NovelToon NovelToon
Istri Seksi Tuan Arnold

Istri Seksi Tuan Arnold

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Duda / Aliansi Pernikahan / Nikah Kontrak / Beda Usia / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Putrichou

"Menikahlah dengan ku dan berikan aku keturunan. Aku akan memberikan semua yang kamu inginkan, termasuk kesejahteraan,"

Anjani tidak menyangka di usianya dua puluh tahun, harus menghadapi tawaran gila dari pria konyol yang dia bantu. Di sisi lain ia ingin memperbaiki hidup, sedangkan di sisi lain ia tidak ingin melakukan hal bodoh itu.

Namun melihat pengorbanannya Arya, keputusan besar akhirnya ia ambil untuk mereka berdua, bersiap menikah dan memberikan Arnold keturunan. Akankah mereka berdua berubah pikiran dan menjalin hubungan tanpa aliansi apapun?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putrichou, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BUKAN SEKEDAR MENYAPA

Tiara menatap pintu kamarnya yang tertutup rapat, begitu pula jendela kamarnya yang terkunci oleh gembok kecil agar dirinya tak bisa melompat keluar. Kamarnya berantakan, vas bunga berserakan dengan tetesan darah yang mengering.

Tiara menekuk kakinya dan menghela napas. Pikirannya sungguh kosong tapi hatinya sungguh berisik untuk melakukan sesuatu yang tidak ingin ia lakukan. Di kamarnya tidak ada benda tajam, Mira maupun Arthur benar-benar seperti mengurung putri mereka.

"Anxiety disorder,"

Tiara menginap depresi berat dan gangguan mental secara bersamaan. Hal itu terjadi karena obsesinya kepada Arthur sedari dulu, menurutnya Arnold jauh lebih pantas bila bersanding dengannya. Tak ingin siapapun yang boleh dekat dengan Arnold selain dirinya.

Tiara membuka laci dan mengambil sesuatu, berjalan ke arah jendela yang mengarah ke halaman belakang. Wanita itu menggenggam erat benda yang selama ini ia simpan dengan rapi.

PRANG ....

Pecah. Jendela itu hancur hingga pecahannya berserakan, ia mengganjal pintu dengan kursi dan sapu hingga kemungkinan besar Mira ataupun Arthur tak bisa membuka pintu kamarnya dari luar.

Pikirannya sudah gila, melompat dari lantai satu dan sempat meringis kesakitan karena melompat dari ketinggian. Mira yang mendengar sesuatu, seketika melirik ke arah Arthur yang tampak cukup tenang.

"Mas, perlukah kita memeriksa Tiara lagi?"

Arthur menoleh dan menghela napas. "Kalau kamu menemuinya, yang ada kamu yang celaka. Lebih baik aku kehilangan anak bodoh itu dibandingkan dirimu, Mira."

Mira melotot dan seketika amarahnya meledak. "Mas! Tiara itu Putri kita satu-satunya! Setelah kita kehilangan calon bayi kita, kamu tega mengatakan itu?!"

Mira hanya tak percaya kalau pria yang ia cintai bisa mengatakan hal yang menyakiti seperti itu. Arthur melipat korannya dan terduduk di sebelah istrinya, "Mira, kamu percaya dengan adanya karma?"

Mira terdiam lama. Wanita itu seketika menangis membuat Arthur semakin terdiam. Mereka mengakui kurang memperhatikan kesehatan mental Tiara dan terlambat menyadari perilaku Tiara saat itu, hingga terjadi peristiwa membuat mereka tak bisa mengelak.

"Kita akan membawa Tiara berobat dan aku akan meminta bantuan Ayah nanti," setelah mengatakan itu, Arthur memeluk Mira kembali. Menenangkan pikiran istrinya begitu pula dengan dirinya.

"Apa Ayah masih mau bantu kita, Mas?" tanya Mira setelah itu. Arthur terdiam lama, sudah lama dirinya menghubungi pria yang mengadopsinya dulu. Karena terbakar rasa marah dan kekecewaan, Arthur memutuskan hubungan.

Semua orang menganggapnya pria penuh manipulatif, itu benar. Tapi mereka hanya lihat sebagian, Arthur tak pernah membantah kalau dirinya sangat manipulatif. Ia hanya ingin melindungi Istri dan putrinya walaupun dengan cara yang salah.

