Keyla, seorang mahasiswi berparas menawan dengan hati yang begitu lugu, menghabiskan bertahun-tahun masa remajanya hanya untuk mengejar punggung seorang pria yang tak ubahnya bongkahan es di kutub terdalam: Rendi.
Sejak hari pertama di bangku kelas 3 SMA, Keyla telah menambatkan hatinya secara mutlak. Namun, Rendi bukanlah pangeran dongeng yang siap menyambut cintanya. Di tengah rasa putus asa akibat penolakan Rendi yang terus-menerus, hadir sosok Indra, pria hangat yang merengkuh Keyla saat ia hancur. Mampukah Keyla bertahan ketika dunia dan sahabatnya sendiri berkonspirasi untuk menghancurkannya? Dan akankah Rendi, sang pria gunung es, menyadari bahwa ia telah mematahkan hati satu-satunya wanita yang bersedia mati untuknya, sebelum semuanya terlambat?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pengamat Senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5: Oh Ternyata?
"Aku mengira kau pangeran es tanpa cela yang hidup di kastil kesunyian. Nyatanya, kau hanyalah ksatria yang kelelahan. Kau tidak sedang menanti putri dari menara, kau hanya sedang mencari ruang sepi untuk merebahkan pedangmu yang berlumuran darah realita." (Buku Harian Keyla, Halaman 12)
Penolakan itu masih membekas. Lima kata yang ia lontarkan kemarin—Saya nggak butuh dikasihani—terus bergaung di rongga kepalaku layaknya kaset rusak yang tak bisa dimatikan. Semalaman aku menangis, meratapi kebodohanku yang mengira sebatang pulpen baru bisa menjadi jembatan menuju hatinya. Kenyataannya, aku hanya semakin mempertebal dinding es di antara kami.
Pagi ini, aku melangkah masuk ke kelas dengan bahu yang merosot. Mataku bengkak, dan sisa-sisa bedak tabur yang kupakai tak mampu menyembunyikan lingkar hitam di bawah mataku. Saat aku duduk di kursiku, Rendi belum datang. Bangkunya di belakangku masih kosong, seolah mengejek kekosongan di dadaku.
"Lo beneran kayak zombi kurang darah hari ini, Key," komentar Lidya begitu ia menarik kursi di depanku, meletakkan sebungkus roti sobek rasa cokelat di atas mejaku. "Nih, makan. Lo dari kemarin pucet banget. Nanti kalau lo pingsan waktu upacara, gue yang repot harus gotong ke UKS."
Aku memaksakan seulas senyum tipis, menyentuh bungkusan roti itu tanpa selera. "Makasih, Lid. Tapi perutku lagi nggak enak."
"Gimana mau enak kalau isinya cuma angin sama galau doang," omel Lidya, meski tangannya terulur merapikan kerah seragamku yang sedikit berantakan.
Tak lama kemudian, Bella berlari masuk ke dalam kelas dengan napas terengah-engah, wajahnya memerah karena antusiasme. Ia melempar tasnya ke kursi dan langsung mencondongkan tubuhnya ke meja kami.
"Guys! Guys! Hot news! Lo semua harus denger ini!" bisik Bella heboh, matanya membesar penuh semangat gosip.
Siska, yang sejak tadi duduk diam di baris depan sambil membaca buku, memutar kursinya sedikit untuk ikut mendengarkan. Ia menatap Bella dengan senyum tenangnya yang biasa. "Ada apa, Bel? Pagi-pagi udah heboh."
"Si Deandra! Anak IPS yang cantik jelita bak model majalah ibu kota itu, hari ini katanya mau nembak cowok di sekolah kita!" bisik Bella, nada suaranya menggebu-gebu. "Gue denger dari anak-anak mading, dia udah siapin cokelat mahal dari luar negeri sama jam tangan branded. Gila nggak tuh? Cewek yang nembak, bawa barang mewah pula!"
Mendengar nama Deandra, perutku tiba-tiba terasa melilit. Deandra adalah primadona sekolah. Ia anggun, berasal dari keluarga kaya raya, kulitnya putih mulus tanpa cela, dan senyumnya bisa membuat laki-laki manapun bertekuk lutut.
"Palingan nembak kapten basket atau ketua OSIS," tanggap Lidya tak acuh, mulai merobek bungkus rotinya sendiri. "Terus apa urusannya sama kita?"
