Genre: Sistem, Fantasi Timur, Reinkarnasi, Fanfiction, Over Power 🔥🔥
Li Yao mati, lalu sistem memberinya lima tubuh sekaligus di dunia Shrouding the Heavens, kemudian pergi begitu saja. Dengan satu jiwa dan lima takdir, ia harus berkembang dalam diam dan menyatukan kelimanya saat menembus ranah Four Pole. Zona Terlarang, makhluk tertinggi, bahkan para Kaisar Agung? Mereka semua akan berlutut, karena seorang penguasa sejati telah lahir! Li Tiandi:
"Zaman dan Era telah berubah."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RA.AM, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 10 — Burung Dalam Sarang Mengepakkan Sayap!
Tujuh tahun.
Bukan waktu yang singkat, tapi juga bukan waktu yang lama bagi seorang kultivator. Bagi Li Yao, tujuh tahun adalah masa di mana ia belajar satu hal yang tidak pernah diajarkan Wu Qingfeng, cara mengembangkan tubuh Kekacauan-nya sendiri.
Tidak ada kitab di Lingxu Dongtian yang membahas tentang tubuh seperti miliknya. Tidak ada teknik, tidak ada catatan, tidak ada satu pun petunjuk. Wu Qingfeng hanya bisa mengajarkan metode standar untuk kultivator biasa—metode yang berfungsi, tapi tidak pernah terasa tepat bagi Li Yao.
Ia sadar sejak awal bahwa jalannya berbeda.
Tubuh kekacauan tidak bisa dipaksa mengikuti aturan. Setiap kali Li Yao mencoba mengikuti metode standar, energi tersendat, aliran terhambat. Butuh waktu dua tahun baginya untuk berhenti memaksa, dan mulai bereksperimen sendiri. Ia membiarkan energi spiritual mengalir ke mana pun ia mau, tanpa diarahkan. Dan anehnya, energi itu tahu ke mana harus pergi.
Tugas Li Yao hanyalah tidak menghalangi. Itu adalah hal paling sulit—melepaskan kendali, percaya pada sesuatu yang tidak terlihat. Tapi setelah ia memahaminya, segalanya menjadi lebih mudah.
Lautan Pahit terbuka tanpa perlawanan. Mata Air Kehidupan memancar deras. Jembatan Ilahi berdiri kokoh. Dan akhirnya Pantai Seberang!semuanya terjadi secara alami.
Li Yao sendiri juga mengembangkan manifestasi tubuh kekacauan. Manifestasi ini disebut fenomena aneh, dan hampir setiap praktisi berbakat dan jenius di Bintang Biduk pasti mengembangkan nya.
Namun semua itu membutuhkan waktu, apalagi dengan tubuh kekacauan milik Li Yao, mungkin ketika mencapai ranah Four Pole (empat kutub), fenomena aneh nya akan sempurna.
Sekarang hanya berupa prototipe, bukan karena Li Yao lambat, tapi karena tidak ada yang bisa mengajarinya. Ia harus menemukan jalannya sendiri, setapak demi setapak, dalam kegelapan tanpa penerang.
Li Yao sendiri sudah tau apa fenomena aneh miliknya, Teratai Hijau Kekacauan! Sama seperti Ye Fan, tapi lebih kuat dan kuno, sesuai dengan fisik kekacauan Li Yao.
Keempat tubuh lainnya juga merasakan hal yang sama. Di Zifu, tubuh Hongmeng bergulat dengan energi yang terlalu murni dan padat. Di Yao Guang, Pupil Ganda-nya bisa menembus semua teknik, Tulang Tertinggi Abadinya menopang fondasi terkuat.
Di Yao Chi, tubuh Primordial berkembang dengan stabilitas membingungkan. Di Ras Iblis, tubuh yang diangkat Qing Jiao paling bebas, belajar dari alam tanpa tekanan aturan.
Lima tubuh. Lima tempat. Lima perjuangan berbeda. Namun semuanya merasakan hal yang sama: ada sesuatu yang lebih besar di luar sana, menunggu saat yang tepat.
**
Kira-kira dua bulan sebelum Li Yao menembus Pantai Seberang, seorang murid baru bergabung dengan Lingxu Dongtian.