"Aku akan ...," Arthur menelan kata-katanya kembali. Lidahnya kelu melihat Mira menangis karena mencemaskan Tiara. Namanya di coret dan di keluarkan dari seluruh harta keluarga Gunawan, tak tersisa. Tak ada waktu untuk menyesali semuanya, Arthur menghembuskan napas panjangnya.

...****************...

Keluarga Darmawangsa tengah di liputi rasa bahagia atas kabar kehamilan istri Arnold, orang tua Fero datang begitu pula dengan Ayah dari Jasmine yang turut datang dengan wajah gembira.

"Astaga, kenapa kalian tidak mengajakku sewaktu melamar Nak Anjani?" keluh dari Ayah Jasmine, Joseph Gunawan. Pria tak muda dengan rambut beruman semua, sebutung rokok terselip di antara bibir keriputnya.

"Ayah, jangan merokok!" tegur Jasmine yang langsung mengambil rokok itu dan membuangnya. Wajah Joseph tampak kecewa karena rokok mahalnya sudah terbuang sia-sia. Joseph bukan perokok aktif, pria tua itu hanya memakai saat sedang ingin saja, karena Ryan selalu mengontrol kesehatan Ayahnya.

"Padahal Ayah baru saja membeli ya dengan Ryan,"

Helmi Nanda Gunawan, adik Jasmine paling bungsu yang sudah menyandang gelar doktor umum. Pria itu enggan mengikuti jejak Kakak laki-lakinya kedunia bisnis, setelah melihat persaingan sengit antara keluarga Darmawangsa dengan Airlangga, walaupun di dunia kerja semua memiliki saingan setidaknya dirinya jauh lebih aman.

"Ayah, jangan merokok, ada Anjani di sini." tegur Helmi dengan memijat kepalanya. Entah mengapa Ayahnya semakin tua semakin keras kepala dan susah sedikit di atur. Joseph mendesah kesal dan melirik Anjani yang memperhatikan mereka dengan tawa kecil.

Hati Joseph tersentuh, jarang ada yang memperhatikan interaksinya dengan anak-anaknya. Joseph tau, kalau Arnold pasti sangat mencintai gadis belia di hadapannya. Ia tidak ingin tau apa alasan tiba-tiba Arnold menikah tanpa memberitahu dirinya.

"Kakek membawakan kamu ini, Nak." Ayah Joseph memberikan sebuah map coklat yang mengundang tatapan tanya dari semua orang. Fero menyunggingkan senyum, seperti sudah mengetahui apa yang di berikan oleh mertuanya.

"Ini juga dari Opa, Nak." sahut pria tua lainnya, orang tua dari Fero. Guntur Halim Darmawangsa dan Agnes Rahayu. pasangan suami-istri yang masih sangat lancar berceloteh bahkan berlari, berbeda dengan Joseph yang sudah menggunakan tongkat bantu jalan.

Anjani menerima dengan senang hati, Arnold mengelus kepala istrinya. "Bukalah, Sayang."

Anjani terkejut melihat sebuah foto sebuah bangunan megah. Joseph dan Guntur tampak senang melihat reaksi istri cucunya itu. "Apa kamu senang dengan hadiah kamu?"

Anjani menelan ludahnya, ini bukan hadiah melainkan jauh lebih besar untuk sebuah hadiah. Ya, Joseph memberikan sebuah Penthouse mewah yang mengatasnamakan Anjani, dan Guntur memberikan sebuah saham untuk Anjani. Menurut gadis itu, nilai keduanya sangat besar.

"Kakek, Opa ..." Anjani tidak enak hati menerima hadiah dari kedua pria tua di hadapannya, "Aku tidak bisa menerima ini. Aku merasa tidak pantas"

Josep dan Guntur saling melempar tatapan, mereka tidak terkejut. Guntur tersenyum tipis dan terduduk di sebelah Anjani, "Nak, kami tidak pernah memandang seseorang pantas atau tidak bersanding dengan putra-putri kami, karena kami selaku terbuka dengan senang hati. Aku menyayangimu seperti aku menyayangi Arjuna dan Arnold."

"Nak. Terima lah pemberian kami sebagai bentuk kasih sayang kepada kamu," ucap Agnes menengahi.

Semua orang seketika mematung setelah menyadari guntur menyebutkan satu nama, Anjani menyadarinya. Gadis itu seketika mengerut bingung dan melirik Arnold yang sudah berkeringat dingin.