Bella memajukan bibirnya, tampak kesal karena Lidya tidak merespons seantusias dirinya. Ia lalu menoleh padaku. "Eh, Key, lo tau nggak siapa cowok beruntung itu? Gosipnya sih, anak IPA. Tapi nggak tau IPA berapa."
Siska menyela dengan suara lembutnya, "Siapa pun cowoknya, pasti dia nggak akan nolak, Bel. Deandra itu sempurna. Pintar merawat diri, kaya, dan sangat percaya diri. Laki-laki itu makhluk visual dan rasional. Kalau ada yang nawarin emas, buat apa mereka milih kerikil, kan?"
Kata-kata Siska diucapkan dengan nada seringan kapas, sangat tenang dan seolah hanya menyatakan fakta umum. Namun, entah mengapa, setiap suku katanya terasa seperti jarum yang menusuk tepat ke ulu hatiku. Siska menatapku dari balik kacamatanya. Senyumnya begitu menenangkan, tapi di saat yang sama, ia seolah baru saja menelanjangiku, membandingkanku dengan Deandra, dan mendeklarasikan bahwa aku adalah kerikil itu.
Aku menunduk, meremas rokku kuat-kuat di bawah meja. "Aku mau ke toilet bentar ya, cuci muka," pamitku dengan suara serak, buru-buru bangkit dari kursi sebelum mereka melihat mataku yang kembali berkaca-kaca.
"Mau gue temenin, Key?" tawar Lidya, setengah berdiri.
"Nggak usah, Lid. Cuma cuci muka kok," tolakku cepat, lalu setengah berlari keluar kelas.
Aku tidak pergi ke toilet perempuan di lantai dua yang biasanya ramai. Kakiku melangkah tanpa arah, menyusuri koridor belakang yang menghubungkan laboratorium kimia tua dan gudang peralatan olahraga. Tempat ini biasanya sepi, jarang dilalui siswa karena baunya yang sedikit pengap dan minim cahaya. Aku hanya butuh tempat untuk bernapas, untuk menjauh dari kata-kata Siska yang terus menggema di kepalaku.
Benarkah? Apakah tidak ada laki-laki yang akan menolak Deandra? Bagaimana jika Deandra menyukai Rendi? Pikiran itu membuat napasku tersendat. Rendi miskin, hidupnya susah. Jika Deandra menawarkan duniaya yang gemerlap, apakah Rendi, gunung es yang dingin itu, akan luluh karena kebutuhan realitas?
Saat aku berjalan melewati lorong sempit di dekat gudang, langkahku mendadak terhenti. Sayup-sayup, kudengar suara percakapan dari ujung lorong yang berbelok.
Aku mematung, menempelkan punggungku ke dinding yang dingin. Suara sepatu hak rendah—jenis sepatu pantofel perempuan yang mahal dan melanggar aturan sekolah—terdengar berketuk pelan di lantai semen.
"Rendi... tunggu."
Deg. Jantungku serasa jatuh ke lambung. Itu suara perempuan. Anggun, sedikit manja, dan penuh percaya diri. Itu suara Deandra.
"Minggir."
Suara balasan itu menyusul. Berat, serak, tanpa intonasi, dan dingin menusuk tulang. Itu Rendi.
Tanpa sadar, aku menahan napasku. Aku memajukan tubuhku sedikit, mengintip dari balik bayangan dinding.
Di sana, di bawah sorot lampu neon yang berkedip-kedip redup, berdirilah mereka. Deandra terlihat sangat memukau. Rambut ikalnya dibiarkan tergerai indah, seragamnya sangat pas di tubuh, dan wangi parfumnya yang mahal bahkan bisa tercium samar dari tempatku bersembunyi. Di tangannya, ia memegang sebuah kotak beludru kecil berwarna biru tua dan sebuah kantong kertas bertuliskan merek cokelat ternama.
Di hadapannya, berdirilah Rendi. Laki-laki itu sedang memanggul sebuah kardus kardus besar berisi tumpukan buku-buku tebal, sepertinya ia baru saja disuruh guru untuk memindahkan buku-buku itu ke gudang. Keringat membasahi pelipisnya. Kemeja putihnya lecek, lengannya digulung asal, dan napasnya sedikit memburu karena kelelahan mengangkat beban berat.