Namanya Weiwei. Seorang gadis cantik dengan gigi putih terlihat ketika tersenyum. Weiwei yang sedikit muncul dalam cerita aslinya.
Weiwei adalah gadis seusianya, mungkin setahun lebih muda. Wajahnya bulat dan cerah, matanya berbinar, dan rambutnya diikat dua ekor kuda.
Ia datang dari kelurga petani, namun saat ini Weiwei hanya seorang yatim piatu. tanpa latar belakang istimewa. Namun para tetua segera menyadari bahwa Weiwei memiliki bakat kultivasi yang luar biasa—tubuhnya sangat cocok dengan energi spiritual, pemahamannya cepat, dan semangatnya tidak pernah padam.
Meskipun para tetua telah menyaksikan potensi besarnya, tidak ada yang menyebutkan fisik khusus apa pun. Weiwei hanyalah seorang gadis berbakat biasa—mungkin lebih berbakat dari kebanyakan murid, tapi tidak sampai level tubuh khusus atau keturunan dewa.
Begitulah mungkin pikiran para tetua dan ketua sekte Dongtian Lingxu.
Begitu tiba di Lingxu Dongtian, Weiwei langsung mencari teman. Ia cepat akrab dengan semua orang, termasuk Li Yao yang tinggal terpencil di belakang gunung.
“Kakak senior!” panggil Weiwei pada suatu pagi, ketika Li Yao sedang duduk bermeditasi di tepi sungai. “Aku Weiwei, murid baru. Bolehkah aku belajar dari kakak senior?”
Li Yao membuka mata. “Jangan panggil saya kakak senior, saya hanya murid biasa, dan tidak ada yang bisa kuajarkan.”
Meskipun Li Yao tau ini adalah Weiwei, karakter perempuan dimasa depan kecantikan nya dapat dibandingkan dengan gadis suci dari berbagai tanah suci. Tapi Li Yao tidak terpengaruh, lagi pula ia sekarang masih berusia sepuluh tahun.
“Tapi kakak senior lebih dulu di sini,” kata Weiwei sambil duduk di sampingnya tanpa permisi. “Jadi kakak senior tetaplah kakak senior.” Weiwei berbicara sambil tersenyum riang.
Sejak saat itu, Weiwei sering datang ke gubuk di belakang gunung. Ia datang dengan berbagai alasan—bertanya tentang kultivasi, meminjam kitab, atau sekadar duduk diam menikmati angin pagi. Kadang ia membawa makanan ringan dari dapur sekte. Li Yao tidak pernah memintanya pergi. Mungkin karena ia kesepian, atau mungkin hanya karena senyum gadis itu terasa hangat.
“Kakak senior,” kata Weiwei pada suatu sore, “kenapa kakak tinggal di sini sendirian? Dan tidak bergaul dengan murid lain?”
“Aku lebih suka sendiri,” jawab Li Yao.
“Kakak senior aneh,” kata Weiwei sambil tersenyum. “Tapi aku suka. Kakak tidak sok suci seperti murid senior lainnya.”
Li Yao tidak menjawab. Namun di dalam hatinya, ia tahu Weiwei bukan hanya gadis biasa. Ada ketulusan dalam dirinya yang jarang ditemukan.
Mungkin saja juga karena kemampuan mata Surgawi Weiwei, dia dapat melihat menembus tubuhnya. Yah... Li Yao sendiri tidak terlalu peduli, ia sangat tau karakter asli Weiwei.
Malam kepergian akhirnya tiba.
Bulan purnama bersinar terang. Wu Qingfeng sudah terlelap di gubuk mereka. Li Yao berdiri di halaman belakang untuk terakhir kalinya, menatap tempat-tempat yang sudah ia hafal selama tujuh tahun. Ia tidak membawa apa pun. Hanya jubah tipis yang melekat di tubuhnya.
Bukan berarti Li Yao tidak membawa apapun, seorang praktisi biasanya menyimpan barang penting di alam lautan kepahitan, atau pun sebuah artefak penyimpanan seperti cicin misalnya.
Ia melangkah menuju gerbang Lingxu Dongtian.
