, ia memang selalu melakukan semuanya sendirian.

Dan bagian paling buruknya… ia bahkan tidak tahu cara berhenti melakukannya.

Rachael akhirnya tertawa kecil samar untuk mengalihkan suasana. “Kalau semua isi kepalaku dikeluarin nanti orang-orang malah stres.”

“Aku rasa kami udah cukup tahan banting.”

“Kamu belum lihat level final boss-nya.”

“Menarik.”

Rachael menatap Leon beberapa detik. Lalu tanpa sadar sudut bibirnya naik tipis kecil lagi. Namun hanya sebentar.

Karena beberapa detik kemudian, suara notifikasi pendek terdengar dari ponsel seseorang di sisi ruangan.

Sangat pelan.

Namun cukup membuat insting Rachael langsung aktif lagi.

Tatapannya bergerak refleks ke arah lorong samping.

Kosong.

Tapi entah kenapa perasaan tidak enak itu semakin kuat sekarang.

Dan untuk pertama kalinya malam itu… Rachael mulai berpikir kalau dirinya seharusnya tidak datang ke mansion ini sama sekali.

...****************...

Bersambung...

1
Kartika Bessy
sangat bagus, ditunggu chapter berikutnya hingga tamat
Kartika Bessy
kak lanjutan mana sih 🥲
T28J
semangat update nya thor...
iklan buat kamu
Wawan
Rachaeeeel... 😍😍😍
Aksara_Lintangjati
Semangat Menulisnya kak,

Jika berkenan boleh mampir dan baca ceritaku hehe
Aksara_Lintangjati
Bagus, gak nelan mentah mentah gosip👍
Aksara_Lintangjati
Rachael kek beo yee
Aksara_Lintangjati
Leon kek saya wkwkwk
Aksara_Lintangjati
Mungkin karena dia baru kenal lo, Leon....
Aksara_Lintangjati
ini dibacanya Rahel, atau Racael, atau Racel?
zehn hart: Iya kak, dibacanya Racael
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!