"Rendi, tolong dengerin aku sebentar aja," ucap Deandra, langkahnya maju mendekati Rendi, menghalangi jalan laki-laki itu. "Aku tau kamu selalu menghindar dari aku. Aku tau kamu nggak suka keramaian. Makanya aku nyari kamu ke sini."
Rendi menurunkan kardus besar itu dari bahunya dengan kasar. Benda itu menghantam lantai dengan suara berdebum yang keras, membuat Deandra sedikit tersentak mundur. Rendi menegakkan punggungnya, menatap Deandra dengan sorot mata paling mematikan yang pernah kulihat. Jauh lebih tajam daripada saat ia menatapku kemarin.
"Saya bilang minggir, Deandra," desis Rendi pelan, namun suaranya menggema penuh ancaman di lorong sepi itu. "Saya sedang kerja. Saya nggak punya waktu untuk main-main sama kamu."
"Aku nggak main-main, Ren!" potong Deandra cepat. Matanya yang indah menatap Rendi penuh puja. "Aku suka sama kamu. Sejak pertama kali aku liat kamu di lapangan waktu kelas satu, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu. Kamu beda dari cowok-cowok lain yang cuma ngejar harta papa aku atau manfaatin aku."
Deandra menyodorkan kotak beludru dan cokelat itu. "Ini buat kamu. Aku tau kamu mungkin nggak peduli, tapi tolong terima ini. Dan... aku denger-denger, kamu lagi susah cari biaya untuk kuliah tahun depan, kan? Papaku punya kenalan yayasan beasiswa, Ren. Aku bisa minta tolong Papa buat jamin masa depan kamu, asalkan kamu mau ngasih aku kesempatan untuk ada di samping kamu."
Di tempat persembunyianku, tanganku menutup mulut rapat-rapat. Air mata keputusasaan menggenang. Deandra menawarkan segalanya. Ia menawarkan cinta, kemewahan, dan jalan pintas menuju masa depan yang Rendi butuhkan. Bagaimana mungkin Rendi menolaknya? Siska benar, Deandra menawarkan emas.
Hening tercipta selama beberapa detik. Rendi menatap kotak beludru di tangan Deandra, lalu tatapannya naik, menyapu wajah cantik yang sedang tersenyum penuh harap itu.
Lalu, sebuah tawa kering keluar dari bibir Rendi. Tawa yang sama sekali tidak mengandung kebahagiaan. Itu adalah tawa penuh ironi, rasa muak, dan penghinaan yang dalam.
"Yayasan beasiswa?" ulang Rendi perlahan. Setiap suku katanya diucapkan dengan penekanan yang merendahkan.
Deandra mengangguk antusias, mengira ia telah berhasil menemukan titik lemah Rendi. "Iya! Kamu nggak perlu kerja part-time sampai malam lagi. Kamu bisa fokus belajar, dan aku bakal selalu dukung kamu."
Rendi maju satu langkah. Tingginya yang menjulang membuat Deandra harus mendongak. Wajah Rendi mendekat, bukan untuk mencium atau membelai, melainkan untuk mengintimidasi. Urat di leher Rendi terlihat menonjol. Emosi yang selama ini ia kubur di balik bongkahan es, kini menyembul ke permukaan layaknya lahar panas.
"Kamu pikir saya apa, Deandra?" desis Rendi. Nada suaranya bergetar karena amarah yang ditahan sedemikian rupa. "Kamu pikir harga diri saya bisa kamu beli dengan koneksi bapakmu dan cokelat mahal ini?"
Senyum di wajah Deandra luntur seketika. "B-bukan gitu maksudku, Ren. Aku tulus..."
"Tulus?" Rendi memotong kasar. "Orang-orang seperti kalian nggak pernah tau arti tulus. Kalian pikir dunia ini panggung sandiwara, di mana kalian bisa beli peran laki-laki malang untuk jadi properti kisah romansa picisan kalian. Kamu cuma bosan dengan mainan mewahmu, lalu kamu melihat saya, si miskin yang menyedihkan ini, sebagai tantangan baru. Iya, kan?"
"Rendi! Kamu jahat banget ngomong gitu!" Suara Deandra mulai bergetar. Matanya berkaca-kaca, tak menyangka akan diserang dengan kata-kata setajam itu.
