NovelToon NovelToon
Paradoks Dua Hati

Paradoks Dua Hati

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Enemy to Lovers
Popularitas:448
Nilai: 5
Nama Author: Mysterious_Man

Paradoks Dua Hati menceritakan kisah Kanaya, seorang desainer interior idealis yang terpaksa bekerja di bawah pimpinan Arjuna Dirgantara, seorang CEO perfeksionis dan dingin bagai es. Berawal dari perdebatan sengit dan permusuhan di ruang rapat, Naya dipaksa untuk bertahan di tengah tekanan ego Juna yang tak kenal ampun. Namun, lembur malam dan batas waktu yang ketat perlahan mengupas lapisan kebencian mereka. Di balik sikap arogan Juna terdapat ketakutan akan kegagalan, dan di balik sikap keras kepala Naya tersembunyi rasa insecure yang dalam. Melalui monolog batin yang saling bersinggungan, mereka mulai memahami luka satu sama lain, mengubah arena pertempuran menjadi ruang tak terduga untuk cinta yang menyembuhkan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 1: Titik Beku di Ruang Kaca

​Suara tumpukan cetak biru ukuran A3 yang dijatuhkan ke atas meja kaca tempered itu mengiris keheningan seperti bunyi bilah pisau pemotong.

​Tidak ada bantingan kasar atau luapan emosi yang meledak-ledak. Hanya sebuah pelepasan dari tangan yang presisi. Namun, dampaknya cukup untuk menyedot habis seluruh sisa oksigen di ruang rapat lantai dua puluh lima tersebut. Suhu pendingin ruangan yang berada di angka delapan belas derajat Celcius mendadak terasa membekukan sumsum tulang.

​"Saya membayar Anda bukan untuk mempresentasikan utopia idealis tugas akhir mahasiswa, Kanaya."

​Suara Arjuna Dirgantara membelah kesunyian. Nadanya adalah representasi fisik dari es kering; tak bersuara, dingin, namun mampu membakar kulit jika disentuh.

​Di ujung meja, pria itu berdiri dengan postur sempurna yang merangkum arogansi absolut seorang pewaris takhta Dirgantara Group. Balutan jas navy yang membungkus bahu lebarnya tampak tidak memiliki satu pun lipatan yang salah tempat. Sorot matanya yang sekelam dasar palung menembus lurus ke arah perempuan di seberang meja.

​Berjarak tiga meter dari pria itu, Kanaya Larasati duduk dalam diam. Tulang punggungnya tegak kaku bagai tiang pancang. Di bawah bayangan meja mahoni, kuku-kukunya menancap tanpa ampun ke telapak tangannya sendiri. Rasa perih yang menjalar adalah satu-satunya jangkar yang menahan akal sehatnya agar tidak melempar vas bunga di tengah meja ke wajah rupawan bosnya itu.

​'Tiga detik,' batin Kanaya getir, menggigit bagian dalam pipinya kuat-kuat. 'Hanya butuh tiga detik baginya untuk mengeliminasi empat ratus jam waktu hidupku. Dia bahkan tidak repot-repot membalik halaman kelima untuk melihat kalkulasi beban struktur. Pria ini murni iblis.'

​Naya menarik napas pendek melalui hidung, berusaha menstabilkan detak jantungnya yang bergemuruh.

​'Jangan berkedip, Naya. Sekali kau menunduk, sekali kau membiarkan likuiditas di pelupuk matamu ini jatuh, dia akan melumat habis sisa harga dirimu. Kau berada di sini karena kemampuanmu, bukan karena koneksi keluarga seperti yang dimiliki pria arogan di depanmu ini,' Naya terus merapal mantra pertahanan di dalam kepalanya.

​"Maaf, Pak Arjuna," Naya akhirnya membuka suara. Vokalnya terkalibrasi dengan sangat hati-hati, sebuah manuver untuk memastikan suaranya tidak bergetar meski asam lambungnya mulai naik.

​Naya mencondongkan tubuhnya sedikit, menunjuk cetak biru yang berserakan. "Jika Anda membedah Rencana Anggaran Biaya di lampiran B, material komposit daur ulang yang saya ajukan untuk pilar utama lobi bukan sekadar ornamen estetika. Itu menekan anggaran perawatan hingga dua puluh persen dalam proyeksi lima tahun. Konsep biophilic ini secara data terbukti meningkatkan metrik kenyamanan psikologis tamu—"

​"Psikologis?"

​Satu kata itu memotong kalimat Naya bagai silet. Juna tertawa pelan. Sebuah tawa kering, sinis, yang sama sekali tidak mencapai matanya.

​Pria itu mencondongkan tubuhnya ke depan, menumpukan ruas-ruas jarinya yang panjang di atas meja kaca. Jarak di antara mereka memendek, membiarkan aroma vetiver dan cedarwood yang maskulin merayap menginvasi ruang udara Naya.

