Orang yang terlalu penasaran tidak selamanya berakhir indah. Contohnya Kimi Ariana yang kadang dipanggil Kimi Arigato, padahal tidak punya darah Jepang. Saking tak bisa menahan penasaran, Kimi kerap mencoba hal-hal yang di luar nalar.
Dan percobaan paling absurd yang merubah hidupnya?
Mencoba pacaran dengan.. perempuan tampan-ah, bukan, perempuan keren yang justru dijauhi banyak orang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Benrycia_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27
Akibat kejadian malam ini, Kimi memilih mengungsi ke kamar Ruby. Bukan cuma karena wajah pacarnya itu masih kelihatan kesal, tapi juga karena ia tak mau sendirian memikirkan apa yang mungkin terjadi besok.
Besok pasti meledak, batin Kimi sambil memeluk Mr.Teddy raksasanya.
Ia menoleh ke belakang. Ruby sudah berbaring dengan mata terpejam, kelihatannya ingin istirahat. Tapi tentu saja, Kimi tak bisa diam tiap melihat ada kesempatan.
"Uby udah bobo?" bisiknya pelan.
Mata Ruby langsung terbuka setengah. "Udah malem, Kim. Tidur."
"Aku gak bisa merem," gumam Kimi makin merapat, tapi boneka Teddy-nya jadi pembatas di antara mereka.
Ruby mendengus kecil. Gimana mau tidur kalau yang di sebelah kayak gini? batinnya gelisah.
Ia sempat bersyukur karena boneka itu masih di antara mereka, sampai Kimi menyingkirkannya ke lantai.
"Kenapa bonekanya dibuang?" tanya Ruby waspada.
Kimi tersenyum kecil, lalu memeluk Ruby tanpa ragu. "Soalnya Uby lebih anget."
Ruby terdiam, menatap langit-langit dengan tatapan kosong penuh perhitungan. Mati gw. "Kim, kasihan Teddy. Biar dia tidur bareng kita ya?"bujuk Ruby pelan, mencoba menenangkan diri.
Kimi menggeleng. "Aku maunya kamu aja." Nada suaranya lembut, tapi cukup untuk membuat jantung Ruby berdetak lebih cepat.
Keheningan memenuhi kamar, hanya terdengar napas mereka yang saling mendekat. Ruby menatap Kimi yang matanya berbinar, antara manja dan penasaran, Ia tahu arti dari ekspresi itu. Bahaya.
"Kim.." suaranya nyaris seperti bisikan, "Tidur ya, sayang. Besok bakal berat. "
Tapi bukannya diam, Kimi malah menggenggam tangan Ruby di bawah selimut. "Uby suka aku gak sih?" tanyanya polos, tapi matanya tak berpaling.
Ruby menghela napas, lalu menatap balik. "Suka banget, sayang. Tapi kalau kamu begini terus, aku gak yakin bisa tahan,"
Kalimat Ruby justru membuat Kimi makin penasaran. Tapi belum sempat memikirkan apapun, Ruby sudah menyamping dan memeluknya erat. Tangannya menepuk-nepuk pelan punggung Kimi, tapi jantung keduanya seolah berlomba: detakan siapa paling cepat?
Akhirnya Kimi mengalah. Meski gagal malam ini, ia masih punya banyak waktu untuk mencari tahu.
Keesokan paginya, suasana ruang makan terasa suram luar biasa. Sebagian masih teler, sebagian lagi memilih makan dalam diam.
Kimi sempat bingung mau duduk di mana. Di sisi bulan, atau sisi Ruby dan... Anela? Tapi begitu melihat Juli duduk sendirian dengan wajah kusut, ia langsung memutuskan. "Uby, aku temenin Juli ya," bisiknya pelan setelah mengambil sarapan.
Ruby hanya mengangguk. "Iya, sayang. Sekalian tenangin dia."
Kimi mengangguk, lalu berjalan pelan dan duduk di sebelah Juli. Ia melirik wajah pucat Juli yang hari ini tanpa smoky eyes-nya. Setelah berpikir dua detik, Kimi memilih makan dulu, terutama setelah pacarnya melirik sambil mengucap tanpa suara: makan.
Baru setelah piringnya setengah kosong, Juli akhirnya bersuara lirih, nyaris tak terdengar.
"Gw lepas kendali tadi malam."
Kimi refleks mengangguk. "Aku juga."
Juli menoleh pelan, matanya sayu. "Gw gak inget apa-apa, tapi Desi udah cerita. Dia datang ke kamar gw ngajak sarapan, Tapi gw... gw gak sanggup duduk deket dia. Dia tetep temen gw, Kim."
