seorang gadis bernama hazia ayini que'en namyesa yang merupakan seorang gadis bar bar, nakal, jahil, dan juga bermulut pedas yang susah di atur oleh orang tua nya sehingga iya dan juga kakak sepupu laki laki nya yang bernama kevin di kirim ke sebuah pondok pesantren yang merupakan milik sahabat keluarga hazian.
apakah ayini si gadis bar bar bisa berbuat baik dan memperbaiki akhlak serta adab nya di pondok pesantren itu?
atau apakah ayini akan berbuat jahil dan mengacaukan pondok itu?
apa yang akan ayini lakukan ketika iya bertemu dengan anak kyai yang bernama Alvaro!
atau kerap di panggil gus alvaro? seorang Gus yang memiliki sifat dingin dengan wajah datar yang ternyata akan menjadi CALON SUAMI nya karena masalah yang iya lakukan sendiri...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RISMA AYINI SAFITRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12. RAHASIA DI BALIK JERUJI SUCI
"Teman atau orang yang ingin menjerumuskanmu lagi? Kamu tahu kan, orang tuamu menitipkanmu di sini karena mereka ingin kamu lepas dari lingkungan lamamu di Barito Utara yang bebas?"
Alvaro menatap meja, suaranya sangat dewasa dan penuh penekanan.
"Gus nggak paham rasanya jadi saya! Saya dikurung di sini, sementara temen-temen saya di luar sana asyik! Ayini juga, dia cuma pura-pura baik karena naksir Gus!" teriak Kevin frustrasi.
Alvaro terdiam mendengar nama Ayini disebut. Ia menarik napas panjang.
"Kevin, kamu dan Ayini adalah amanah bagi saya. Ayini mungkin memulai perubahannya karena alasan yang salah, tapi setidaknya dia mencoba. Kamu? Kamu bahkan belum mencoba untuk membuka hatimu."
Alvaro kemudian berdiri, ia berjalan menuju jendela yang menghadap ke arah asrama putri.
Dari kejauhan, ia bisa melihat Ayini sedang membantu Umi Ayisah menjemur pakaian santriwati dengan ceria.
"Kamu tahu kenapa Abi Vero mau menerima kalian meski kalian dikenal sebagai anak paling nakal di kabupaten ini?" tanya Alvaro tanpa menoleh.
"Karena Abi sahabat papah saya?" jawab Kevin asal.
"Bukan cuma itu. Karena orang tuamu menangis di depan Abi. Mereka takut kalian hancur jika tetap di luar. Mereka menitipkan harta paling berharga mereka pada kami. Apa kamu tidak kasihan pada Papah Alpin?"
Kevin terdiam. Kata-kata Alvaro menghujam jantungnya. Ia teringat wajah ayahnya yang tampak jauh lebih tua saat mengantarnya kemarin.
"Hukumanmu adalah membantu di dapur umum selama satu minggu. Dan surat ini... akan saya simpan. Jangan ulangi lagi, Kevin. Jangan buat Ayini malu karena ulah kakak sepupunya," ucap Alvaro menutup pembicaraan.
Kevin keluar dengan perasaan campur aduk. Di luar, ia bertemu dengan Ayini yang kebetulan sedang lewat membawa keranjang cucian.
"Eh, Vin! Kenapa muka lu? Kayak habis ditelan sanca?" tanya Ayini dengan gaya bar-bar-nya yang kembali muncul sebentar.
"Gara-gara lu nih! Gue diceramahin Gus Kulkas. Dia bilang gue harus belajar dari lu. Emang lu beneran tobat apa cuma pencitraan?" tanya Kevin kesal.
Ayini tertawa kecil. "Awalnya sih pencitraan, tapi lama-lama enak juga ya, Vin. Hati kerasa adem kalau habis ngaji. Lu makanya, jangan main terus. Liat tuh Gus Alvaro, dia itu bukan cuma ganteng, tapi otaknya encer. Kita harus pinter juga biar nggak malu-maluin keluarga Hazian."
Kevin hanya mendengus, namun perkataan Ayini ada benarnya.
Malam itu, di Barito Utara, hujan turun dengan deras. Petir menyambar-nyambar di langit Muara Teweh.
Ayini yang ketakutan dengan suara petir tidak bisa tidur. Ia keluar dari kamarnya dan duduk di selasar asrama yang terlindung, memeluk lututnya sendiri.
Tiba-tiba, ia melihat bayangan seseorang dengan payung hitam berjalan di bawah guyuran hujan.
Sosok itu berhenti di depan asrama putri, memastikan semua pintu sudah terkunci rapat. Itu Gus Alvaro.
Alvaro berhenti sejenak, ia melihat ke arah selasar dan menangkap sosok Ayini yang sedang meringkuk.
Meski jarak mereka cukup jauh dan gelap, Alvaro tahu itu Ayini.
Alvaro tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana selama beberapa saat, memegang payungnya dengan kuat.
Ia ingin memastikan gadis itu baik-baik saja di tengah badai.
"Astagfirullah alazim... dingin banget," gumam Ayini menggigil.
Alvaro kemudian meletakkan sebuah jaket tebal miliknya di atas kursi kayu di ujung selasar yang tidak terkena hujan—kursi yang biasa digunakan penjaga asrama.
Ia melakukannya dengan cepat, lalu pergi tanpa sepatah kata pun.
Ayini yang melihat itu langsung berlari pelan menuju kursi tersebut. Ia menemukan jaket kain berwarna gelap yang masih tercium aroma parfum gaharu yang sangat maskulin—aroma khas Gus Alvaro.
Ayini memeluk jaket itu. Jantungnya berdebar kencang. Ia tahu Gus Alvaro tidak akan pernah memberikan jaket itu langsung ke tangannya demi menjaga adab, tapi perhatian kecil ini sudah lebih dari cukup bagi Ayini.
"Gus... kamu beneran kulkas, tapi dalamnya penuh es krim manis," bisik Ayini sambil tersenyum lebar di tengah kegelapan malam.
Tanpa sepengetahuan Ayini, di bawah pohon besar yang basah, Alvaro sempat menoleh sekali lagi.
Ia melihat Ayini memakai jaketnya, dan untuk kesekian kalinya, senyum kecil muncul di wajah sang Gus yang irit bicara itu.
Sebuah perasaan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya mulai tumbuh, namun ia terus menekannya dengan doa dan istighfar, karena ia tahu perjalanan ini masih sangat panjang dan penuh ujian.