Aldi Mahendra seorang pemuda yang hidup sebatang kara, dia dari usia empat tahun hidup di jalanan. Hingga akhirnya bertemu seorang kakek yang mengangkatnya menjadi cucunya. Aldi di sekolah hingga lulus SMK, kini dia bekerja sebagai kuli panggul di pasar.
Walaupun uangnya tak seberapa tapi bisa untuk makan setiap hari, apalagi pekerjaan untuk lulusan SMK itu sedikit susah. Aldi di pandang rendah oleh siapapun hingga saat ini berusia 19 tahun dia tetap berusaha hidup di setiap gempuran ombak yang besar datang di kehidupannya.
Semua berubah ketika mendapatkan sebuah cincin merah delima, kehidupannya berubah menjadi lebih baik lagi tapi sesuatu keanehan di kedua matanya membawa dia kedalam dunia yang seharusnya tidak terjadi.
Perjalanan kota maupun di desa menjadi tolak ukur bagi pengalaman Aldi menjadi lebih berani lagi, seperti bentuk tubuhnya yang tinggi dan kekar dengan wajah tegasnya mulai terlihat dalam perjalanan hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D.P. Auzora., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Badan Besar Tapi Penakut
Rembulan malam terlihat begitu indah dengan bintang yang bergemerlapan memberikan cahaya terang tak kalah seperti rembulan, semilir angin malam menyentuh kulit memberikan sesuatu yang dingin hingga merayap ke tulang-tulang.
Cahaya lampu ayam di tambah damar menyala redup terasa hangat bagi kehidupan desa yang sudah modern tapi ada seorang pemuda menikmati keindahan zaman dulu yang masih terasa nyaman.
Aldi duduk di teras rumah setelah makan malam, dengan kopi tinggal setengah rokok satu bungkus sisa tujuh batang saja. Dia saat menikmati kehidupannya walaupun sederhana tapi terasa begitu nyaman.
Belum sempat menghabiskan kopinya dia melihat kopi setengah tadi sudah habis, bersih sampai ampasnya hilang seketika. Tinggal gelas kaca kecil bersih tanpa meninggalkan bekas kopi.
"Loh kok habis kopi saya," dengan kebingungan Aldi berkata sendiri di depan rumah, dia keheranan kenapa bisa seperti ini.
Beberapa menit kemudian bau wangi melati begitu menyengat di hidung Aldi, dia merasakan begitu harumnya aroma bunga melati ini namun dia tercekat sadar kalau bau ini sedang ada sosok muncul dari kejauhan.
Merah darah kain yang dia pakai dengan rambut setengah menutupi wajah hancurnya, mata putih hitam sedikit memberikan keseraman mendalam bagi yang melihatnya.
Aldi membeku melihat sosok itu di kejauhan, "mbak kunti ngapain sih muncul," dalam hati Aldi bertanya-tanya sendiri kenapa mahluk itu muncul di kejauhan.
Belum sempat tersadar Aldi di kejutkan di sampingnya ada sosok putih berdiri tegap, dengan kain basah kecoklatan ada bercak merah di kainya.
Muka datar tidak memiliki mata hidung sama sekali hanya polos hitam membuat Aldi seperti mati duduk di kursi reotnya.
"Gusti pangeran apa lagi ini!," gumaman pelan Aldi dengan tubuhnya merinding hebat merasa ingin kencing di celana.
"Duhh badanku gede sama ginian takut banget lagi," lanjut Aldi di dalam hati, dia masih terdiam tanpa bergerak sedikitpun.
Keringat sebesar jagung terus mengalir hingga membasahi pakaiannya, Aldi ingin lari masuk kedalam akan tetapi kaki terasa begitu berat untuk melangkah.
Dengan penuh keberanian Aldi menekan rasa ketakutannya dia berlari begitu cepat tidak sadar pintu rumah yang atas tertutup sendiri tidak tau siapa yang menguncinya.
BRAKKKKK....
"Cukk, dahiku kejedak pintu," Aldi memegangi dahinya yang sakit kejedak pintu rumahnya sendiri, dia merangkak masuk kedalam rumahnya lalu menutup pintu bawah yang seharusnya duluan.
"Sakit bener jidatku, asem-asem emang," umpat Aldi, dia sangat kesakitan walaupun tidak ada bekas tapi rasa sakit itu terasa begitu nyata.
