Tiga puluh tahun lalu, kakak perempuan Rakha tewas secara tragis akibat kejahatan konglomerat Hardi Adi Soetomo. Kini, Rakha telah tumbuh menjadi pengacara kelas atas yang penuh kuasa, namun hidupnya hanya didorong oleh satu tujuan: balas dendam.
Rencananya sempurna. Ia akan menghancurkan Hardi melalui titik lemahnya—sang putri semata wayang, Maharani Ayudia Soetomo, bintang muda yang sedang bersinar. Rakha mendekati Maharani, berniat menjadikannya alat penghancur bagi ayahnya sendiri.
Namun, di tengah intrik dan manipulasi, Rakha goyah. Maharani terlalu polos dan tidak tahu apa-apa tentang dosa masa lalu ayahnya. Saat kebenaran mulai terkuak dan perasaan mulai tumbuh, Rakha terjebak dalam pilihan mustahil: Menuntaskan sumpah dendamnya atau melindungi wanita yang seharusnya ia hancurkan?
Sebuah pertaruhan antara kebencian masa lalu dan cinta yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mikaelach09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB TUJUH BELAS
Maharani menarik napas panjang, menatap kucing itu yang kini sudah meringkuk dengan nyaman di pangkuannya. Ada secercah rasa lega, tipis sekali, namun cukup untuk membuatnya merasa tidak benar-benar sendirian.
Maharani masih duduk di sofa, memeluk kucing abu-abu kecil yang meringkuk nyaman di pangkuannya. Air matanya sudah sedikit reda, meski wajahnya tetap sembab. Tangannya terus mengusap bulu lembut itu, seolah hanya lewat sentuhan sederhana itu ia bisa menemukan sedikit ketenangan.
Suara langkah sepatu kulit tiba-tiba terdengar dari arah koridor. Tenang, berat, penuh wibawa. Maharani refleks menegakkan tubuh, jantungnya berdetak lebih cepat.
Tak lama kemudian, sosok tinggi dengan jas hitam yang kini tak lagi terlalu rapi muncul di ambang pintu. Rakha. Wajahnya teduh tapi dingin, matanya langsung tertuju pada Maharani yang terkejut melihatnya.
Maharani cepat-cepat menyeka pipinya, merasa malu tertangkap basah dalam keadaan rapuh.
Rakha menghentikan langkahnya sejenak, lalu mengamati pemandangan itu-Maharani, duduk dengan mata sembab, memeluk Louise di pangkuan. Senyum tipis muncul di sudut bibirnya, samar, hampir tak terlihat.
Dengan suara berat tapi tenang, ia berkata,
"namanya Louise."
Maharani terperanjat kecil. Ia menunduk ke arah kucing, lalu kembali menatap Rakha dengan ragu.
"L... Louise?" tanyanya pelan.
Rakha melangkah mendekat, langkahnya mantap tapi tidak tergesa. Ia melepas jam tangannya, meletakkannya di meja kecil dekat sofa, lalu berdiri tak jauh darinya. Tatapannya bergeser lembut pada kucing abu-abu itu.
"Benar... namanya. Louise. Scottish Fold kesayangan saya," ucapnya. "Dia biasanya pemilih. Tidak sering mau dekat dengan orang asing. Tapi malam ini... entah kenapa, dia langsung nyaman di pangkuanmu."
Maharani menunduk, tangannya masih mengusap bulu kucing itu. Ada perasaan hangat bercampur bingung yang muncul. Suaranya lirih, nyaris seperti gumaman.
"Sepertinya... dia tahu kalau saya butuh ditemani. Saya denger kucing punya insting kuat dan bisa menghalau energi negatif pada seseorang,"
Rakha menunduk sedikit, memperhatikan wajah Maharani dengan sorot tajam namun berbeda dari biasanya. Ada sesuatu yang dalam, sulit ditebak. Ia lalu berujar pelan,
"Mungkin benar. Louise punya insting yang kuat... sama seperti saya."
Maharani menahan napas, tak sanggup menatap balik terlalu lama. Kehadiran Rakha yang tiba-tiba membuat ruang yang tadi sepi kini penuh dengan energi aneh-campuran antara aman, tegang, dan tak terjelaskan.
Rakha akhirnya duduk tidak jauh dari Maharani. Ia bersandar, menyilangkan kaki, matanya tidak lepas dari Maharani. Sementara Louise mengeong kecil, seakan mencairkan ketegangan di antara mereka.
Louise masih meringkuk manja di pangkuan Maharani, sesekali mengeong kecil. Maharani menunduk, mengusap lembut bulu abu-abu lembut itu, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ruang TV begitu hening, hanya suara detik jam dinding yang terdengar.
