NovelToon NovelToon
Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Secangkir Rindu Di Kedai Senja

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO / Tamat
Popularitas:4.7k
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Arka Danadyaksa adalah direktur korporat yang melihat dunia hanya sebagai angka dan lahan. Namun, langkahnya terhenti di sebuah kedai tua milik Senja, wanita keras kepala yang memilih bertahan demi sebuah warisan rindu.
Berawal dari rencana penggusuran yang kejam, takdir justru menyeduh rasa yang tak terduga di antara mereka. Di tengah intrik kekuasaan, pengkhianatan keluarga, dan runtuhnya sebuah imperium, Arka harus memilih: tetap menjadi raja di menara yang hampa, atau kehilangan segalanya demi menemukan "rumah" di bawah cahaya senja yang abadi.
Pahitnya kejujuran, manisnya pengampunan, dan rindu yang akhirnya menemukan jalan pulang.
Genre: Romantis, Drama, Kehidupan Sehari-hari (Slice of Life.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31: Suara dari Bayang-bayang

​Puncak ketegangan pagi itu seolah membekukan waktu di sekelilingku. Suara bariton berat yang baru saja meledak dari speaker proyek itu masih menggema, memantul di antara gedung-gedung tinggi SCBD.

​Operator ekskavator di depanku yang tadinya bersiap menarik tuas kendali, kini membeku di kursinya. Deru mesin dieselnya masih menggetarkan kaca-kaca jendela kedaiku yang sudah retak, namun tak ada satu pun yang berani bergerak.

​Bukan hanya aku yang terkejut. Ratusan demonstran, barisan polisi, hingga para preman bayaran di depanku serempak mendongak, mencari sumber suara yang baru saja menghentikan Rapat Umum Pemegang Saham secara sepihak itu.

​Lalu, sebuah distorsi statis yang nyaring mendenging memekakkan telinga.

​Semua mata—termasuk mataku yang sudah basah oleh air mata—kini tertuju pada layar LED raksasa berukuran sepuluh meter yang terpasang di atas hoarding (pagar proyek) Cipta Megah di seberang jalan. Layar miliaran rupiah yang biasanya memutar video animasi mewah tentang mal masa depan itu mendadak glitch. Berkedip-kedip kasar, berubah warna menjadi hitam pekat selama beberapa detik.

​Jantungku berdegup sangat brutal hingga tulang rusukku terasa nyeri.

​Tolong... biarkan itu benar-benar dia, rapalku dalam hati.

​Layar raksasa itu menyala kembali. Namun, bukan animasi mal yang muncul, melainkan sebuah jendela panggilan video live yang kualitas gambarnya sedikit buram dan minim pencahayaan.

​Seketika, kakiku lemas. Aku harus mencengkeram bahu Revan di sebelahku agar tidak ambruk ke aspal.

​Itu Arka.

​Pria berpayung hitamku muncul di layar raksasa itu. Dia tidak lagi memakai setelan jas Armani mahalnya. Jas kebesarannya telah ditanggalkan. Ia hanya mengenakan kaus oblong hitam yang tampak lusuh, duduk di depan sebuah meja kayu reyot dengan latar belakang dinding semen kasar yang bahkan tidak dicat.

​Wajahnya tampak kusam, tulang pipinya lebih menonjol karena kurang tidur, dan rambutnya berantakan tak beraturan. Secara fisik, ia terlihat seperti pesakitan. Namun, sorot matanya...

​Mata kelam itu menatap lurus menembus lensa kamera, memancarkan aura otoritas absolut yang jauh lebih kuat, lebih murni, dan lebih mematikan daripada saat ia duduk di kursi empuk direkturnya. Dari dasar kontrakan kumuh di Jakarta Timur, ia telah merebut kembali singgasananya.

​"Selamat pagi kepada jajaran direksi PT Cipta Megah di ruang rapat, rekan-rekan media nasional, dan seluruh warga Jakarta yang saat ini ada di lokasi," suara Arka menggelegar dari sound system proyek yang entah bagaimana caranya berhasil ia retas secara total dari jarak jauh.

​"Nama saya Arka Danadyaksa. Saya menyiarkan ini secara langsung dari luar sistem. Dan saya berdiri di sini... bukan lagi sebagai perwakilan apalagi penerus perusahaan ini."