"Yang jahat itu realita, bukan saya," balas Rendi mutlak. Matanya benar-benar kosong, menyiratkan keputusasaan yang begitu pekat. "Saya harus bangun sebelum subuh, menelan ludah melihat orang tua yang mati-matian berjuang, dan mematahkan punggung saya sendiri setiap malam hanya agar saya dan adik saya bisa makan esok hari. Lalu kamu datang ke sini, dengan seragam wangi dan sepatu mahalmu, menawari saya belas kasihan dengan kedok cinta?"
Rendi menepis tangan Deandra yang menyodorkan hadiah itu. Tangannya bergerak begitu cepat dan kasar, hingga kotak beludru dan kantong cokelat itu terlempar, menghantam dinding, dan jatuh berserakan di lantai yang kotor. Cokelat mahal itu menggelinding keluar dari kotaknya, hancur.
"Jangan pernah bawa sampahmu ke kehidupan saya lagi, Deandra," ucap Rendi, suaranya kembali sedingin es, membekukan udara di sekitar mereka. "Simpan uang bapakmu. Simpan cintamu. Saya muak melihat drama kalian. Saya nggak butuh cinta. Saya cuma butuh hidup."
Tanpa menoleh sedikit pun pada Deandra yang kini mulai terisak dengan bahu bergetar hebat, Rendi kembali membungkuk. Ia mengangkat kardus besar itu dengan sisa-sisa tenaganya, lalu berjalan melewati Deandra, meninggalkannya yang menangis sesenggukan di tengah lorong yang redup.
Aku mematung di balik dinding. Jantungku berhenti berdetak sesaat. Napasku terengah, seolah akulah yang baru saja ditolak mentah-mentah.
Deandra, primadona sekolah, baru saja dihancurkan harga dirinya hingga menjadi debu. Namun yang membuat air mataku menitik jatuh bukanlah rasa kasihan pada Deandra.
Melainkan Rendi.
Langkah kaki Rendi semakin mendekat ke arah persembunyianku. Aku menahan napas, menempelkan tubuhku sedekat mungkin ke dinding yang dingin, menutup mata rapat-rapat.
Ia berjalan melewatiku.
Dari jarak sedekat ini, dengan sudut pandang yang tersembunyi, aku tidak melihat sosok "gunung es" yang angkuh dan dingin seperti yang selalu dibicarakan orang-orang. Saat ia melewati lorongku, tanpa ia sadari aku sedang memperhatikannya, raut wajahnya tidak memancarkan kemenangan karena telah menolak gadis tercantik di sekolah.
Wajahnya menyiratkan kehancuran. Matanya terpejam sesaat sambil menarik napas panjang yang terdengar begitu berat, seolah udara yang ia hirup dipenuhi duri. Rahangnya mengeras, menahan sesuatu yang tak kasat mata. Keringat di pelipisnya bercampur dengan debu dari kardus yang ia panggul.
Oh, ternyata... Aku membuka mataku, menatap punggungnya yang perlahan menjauh di ujung koridor. Tiba-tiba, semua teka-teki tentang dirinya menemukan jawabannya.
Ia menolak pulpenku bukan karena ia membenciku. Ia marah karena belas kasihan adalah pengingat paling kejam akan kelemahannya. Ia membangun dinding es itu bukan karena ia ingin terlihat hebat atau misterius. Ia membekukan dirinya agar luka-luka yang dirobek oleh kenyataan hidup tidak terasa terlalu perih.
Bagaimana mungkin ia bisa memikirkan cinta, saat isi kepalanya dipenuhi ketakutan akan hari esok? Bagaimana mungkin ia bisa tersenyum menatap gadis-gadis di kelas, saat pundaknya harus memikul tanggung jawab yang terlalu besar untuk anak seusianya?
"Saat aku melihat punggungmu yang menjauh setelah menghancurkan hati gadis yang sempurna, aku menyadari satu hal yang membuat tangisku pecah dalam diam. Kau tidak membenci cinta, Rendi. Kau hanya terlalu miskin untuk membelinya, dan terlalu berharga diri untuk menerimanya sebagai sedekah." (Buku Harian Keyla, Halaman 13)
Aku mengusap air mataku dengan kasar. Perasaan yang sebelumnya hanya berupa kekaguman dan debar cinta monyet yang kekanakan, tiba-tiba bertransformasi menjadi sesuatu yang jauh lebih dalam. Sangat dalam, purba, dan menyakitkan.
