NovelToon NovelToon
Anomali Rasa

Anomali Rasa

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Romantis
Popularitas:643
Nilai: 5
Nama Author: USR

Pertemuan kembali di koridor universitas seharusnya menjadi momen nostalgia yang manis, namun bagi Wahyu dan Riani, itu adalah awal dari sebuah interaksi yang panjang dan penuh tembok penghalang.
Namun, hubungan mereka tidak berjalan semudah bayangan. Ada penyangkalan yang kuat, kecanggungan yang berlarut-larut, hingga cara berkomunikasi yang sering kali menemui jalan buntu.

Nantikan Perjalanan Kedua nya.....

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon USR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 4

POV: WAHYU

Wahyu benci Jumat siang.

Bukan karena ada yang salah dengan hari Jumat—sebenarnya Jumat bagus, kelas cuma sampai siang, sore bisa dipakai buat ngerjain kerjaan lain. Tapi masalahnya, Jumat siang itu adalah waktu paling ramai di kantin kampus 1.

Dan Wahyu sekarang ada di situ.

Dia berdiri di dekat mesin kopi otomatis, menunggu cup kopi hitamnya keluar. Di belakangnya, antrean mulai terbentuk—tiga mahasiswi yang lagi ngobrol sambil tertawa, satu mahasiswa cowok yang scrolling HP, dan dua orang lagi yang Wahyu nggak peduli siapa mereka.

Mesin kopi berbunyi. Cup keluar. Wahyu ambil, putar badan, langsung jalan.

Tujuan: keluar kantin secepat mungkin.

Tapi baru lima langkah, seseorang memanggilnya.

"Wahyu!"

Suara cewek. Familiar. Tapi bukan Riani.

Wahyu berhenti. Reflek. Otaknya langsung kerja: identifikasi suara, prediksi siapa, kalkulasi apakah ini ancaman atau bukan.

Dia menoleh.

Dan matanya bertemu dengan sosok yang... lama nggak dia lihat.

Karin.

Cewek berkerudung pastel biru itu berdiri tiga meter darinya, senyum lebar, tangan setengah terangkat seperti mau melambaikan tapi ragu. Di sampingnya ada cowok berkacamata—mungkin teman atau pacar, Wahyu nggak peduli.

Wahyu freeze.

Karin.

Teman SD. Kelas 4 sampai kelas 6. Salah satu dari sedikit orang yang dulu... peduli.

Dan sekarang dia di sini.

Kenapa?

"Gila, beneran lo! Wahyu!" Karin berjalan mendekat, senyumnya makin lebar. "Udah lama banget nggak ketemu! Lo kuliah di sini?"

Wahyu nggak langsung jawab. Matanya scanning Karin—dari rambut sampai sepatu—mencari... apa? Dia nggak tau. Mungkin tanda-tanda niat tersembunyi. Mungkin ekspresi yang nggak genuine.

Tapi yang dia lihat cuma... ketulusan.

Atau setidaknya, yang terlihat seperti ketulusan.

"Iya," jawab Wahyu akhirnya. Suara datar. Minimal. "Kuliah di sini."

"Wah! Fakultas apa? Gue Ekonomi, Manajemen. Lo?"

"Hukum."

"Oh, kampus 3 dong? Terus lo lagi ngapain di kampus 1?"

Terlalu banyak pertanyaan.

Wahyu mulai merasa... tertekan. Seperti ada sesuatu yang meremas dadanya perlahan. Ini bukan pertanyaan sulit—secara logika, ini cuma small talk biasa. Tapi buat Wahyu, setiap pertanyaan itu seperti invasi. Seperti orang lain trying to pry into his life.

"Ada urusan," jawab Wahyu singkat. Dia mengangkat cup kopi sedikit, isyarat halus: gue buru-buru.

Tapi Karin nggak notice. Atau notice tapi ignore.

"Kamu... masih inget gue kan? Karin. Dulu kita satu SD, SD Negeri 12. Kelas 4 sampe 6 bareng."

Wahyu mengangguk. "Inget."

"Seneng banget ketemu lo lagi! Gue kira... yah, kita udah lost contact total. Gimana kabar lo? Keluarga? Sehat semua?"

Dan di situlah trigger pertama muncul.

Keluarga.

Rahang Wahyu mengeras. Tangannya yang memegang cup kopi agak mencengkeram lebih kuat—untung ada tutup, jadi kopi nggak tumpah.

"Baik," jawabnya cepat. "Semuanya baik."

Bohong.

Tapi Karin nggak perlu tau itu.

Nggak ada yang perlu tau itu.

Karin tersenyum lagi—senyum yang... lembut. Seperti dia tau Wahyu nggak nyaman, tapi dia nggak mau push.