Rakha yang semula hanya duduk di kursi kecil, perlahan berdiri dan melangkah ke sofa. Tanpa banyak bicara, ia duduk di samping Maharani. Kehadirannya begitu dekat membuat Maharani kaku, seakan udara di sekitarnya berubah lebih berat.
Rakha membawa sebuah paper bag berwarna hitam elegan, meletakkannya di atas meja rendah di depan mereka, lalu menariknya sedikit lebih dekat pada Maharani. Dengan nada datar tapi jelas, ia berujar:
"saya dengan dari pengawal, kamu tidak makan apapun sejak tiba dirumah saya. Kebetulan saya tadi ada meeting bersama klien di restoran sushi. Jadi saya bawakan beberapa untuk kamu. Silahkan dimakan, Masih segar."
Maharani menoleh cepat, matanya membesar sedikit, campuran terkejut dan bingung. Ia tak mengerti bagaimana Rakha bisa tahu.
"Bagaimana... bagaimana Bapak bisa tahu saya suka sushi?" suaranya pelan, bergetar, seolah takut mendengar jawabannya.
Rakha tersenyum miring, tidak langsung menjawab. Ia membuka paper bag itu perlahan, mengeluarkan kotak kayu berisi susunan sushi yang masih rapi, wangi khas sushi perlahan mengisi udara. Rakha lalu menoleh ke Maharani dengan sorot mata dalam, dingin tapi terukur.
"Pengacara seperti saya harus riset dan harus tahu lebih banyak tentang kliennya." ucap Rakha berkilah, padahal segala tentang Maharani Rakha tentu saja tahu, bayangkan saja. Dia sudah mengawasi Maharani sejak Maharani berusia dua belas tahun.
Maharani terdiam, hatinya bergejolak. Ada rasa curiga, ada pula rasa terjebak dalam kepedulian yang begitu asing baginya. Louise mengeong kecil, seolah merespon ketegangan yang menggantung di udara.
Rakha menambahkan dengan suara lebih rendah, hampir seperti bisikan:
"Makanlah. Kamu butuh tenaga. Dunia di luar sana tidak akan berhenti menekan hanya karena kamu lelah menangis. Kamu harus kuat untuk melawan Risyad"
Maharani menatap kotak sushi itu, lalu kembali ke wajah Rakha. Ia tidak tahu harus merasa apa-tersentuh, takut, atau justru semakin terperangkap.
Rakha hanya bersandar santai, namun matanya tetap tajam mengawasi setiap reaksi Maharani. Senyum miring itu belum hilang dari wajahnya, seperti ada rencana lain yang hanya ia sendiri yang tahu.
Maharani akhirnya memberanikan diri mengambil sepotong sushi dari kotak kayu itu. Tangannya sedikit bergetar, seolah sekadar menyentuh makanan pun membutuhkan keberanian. Louise masih meringkuk di pangkuannya, memberi sedikit rasa hangat di tengah kegelisahan.
Ia memasukkan sushi itu perlahan ke mulutnya. Rasa gurih dan segar memenuhi lidahnya, namun tenggorokannya tetap terasa kaku. Maharani menelan dengan susah payah, lalu menunduk dalam-dalam, seakan tak ingin Rakha membaca perasaannya yang berantakan.
Dengan suara pelan, nyaris berbisik, ia berkata,
"Terima kasih... Pak Rakha."
Rakha menoleh padanya, senyum miring itu kembali menghiasi wajahnya. Sorot matanya tajam, penuh kalkulasi, tetapi tersamar oleh nada lembut yang ia sengaja mainkan.
"Tidak perlu berterima kasih. Tugas saya adalah memastikan kamu tetap kuat. Karena di luar sana, setiap kelemahan kamu akan dijadikan senjata oleh musuh."
Maharani menatap sushi yang tersisa di kotak, lalu kembali pada wajah Rakha. Hatinya bergejolak. Ada sesuatu dalam sikap pria ini-perhatian yang terasa sekaligus menenangkan dan mencekam.
Rakha mencondongkan tubuh sedikit lebih dekat, suaranya rendah, tegas namun terdengar seperti bujukan halus.
"Jangan lupa, Maharani... sejak malam ini, keselamatanmu ada di bawah perlindungan saya. Percayakan semuanya pada saya. Dunia bisa saja menentangmu, tetapi saya..." ia berhenti sejenak, bibirnya melengkung samar, "...saya akan selalu ada di pihakmu."