Aku tidak lagi ingin menjadi putri yang dicintai pangeran es. Aku tidak peduli pada tatapan dinginnya. Aku hanya ingin menjadi seseorang yang bisa membuatnya meletakkan senjatanya. Aku ingin memberinya ruang, di mana ia tak perlu berpura-pura kuat, tak perlu merasa dihakimi, dan tak perlu menolak uluran tangan.
Namun aku sadar, untuk mencapai titik itu, aku harus berjalan di atas pecahan kaca. Dan kejadian hari ini adalah buktinya: jika aku salah melangkah sedikit saja, aku akan bernasib sama seperti Deandra.
Aku menunggu hingga Deandra lari ke arah berlawanan sambil menutupi wajahnya yang berurai air mata, lalu aku pun bergegas kembali ke kelas.
Saat aku membuka pintu, suasana kelas sudah mulai kondusif karena guru sejarah sebentar lagi akan masuk. Aku berjalan menuju bangkuku dengan langkah yang jauh lebih mantap dari sebelumnya.
Rendi sudah duduk di kursinya, di belakang tempat dudukku. Kepalanya tertunduk, bertumpu pada lipatan lengannya di atas meja, tertidur atau mungkin pura-pura tertidur karena kelelahan.
Aku menarik kursiku perlahan agar tidak mengganggu istirahatnya.
"Lo cuci muka apa semedi sih, Key? Lama bener," gerutu Lidya, tapi matanya menatapku dengan lega karena aku tak lagi terlihat sepucat tadi.
"Antre tadi, Lid," dustaku halus.
Bella menyenggol lenganku. "Eh, lo tau nggak? Katanya tadi ada anak yang denger suara cewek nangis kenceng banget di deket lab lama. Jangan-jangan si Deandra ditolak cowoknya! Wah, mampus deh tuh harga diri selangitnya ancur berkeping-keping."
Aku diam, tidak menanggapi gosip Bella.
Siska, yang kembali meletakkan novelnya, menatap wajahku dengan saksama. Keningnya sedikit berkerut. Di balik senyum tenangnya yang selalu ia tunjukkan, Siska adalah pengamat yang sangat jeli. Ia mungkin menyadari bahwa ada sesuatu yang berubah dari sorot mataku.
"Kamu kelihatan lebih... tenang sekarang, Key," ucap Siska pelan. "Udah nggak kepikiran omonganku tadi pagi kan? Maaf ya kalau aku nyinggung kamu. Aku cuma nggak mau kamu berekspektasi terlalu tinggi pada cowok yang nggak setara sama kamu. Nanti jatuhnya sakit."
Aku menatap Siska. Untuk pertama kalinya, aku membalas tatapannya dengan sebuah ketegasan yang tak pernah kumiliki sebelumnya.
"Nggak apa-apa, Sis," jawabku pelan namun penuh keyakinan. "Aku sadar kok, cinta emang kadang bikin sakit. Tapi aku rasa... rasa sakit itu sepadan, kalau kita tau alasan di balik luka seseorang."
Mata Siska sedikit melebar, senyumnya sejenak membeku di sudut bibirnya sebelum ia memaksanya kembali mengembang. "Oh, gitu ya... Syukurlah kalau kamu paham." Siska memalingkan wajahnya kembali ke depan kelas. Namun, aku tak melihat tangannya yang meremas ujung halaman novel hingga sobek kecil. Siska tak menyukai perubahan ini. Ia benci melihatku menemukan kekuatan di tengah kerapuhanku.
Aku berbalik ke depan, menatap papan tulis kosong. Di belakangku, aku bisa mendengar embusan napas Rendi yang berat dan teratur.
Aku mengambil buku harianku diam-diam. Dengan pulpen baru yang tak jadi kuberikan padanya, kutuliskan ikrar terbesarku hari itu.
"Biarlah Deandra menawarkan mahkota dan kerajaannya. Aku, Keyla, hanya akan menawarkan kesabaran yang tak berujung. Akan kupastikan, suatu hari nanti, saat kau kelelahan memikul duniamu, kau akan menoleh ke belakang, dan menemukan aku berdiri di sana. Menunggumu, tanpa menuntut apa-apa." (Buku Harian Keyla, Halaman 14)
so happy next cerita mereka dah dewasa
lama" muak ga sih di GITUIN Mulu udah tau ga mau masih aja
biarpun niatnya baik