"Syukur deh. Anyway, lo punya waktu nggak? Mau ngobrol sebentar? Udah lama banget soalnya."

Wahyu ingin bilang "nggak". Ingin bilang "gue sibuk". Ingin langsung pergi tanpa menoleh.

Tapi...

Ada sesuatu di mata Karin. Sesuatu yang... tulus. Bukan fake. Bukan pity. Cuma... ketulusan.

Dan itu membuat Wahyu... ragu.

"Gue ada meeting," jawab Wahyu akhirnya. "Jam satu. Sekarang udah jam dua belas lewat."

"Oh, oke! Nggak apa. Terus... kita tukeran kontak yuk? Biar bisa ngobrol-ngobrol lagi kapan-kapan."

Wahyu terdiam.

Tukeran kontak.

Itu berarti... membuka pintu. Pintu untuk orang lain masuk ke dalam hidupnya. Dan setiap kali Wahyu membuka pintu itu, orang yang masuk... pada akhirnya pergi. Atau worse, they hurt him.

"Gue..." Wahyu mencari alasan. "Gue jarang buka WA."

"Line? Instagram? Apapun deh."

"...Nggak aktif."

Karin mengerutkan kening—bingung, tapi nggak offended. "Oh. Oke deh. Kalau gitu... kapan-kapan kita ngobrol lagi ya, kalau ketemu di kampus?"

Wahyu mengangguk. Nggak commit. Cuma anggukan diplomatis yang artinya: iya, mungkin, tapi jangan expect.

"Oke! Nice to see you again, Wahyu. Take care ya!"

Karin melambaikan tangan, lalu berjalan kembali ke cowok berkacamata tadi. Mereka ngobrol sebentar—mungkin Karin cerita tentang Wahyu—tapi Wahyu nggak peduli.

Dia langsung berbalik, jalan cepat keluar kantin.

Begitu keluar, Wahyu menarik napas panjang.

Dadanya masih sesak.

Tangannya sedikit gemetar—nggak obvious, tapi dia merasakannya.

Kenapa?

Kenapa bertemu Karin bikin dia se-uncomfortable ini?

Karin nggak jahat. Karin dulu teman baik. Bahkan waktu semua orang mulai menjauhi Wahyu di SD, Karin masih... bertahan. Masih coba dekatin. Masih coba ngajak ngobrol.

Tapi Wahyu yang push her away.

Karena Wahyu nggak mau... membebani.

Nggak mau Karin ikut kena stigma "temenan sama anak koruptor".

Jadi Wahyu memutuskan: lebih baik sendiri. Lebih baik nggak punya teman, daripada punya teman yang akhirnya malu atau dihina gara-gara deket sama dia.

Dan keputusan itu... masih berlaku sampai sekarang.

Wahyu berjalan menuju gedung Rektorat. Sekretariat BEM ada di lantai tiga. Meeting hari ini: evaluasi proposal Donor Darah. Dia harus datang—sebagai koordinator lapangan, kehadirannya wajib.

Tapi pikirannya masih di Karin.

"Lo sehat semua?"

Pertanyaan itu... innocent. Tulus. Tapi buat Wahyu, itu seperti menusuk luka lama yang belum sembuh.

Sehat?

Finansial keluarga barely surviving. Ayah stress berat gara-gara sidang yang nggak kunjung selesai. Ibu kerja part-time di toko kelontong tetangga buat nambah pemasukan. Adik pertama Wahyu, umur 8 tahun, masih SD—nggak tau apa-apa tentang kondisi keluarga. Adik bungsu, umur 1 tahun, masih bayi—butuh susu, popok, biaya imunisasi.

Dan Wahyu?

Kuliah sambil kerja. Tidur 3-4 jam sehari. Makan seadanya. Nggak pernah beli baju baru—semua baju yang dia punya sekarang itu baju SMA atau pemberian paman.

Sehat?

Secara fisik, mungkin. Tapi mental?

Wahyu nggak tau.

Dia sampai di lantai tiga. Masuk ke sekretariat BEM. Ardi, Bagas, dan Siska sudah ada di dalam. Plus dua orang lagi—mahasiswa baru yang jadi volunteer event Donor Darah.

"Wahyu! Ayo masuk, kita baru mau mulai," Ardi manggil sambil nunjuk kursi kosong.

Wahyu duduk. Taruh cup kopi di meja. Buka laptop.

Focus.

Lupakan Karin. Lupakan Riani. Lupakan semua orang.

Focus on what you can control: pekerjaan, tugas, target.

Meeting dimulai.