​Arka menjeda kalimatnya. Sorot matanya menajam, sedingin es. "Melainkan, sebagai whistleblower dan saksi utama atas kejahatan korporasi yang selama ini disembunyikan rapat-rapat di balik kemegahan proyek mal ini."

​Aku menutup mulutku dengan kedua tangan. Tangisku pecah tanpa suara.

​Kerumunan massa di sekelilingku terkesiap kaget, lalu mulai merekam layar raksasa itu dengan antusiasme yang menggila. Revan di sebelahku mengumpat pelan tak percaya. Sementara aku? Aku hanya bisa menatap wajah Arka di layar itu dengan perasaan yang hancur lebur sekaligus penuh kekaguman. Pria bodoh ini sedang menggoreskan pisau ke lehernya sendiri.

​"Selama sepuluh menit terakhir, tepat sebelum live ini dimulai, tim kuasa hukum independen saya telah berhasil mengirimkan paket data enkripsi sebesar lima puluh gigabyte ke peladen utama KPK dan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya," lanjut Arka. Nadanya sangat tenang, namun efeknya bagaikan bom atom.

​"Data itu berisi ribuan log panggilan, rekaman suara internal, bukti transfer ke puluhan rekening fiktif di Cayman Islands, dan draf kontrak rahasia terkait suap perizinan Amdal manipulatif untuk perluasan lahan proyek ini."

​Layar di sebelah wajah Arka mulai membelah, menampilkan slide foto dokumen beresolusi tinggi satu per satu.

​"Total dana yang digelapkan dan digunakan untuk menyuap aparat menembus angka delapan puluh miliar rupiah," suara Arka menggema membelah pagi Jakarta.

​Nama-nama besar muncul di sana, dipertontonkan tanpa ampun ke hadapan publik. Ada tanda tangan Pak Hendra, wajah beberapa oknum pejabat kota, dan yang paling membuat perutku mual... terpampang jelas tanda tangan Handoko Danadyaksa pada dokumen persetujuan suap tersebut.

​Arka baru saja mengeksekusi ayah kandungnya sendiri secara live di depan jutaan pasang mata.

​"Pembongkaran paksa yang kalian coba saksikan hari ini adalah tindakan ilegal!" Arka kini menunjuk tajam ke arah kamera, menembus layar raksasa itu seolah ia sedang menunjuk langsung ke arah ekskavator di depanku.

​"Itu adalah upaya putus asa untuk menutupi kesalahan struktur fondasi yang gagal memenuhi standar keamanan akibat dana korupsi! Jika mal ini tetap dibangun di atas darah, keringat, dan tanah orang-orang kecil yang kalian tindas... saya pastikan gedung ini akan runtuh oleh beban dosanya sendiri!"

​Dari seberang jalan, aku bisa mendengar suara jeritan panik. Pintu mobil sedan hitam mewah itu terbuka paksa. Clara Beatrice keluar dengan wajah seputih kapas. Perempuan anggun yang selalu merendahkanku itu kini menjerit histeris, menendang ban mobilnya sendiri, merampas ponsel asistennya sambil berteriak memerintahkan tim IT untuk mematikan layar raksasa tersebut. Tapi semuanya sudah terlambat.

​Di sisi lain jalan, aku melihat mobil lain—sebuah Maybach hitam. Kaca jendelanya perlahan turun. Handoko Danadyaksa duduk di dalam sana. Wajah pria tua penguasa itu memucat pasi, bibirnya gemetar melihat kekaisaran yang ia bangun puluhan tahun dihancurkan berkeping-keping oleh darah dagingnya sendiri hanya dalam waktu lima menit.

​"Gue tahu," suara Arka kembali terdengar. Kali ini, intonasinya melembut. Matanya yang tajam di layar perlahan berubah sayu. Ia seolah sedang mencari-cari sosokku di antara lautan manusia yang sedang menatapnya.

​"Gue tahu tindakan ini bakal bikin gue kehilangan nama keluarga gue. Gue bakal kehilangan segalanya," bisik Arka, suaranya sedikit bergetar, meruntuhkan pertahananku. "Tapi gue lebih memilih kehilangan seluruh harta dan masa depan gue... daripada harus kehilangan hati nurani dan harga diri gue."

​Arka tersenyum tipis. Senyum yang sangat menenangkan. "Kedai Kala Senja adalah bukti... bahwa kejujuran, dan tempat yang memiliki jiwa, tidak akan pernah bisa diratakan oleh mesin sekuat apa pun."

