Alvian Wira. Di panggung internasional, dunia mengenalnya sebagai Hades, Dokter Dewa, karena kemampuan medisnya luar biasa. Tapi setelah kembali ke Indonesia, dia hanya seorang dokter umum biasa yang mendirikan sebuah klinik kecil di pinggir kota.
Konflik kepemilikan tanah membawanya ke sebuah pernikahan dengan anak direktur rumah sakit terkenal, Clarissa Amartya. Dokter SpJP yang hanya ingin fokus dengan karirnya, tapi dipaksa menikah dengan ancaman mencabut izin prakteknya.
Clarissa yang dingin seperti kulkas, Alvian yang pecicilan dan suka menggoda. Dua kepribadian tinggal bersama, perlahan menumbuhkan perasaan.
Namun, ketika perasaan itu mulai tumbuh, masalah datang silih berganti, hingga mengungkap kebenaran tentang masa lalu Alvian. Tentang siapa dia sebenarnya, dan alasan kenapa dia menyembunyikan semuanya.
Apakah Clarissa bersedia menerima Alvian? Terlebih setelah mengetahui jika Alvian yang ia kenal selama ini, hanyalah topeng untuk menutupi identitas dan masa lalunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sayap perak, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 : Pesawat ke Bali - Sekamar Berdua
Bandara Soekarno-Hatta. Terminal 3.
Langit masih abu-abu, tetapi bandara sudah ramai. Alvian Wira sudah di gate C5 dari jam 6 pagi. Kemeja biru muda, disetrika ala kadarnya, celana bahan, membawa ransel hitam butut. Takut telat, takut Clarissa menunggu, padahal Clarissa tidak akan repot-repot seperti itu.
Dia membeli dua air mineral di vending machine. Satu buat dia, satu... jaga-jaga. Dimasukin ransel.
Jam 06.47, Clarissa muncul dari eskalator. Blazer krem, celana panjang hitam, sepatu flat. Koper kabin silver glossy, ada pita merah di gagangnya. Kacamata hitam menancap di kepala, rambut diikat rapi, jalan cepat, tanpa nengok kanan kiri.
Alvian berdiri mau menyapa. Tapi baru berkata, "Ist- ...." mata Clarissa sudah melotot tajam penuh peringatan.
Clarissa sudah lewat, duduk di kursi tunggu, sengaja pilih yang pojok, dekat colokan. Jarak 2 kursi kosong dari Alvian. Di tengahnya, di antara mereka, ada bapak-bapak pakai topi golf lagi baca kompas, kaki selonjoran.
Alvian berniat pindah ke kursi kosong di samping Clarissa, tapi saat itu ada ibu-ibu gendong anak langsung duduk begitu saja.
"..."
Clarissa berdecak mengejek, sementara Alvian
duduk lagi sambil garuk-garuk kepala.
"Boarding jam 7. Gate masih sama."
"Ya," jawab Alvian, lemas.
Bapak kompas yang di tengah lirik mereka bergantian. Tanpa kata, tapi dari tatapannya seperti tahu apa yang terjadi. Dia terkekeh, menertawakan Alvian, lalu ganti membentangkan majalah.
Tepat pukul tujuh, pengumuman dari pengeras suara memberitahukan penumpang Garuda Indonesia GA-412 untuk tujuan Denpasar segera melakukan boarding di pintu C5.
Antrean mengular. Clarissa berdiri mearik kopernya diikuti dengan Alvian yang jarak 4 orang di belakang. Ada ibu-ibu, ada bule, ada bapak topi golf yang masih mengejek Alvian.
"Kasian, dicuekin istri." Mungkin begitu maksud senyumannya.
Di pintu gate, pramugari bertugas mengecek boarding pass.
"Selamat pagi, Dok Clarissa. Silakan."
"Selamat pagi, Dok Alvian. Silakan."
Mungkin karena melihat nama kedua dokter ini memiliki nama belakang yang sama, salah satu pramugari spontan berceletuk.
"Lagi mau honeymoon ya dok? Lagi musim soalnya."
Alvian menjawab, "Emangnya kelihatan banget ya? Tahu saja kita mau honeymoon."
Clarissa yang di samping langsung menyikut perut Alvian hingga membuatnya meringis.
"Ouh, Istri."
Alvian sangat tidak tahu malu. Dia bukan hanya pura-pura kesakitan, tapi juga malah sengaja menggunakan kesempatan itu untuk merangkul tangan Clarissa.
Tapi untungnya Clarissa punya reflek yang cepat sehingga dia menyelinap pergi meninggalkan Alvian di belakang.
Ketika Alvian menyusul, Clarissa langsung memarahinya.
"Menyesal aku mengajakmu ikut."
Alvian nyengir tanpa rasa bersalah.
Sampai keduanya di dalam pesawat, mereka langsung menuju seat 18A & 18B. Kursi ekonomi, tapi di bagian paling depan.
Clarissa duduk 18A, deket jendela. Tas ditaruh bawah kursi, mengenakan sabuk pengaman, lalu menurunkan kacamata.
Alvian 18B, di tengah. Dia masukin ransel ke kabin atas, mengenakan sabuk dan duduk dengan tenang. Di samping luar, ibu-ibu gendong bayi 8 bulan. Bayinya perempuan, pipi tembem, mata bulat, pakai topi bebek warna kuning.