Wahyu mencatat setiap detail dengan rapi. Vendor mana yang harus dihubungi, kapan deadline konfirmasi, berapa budget maksimal, siapa yang bertanggung jawab handle publikasi, siapa yang koordinasi dengan PMI.

Semua terorganisir. Semua jelas.

Ini dunia yang Wahyu suka: dunia yang bisa dikontrol. Dunia yang nggak ada drama. Nggak ada emosi. Cuma data, angka, deadline, eksekusi.

Meeting selesai jam dua siang. Wahyu langsung packing. Tapi Ardi memanggilnya.

"Yu, sebentar. Gue mau ngobrol."

Wahyu menghentikan gerakan memasukkan laptop ke tas. "Ada apa?"

"Lo... oke? Maksud gue, these past weeks lo keliatan lebih... tense. Ada masalah?"

Wahyu menatap Ardi. Cowok ini... perceptive. Lebih perceptive daripada kebanyakan orang.

"Nggak ada masalah," jawab Wahyu. "Cuma capek."

"Capek atau overwhelmed?"

"Same thing."

Ardi terdiam. Lalu menghela napas. "Oke. Gue nggak mau maksa lo cerita. Tapi... kalau lo butuh bantuan, or just need someone to talk, gue available. Oke?"

Wahyu mengangguk. "Thanks."

Tapi dalam hati, dia tau: dia nggak akan pernah ambil tawaran itu.

Sore harinya, Wahyu pulang ke kost. Capek. Physically and mentally drained.

Dia buka pintu kamar, lempar tas ke kasur, lalu langsung rebahan.

HP berbunyi. Notifikasi email.

Client translation: "Hi Wahyu, received the 11 pages. Great work. Waiting for the rest. Please send by tonight if possible. Thanks."

Wahyu menutup mata.

Tonight.

Berarti dia harus lanjut sekarang. Nggak ada waktu istirahat.

Dia bangkit. Duduk di meja belajar. Buka laptop.

File translation masih 6 halaman lagi. Kalau fokus, bisa selesai 4 jam.

Wahyu mulai mengetik.

Tapi sepuluh menit kemudian, konsentrasinya buyar.

Pikirannya melayang ke... Riani dan Karin.

Dua orang dari masa lalu yang tiba-tiba muncul lagi.

Kenapa sekarang?

Kenapa mereka peduli?

Wahyu menggeleng. Stop overthinking.

Mereka nggak "peduli". Mereka cuma... being polite. Atau penasaran. Atau iseng.

Nggak ada yang genuine.

Semua orang punya agenda.

Wahyu sudah belajar itu.

Dia kembali fokus ke laptop. Jari-jari mengetik cepat, mentranslate kalimat demi kalimat dari Bahasa Inggris ke Bahasa Indonesia.

Kerja.

Itu satu-satunya hal yang bisa dia kontrol.

Itu satu-satunya hal yang nggak akan mengkhianatinya.

Pukul delapan malam, Wahyu selesai. Enam halaman done. Total 17 halaman. Tinggal 4 halaman lagi—dia kerjakan besok pagi.

Dia kirim email ke client: "17 pages done. Will send the final 4 pages by tomorrow morning. Thanks."

Send.

Wahyu menutup laptop. Merebahkan kepala di meja.

Lapar.

Kapan terakhir makan?

Pagi. Nasi sama telor. Itu doang.

Wahyu bangkit, jalan ke dapur bersama. Masak mie instan. Dua bungkus—biar kenyang.

Sambil nunggu air mendidih, dia cek HP.

WA dari Mama: "Yu, besok Sabtu ada sidang lagi. Bapak minta kamu dateng. Bisa?"

Wahyu menatap layar.

Sidang.

Lagi.

Wahyu: "Jam berapa?"

Mama: "Jam 9 pagi. Di pengadilan yang sama."

Wahyu: "Oke. Gue dateng."

Mama: "Makasih ya, Nak. Bapak butuh support."

Wahyu nggak reply.

Dia menaruh HP, tuang air panas ke mie instan, tunggu tiga menit, lalu makan di dapur—sendirian.

Besok Sabtu.

Berarti nggak ada kelas. Tapi ada sidang.

Dan Wahyu harus... kuat. Harus tegar di depan Ayah. Nggak boleh keliatan lemah.

Karena kalau dia lemah...

Siapa yang akan jadi support system buat keluarganya?

Wahyu menghabiskan mie instan dalam diam.

Lalu kembali ke kamar.

Rebahan.

Menatap langit-langit.

Dan berharap... besok akan lebih baik.

Meski dia tau, harapan itu... hampa.

Bersambung.....

1
YoMi
Lanjut kan kak
DemSat
Nice Story /Kiss/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!