Larasati mengira pernikahan adalah pelabuhan aman dari badai hidupnya. Namun, ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang ia panggil suami, Bagaskara, justru menjadi iblis yang menyeretnya ke neraka.
Terlilit hutang judi yang tak berujung, Bagas melakukan hal yang paling tak ter maafkan. menjadikan kesucian istrinya sebagai jaminan pelunasan.
Di balik jeruji kontrakan kumuh Jakarta. Larasati terjepit antara rintihan harga diri yang diinjak-injak dan ancaman fitnah yang menghancurkan nama baik orang tuanya.
Sementara itu, di sebuah rumah mewah, Rizki Pratama, sang pewaris takhta bisnis yang baru saja mengikat janji palsu demi bakti. Merasakan nyeri yang sama di dadanya. Ada jiwa yang menjerit meminta tolong, jiwa yang pernah ia temukan di tepi sungai namun ia lepaskan karena kata "bukan jodoh".
Saat kehormatan telah berpindah tangan dan pengkhianatan menjadi mata uang. Akankah doa di antara dua hati yang terpisah mampu menuntun mereka pada sebuah pertemuan berdarah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bagus Effendik89, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Runtuhnya Gerbang Neraka
Gang Mawar yang biasanya pengap oleh bau selokan dan jemuran basah. Pagi ini mendadak mencekam di ujung gang paling pojok di depan sebuah rumah kontrakan bercat biru kusam. Tiga sosok pria berdiri dengan aura yang mampu membekukan udara sekitar.
Danang, sang Camat muda, berdiri tegak dengan tangan mengepal di samping tubuhnya. Rahangnya mengeras, matanya yang tajam menatap pintu kayu jati tua yang tampak tidak serasi dengan bangunan kontrakannya. Sebuah pintu yang telah dimodifikasi oleh Bagaskara dengan deretan kunci tambahan dan gerendel besi dari dalam.
"Dobrak," perintah Danang singkat. Suaranya rendah, namun mengandung otoritas yang tidak bisa dibantah.
Bima dan Arya segera mengambil posisi. Dua pria berbadan bak raksasa itu mulai menghantamkan bahu mereka ke pintu. BRAAAK! Suara hantaman itu bergema di sepanjang gang. Membuat beberapa warga keluar dari rumah mereka dengan wajah ketakutan.
Namun segera masuk kembali saat melihat seragam dinas Danang dan wajah garang kedua pengawalnya. Pintu itu tidak bergeming. Bagaskara telah memasang plat besi di balik kusennya agar rumah itu menjadi penjara yang sempurna bagi Larasati.
"Sial! Pintu ini sengaja diperkuat dari dalam, Dan!" seru Bima sembari mengatur napasnya. Keringat mulai membasahi pelipisnya.
Danang melangkah maju, ia melihat ke arah jendela samping yang tertutup teralis besi rapat, "Jangan berhenti! Jika pintu ini tidak hancur, bawa linggis dari mobil! Aku mendengar suara rintihan di dalam. Setiap detik kita tertahan di sini, seorang wanita sedang dihancurkan hidupnya!"
Di Dalam Kamar: Puncak Penderitaan
Di balik dinding-dinding lembap yang kini bergetar karena hantaman dari luar. Larasati sedang berada di titik nadir kemanusiaannya. Di dalam kamar yang remang dan berbau apak. Ia meringkuk di atas kasur lantai yang sepreinya sudah berantakan.
Pagi ini, "tamu" yang datang bukan hanya satu orang. Tiga orang pria bertubuh gempal dengan aroma alkohol dan rokok murahan sedang mengerumuninya. Mereka adalah anak buah salah satu juragan rentenir yang diperintahkan untuk "mengambil bunga utang" dari Bagaskara.
Larasati menangis sesenggukan, suaranya sudah serak, nyaris hilang. Tangannya yang terikat ke kaki ranjang hanya bisa mencengkeram kain seprei yang kotor. Salah satu pria itu tertawa kasar, menulikan telinganya dari suara hantaman di pintu depan.
"Abaikan saja suara di luar itu! Paling-paling cuma penagih hutang lain atau warga yang iseng. Selesaikan dulu urusan kita di sini!" teriak pria itu sembari mencengkeram bahu Larasati dengan kasar.
Laras memejamkan mata rapat-rapat. Ia merasa jiwanya sudah terbang meninggalkan raga yang terus-menerus diinjak-injak ini. Ia tidak lagi berharap pada keajaiban. Baginya, kematian adalah satu-satunya jalan keluar yang masuk akal. Bapak... Ibu... maafkan Laras. Laras sudah kotor... Laras sudah hancur...
Amuk Sang Garda Hukum
Di luar, kemarahan Danang sudah mencapai puncaknya. Melihat pintu yang tak kunjung jebol, ia menyambar sebuah balok kayu besar yang tergeletak di pojok teras.
"Bima, Arya! Mundur!" teriak Danang.
