Keira tidak pernah menyangka—keputusan sederhana untuk bersembunyi di sebuah rumah kosong justru mengubah seluruh jalan hidupnya. Niatnya hanya menghindar dari masalah yang mengejarnya, mencari tempat aman untuk sesaat. Namun takdir seolah punya rencana lain.
Sebuah kesalahpahaman terjadi.
Dan dalam hitungan waktu yang begitu singkat… Keira terikat dalam pernikahan dengan seorang pria yang bahkan belum pernah ia kenal sebelumnya.
Gus Zayn.
Pria yang datang ke rumah itu bukan untuk mencari masalah—melainkan hanya menjalankan permintaan temannya untuk mensurvei sebuah rumah yang akan dibeli. Ia tak pernah membayangkan, langkahnya hari itu justru menyeretnya ke dalam sebuah ikatan suci yang sama sekali tidak ia rencanakan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 16
"Ummi panggil saya?" Keira melangkahkan kakinya canggung memasuki kamar ibu mertuanya itu.
Ummi Halimah tersenyum lebar, tangannya melambai-lambai, "kemari nak" Ucapnya dengan lembut.
Keira dengan langkah pelan berjalan menghampiri ummi Halimah. Ia lalu duduk di depan wanita berhijab panjang itu.
Ummi Halimah tersenyum lembut, tangannya mengambil tangan Keira lalu meletakkan sesuatu di atas telapak tangan sana.
Sebuah gelang cantik dengan hiasan kupu-kupu di emas sebagai pemanisnya.
Mata Keira terbelalak, pasti harganya sangat mahal, melihat ukirannya tidak biasa dan juga ini gelang seperti di pesan khusus. "Ummi..."
"Ini untuk menantu cantiknya ummi. Semoga kamu Istiqomah menjalani rumah tangga dengan Gus Zayn. Ummi berharap semoga kalian saling melengkapi satu sama lain." Ucap Ummi Halimah penuh doa. Ia sangat tau bagaimana komitmen yang di ucapkan oleh sang anak, jika Gus Zayn hanya akan menikah sekali seumur hidup. Dan tidak akan menikah lagi.
Gus Zayn punya tunangan, namun siapa sangka Allah malah memberikan jodoh lain pada anaknya itu. Dan ummi Halimah bisa apa? Ia hanya bisa menerima, terlebih keputusan Zayn sudah telak akan mempertahankan gadis di depannya ini. Untuk tunangannya, mungkin ummi Halimah akan meminta maaf nantinya pada beliau.
Mata Keira berkaca-kaca, ia memandang gelang cantik itu, lalu kepalanya menggeleng. "Ummi... Kei nggak pantas menerima ini. Ini sungguh terlalu berharga."
Ummi Halimah menggelengkan kepalanya. "Kamu pantas sayang... Terlebih kamu belum mendapatkan mas kawin dari suami kamu." Wanita itu menghela nafasnya kasar. "Maaf ya nak, pernikahan kamu tidak seperti pernikahan impianmu, terlepas kamu dan Zayn di persatukan karena kesalah pahaman, ummi akan tetap memberikan mahar untuk kamu, nak."
"Ummi.." Sungguh perlakukan wanita itu sangat lembut pada Keira, membuat Keira tak kuasa menahan air matanya.
"Ambil ya nak, mahar yang lainnya nanti akan ummi belikan. Untuk sekarang ini dulu." Ucap ummi Halimah. Itu gelang peninggalan sang ibu, ia sudah berjanji jika nanti Gus Zayn menikah akan memberikan gelang itu sebagai mahar terlepas dari mahar yang lainnya.
Keira menganggukkan kepalanya, "terimakasih ummi."
"Sama-sama nak. Mulai sekarang jangan sungkan lagi. Anggap ummi ini ibu kamu sendiri. Oiya, ummi ingin mendengar tentang keluarga kamu, nak. Apakah mereka ada di kota ini?"
Keira mendadak menegang mendengar pertanyaan sang ummi.
Ummi Halimah melihat raut wajah gelisah menantunya langsung menepuk lengannya pelan. "Tidak apa-apa jika kamu tidak ingin bercerita dulu dengan ummi. Tapi ummi harap lain waktu kamu harus cerita ya nak, karena itu penting nak. Mengingat mereka belum tau tentang statusmu, terlebih kamu juga harus meminta restu pada kedua orang tuamu. Apalagi ayahmu yang merupakan wali kamu, nak." Ucap ummi Halimah.
Keira mengepalkan kedua tangannya, ia mendongak dan menatap mata ummi Halimah. "Sebenarnya orang tua saya masih ada, ummi. Mereka ada di luar kota."
"Bisa kamu kasih tau alamatnya, nak? Biar bisa kita kunjungan."
Keira menggigit bibirnya dengan kencang, sungguh ia sama sekali tidak mau keluarganya tau kalau ia sudah menikah. "Ummi..."
"Iya nak?"
"Bisa tidak kalau jangan beritahu mereka dulu."
Ummi Halimah terdiam, ia menatap wajah menantunya dengan lekat, di sana ada gurat resah dan juga ketakutan berpadu menjadi satu. Dan ummi Halimah yakin, Keira menyimpan sesuatu rahasia...
*
"Maaf Ning Zizah, sekiranya kami lancang bertanya, tapi siapa ya gadis yang ada di ndalem itu?" Tanya salah satu santri saat melihat Azizah dan Gus Zayn keluar dari mushalla.
Azizah menoleh ke arah sang Abang, meminta penjelasan. Sejujurnya ia juga tidak tahu harus menjawab apa, karena ini bukan ranahnya untuk menjawab.
Apalagi pernikahan sang Abang itu terkesan rahasia dan tidak ada yang tau sama sekali.
"Saya lihat kemarin malam juga sama Gus Zayn jalan berdua. Maaf jika terkesan lancang memperhatikan Gus. Saya hanya penasaran." Ucap Santriwati itu lagi.
Gus Zayn menghela nafasnya kasar, ia jujur saja bingung harus menjawab apa. Ia ingin mengenalkan Keira pada mereka semuanya sebagai istrinya, namun pasti mereka nanti akan bertanya-tanya, kapan Gus Zayn menikah, dan kenapa pernikahannya tidak di ketahui oleh semua orang termasuk jajaran pengurus pesantren.
Yang lebih menyakitkan lagi, mereka kan tahunya Gus Zayn sudah bertunangan dengan Ning Afifa.
"Itu juga bukan Ning Afifa kan Gus. Maaf Gus, jika banyak sekali bertanya. Tapi, kalau Gus menyimpan perempuan yang bukan mahram itu kan dosa besar."
"Astaghfirullah!! Apa yang kamu katakan. Istighfar kamu!!" Pekik Azizah kesal sendiri abangnya di katai seperti itu. Padahal sangat jelas, jika Gus Zayn sangat menjaga pandangannya. Terlebih menjaga jarak dengan yang bukan mahramnya.
"Afwan Ning. Maafkan saya." Santri itu menundukkan kepalanya dalam, merasa takut di tegur seperti itu.
Gus Zayn menoleh ke arah sang adik yang ingin berbicara lagi, ia memberikan kode pada Azizah agar Azizah diam.
Azizah menurut, walaupun bibirnya bertekuk ke bawah.
"Dia sepupu saya."
Deg!!
Ungkapan Gus Zayn membuat Azizah terbelalak, bukan hanya Azizah saja, tapi seorang gadis yang baru saja ingin menghampiri mereka jadi membeku di tempatnya dengan dada yang terasa sesak.