"Aku ngerti, Jul. Jadi kamu gak inget pas peluk Bu Salma sambil bilang, 'ini pacar gw'." Kimi terkekeh pelan. "Pantesan papa bilang, jangan minum alkohol. Abang aja pernah hampir bikin orang hamil gara- gara mabuk."
"Kim.." Juli memaksakan tawanya, lalu menggeleng. "Ini kacau, Semua kacau,"
Kimi mengusap punggung Juli pelan. Ia tak bisa bilang semua bakal baik-baik saja, karena melihat situasi pagi ini, beberapa orang jelas sedang menahan diri.
"Gw pikir orang rusak itu udah parah, ternyata ada yang lebih parah. Yang munafik," tiba-tiba suara berat terdengar dari ujung meja. Janu. Masih serak tapi tetap tajam.
"Setuju. Berasa ditusuk dari belakang," timpal Agus sambil memi jat pelipis.
Okta mendengus. " Sok suci banget. Padahal gw udah nganggep mereka temen. Ternyata, ealah, anjing. Nah kan, mulut gw jadi miring."
"Plis, jangan dibahas," potong Febi hampir menangis. "Pelatihan kita bentar lagi selesai. Kalau emang gak nyaman, ya udah. Diem-dieman aja."
"Lo bego ya? Buka mata lo, njir," ujar Juni ketus. "Dua orang yang kita pikir bagian dari kita, malah main belakang."
Desi akhirnya bersuara. "Aku rasa Febi bener. Kimi sama Juli gak pernah nyerang siapa-siapa. Bisa gak sih kita saling hormatin aja?"
"Oh gitu. kalau lo netral, berarti lo juga bisa jadi 'pengkhianat' dong. Febi, Nove, Mei... semua bisa," kata Janu, nada suaranya meninggi.
Juli langsung berdiri, tatapannya tajam menusuk. "Janu, jangan karena lo dituakan di sini lo jadi semena-mena. Lo mau benci gw sama Kimi terserah, tapi jangan bawa yang lain."
Janu ikut berdiri. "Gw nyalahin lo, iya. Gw gak nyangka lo begini. Kalau lo emang belok, ngomong jujur! Gak usah pura-pura normal! Kita jauhin Ruby sama Anela bukan cuma karena orientasi mereka, lo-"
"Oh, jadi kalau gw ngaku, lo bisa temenan sama gw tanpa jijik? Sama kayak lo mikir Ruby bakal 'nularin' hal yang sama?" potong Juli, nadanya bergetar tapi kuat.
"Udah lo coba belum? Anjir. Gak usah kayak bocah yang dikit-dikit nethink! Segitunya anggepan lo tentang kita ya. Cukup tau gw!"
"Udah, plis. Jangan berantem," Mei mencoba menarik Janu, tapi tangannya ditepis kasar.
"Dan lo!" Janu menunjuk Ruby. "Gw udah bilang, jangan seret Kimi ke dunia lo itu. Cewek polos gitu gampang kebawa arus. Gw pikir lo punya hati, ternyata lo malah ngerusak anak baik-baik! Bajingan juga lo ya."
Ruby hanya menatapnya datar. Tidak membela, tidak pula menyerang. Ia tahu, percuma menjelaskan sesuatu pada orang yang sudah menolak memahami. Satu hal yang ia percayai: kita tak bisa memaksa seseorang menerima siapa diri kita sebenarnya.
Tapi ya tentu saja, pacar Teddy-nya langsung tidak terima. Cewek itu berdiri dengan ekspresi nyolot yang seolah minta di jitak.
"Sebentar, Janu, Itu privasi kan? Maksudku, hal kayak gitu tuh pilihan. Aku bisa aja sukanya sama kamu, bukan Uby. Tapi kamu tetep gak bisa nyalahin aku. Ini urusan hati loh,"
Janu mendengus, tapi matanya sempat kosong. Juli cepat menangkap ekspresi itu. "Gak bisa jawab ya?" suaranya tajam. "Pasti mikirnya, 'kalau Kimi suka sama gw, bisa-bisa gw ikutan belok.' Najis lo!"
Janu langsung menyambar. "Jangan pukul rata semua orang, Jul. Gw bukan lo yang digodain Bu Salma langsung pindah haluan, Gw cuma gak tega ngomong jijik ke cewek kayak Kimi. Itu artinya gw masih punya otak, gak kayak lo."
"Cukup," suara Nove tiba-tiba. terdengar, pelan tapi tegas. Si pendiam dari goa hantu itu berdiri sambil mengusap pelipis. "Daripada saling serang, gimana kalau kita bikin pasangan aja? Sisa empat belas orang, pilih partner masing-masing."
Semua langsung mendelik.