​Klik.

​Layar raksasa itu tiba-tiba mati kembali menjadi hitam kelam. Siaran itu terputus.

​Hening yang luar biasa tebal menyelimuti kawasan itu selama tiga detik penuh, sebelum akhirnya...

​YAAAAAAAHHH!!! HIDUP KALA SENJA!!

​Sorak-sorai kerumunan demonstran pecah meledak seperti guntur. Orang-orang melompat kegirangan, bertepuk tangan, dan saling berpelukan sambil menangis. Para petugas keamanan bayaran tampak kebingungan dan ketakutan, beberapa dari mereka secara otomatis membuang tamengnya ke aspal karena tahu majikan mereka sudah habis. Operator ekskavator di depanku buru-buru mematikan mesinnya sepenuhnya dan melompat turun, lari menjauh dari alat beratnya.

​Di tengah euforia kemenangan itu, sirene yang sangat bising terdengar meraung-raung dari arah perempatan. Tiga mobil Reserse Kriminal dan dua mobil patroli polisi memblokir jalan raya. Belasan petugas berseragam dan berpakaian preman melompat keluar, langsung berlari mengepung mobil sedan mewah tempat Pak Hendra dan Handoko berada.

​"Bapak Hendra dan Bapak Handoko Danadyaksa! Tolong keluar dari mobil! Anda berdua diminta ikut ke kantor kepolisian saat ini juga untuk memberikan keterangan atas dugaan tindak pidana korupsi dan suap izin lahan!" seru seorang petugas menggunakan pengeras suara, sambil mengetuk keras kaca mobil petinggi itu.

​Melihat adegan itu, kakiku tak sanggup lagi menopang berat badanku.

​Aku jatuh terduduk di atas aspal yang kasar. Aku menangis sejadi-jadinya, menyembunyikan wajahku di antara kedua lututku. Revan berjongkok di sebelahku, merangkul pundakku erat-erat.

​Di depanku, kekuasaan yang tadinya tampak seperti monster raksasa tak terkalahkan, runtuh bersujud hanya dalam hitungan menit. Dihancurkan oleh keberanian satu orang pria yang memilih berdiri sendirian di dalam kegelapan.

​Kedaiku selamat. Nenek, tempat ini selamat.

​Tapi di balik tangis legaku, hatiku menjerit pedih.

​"Arka... lo di mana..." rintihku di sela-sela tangis. Dadaku sesak membayangkan nasib pria itu sekarang.

​Aku tahu persis, setelah 'bom' nuklir ini meledakkan kerajaannya, hidup Arka Danadyaksa tidak akan pernah sama lagi. Pria berpayung hitamku baru saja membakar habis istananya sendiri, menjadikan dirinya abu, hanya demi memastikan sebuah kedai kecil beraroma kopi dan rindu ini tetap berdiri.

1
Indah
Terima kasih buat autornya yg membuat karya sebagus da semenarik ini🙏🙏
Indah
Arka junior dah launcing
Indah
Sampai akhir papanya tetep gak berubah
Indah
Ketegangan masih berlanjut
Indah
/Sob//Sob//Sob/...
Indah
Saingan cinta datang💪💪
Indah
Gak mudah memang...
Cinta perjuangan n pengorbanan ...
Ea.....🤭🤭
Indah
/Smile/
Indah
waaahhh....
emak emak baperan ini jd ikut guling2 saking so sweetnyaaaa....
Indah
Gak perlu bilang i love u dr perilaku n perbuatanya juga dah jelas arka suka ma kamu ja
Indah
Ngeri2 sedep suasananya pas bapaknya Arka muncul/Skull//Skull/
Indah
Nemu satu lagi karya yg bagus disini yg sesuai selera q 😍😍
Indah
Sadarnya Senja akan perasaanya...
Tp q rasa perjalananya akan sangat sulit/Whimper//Whimper/
Indah
Bacanya ikutan gak karuan rasanya...
Deg Degkan tp jg sambil senyum senyum gak jelas😍😍
Indah
Rasa itu kah yg muncul tiba2...
Nhi Nguyễn
/Smile/
Nhi Nguyễn
/Smile//Smile/
ana khoirul mala
bagus kak ceritanya...
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!