NovelToon NovelToon
SENTUHAN PAPA MERTUA

SENTUHAN PAPA MERTUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumah Tangga / Balas Dendam
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Nuna_Pena

"Pa, Papa mau apa??" Adelia terkejut saat papa mertuanya tiba-tiba mendekat dan memeluknya dari belakang. la tak pernah membayangkan, kalau setelah menikah papa mertuanya itu justru berubah dan bersikap seolah ia adalah istrinya.

Apakah Adelia mampu mengendalikan diri dari papa mertuanya?

Atau ia justru ikut terjerumus juga?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

SEPULUH

Adelia hampir tersedak napasnya sendiri.

Setelah hampir 40 menit, troli mereka penuh.

Dan Adelia merasa tubuhnya tidak kuat lagi menerima tekanan.

"Pa... ini sudah cukup. Kita bayar saja, ya?" ucap Adelia pelan.

Bastian menatap barang-barang di troli, lalu melihat wajah Adelia. "Baik," jawabnya sambil tersenyum-senyum yang tidak sampai ke matanya.

Mereka pun menuju kasir.

Antrian cukup panjang, tapi Adelia merasa itu kesempatan untuk sedikit menenangkan diri. Ia memegang ponsel, berniat mengirim pesan ke Lukas bertanya apakah meeting sudah dimulai.

Namun, sebelum ia sempat membuka chat...

Bastian mencondongkan tubuhnya sedikit ke arahnya, berbicara pelan namun jelas.

"Del... kamu tadi benar-benar kelihatan gugup waktu pria itu mendekat," ucap Bastian.

Adelia membeku.

"Pa, saya cuma kaget-"

"Kamu nggak suka ada pria lain ngobrol sama kamu?" tanya Bastian lagi. "Atau... kamu takut Papa salah paham?"

Adelia menelan ludah. Nadanya pelan tapi langsung menusuk inti ketakutan Adelia.

"Papa cuma ingin pastikan," lanjut Bastian. "Kalau

kamu merasa aman... selama Papa ada."

Adelia hampir ingin mundur satu langkah, tapi troli di belakang membuatnya terjepit.

Kasir mulai memindai barang-barang mereka.

"Permisi, Ibu... ingin sekalian pakai kantong paper bag?"

Sebelum Adelia sempat menjawab, Bastian mengulurkan kartunya dengan senyum ramah pada kasir.

"Iya, gunakan yang premium. Untuk istri saya."

Kasir mengangguk tanpa ragu.

Adelia terdiam-darahnya seolah berhenti mengalir.

Ia bahkan tidak punya waktu untuk menyangkal atau meluruskan, karena kasir langsung menerima pernyataan itu tanpa berpikir panjang.

Sementara Bastian... menoleh ke arah Adelia perlahan, senyumnya tipis, suara rendahnya hampir seperti bisikan.

"Tenang saja, Papa tidak akan biarkan siapa pun salah paham tentang kamu!" ujar Bastian.

Adelia merasakan bulu kuduknya berdiri.

Untuk pertama kalinya, supermarket yang ramai ini terasa jauh lebih menakutkan daripada ruang keluarga mereka semalam.

Begitu selesai dari kasir, Bastian langsung bergerak cepat mengambil semua paper bag belanjaan.

Gerakannya mantap, seperti seseorang yang wajib memegang kendali dalam setiap situasi.

"Pa, biar saya bantu-"

"Tidak usah, Del!" potong Bastian sambil menatapnya singkat. "Biar Papa saja. Kamu tinggal jalan di samping Papa."

Nada suaranya lembut, tetapi tidak memberi ruang untuk penolakan.

Adelia mengangguk kaku, lalu mengikuti langkah Bastian. Namun, jarak antara mereka terlalu dekat.

Bastian berjalan seolah ingin menjaga Adelia, atau mengontrol ruang geraknya.

Beberapa kali tangan mereka hampir bersentuhan karena troli dan kerumunan pengunjung yang membuat lorong sempit.

Adelia berusaha mengambil jarak, tapi Bastian memperpendeknya lagi tanpa terlihat memaksa.

Mereka berjalan menuju pintu keluar hingga seorang ibu-ibu paruh baya tiba-tiba melambai sambil tersenyum manis.

"Eh, Pak... Bu! Borong banyak banget ya? Wah, pasangan baru nikah ini kayaknya? Kelihatan romantis

bener!" seru seorang ibu-ibu itu.

Adelia langsung membeku.

Wajahnya memanas, bukan karena malu... tapi karena ketidaknyamanan yang menggigit.

Namun yang paling membuatnya terperanjat adalah-

Bastian justru tampak senang.

Ia menoleh ke ibu-ibu itu dengan senyum ramah yang jarang ia tunjukkan kepada orang asing.

"Terima kasih, Bu," jawabnya santai.

Kata-kata Itu. Ia tidak menyangkal, ia tidak meluruskan, ia membiarkan kesalahpahaman itu menggantung di udara.

Bahkan ia menambahkan, "Kami cuma belanja kebutuhan rumah."

Adelia hanya bisa tersenyum kaku sambil menunduk, ingin cepat-cepat pergi sebelum ibu itu menanyakan hal lain.

"Wah, cocok banget sih kalian. Saya doain deh, semoga kalian cepet dikasih momongan!" lanjut ibu itu riang.

Adelia merasa jantungnya berhenti sejenak.

Sementara Bastian hanya berkata pelan, "Amin, Bu."

Adelia merasakan darahnya naik ke wajah. Tidak ada satu pun dari semua ini yang ia inginkan tetapi ia tidak bisa memprotes tanpa membuat keributan, dan Bastian tahu itu.

Setelah mereka pamit, Adelia mempercepat langkah menuju mobil. Ia tidak peduli lagi apakah Bastian mengikuti atau tidak. Ia hanya butuh udara.

Bastian tetap memegang paper bag dan

memasukkannya ke dalam bagasi mobil dengan tenang, seolah tidak ada hal aneh yang terjadi barusan.

Kemudian ia membuka pintu mobil sebelah Adelia.

"Sini, Del!" ucapnya.

Adelia masuk dengan cepat, mencoba menyembunyikan kekacauan yang masih berputar di kepalanya. Setelah Bastian menutup pintu, ia masuk dari sisi pengemudi.

Suasana dalam mobil terasa lebih sempit daripada supermarket tadi. Adelia menatap lurus ke depan sebelum akhirnya bertanya pelan.

"Pa... kenapa Papa bersikap seperti tadi?" tanya Adelia.

Bastian memasang seatbelt dengan santai. "Seperti tadi apa?"

"Papa bilang kalo saya istri Papa..." suara Adelia gemetar kecil. "Papa nggak meluruskan apa pun."

Bastian menoleh sejenak, tatapannya datar tetapi tidak kasar. Lalu ia tersenyum kecil.

"Ah elah, Del... itu cuma ibu-ibu iseng. Kalau Papa jelasin panjang-panjang, malah bikin mereka makin kepo!" ucap Bastian.

"Tapi... itu salah paham, Pa. Saya jadi-"

"Del."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!