Naufal hanyalah seorang sales smartphone miskin yang sering diremehkan karena tidak pernah mencapai target. Ditekan oleh target yang mustahil, dikhianati oleh rekan kerja, dan dianggap remeh oleh pelanggan sombong adalah makanan sehari-harinya.
Namun, segalanya berubah saat sebuah suara mekanis bergema di kepalanya:
[Ding! Sistem Analisis Nilai Aktif!]
[Menganalisis Target...]
[Budget: Rp150.000.000 ]
[ Keinginan: memboron 50 unit untuk yayasan pendidikan |
[Tingkat Kepercayaan: 15%]
[Misi Terbuka! Closing produk!]
[Hadiah misi pembukaan RP 10.000.000!]
Dengan bantuan Sistem Analisis Nilai, Naufal tidak hanya bisa melihat isi dompet pelanggan, tapi juga titik lemah kompetitor dan tren pasar masa depan. Dari seorang sales yang hampir dipecat, ia merangkak naik menjadi raja industri teknologi.
Satu per satu wanita hebat mulai masuk ke dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon R.A Wibowo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31--Bagas si BG
Pagi itu, Naufal berangkat dari rumah barunya di Blok X dengan semangat berbeda. Mesin Ducati-nya menderu membelah ring road menuju tempat dia bekerja. Statusnya sebagai "Pembunuh Senior" setelah menumbangkan Andre memang membuatnya disegani di tokonya, semua orang mulai anggap Naufal tidak kaleng-kaleng lagi.
Udara pagi Yogyakarta masih terasa dingin ketika motor sport hitam miliknya melesat di antara deretan kendaraan pekerja kantoran. Cahaya matahari yang baru naik memantul di visor helmnya, sementara suara knalpot Ducati itu membuat beberapa pengendara lain otomatis menoleh.
Beberapa anak SMA yang sedang menunggu angkot bahkan sempat menunjuk motor Naufal dengan mata berbinar. Ducati hitam itu terlalu mencolok untuk ukuran jalanan pagi. Aura mahal dan sangar bercampur jadi satu, sangat cocok dengan reputasi baru Naufal yang mulai naik di dunia sales gadget.
Ia masih ingat misi utama dari sistem. Dalam 30 hari menjadi sales OMNI nomor 1 dengan penjualan tertinggi di area yogya.
Ia sudah menjual sekitar 30 juta untuk awal bulan ini.
Jumlah itu sebenarnya sudah gila untuk ukuran sales baru sepertinya. Bahkan beberapa senior di toko lain butuh waktu setengah bulan untuk mencapai angka tersebut. Namun bagi Naufal, angka tiga puluh juta sekarang terasa terlalu kecil setelah melihat hadiah-hadiah absurd dari sistem.
Apalagi setelah dia merasakan sendiri bagaimana sistem mampu mengubah hidupnya hanya dalam hitungan minggu. Dari sales yang nyaris resign karena tekanan target, sekarang dia sudah punya rumah baru, motor Ducati, dan nama yang mulai diperhitungkan banyak orang.
Lalu tiba-tiba layar notifikasi dari sistem kembali muncul.
[Ding!]
[Misi Utama: The rising star]**
[Tujuan: Menjadi Sales dengan total penjualan tertinggi di seluruh gerai gadget Yogyakarta dalam satu bulan.]
[Progress: 25% (Peringkat 6 Se-Provinsi untuk sekarang karena belum tutup bulang]
[Saingan Terberat: 'Bagas Sang Legenda' sales Samsa dari Toko Central Gadget, sebrang toko tuan rumah.]
"Bagas, ya?" gumam Naufal. Nama itu sudah sering ia dengar.
Bagas adalah sales senior Samsa (samsung) yang dikenal memiliki jaringan "akar rumput" luar biasa kuat. Pria itu bukan sekadar jualan, tapi sudah seperti politikus di daerah sini, bahkan Andre sering kelolosan pelanggan gara-gara si bagas.
Ia punya database ribuan pelanggan setia, mulai dari bapak-bapak pejabat dinas hingga komunitas ibu-ibu arisan sosialita yang hanya mau membeli HP kalau Bagas yang melayani.
Rumor tentang Bagas bahkan sudah seperti cerita urban legend di kalangan sales gadget daerah toko Naufal. Katanya, kalau ada pelanggan datang ke toko kompetitor dan cuma mendengar nama "BG", kemungkinan setengah dari mereka bakal batal beli lalu pindah toko.
Ada juga gosip yang bilang Bagas hafal nama anak dan tanggal ulang tahun pelanggan pentingnya. Bahkan beberapa pejabat daerah disebut lebih percaya rekomendasi HP dari Bagas dibanding review YouTube.
