"Dasar anak Kunti!"
"Aku bukan anak Kunti! berhenti memanggilku anak Kunti! namaku Kalingga Arsana!"
Kalingga sering di panggil anak Kunti oleh teman temannya dan para warga di tempat dia tinggal, bukan tanpa alasan, itu karena dia lahir dari rahim seorang perempuan yang sudah di kubur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sosok berbahaya
Malam hari tiba, jika di setiap rumah orang orang sudah tertidur lelap, lain halnya dengan seorang perempuan hamil yang sedang mengendap endap di salah satu kampung.
Dia keluar dengan membawa obor kecil dan tanpa ragu masuk ke dalam hutan yang begitu gelap dan di penuhi suara suara binatang hutan yang saling bersahutan.
"Hahaha.. Beruntung sekali aku menemukan seorang perempuan hamil bodoh yang keluar malam malam, dia pasti punya anak di luar nikah makanya mengendap endap seperti itu" gumam Salbiah, sesosok kuyang yang sering mencari korban di sekitar kampung cadas, kampung Sukun dan kampung Mahoni
Si perempuan terus berjalan tanpa tahu kalau dia di ikuti sosok kuyang yang menunggu waktu yang tepat untuk menyergap nya, perempuan itu di hamili oleh kekasihnya yang berasal dari kampung lain, tapi si lelaki tidak mau bertanggung jawab karena kehamilan di luar nikah di tempat itu di anggap aib dan bisa membawa kesialan.
"Hiks... aku sudah tidak tahan lagi, di sini saja karena perutku sudah begitu sakit"
"Aakhhhh!"
"Hiks.. Hiks.. Maafkan ibu nak" lirihnya ketika dia sudah berhasil mengeluarkan janin yang dia abors* dengan cara meminum jamu peluruh kandungan.
"Hhrrrr"
"Apa itu, aku harus segera pergi dari sini, dan mengubur bayi ini" gumam perempuan itu
Dia langsung menutupi jasad bayi yang belum sempurna itu dengan dedaunan, karena panik, bahkan darah masih mengucur deras dari arah jalan lahirnya tapi dia tidak peduli, dia ingin segera pulang sebelum orang orang di rumahnya tahu apa yang dia lakukan.
"Manis.. Manis sekali"
Salbiah terus menjilati darah yang tercecer di dedaunan yang ada di sana, bahkan dia sudah melahap jasad bayi tak berdosa itu dengan sekali makan. Tapi dia masih haus dan darah yang keluar dari tubuh perempuan itu membuatnya semakin hilang kendali.
Salbiah mengejar perempuan itu yang berjalan tertatih dengan darah yang hanya di sumpal dengan sepotong kain yang di bawa perempuan itu ke dalam hutan.
"Hahaha"
"Tidak, pergi! Pergi jangan ganggu aku!" teriak perempuan itu memukulkan ranting yang dia pegang pada Salbiah yang terus terbang mengelilinginya.
Bruk.
"Pergi!"
Perempuan itu terpeleset dan jatuh sampai ranting kayu yang dia pegang untuk di jadikan tongkat terlepas di kegelapan malam yang hanya di terangi obor kecil yang di bawa perempuan itu.
"Darah... Aku mau minum darah itu!" teriak Salbiah
Salbiah terus menjilati darah yang keluar dari jalan lahir perempuan itu, tak hanya Salbiah tapi banyak makhluk lain yang juga datang dari kegelapan ikut bergabung dengannya.
"Aakh.. Sakit... Sakit sekali" lirihnya terus meremas bagian perut bawahnya karena merasa linu dan lemas setelah darahnya terus di hisap habis oleh para makhluk itu.
"Manis... Manis.."
Terdengar racauan dari para makhluk yang sudah membuat perempuan itu pingsan karena kehabisan darah, bahkan perempuan itu juga harus meregang nyawa setelah melakukan dosa membuang janinnya.
"Hahaha... Dia adalah bagian dari kita di neraka nanti!" teriak suara yang terdengar di hutan itu. Obor yang di bawa perempuan itu juga langsung padam, hanya menyisakan percikan api kecil yang membakar daun daun kering yang sekelilingnya di penuhi bercak darah dari perempuan itu.
"Hahaha aku bisa berkeliling kampung dengan wujud cantikku selama enam bulan ini, aku akan mendekati ayah anak itu" gumam Salbiah segera pergi setelah dia kenyang dan mendapatkan apa yang dia inginkan
"Dan untuk selanjutnya adalah anak Kunti yang di katakan Malak, akan aku makan dia"
°°°°°°°°°°°
"Kang... Kalingga bangun kang" panggil Maryani tapi Kaelan masih tidak merespon dirinya.