"Siapa ..."

BRAK ....

"Halo semuanya,"

Semua menoleh terkejut saat pintu utama rumah Fero terbuka secara terbanting, Kelvin dan Berta datang dengan keadaan kacau. Fero dan Arnold terkejut saat Ayah dan Anak itu di bopong oleh bodyguard.

"Vin? Apa yang terjadi?" tanya Arnold menyadari Kelvin mengalami luka sayat di lengan atasnya. Kelvin menunjuk ke arah Tiara yang tersenyum lebar menyapa orang-orang di sana.

"Arnold, bawa Anjani keluar. Kamu harus segera membawanya kembali ke rumah sakit jiwa!" ucap Kelvin sedikit terbata. Helmi sudah sibuk dengan peralatan medis yang selalu ia bawa kemana-mana dan bagusnya ada kelengkapan kesehatan di mansion Fero.

"NOW, ARNOLD!" teriak Kelvin disela-sela rasa sakit di lengannya.

"APA YANG KAMU LAKUKAN, TIARA?" berang seorang Joseph. Pria itu menunjuk Tiara dengan tongkatnya. Tiara tertawa pelan dan mengangkat kedua tangannya ke udara. Pisau, wanita itu dengan santainya melirik pisau yang ia genggam.

"Aku datang hanya untuk menyapa kalian," ucap santai Tiara. Anjani sedikit melangkah mundur, Arnold dengan sigap melindungi istrinya yang sudah bergetar ketakutan. Arnold khawatir kalau mental istrinya kembali down karena mengingat masa sekolahnya dahulu.

"Hai, Anjani?"

Anjani hanya menunduk, ia takut bahkan jauh lebih takut kalau kejadian saat sekolah terulang kembali. Gadis itu memegang rambutnya yang masih terasa nyata, kalau Fika memotong rambutnya dengan acak saat itu.

"Arnold," panggil Anjani pelan, menggenggam erat pakaian suaminya. Arnold membalikkannya badannya dan memeluk Anjani. Melirik Jasmine mengisyaratkan untuk mengajak Anjani pergi.

"Kenapa kalian tegang?" tanya Tiara, lalu melirik Berta yang masih menatapnya penuh mengintimidasi. "Oh, apa karena aku melukai Berta dan Kelvin? Aku sengaja,"

"Tiara, lebih baik kamu pulang!" ucap Ryan yang sudah memasang badan melindungi Joseph. Tiara menaikkan alisnya dengan bingung.

"Seolah-olah aku ini kriminal,"

"Kamu mamang seorang kriminal, Tiara!" sahut Fero tajam. Dadanya terasa sesak dan takut kalau Tiara menggunakannya cara baru untuk mengalahkan simpati Arnold.

Setelah memastikan Jasmine dan Anjani tak di ruang tamu, Arnold menatap Tiara dengan sangat marah. "Untuk apa kamu datang lagi, Tiara?"

Tiara mendekat dan menjatuhkan pisaunya begitu saja. Wajah wanita itu seketika memelas seraya membersihkan pakaiannya. "Aku datang karena merindukan kamu. Aku dengar juga kalau gadis yang kamu pungut sedang hamil?"

Tangan Arnold mengepal kuat, ia merasakan kalau wanita di hadapannya bukan datang untuk sekedar menyapa. Arnold sangat mengenal Tiara, bahkan setelah kejadian yang menewaskan kembaran Arnold, Arjuna. Ia semakin tahu kalau Tiara adalah wanita penuh manipulatif seperti Ayahnya.

"Apa yang kamu inginkan?"

"Arnold jangan gegabah!" ucap Helmi setelah mengobati luka terbuka Kelvin.

Tiara tersenyum tipis, "Apa aku harus menyingkirkan Anjani dan bayinya, agar kamu menjadi milikku?"

PLAK ....

"AKU BENCI DIA, ARNOLD!"

1
partini
masa satu orang bisa bikin semua orang pusing ga bisa apa" wanita lagi aneh aihhhhh be smart lah Arnold why so stupid
partini
pesikopet dia mah ,najani the next korban berikutnya OMG moga aja ga methong
partini
tekdung
partini
dua puluh tahun masih SMA Thor sehhh
partini: ok ,, soalnya jarang sih Thor di tempat ku lulus SMA umur 20th kebanyakan 18 dan 19 th
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!