"Bayinya lucu ya," ucap Alvian sambil menyenggol Clarissa.
"Kamu suka perempuan atau laki-laki?"
"..."
"Jika kamu terus bicara akan kuminta kapten menurunkanmu." Setelah bicara Clarissa memejamkan mata. Tidur? Nggak. Cuma menutup mata, malas melihat wajah pria di sampingnya.
Saat itu pesawat jalan ke landasan. Pramugari demo safety. Alvian menyimak, sementara Clarissa tak membuka matanya.
Take off. Kuping Alvian tak bisa mendengar apapun. Dia nguap, tutup mulut, melirik Clarissa yang anteng. Kacamata menutup setengah muka, hanya alis yang terlihat, tak bergerak sedikit pun.
Bayi perempuan di samping tiba-tiba menangis. Mungkin karena suara yang keras mengejutkannya. Ibu bayi berusaha menenangkan anaknya, tapi botol susu malah tumpah ke baju Alvian.
"Yah," Alvian terkejut, ibu bayi panik sambil minta maaf.
Clarissa melirik sekilas. Membuka tas, lalu tanpa bicara, tanpa lihat, menyodorkan handuk kecil putih, bordir C, ke Alvian.
"Makasih, Istri." Ambil handuk, lap bajunya.
"Jika sudah buang saja. Sudah kotor."
Alvian mengangguk, meski handuk itu pada akhirnya dimasukkan ke dalam ransel.
"Dari Istri," gumamnya.
__
Satu jam sudah tanpa terasa pesawat take-off. Pramugari berjalan membagi makanan. Pilihannya, nasi ayam atau ikan. Clarissa ikan, sementara Alvian ayam. Makan tanpa bicara, hanya suara Sendok dan garpu yang terdengar.
Sekitar jam 10.00 WITA. Pesawat landing di Bandara Ngurah Rai.
Alvian langsung turun dan menunggu kopernya. Begitu muncul langsung mengambilnya, dan bergegas takut ditinggal.
Benar saja, Clarissa sudah berjalan di depan. Alvian menyusul setengah berlari sampai mereka menemukan sopir hotel, baju safari, senyum mengembang, berdiri di antara kerumunan sambil mengangkat papan nama. "Dr. Clarissa Amartya +1".
"Dokter Clarissa, ya. Selamat datang di Bali, Dok. Saya Wayan. Mobilnya di sana." Nunjuk Alphard putih.
Clarissa mengikuti Pak Wayan dan masuk ke mobil. Alvian juga, tapi harus atur koper dulu sebelum duduk bersama Clarissa di belakang.
___
Hotel Nusa Dua.
Sampai di lobi hotel, udara cukup sejuk. Mereka datang ke resepsionis yang kemudian dengan segera menyambut ramah.
"Selamat siang, dr. Clarissa. Kami sudah siapkan kamar twin bed lantai 12, ocean view, sesuai permintaan Kolegium."
Setelah itu resepsionis memberi 1 key card, dan sebuah amplop yang tebal. "Ini kuncinya, Dok. Welcome dinner jam 7 malam di ballroom Garuda. Dress codenya, batik."
"Oke, makasih."
Setelah itu mereka naik lift. Kebetulan ada pasangan bule yang juga ikut lift bersama mereka. Cukup lama diam, bule yang cowok bertanya ke Alvian.
"You two honeymoon?"
Alvian mau menjawab tapi tepat pintu terbuka Clarissa sudah nyelonong keluar tanpa menunggu suaminya itu.
Kamar 1208.
Tap. Pintu terbuka setelah bunyi suara "beep". Kamar besar, dua kasur single ukuran 120x200, sprei putih, lalu duvet tebal. Di tengah ada nakas, lampu, telepon, jendela full, dengan pemandangan laut biru langsung nampol mata.
"Wow!!" Alvian taruh koper dekat pintu, langsung berdiri di depan jendela, menikmati pemandangan memukau.
Clarissa lebih kalem, dia masuk, menaruh tasnya di salah satu kasur yang paling jauh dari pintu. "Kamu di sana," tunjuk kasur lain.
Tanpa menunggu jawaban Alvian, Clarissa langsung membongkar koper, melipat jas, mengeluarkan laptop dan jurnal.
Di sisi lain, Alvian bertukar pesan dengan dr. Hendra, mertuanya.
[Udah check in? Kamar gimana?]
Alvian ambil foto cepat, lalu mengirimnya. [Udah, Pa. Twin bed. Aman.]
dr. Hendra membalas tak sampai satu detik. [Bagus. Malam ini dinner, kamu temanin Clarissa. Dia nggak suka small talk. Kalau ada yang nanya aneh-aneh, kamu yang jawab. Jadi tameng.]
[Siap, Pa.]
Alvian ketawa kecil, menaruh hpnya. Kebetulan saat itu bertepatan ketika Clarissa baru saja keluar dari kamar mandi. Uap putih keluar, Clarissa berjalan mengenakan kaos putih polos kebesaran dengan celana training hitam. Rambutnya basah, diikat asal, muka polos tanpa ada lipstik. Tapi penampilannya malah... lebih muda. Kayak mahasiswa tingkat akhir.