​"Tamu VIP Grand Azure membayar delapan ratus dolar semalam bukan untuk terapi psikologis dengan memeluk kayu daur ulang, Kanaya," desis Juna, artikulasinya begitu jernih hingga terasa menyakitkan telinga. "Mereka membayar untuk eksklusivitas. Untuk kemewahan fasis yang bisa mereka pamerkan. Marmer Venatino murni. Kristal. Aksen emas. Bukan material sisa pabrik yang dipoles atas nama cinta lingkungan yang naif."

​Juna mengunci tatapan Naya, menelisik sepasang mata cokelat terang yang balas menatapnya tanpa gentar.

​'Orang lain pasti sudah menangis atau setidaknya menundukkan kepala,' Juna bergumam dalam hati, mendapati dirinya tertohok oleh resistensi tak terduga dari gadis itu. 'Berapa banyak manajer senior yang telah meruntuhkan pertahanan mereka di meja ini demi validasiku? Tapi gadis keras kepala ini... justru menaikkan dagu.'

​Ada perlawanan yang menyala-nyala di kedalaman pupil Naya, sebuah insolensi yang membuat darah Juna berdesir aneh.

​Otak Juna sebenarnya tidak buta. Ia diam-diam mengakui bahwa desain gadis itu memang brilian. Integrasi sirkulasi udara alami dan pencahayaan yang Naya buat sangat jenius. Tapi kejeniusan yang belum teruji di pasar kelas atas adalah liabilitas raksasa.

​'Dewan direksi dan Ayah sedang duduk bagai burung pemakan bangkai di luar sana, menunggu proyek hotel pertamaku ini hancur,' batin Juna, rahangnya mengeras mengingat tekanan yang mencekiknya setiap malam. 'Aku tidak ditunjuk menjadi CEO untuk bermain dadu dengan aset triliunan. Aku harus mematahkannya di sini, membuatnya mengikuti rute yang aman. Tidak ada ruang untuk kesalahan.'

​"Rombak seluruhnya," perintah Juna absolut, menarik kembali tubuhnya untuk berdiri tegap dan tak tersentuh. "Kembali ke garis desain awal. Kemewahan klasik. Saya beri waktu tiga hari. Jika hari Senin draf ini masih terlihat seperti proyek amal pelestarian alam, Anda bisa membereskan meja kerja Anda dan keluar dari gedung saya."

​Udara di ruangan itu seolah divakum. Riko, asisten eksekutif Juna yang berdiri mematung bak ornamen hidup di sudut ruangan, refleks menahan napas. Tiga hari untuk merombak detail spasial lobi lima lantai adalah sebuah kebrutalan. Itu nyaris mustahil secara fisik.

​Naya berdiri mendadak. Gesekan kaki kursinya dengan karpet tebal memecah keheningan dengan suara melengking.

​'Tiga hari? Sinting,' Naya merutuk dalam diam, napasnya mulai terasa sesak. 'Ini bukan tenggat waktu, ini eksekusi mati. Dia sengaja menyodorkan tali gantung dan memintaku mengikatkannya sendiri di leherku. Demi Tuhan, aku ingin sekali merobek mulut congkaknya itu.'

​Darah Naya mendidih. Rasa insecure tentang latar belakangnya yang selalu ia kubur dalam-dalam kini terpancing keluar.

​'Kau ingin menguji seberapa murah idealismeku dibandingkan cek gaji akhir bulan? Kau pikir karena aku lulusan universitas lokal tanpa nama belakang konglomerat, aku akan mengemis posisi ini padamu? Kau salah memilih lawan, Dirgantara.'

​Menelan bongkahan amarah yang menyumbat kerongkongannya, Naya menatap lurus menembus benteng es di mata bosnya. Wajah Naya sedikit pucat, namun tidak ada jejak ketakutan di sana, hanya ada resolusi yang membara.

​"Tiga hari," Naya mengulang, intonasinya lebih menyerupai sebuah tantangan daripada persetujuan.

​Ia meraup tumpukan kertas desainnya dari meja dengan gerakan efisien dan terukur, mengabaikan ujung kertas yang tajam menggores sedikit kulit telapak tangannya.

​"Saya akan memberikan revisi yang tidak akan menyisakan satu pun celah bagi Anda untuk mencelanya, Pak Arjuna. Permisi."

​Tanpa menunduk, tanpa basa-basi korporat murahan, Naya memutar tubuhnya. Bunyi langkah sepatu hak tingginya berderap konstan, menggema penuh determinasi hingga pintu kaca tebal itu terbuka, dan tertutup kembali dengan bunyi klik yang definitif.

​Ruang rapat kembali senyap. Keheningan yang ditinggalkan Naya terasa memekakkan telinga.