Langkahnya sunyi. Tubuh Kekacauan secara alami menyerap getaran, membuat hampir tidak ada suara. Ia hampir sampai di gerbang ketika sebuah suara lembut memanggil dari balik pepohonan.
“Kakak senior?”
Li Yao membeku.
Weiwei berdiri di bawah pohon pinus muda. Wajahnya masih mengantuk, rambutnya terurai tidak diikat. Matanya berkedip di bawah sinar rembulan.
“Aku tidak bisa tidur, dan berencana melihat bulan,” kata Weiwei sambil mengucek mata. “Lalu aku lihat ada bayangan... ternyata itu kakak senior.”
"Aku yakin itu hanya alasan, Jelas sekali ini karena kemampuan mata Surgawi nya!" kata Li Yao getir dalam hati saat melihat Weiwei.
Weiwei berjalan mendekat, lalu menatap Li Yao dengan heran. “Ini tengah malam. Kakak senior mau ke mana?”
Li Yao terdiam. Banyak alasan berputar di kepalanya.
“Aku... mau jalan-jalan,” kata Li Yao pelan.
“Jalan-jalan tengah malam?” Weiwei menajamkan mata.
“Melihat bulan,” tambah Li Yao. “Katanya bulan purnama begini bagus untuk kultivasi.”
Weiwei menatapnya beberapa saat. Kemudian ia tertawa kecil. “Kakak senior, meskipun kakak sangat berbakat dalam kultivasi, tetapi kakak senior sama sekali tidak berbakat berbohong.”
Bibir Weiwei terlihat tersenyum, namun senyuman ini jelas terasa sangat dipaksakan!
“Apa maksudmu?” Li Yao hendak membantah. Mencari-cari alasan yang masuk akal, namun Weiwei segera berbicara.
“Kakak mau pergi,” kata Weiwei. “Aku tidak tahu ke mana, tapi kakak mau meninggalkan Lingxu Dongtian.” Ia menghela napas. “Sudahlah, jangan berbohong. Aku tidak akan menghentikan kakak senior."
Li Yao terdiam.
“Tapi kenapa diam-diam?” lanjut Weiwei. “Kenapa tidak pamit guru Wu Qingfeng?”
“Aku tidak tega,” jawab Li Yao jujur, ia menghela nafas panjang. “Jika aku pamit, Tetua Wu Qingfeng akan khawatir. Lebih baik aku pergi diam-diam. Nanti, kalau sudah sampai di suatu tempat dan bertambah kuat, aku pasti akan mengirim kabar.”
Weiwei mengangguk pelan. “Aku mengerti. Guru Wu Qingfeng memang terlalu perhatian. Tapi kakak juga harus tahu, ia pasti akan sedih.”
“Aku tahu.” Li Yao mengangguk, tidak membantah.
Weiwei terdiam cukup lama. Angin malam berhembus, menggoyangkan rambut panjangnya.
“Kalau begitu, kakak harus berjanji,” pada akhirnya Weiwei berbicara pelan dan tersenyum hangat.
“Kakak senior harus kembali. Cuma sebentar. Untuk melihat guru Wu Qingfeng. Dan untuk melihatku juga.”
Li Yao mengangguk. “Aku berjanji.”
“Janji palsu?” Weiwei menyipitkan mata.
“Janji sungguhan.”
Jari kelingking mereka bersatu.
Weiwei tersenyum. Senyum yang sama seperti biasanya—cerah, hangat, tanpa beban. “Baiklah, kalau begitu aku percaya.”
Ia mundur selangkah. “Selamat jalan, kakak senior. Hati-hati di jalan. Jangan sampai dimakan binatang buas di hutan.”
Li Yao hampir tersenyum mendengar nada bercandanya. “Aku akan berusaha.”
Ia berbalik, melangkah melewati gerbang Lingxu Dongtian. Di belakangnya, Weiwei masih berdiri di bawah pohon pinus muda, melambai pelan.
“Jangan lupa janjinya, kakak senior!” bisiknya.
Li Yao tidak menoleh. Tapi di dalam hatinya, ia berjanji—suatu hari nanti, ia akan kembali. Hutang karma Gua Surga Lingxu sangat besar, dan saya Li Yao pasti akan melunasinya!