Dunia Maya jungkir balik saat ia terbangun dan menyadari bahwa ia telah terikat pernikahan dengan adik tingkatnya yang paling populer di kampus. Perbedaan usia lima tahun membuat Maya merasa seperti sedang mengasuh seorang adik daripada melayani seorang suami.
Lucunya, sang suami justru bersikeras ingin membuktikan bahwa dirinya adalah pria dewasa yang bisa diandalkan. Mulai dari kecanggungan di dapur hingga usaha-usaha romantis yang berakhir gagal total, Maya mulai melihat sisi lain dari si "brondong" yang membuat jantungnya berdebar tidak karuan. Menikahi pria yang lebih muda ternyata bukan tentang mengajari, tapi tentang belajar mencintai kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naelong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 27 - MHB
Maya melirik Arka dari sudut matanya. Pria itu fokus menatap jalanan, satu tangannya berada di kemudi, sementara tangan lainnya sesekali mengetuk pelan tuas transmisi. Wajahnya sudah tenang, namun garis rahangnya masih terlihat tegas.
Kenapa dia melakukan itu? tanya Maya dalam hati. Dia mempertaruhkan reputasinya di kampus. Dia menghancurkan hubungannya dengan rekan setimnya sendiri. Untuk apa? Untuk melindungiku yang bahkan sering ketus padanya?
Maya merasa harus memecah kesunyian ini. Rasa penasaran itu kini lebih besar daripada gengsinya.
"Arka," panggil Maya lirih.
Arka menoleh sekilas, memberikan senyum tipis yang hangat. "Ya, Kak? Kamu masih kedinginan? AC-nya aku kecilkan ya?"
"Bukan," Maya membenarkan posisi duduknya, menghadap ke arah Arka. "Soal tadi... di pesta. Kamu benar-benar nekat. Ghea itu rekan timmu, Arka. Proyek kalian bisa terhambat kalau kamu bicara sekasar itu padanya di depan umum."
Arka mengangkat bahu sedikit, matanya tetap pada jalanan di depan. "Dia yang mulai duluan. Menghina orang yang berharga buatku itu adalah satu-satunya hal yang nggak akan pernah aku toleransi."
Maya menelan ludah. Jantungnya berdegup lebih kencang mendengar kata "berharga". Ia meremas ujung blazer Arka yang ia pakai. "Tapi kenapa? Kenapa kamu sampai sejauh itu membelaku? Kamu bisa saja diam dan menarikku pergi secara halus. Kamu nggak perlu menegaskan kalau aku 'satu-satunya orang yang punya hak' atas kamu di depan semua orang."
Arka memperlambat laju mobilnya saat mereka memasuki kawasan apartemen. Ia memutar kemudi masuk ke area parkir bawah tanah yang sepi. Setelah memarkir mobil dengan sempurna, ia mematikan mesin, namun tidak langsung keluar.
Suasana menjadi sangat intens. Cahaya lampu neon di parkiran masuk melalui jendela, menciptakan bayangan yang dramatis di wajah Arka. Ia melepas sabuk pengamannya, lalu berbalik sepenuhnya ke arah Maya.
"Kamu benar-benar ingin tahu alasannya?" tanya Arka, suaranya kini merendah, sangat lembut namun penuh penekanan.
Maya hanya bisa mengangguk kecil, lidahnya terasa kelu.
Arka mendekat sedikit, menatap tepat ke dalam mata Maya memancarkan tatapan yang begitu jujur hingga Maya merasa seluruh jiwanya sedang dibaca. "Aku membelamu karena aku tidak suka melihat milikku diganggu. Dan soal kata-kataku tadi..."
Arka menjeda sejenak, senyum tipis yang manis namun mematikan muncul di bibirnya. "Di kertas perjanjian pernikahan kita... ada banyak larangan. Nggak boleh ini, nggak boleh itu. Tapi seingatku, nggak ada larangan untuk aku jatuh cinta sama kamu, kan?"
Kalimat itu meluncur begitu tenang, namun dampaknya seperti ledakan di dalam kepala Maya. Seluruh sel tubuhnya terasa tersengat listrik. Dunia seolah berhenti berputar. Arka baru saja mengakui perasaannya secara gamblang, tanpa kiasan, di tengah suasana parkiran yang dingin.