​Arjuna berdiri tanpa bergerak selama beberapa detik. Matanya terpaku pada pintu kaca kosong tempat presensi Naya baru saja menghilang. Perlahan, satu tangannya terangkat, melonggarkan ikatan dasi sutranya yang mendadak terasa mencekik trakea.

​"Bapak... tidak terlalu menekan beliau?" Riko akhirnya bersuara, mengurai ketegangan di udara dengan sangat hati-hati. "Volume pekerjaan itu, Pak... merombak seluruh struktur material lobi dalam tujuh puluh dua jam nyaris mustahil diselesaikan oleh satu orang."

​Juna menoleh lambat. Matanya kembali kosong dan profesional.

​"Batalkan reservasi makan malam saya dengan klien Singapura di La Brasserie," ucap Juna dingin, sepenuhnya mengabaikan pertanyaan asistennya.

​"Baik, Pak. Lalu jadwal Bapak untuk sisa malam ini?"

​"Saya akan tidur di kantor," Juna melangkah menuju pintu keluar. "Saya hanya ingin memastikan, apakah Nona Kanaya Larasati benar-benar memiliki stamina untuk menopang arogansinya, atau dia hanya pandai merangkai retorika Omong kosong."

​Namun, saat Juna melangkah ke lorong, pikirannya tertinggal di ruangan itu.

​'Dia adalah variabel yang mengganggu. Keras kepala, tidak patuh, dan terlalu berani,' batin Juna, memijat pelipisnya yang mendadak berdenyut nyeri. 'Semestinya aku memecatnya detik ini juga atas nada bicaranya yang menantang tadi. Tapi... mengapa wangi vanilla yang menguar dari rambutnya saat ia membungkuk meraup kertas tadi menolak enyah dari penciumanku? Sialan. Fokus, Arjuna.'

​Di tempat lain, di balik bilik toilet wanita lantai dua puluh lima, Kanaya mengunci pintu dan menjatuhkan punggungnya ke dinding keramik yang dingin.

​Napasnya memburu liar. Paru-parunya meraup udara dengan rakus setelah hampir sepuluh menit ia menahan diri untuk bernapas normal di depan Juna. Tangannya yang memeluk gulungan cetak biru kini bergetar hebat tak terkendali.

​Tiga hari. Ia harus mengorbankan siklus tidur, asupan gizi, dan mungkin kewarasannya demi memuaskan tirani pria itu.

​'Satu kesalahan,' bisik Naya dalam hati, memejamkan matanya rapat-rapat saat setetes air mata yang sedari tadi ia tahan akhirnya lolos dan jatuh ke pipinya. 'Aku tidak boleh membuat satu kesalahan pun. Aku akan membuktikan bahwa aku pantas berada di proyek ini.'

​Hal yang paling membuat Naya membenci dirinya sendiri saat ini bukanlah tumpukan revisi yang mustahil tersebut. Melainkan fakta bahwa jauh di sudut terdalam egonya, di balik lapisan kebencian yang pekat, ia memiliki hasrat yang menyakitkan untuk membuktikan diri—untuk membuat seorang Arjuna Dirgantara menatapnya dengan rasa hormat.

​[KILAS BALIK SINEMATIK]

​Kamera bergerak pelan menembus asap cerutu yang pekat di sebuah ruangan bernuansa kayu gelap.

​Dua puluh empat jam sebelum rapat di lantai dua puluh lima terjadi.

​Arjuna Dirgantara duduk dengan punggung tegak di kursi kulit, menatap pria paruh baya di seberang meja yang memiliki garis wajah persis dengannya. Chairman Dirgantara Group. Ayahnya.

​Terdengar suara ketukan tongkat kayu berujung emas yang menghantam lantai marmer. Tuk. Tuk.

​"Proyek Grand Azure adalah pembuktian terakhirmu, Arjuna," suara bariton ayahnya menggema, berat dan tanpa belas kasihan. "Gunakan desain yang mewah, elegan, dan terjamin. Dewan direksi mengamatimu. Kakak tirimu mengamatimu."

​Asap cerutu kembali dihembuskan, memburamkan wajah sang Ayah.

​"Jika kau membiarkan desainer amatir mana pun merusak citra eksklusif Dirgantara Group dengan ide murahan... bersiaplah untuk menyerahkan kursimu. Di keluarga ini, kita tidak menoleransi kegagalan. Kita tidak menoleransi kecacatan."

​Mata Juna yang menatap ayahnya dari balik kepulan asap tampak kelam. Rahangnya mengeras. Bayangan bayangan kelam dari masa kecilnya yang penuh tuntutan berkelebat cepat.

​"Tidak akan ada kegagalan, Yah. Aku akan memastikannya sendiri."

1
Arif Ansori
bagus banget loh ceritanya, kok bisa sepi sih. semangat ya thor 💪😍
Misterios_Man: lah gatau... saya juga bingung kak.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!