Hari itu adalah hari ke tiga Kaelan di kampung cadas, Kalingga sudah mau minum susu formula meskipun sesekali Purnama juga mengantarkan asi ke kampung itu dengan bantuan Karna yang rutin ke sana sambil mencari tanaman obat bersama para warga kampung Mahoni yang lain.
Pencarian ari ari Kalingga juga masih terus di lakukan, hanya saja melalui cara gaib dengan mengerahkan para jin kecil yang mau bekerja sama dengan Arsana, tapi masih belum membuahkan hasil.
"Kalingga sayang, ayah kamu pasti kelelahan karena semalam kamu rewel, kenapa kamu nak?" tanya Maryani
"Oek... Oek... Oek..."
Ceklek.
"Astagfirullah, Kaelan, anak kamu menangis nak" panggil Saidah segera menggendong Kalingga.
"Eungh... kenapa Bu?" tanya Kaelan
"Ini Kalingga menangis, mungkin perutnya kembung" jawab Saidah
"Astagfirullah, Maafkan Kaelan Bu, Kaelan benar benar mengantuk" ucap Kaelan
"Tolong kamu ambilkan minyak telonnya, biar ibu oleskan ke perut Kalingga" ucap Saidah sambil terus mendekap Kalingga dan terus mengusap punggungnya.
"Kalingga mungkin masuk angin Bu, tadi sore kan Kaelan ajak ke makam ibunya" ucap Kaelan.
"Kamu ini Kaelan, anak bayi itu seharusnya jangan keluar sebelum empat puluh hari, pamali nanti banyak yang ganggu, kamu malah bawa Kalingga ke sana" keluh Saidah
"Habisnya Kaelan tidak bisa melihat Maryani Bu, Kaelan rindu Maryani, kata warga di sini Maryani setiap hari menangis dan meneror warga, tapi mana, Kaelan malah lihat yang meneror warga itu jin jin peliharaan Narno" jawab Kaelan
"Iya kang, mereka menggunakan Maryani untuk membuat kalian semakin di benci, akang jangan ke kuburan Maryani lagi, Maryani selalu ada di samping anak kita" ucap Maryani duduk di samping Kaelan.
"Ayah Karna juga belum menemukan cara supaya Maryani bisa kita lihat, sepertinya yang sudah menyamarkan Maryani adalah sesuatu yang kuat" ungkap Kaelan membuat Maryani menunduk sedih.
Maryani menatap Kalingga, dia juga begitu rindu pada Kaelan tapi yang terpenting saat ini adalah Maryani bisa di lihat Kalingga, dan itu sudah cukup untuknya agar Kalingga tetap bisa merasakan kasih sayang kedua orang tuanya.
"Kalingga, jangan sedih sayang, ayah akan berusaha untuk tetap memenuhi semua kebutuhan kamu, kalau perlu ayah akan berhenti bekerja supaya kamu tidak kekurangan perhatian dan kasih sayang" ungkap Kaelan
"Ada kami nak, kalau kamu ingin bekerja pergilah, tidak apa meskipun kamu hanya bisa pulang satu bulan sekali yang penting Kalingga nanti punya tabungan untuk biaya pendidikannya, jangan sampai dia jadi seperti warga kampung ini yang hanya jadi lulusan SD saja" ucap Saidah
"Lihat dia, dia sudah tenang sekarang, lain kali jangan bawa Kalingga keluar jauh selain di depan rumah, dia masih bayi" ucap Saidah
"Iya Bu, berikan Kalingga biar Kaelan jaga lagi, ibu tidur saja ini sudah hampir subuh" ucap Kaelan
"Ibu mau menyiapkan air panas dulu, tanggung kalau tidur lagi" jawab Saidah pergi ke arah dapur untuk memasak air sekaligus memasak nasi.
"Kalingga, meskipun kamu nanti akan berada lama di kampung ini, ayah tidak akan membiarkan kamu kekurangan, ayah akan belikan mainan yang bagus untuk kamu, kamu juga akan belajar, bermain dengan teman teman kamu, kalau tidak ada teman di sini, nanti ayah akan minta Kakek Karna mengajak cucu Mbah Panca untuk jadi teman kamu" ungkap Kaelan
"Ayah akan belikan kamu pakaian yang bagus sampai orang orang di sini tidak akan bisa menghina kamu dan keluarga kita" ungkap Kaelan mengecup kening Kalingga.
"Pergilah kang, aku akan menjaga anak kita" ucap Maryani