Maharani hanya terdiam, genggamannya pada Louise semakin erat. Ucapan itu menggema di kepalanya, membuatnya semakin bingung: apakah Rakha benar-benar penyelamatnya.
Rakha bangkit dari sofa, meninggalkan Maharani yang masih memandangi kotak sushi di Meja. Langkahnya tenang, penuh kendali yang membuat ruang TV terasa semakin sempit. Maharani hanya bisa mengikuti dengan tatapan, jantungnya berdegup kencang tanpa alasan yang jelas.
Beberapa menit kemudian, suara mesin kopi dari dapur terbuka terdengar. Dengung lembut, bunyi uap panas, lalu aroma kopi segar perlahan memenuhi ruangan. Louise menggeliat manja di pangkuan Maharani, seakan mencoba mengalihkan perhatiannya, tapi pikirannya tetap tertuju pada sosok pria yang baru saja berlalu.
Rakha kembali muncul, kali ini dengan nampan kecil berisi dua cangkir kopi hitam berasap tipis. Ia meletakkannya di atas meja rendah, tepat di depan Maharani. Gerakannya elegan, penuh ketenangan yang justru terasa mencekam.
"Silakan," ucapnya datar namun tegas, "malam ini cukup panjang. Saya tidak ingin Anda terlalu larut dalam rasa takut. Sedikit kopi akan membantu menenangkan pikiran."
Maharani menunduk, jari-jarinya meremas ujung rok yang ia kenakan. Ia menoleh sekilas pada Rakha, lalu pada cangkir kopi itu. Dengan suara yang pelan dan hati-hati, ia berkata,
"Pak... repot-repot sekali. Saya... tidak tahu harus bagaimana membalas semua ini."
Rakha tersenyum miring, sorot matanya menusuk namun tampak hangat dari permukaan. Ia duduk kembali di samping Maharani, kali ini lebih dekat. Jemarinya yang panjang meraih cangkir satunya, lalu menyesap perlahan sebelum berbicara.
"Kamu tidak perlu membalas apa pun, Maharani. Saya hanya melakukan apa yang memang sudah seharusnya saya lakukan. Mengamankan kamu. Menjaga kamu. Karena saat ini..." ia menoleh, menatap lurus ke matanya, "...nona Maharani adalah prioritas saya."
Kata-kata itu membuat Maharani terdiam. Hatinya berdesir aneh, campuran antara rasa aman dan rasa terperangkap. Louise mengeong kecil, seolah menyadari ketegangan yang menggantung di udara.
Maharani menunduk, mengambil sepotong sushi dengan sumpit kayu yang tergeletak di samping kotak. Awalnya tangannya bergetar, tapi rasa lapar yang menumpuk sejak siang membuatnya akhirnya menyerah. Perlahan, ia memasukkan sushi itu ke mulutnya.
Keheningan menyelimuti ruang TV, hanya terdengar detik jam dinding dan suara lembut Louise yang sesekali mengeong. Maharani makan lagi, dan lagi. Tanpa sadar, ia sudah memakan lebih dari lima potong. Lidahnya mengenali rasa itu-tekstur nasi, potongan salmon yang segar, bahkan saus kedelai dengan aroma khas.
Maharani terhenti sejenak. Jantungnya mencelos. Ini bukan sekadar sushi biasa. Ini... benar-benar dari restoran langganannya, tempat ia sering makan diam-diam bersama Siska ketika ingin menghindari sorotan publik. Restoran kecil yang tidak banyak diketahui orang.
Louise, kucing abu-abu itu, turun dari pangkuannya, berjalan malas ke arah dapur, meninggalkan Maharani sendirian di sofa bersama ketegangan yang menggantung.
Mata Maharani perlahan terarah pada Rakha. Pria itu duduk di kursi seberang, tubuhnya bersandar santai, namun tangannya cekatan menggeser layar iPad di pangkuannya. Wajahnya serius, rahangnya mengeras, alis sedikit berkerut. Ia terlihat begitu fokus, seolah sedang membaca sesuatu yang penting.
Maharani menelan ludah. Dengan hati-hati, ia mencondongkan tubuh sedikit, berusaha mengintip. Sekilas, ia melihat deretan kata-kata pendek dengan huruf kapital yang menusuk mata:
"BESOK SEMUA ORANG AKAN MELIHATMU HANCUR."
"TAK ADA YANG BISA MENYELAMATKANMU."
"INI BARU PEMBUKAAN, MAHARANI."
Jantung Maharani berdegup kencang. Itu... itu pesan ancaman. Pesan dari Risyad.