"Lo gila, Nov?!" seru Septi.
"Masih mabok kali," timpal Agus.
"Sabar," kata Nove, tetap kalem meski matanya setengah merem. "Maksud gw bukan pasangan beneran. Kayak.. bestie. Biar gak ngelompok-ngelompok sendiri. Kimi sama Ruby, Juli sama.. siapa, Jul?"
"Salma," jawab Juli cepat.
Nove mengernyit. "Gak ada yang lebih muda-"
"Maksud lo apa, nyet?!" Juli langsung nyolot. "Salma belum tua, dia tuh mateng!"
"Setan, jijik gw," dengus Okta.
Tapi sebelum suasana makin meledak, Marey yang dari tadi diam tiba-tiba buka suara. "Gw sama Septi."
"Aku sama Nove," sambung Desi.
Febi ikut menunjuk Agus. "Aku sama dia."
Mei juga tak mau kalah. "Áku sama Apri."
Juni dan 0kta saling pandang. Dua orang yang paling sering berisik, kali ini malah bingung.
"Kalian udah pada gila apa gimana sih?" Janu geleng-geleng kepala.
"Iya, kayak dicocokin, anjir!" Okta menjambak rambut sendiri.
Kimi cuma mengernyit, matanya keliling ruangan. Kalau dilihat sekilas, Nove ada benarnya juga. Entah kenapa, tiap pasangan justru seperti saling menyeimbangkan: yang kalem dapat yang bar-bar, yang lembut dapat yang nyolot. Lucu juga, pikirnya.
"Oke, gw pusing. Terserah dah. Rusakin aja semua." gumam Septi pasrah.
"Apaan lo?" Marey langsung mendelik. "Geli banget, kayak gw bakal beneran pacaran sama lo. Gw cuma males suasana kayak gini. Gw juga gak bisa benci Kimi atau Juli cuma karena mereka punya jalan sendiri."
"Tapi mereka diem-diem nusuk, woy!" Janu kembali naik pitam.
Marey berdiri, tatapannya tajam, "Gw capek denger bacotan lo, Jan. Mungkin dari awal mereka. udah saling suka, tapi gak bisa jujur karena kita nyinyir mulu. Gw sadar, hati itu gak bisa dipaksain,"
"Si Ruby itu, Mar!" balas Janu cepat. "Dia akar masalahnya. Dia yang nularin ke semuanya. Mulai dari Anela, Juli, sekarang Kimi!"
Ruby menarik napas panjang. Wajahnya datar, tapi matanya lelah. Ia pikir ini saatnya ia angkat suara, sebelum Janu mulai menuduh lebih jauh lagi.
"Gini ya. Gw selama ini diem bukan berarti hati gw kebal. Gw tanya deh, pernah gw nyosor kalian? Gw tau kalian gak nyaman, makanya gw jaga jarak. Gw gak pernah maksa siapa pun. Bahkan waktu kalian nyindir, gw diem. Gw gak mungkin juga nyomblangin Juli sama Bu Salma. kalau Kimi-"
"Aku yang kejar Uby," potong Kimi mantap. "Aku tadinya lurus. Eh, di ujung jalan lurus itu ternyata ada Uby. Makanya kita ketemu, terus jadian, Uby gak pernah maksa aku. Sumpah. Kalau kalian ingat aku pernah cerita soal mimpiku, itu kejadian nyata. Aku yang nembak dia duluan.. terus ditolak, abis itu diusir. Jahat kan Uby."
Nada Kimi melemah di akhir kalimatnya, bikin suasana mendadak hening. Beberapa nyaris menganga, sementara Ruby sibuk menahan tawa. Logika pacarnya aneh, tapi entah kenapa, terdengar masuk akal. Kejujuran Kimi yang polos dan nyeleneh membuat tak satupun sanggup memarahinya.
Akhirnya Janu hanya mendengus. "Terserah deh. Masing-masing aja. Gw sendirian juga gak masalah." Ia langsung pergi.
"Gw juga. Bodo amat," tambah Okta, menyusul di belakang.
Satu per satu yang lain ikut beranjak, menyisakan Febi, Mei, Desi, Marey, dan Nove.
Nove menatap kosong meja di depannya. "Ultah gw suram banget."
"Enggak," balas Marey cepat. " Bukan waktunya baper, Nov. Hal kayak gini bisa kejadian kapan aja. Cuma momennya aja pas di ultah lo."
Nove diam sebentar, lalu mengangguk. Ia duduk lagi, mengambil sendoknya dan makan dengan tenang. Meski kepalanya berat, meski barusan nyaris perang dunia ketiga, perutnya tetap perlu diberi kasih sayang.
.