Naufal memarkirkan Ducati-nya tepat di depan gerai toko dia. Saat ia melepas helm, ia melihat ke arah seberang jalan.
Di depan toko Central Gadget, tampak sebuah spanduk besar dengan wajah Bagas yang sedang tersenyum memegang seri terbaru flagship Samsa.
Dengan cepat popularitas dia naik, bahkan dia jadi BA Samsa itu sendiri. Padahal hal langka seorang sales dijadikan model foto produk.
Itu membuktikan sehebat apa skil genjutsu milik dia.
Spanduk itu besar sekali sampai menutupi hampir setengah ruko lantai dua. Wajah Bagas terlihat percaya diri dengan senyum khas sales veteran yang mampu membuat orang merasa nyaman hanya dari tatapan mata. Di bagian bawah spanduk bahkan tertulis slogan: “Cari HP? Tanya BG Aja.”
Di bawah spanduk itu, pelanggan terlihat keluar masuk toko Central Gadget tanpa henti. Sales-sales junior di sana bahkan terlihat sibuk membawakan air mineral dan kursi untuk pelanggan yang sedang konsultasi. Tempat itu terasa lebih mirip lounge premium dibanding toko HP biasa.
[Ding!]
[Analisis Target Aktif!]
[Nama: Bagas 'sering dipanggil BG]
[Spesialisasi: Loyalitas Pelanggan & Penjualan Borongan (B2B)]
[Total Penjualan Bulan Ini: Rp 145.000.000]
"Seratus empat puluh lima juta?" Naufal menyipitkan mata. "Jaraknya cukup jauh dari tiga puluh juta gue. Tapi bulan ini belum berakhir."
Naufal tidak marah melihat selisih itu. Justru bibirnya perlahan tertarik membentuk senyum tipis. Semakin tinggi lawan, semakin besar rasa puas saat menjatuhkannya.
Bagas makan semua pelanggan dari area ini, bahkan siska kena dampaknya. Untuk jadi sales nomor 1 dan menyelesaikan misi dari sistem, bagas adalah rintangan awal.
Dadanya malah terasa panas oleh semangat kompetisi. Seumur hidupnya, Naufal selalu diremehkan. Sekarang, untuk pertama kalinya, dia punya kesempatan berdiri sejajar dengan monster penjualan seperti Bagas.
Begitu Naufal melangkah masuk ke dalam toko, suasana mendadak hening. Para sales lain yang dulu sering meremehkannya kini memberikan jalan, bahkan beberapa junior menunduk hormat.
Perubahan sikap itu terasa sangat nyata. Dulu saat Naufal masih dianggap sales gagal, banyak orang menganggapnya cuma pajangan toko yang modal tampang doang. Sekarang? Tatapan mereka penuh campuran hormat dan takut.
Salah satu sales junior bahkan buru-buru menyingkirkan kardus di jalur jalan Naufal, sesuatu yang dulu mustahil terjadi. Dunia kerja memang kejam—orang hanya menghormati hasil.
"Pagi, Fal," sapa Siska yang sudah rapi dengan kemeja kerjanya. Wajahnya tampak sedikit cemas. "Lo udah dengar kabar? Bagas baru saja menutup deal besar pagi ini. Dia memasok 20 unit tablet untuk sekolah swasta elit di dekat sini. Gila, dia makan jatah semua pelanggan di area ini.”
Siska menggigit bibir pelan setelah bicara. Sebagai sales, dia tahu betapa gilanya transaksi B2B seperti itu. Sekali deal bisa setara kerja keras seminggu penuh melayani pelanggan eceran.
Manajer ikut nimbrung. Ia masih sibuk menggarap laporan di meja kerjanya. “Memang asw bagas itu, berkat dia penjualan toko kita kurang, banyak pelanggan memilih membeli di sana … Naufal.”
“Iya, pak?”
“Kamu pengganti Andre, artinya kamu memegang unit Samsa untuk sementara waktu. Kalau kamu jualan saya kasih bonus sesuai perusahaan, jadi jangan kalah sama bagas.”
Naufal tersenyum dia memegang dua brand untuk sementara waktu jujur itu kelebihan yang mantap.
Biasanya sales hanya fokus pada satu brand agar target perusahaan jelas. Tapi sekarang Naufal memegang dua brand sekaligus akibat kekosongan posisi Andre. Itu berarti kesempatan dia menjaring pelanggan jauh lebih luas dibanding sales biasa.
Naufal hanya mengangguk tenang. Ia berjalan menuju meja display brand dia yang menjadi tanggung jawabnya.
"Dia pakai cara lama, Siska. Main koneksi dan kenalan. Tapi gue punya cara yang lebih efektif," ucap Naufal sambil mengaktifkan kemampuan analisis dari sistemnya.
DAYA KHALYAL MEMBAGINGKAN