Dengan gerakan yang presisi dan penuh tenaga, Danang menghantamkan balok itu tepat ke arah engsel pintu. DUMMM! Suara retakan kayu mulai terdengar. Bima dan Arya tidak membuang kesempatan. Mereka kembali menerjang pintu itu dengan tendangan ganda yang sinkron.
BRAAAKKKK!
Pintu itu akhirnya menyerah. Kayunya hancur berkeping-keping, menyingkap kegelapan di dalam ruang tengah yang pengap. Danang melangkah masuk paling depan. Ia tidak peduli jika ada senjata api atau tajam yang menunggunya. Aroma busuk dari perbuatan maksiat seolah menuntun langkahnya menuju kamar di bagian belakang.
"Siapa kalian?!" teriak salah satu pria preman yang baru saja keluar dari kamar dengan celana yang belum terkancing sempurna.
Tanpa sepatah kata pun, Danang melayangkan sebuah pukulan hook kanan yang telak ke rahang pria itu. KRAK! Suara tulang rahang yang bergeser terdengar jelas. Pria itu tersungkur, menabrak lemari plastik hingga hancur.
Bima dan Arya menyusul masuk. Dua preman lainnya keluar dari kamar dengan membawa pisau lipat. Namun, mereka menghadapi lawan yang salah. Bima menangkap tangan salah satu preman, memutarnya hingga terdengar suara sendi yang lepas, lalu menghantamkan lututnya ke perut lawan. Sementara Arya, dengan gerakan cepat seperti kilat, melumpuhkan preman terakhir dengan satu bantingan judo yang keras ke lantai semen.
Pertemuan yang Menghancurkan Jiwa
Danang mengabaikan perkelahian di ruang tengah. Fokusnya hanya satu: kamar itu. Dengan tangan bergetar karena amarah dan kecemasan, ia mendorong pintu kamar yang setengah terbuka.
Danang mematung di ambang pintu. Pemandangan di depannya adalah sesuatu yang akan menghantuinya seumur hidup. Ia melihat seorang wanita yang kecantikannya bahkan dalam kondisi hancur sekalipun masih terlihat sedang meringkuk tanpa busana yang layak di ujung kasur.
Kulitnya yang putih kini penuh dengan bekas lebam biru dan merah. Tangannya terikat, dan matanya, mata itu menatap Danang dengan kekosongan yang begitu dalam, seolah-olah ia sedang melihat malaikat maut yang datang untuk menjemputnya.
Danang merasakan jantungnya seolah berhenti berdetak. Sebagai seorang Camat yang selalu tegas, ia mendadak merasa sangat kecil dan gagal. Inilah warganya. Inilah wanita yang seharusnya ia lindungi di bawah hukum yang ia tegakkan.
"Ya Tuhan..." bisik Danang dengan suara parau.
Ia segera melepas jas seragam camatnya yang berwarna cokelat. Dengan langkah sangat perlahan, seolah takut menakuti seekor burung yang terluka parah, Danang mendekati Larasati. Ia menyelimuti tubuh Laras dengan jasnya yang hangat dan beraroma parfum maskulin yang bersih sangat kontras dengan bau busuk di kamar itu.
"Jangan takut... kamu aman sekarang. Aku Danang, Camat di sini. Tidak akan ada lagi yang menyakitimu," ucap Danang dengan nada yang paling lembut yang bisa ia keluarkan.
Larasati tidak merespons. Ia hanya gemetar hebat di bawah balutan jas Danang. Saat Danang mencoba membuka ikatan talinya, Laras tersentak kecil, sebuah refleks ketakutan yang membuat air mata Danang nyaris jatuh.
Di luar, Bima dan Arya telah melumpuhkan ketiga preman itu dan mengikat mereka dengan kabel telepon yang mereka cabut dari dinding. Suara sirene polisi mulai terdengar mendekat di kejauhan, membelah kesunyian Gang Mawar.
Danang menggendong tubuh Larasati yang sangat ringan-ringan karena ia sudah tidak lagi memiliki semangat hidup. Saat ia membawa Laras keluar melewati ruang tengah, ia melihat foto pernikahan Laras dan Bagas yang masih terpasang di dinding, yang kini sudah miring karena guncangan pintu tadi.
Danang menatap foto Bagas dengan tatapan haus darah. Siapa pun pria di foto ini... aku bersumpah demi jabatanku dan demi Tuhan, aku akan menyeretnya ke neraka yang paling dalam, batin Danang.
Pagi itu, Gang Mawar menjadi saksi atas sebuah penyelamatan yang terlambat, namun menjadi awal dari sebuah pembalasan yang besar. Larasati, dalam pelukan sang Camat muda, akhirnya meninggalkan penjara birunya. Di kejauhan, di dalam mobil mewahnya, Rizki Pratama baru saja menerima telepon dari Yudha bahwa terjadi keributan besar di lokasi kontrakan yang ia pantau. Takdir sedang mempercepat jalannya, mempertemukan sang pelindung hukum dan sang pemilik hati untuk satu tujuan: menghancurkan Bagaskara.