Rakha menutup layar iPadnya dengan tenang, seakan sadar bahwa Maharani melihat. Ia menegakkan duduknya, lalu menatap Maharani lurus-lurus. Senyum tipis muncul di wajahnya, tapi sorot matanya tetap tajam.
"saya sudah membaca semua pesan yang kamu terima," ujarnya datar, nadanya berat. "Ini bukan sekadar pesan remeh. Ini sudah masuk Pasan ancaman. Dan Risyad tahu betul bagaimana cara menghancurkanmu, Maharani. Dia seperti tahu kelemahan kamu,"
Maharani menunduk dalam, jemarinya meremas ujung dress yang ia kenakan. Air matanya menetes membasahi pipi, jatuh satu-satu ke pangkuannya. Suaranya pecah, lirih, nyaris tercekat.
"Benar, Pak... itu sebabnya saya takut. Saya bahkan tidak tahu, dia... dia menyimpan, bahkan merekam saat kami... berhubungan."
Rakha yang semula duduk dengan tenang, tiba-tiba mengencangkan rahangnya. Otot wajahnya menegang, sorot matanya berubah tajam, menusuk Maharani tanpa ampun. Ada api yang tiba-tiba menyala dalam dirinya-campuran amarah, kekecewaan, sekaligus sesuatu yang tak bisa ia definisikan. Tangannya yang memegang iPad menegang, jemarinya nyaris menghancurkan casing tipis itu.
Jadi benar. Maharani pernah tidur bersama Risyad. Jadi benar, video syur yang beredar itu bukan rekayasa.
Rakha mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya rendah, hampir seperti desisan.
"Jadi... video itu memang kamu dan Risyad?"
Maharani mengangkat wajahnya perlahan, matanya sembab, berkaca-kaca penuh penyesalan. Ia mengangguk kecil, seolah tubuhnya sendiri tak sanggup menyangkal.
"Benar, Pak..."
Rakha membuang napas kasar, kepalanya sempat terangkat ke langit-langit ruangan seakan mencari udara. Matanya menutup rapat sebentar, menahan sesuatu yang meletup dalam dadanya. Ketika kembali menatap Maharani, ekspresinya sudah membeku-dingin, tegas, tanpa kompromi.
"How could you, Maharani..." katanya dengan campuran bahasa, nadanya nyaring namun tertahan. "Kenapa kamu bisa teledor begitu?"
Maharani terisak keras, suara parau keluar dari tenggorokannya.
"Dia... dia selalu mengancam saya, Pak. Waktu itu saya masih terlalu muda. Dia bilang dia cinta... dia bilang dia serius. Saya bodoh, saya percaya. Kalau saya tidak mengikuti keinginannya, dia akan siksa saya, bahkan mengancam saya dengan video itu. Saya tidak tahu dia akan menyimpan semuanya. Saya tidak pernah setuju direkam! Dia... dia melakukannya secara diam-diam..."
Kata-kata itu meluncur sambil tersedak tangis. Bahunya bergetar, matanya menolak menatap lurus ke arah Rakha.
Rakha mengepalkan tangannya di atas lutut, tulang-tulang jarinya memutih menahan emosi. Dadanya panas, bukan hanya karena kasus hukum yang kini menjadi bom waktu, tapi juga karena sesuatu yang lebih personal-sesuatu yang menusuk dalam, membuatnya sulit bernapas. Seolah ia merasa dikhianati, padahal ia sendiri tak pernah benar-benar memiliki Maharani.
Suara Rakha keluar lebih berat, menekan setiap suku kata, seakan tiap kalimatnya adalah palu godam.
"Maharani..."
Ia berhenti sejenak, menahan diri agar emosinya tidak meledak. Napasnya terseret kasar.
"Kamu sadar kan, ini bukan sekadar kecerobohan remaja. Ini... adalah celah. Celah yang bisa dipakai untuk menghancurkanmu kapan saja. Dan sekarang-dia sudah melakukannya. Dia sudah buka pintu kehancuran itu, dan kamu... kamu yang berdiri di tengah pusarannya."
Maharani menutup wajahnya dengan kedua tangan, tubuhnya bergetar hebat. Suara tangisnya pecah, memenuhi ruang TV yang sebelumnya hening.
Rakha hanya menatapnya dari atas sofa, rahangnya masih mengeras, dadanya masih naik-turun. Ada bagian dari dirinya yang ingin menghakimi, ingin mengguncang Maharani agar sadar. Namun ada pula bagian lain yang tak bisa ia kendalikan-sebuah rasa asing yang membuatnya marah bukan hanya pada Maharani, tapi juga pada dirinya sendiri.