Maya terpaku. Pipinya mendadak terasa panas luar biasa, menjalar hingga ke telinga. Ia bisa merasakan darahnya berdesir hebat. Selama ini ia menduga-duga, menebak-nebak di balik sikap protektif Arka, tapi mendengarnya langsung adalah hal yang berbeda.
"Arka... itu... maksudku..." Maya tergagap. Ia segera membuang muka ke arah jendela samping, tangannya sibuk merapikan rambut yang sebenarnya sudah rapi. "Kamu... kamu pasti cuma bercanda karena masih terbawa suasana pesta tadi, kan? Kamu kan suka sekali menggodaku."
Maya mencoba tertawa hambar, namun suaranya terdengar sangat canggung. "Lagipula, sereal di rumah benar-benar habis, Arka! Kita harusnya mampir ke minimarket tadi. Kamu ini malah bahas yang aneh-aneh."
Arka tertawa kecil, suara tawa yang rendah dan merdu. Ia tahu Maya sedang mencoba melarikan diri dari pembicaraan ini karena malu.
"Oh, jadi sekarang topiknya pindah ke sereal?" goda Arka. Ia menjulurkan tangannya, menyentuh dagu Maya dengan sangat lembut, memaksa wanita itu kembali menatapnya. "Aku nggak pernah bercanda soal perasaan, Maya. Dan soal sereal... kita bisa beli besok. Malam ini, aku cuma mau kamu tahu kalau aku serius."
Maya mengerucutkan bibirnya, sebuah ekspresi yang jarang ia tunjukkan namun terlihat sangat menggemaskan di mata Arka. "Sudahlah! Ayo naik. Aku harus segera mandi, bajuku lengket semua!"
Maya segera membuka pintu mobil dan keluar dengan terburu-buru, mencoba menyembunyikan wajahnya yang sudah semerah kepiting rebus. Ia berjalan cepat menuju lift, namun ia bisa mendengar langkah kaki Arka yang mengikutinya sambil tertawa pelan di belakang.
Sepanjang di dalam lift, Maya terus menatap angka lantai yang bergerak naik, menghindari kontak mata dengan Arka yang berdiri di sampingnya dengan tangan dimasukkan ke saku celana. Arka tampak sangat santai, sementara Maya merasa seperti baru saja lari maraton.
Dia jatuh cinta padaku? pikir Maya liar. Bagaimana bisa? Aku yang lebih tua, aku yang galak, aku yang selalu mengatur...
Namun, saat ia melirik ke arah Arka lewat pantulan pintu lift yang mengkilap, ia melihat Arka sedang menatapnya dengan pandangan yang penuh kasih sayang. Bukan pandangan nafsu atau sekadar kagum, tapi pandangan seorang pria yang telah menemukan tempat pulangnya.
Sesampainya di apartemen, Maya langsung berlari menuju kamarnya. "Aku mandi dulu! Jangan berisik!" serunya tanpa menoleh.
Di dalam kamar, Maya bersandar di balik pintu yang tertutup. Ia memegang dadanya yang masih berdegup kencang. Ia meraba gelang di tangannya, lalu jaket Arka yang masih ia pakai. Wangi Arka seolah mengepungnya, mengingatkannya pada setiap kata yang diucapkan pria itu di mobil tadi.
Maya tersenyum sendiri. Senyum yang sangat lebar, yang tidak bisa ia tahan lagi.
"Dasar bocah nekat," bisik Maya pada dirinya sendiri.
Di luar kamar, Arka berdiri di depan pintu Maya selama beberapa detik, mendengar tawa kecil istrinya dari dalam. Arka tersenyum.
Bersambung...
karena satu kebohongan,akan muncul seribu kebohongan lagi untuk menutupinya......
rumit hidupmu maya,tak tenang karena sebuah kebohongan....🤔
thanks neng otor... ku tunggu up ny lsgi
good...😊
memperjelas status pernikahan mereka...
lebih baik blak2kan daripada di sembunyikn,biar gk jadi fitnah...
setelah tau kebenarannya...
makanya jadi wanita jangan egois,merasa di atas,eh taunya kalah start....😡
lanjut thor....😊
jangan sok,terlalu egois dn merasa paling hebat....
ingat maya kesabaran sezeorang ada batasnya,jangan mandang susmimu sebelah mata,kalau gk nau menyesal kemudian....😡
suami yg tk di akui..😡