"Mas Aldi kenapa lari?," suara begitu lembut tapi memberikan kesan menyeramkan di telinga Aldi yang berdiri membelakangi dapurnya.
Dengan perlahan Aldi menoleh kebelakang, dengan keberanian penuh tapi tubuhnya berkata lain. Terasa begitu berat ingin melihat belakang yang terasa begitu merinding di sekujur tubuhnya.
"GUSTI PANGERAN OPO MANEH IKI....," teriakan terkejut Aldi melihat wajah hancur dengan matanya keluar bergelantungan.
Sosok itu tersenyum sangat menyeramkan bagi Aldi yang tidak bisa bergerak kembali, tubuhnya bergetar hebat merasakan ketakutan yang luar biasa.
"Aku sudah gede pakek ngompol lagi," gumam Aldi yang merasakan hangat di kedua pahanya hingga basah celana yang dia pakai.
Lutut Aldi teras lemas dengan kepala pusing merayap ke mata mulai berkunang-kunang, tubuh besarnya tidak sebesar keberanian terhadap sosok di depannya.
Sosok itu menghilang meninggalkan asap tipis mengepul keatas. Akhirnya Aldi merasakan aman tapi wajahnya memerah karena malu sudah besar kencing di celana, ya gak para pembaca?,.
Aldi pergi kekamar mandi, sudah malam begini Aldi mandi membersihkan dirinya lalu mengganti pakaiannya. Sebenarnya malam ini Aldi mau pergi keluar ke rumah ketua desa namun ketika ingat dengan sosok-sosok menyeramkan itu nyalinya sedikit goyah.
"Ahhhh sudahlah pergi aja, mulai saat ini kalau aku lihat begituan mending cuekin saja," ujar Aldi berusaha membakar rasa ketakutannya.
"Bagus anak muda," suara begitu berat menggema di rumah Aldi.
"Aduhh Mbah jangan nyaut lagi, saya masih berusaha," jawab Aldi, dia sendiri sedikit ada rasa takut tapi Aldi berusaha tidak takut kembali.
"Hahaha.. hahaha.. hahaha.. anak muda memang memiliki jiwa yang berbeda," tawa menggema di cakrawala begitu jelas di telinga Aldi, dia sedikit merinding mendengarkan tawa dari sosok pria paruh baya.
Aldi mengambil sarung berwarna hitam coklat seperti model catur kotak-kotak, dia pergi keluar dari rumahnya berjalan di tengah dinginnya malam.
Cahaya lampu menerangi setiap jalan Aldi menuju rumah tetua desa, mata Aldi yang sudah berbeda kini melihat sosok di setiap jalannya.
Bulu kuduk berdiri, merinding hebat Aldi rasakan tapi dia berusaha tetap tenang dengan langkah santai terus berjalan pergi hingga setengah jalan.
Pos ronda ternyata rame dengan bapak-bapak sedang bermain kartu, Aldi begitu beruntung ternyata ketua desa berada di warung di sebelah pos ronda.
Aldi mendekati perkumpulan bapak-bapak itu melihat sebentar sebelum menemui ketua desa.
"Perjaka kita sudah sehat nih bapak-bapak," ujar kang Asep yang ternyata berada disitu.
"Perjaka yang sudah di liat Janda, hahaha...," celetuk bapak-bapak satunya.
Aldi mengaruk kepalanya yang tidak gatal, sedikit malu tapi warga desa memang sudah tau apa yang sebenarnya terjadi tapi bercanda mereka memang seperti itu.
"Sudah gak apa nak Aldi, Sati masih cantik juga," ucap pak dirman.
"Bapak bisa saja," balas Aldi, dia sendiri tidak ingin membuat masalah kepada mbak sita takut omongan yang tidak-tidak. Apalagi ada beberapa wanita di desa tidak menyukai mbak sita.
"Sebenarnya siapa yang pukulin kamu sampai babak belur begitu Al?," tanya kang Asep, sedikit ada nada kesal sekaligus emosi kenapa Aldi di pukuli.
"Jarot kang," jawab Aldi.
"Ohhh dia ternyata, emang soal apa kok sampai pukulin kamu?," kang Asep sedikit geram dia mengorek informasi dan bukti foto Aldi yang babak belur waktu itu, kang Asep juga bertanya sepenuhnya kepada Aldi.
"Dia malak saya kang, uang yang mau dia palak itu akan aku buat beli bibit cabe," ujar Aldi, memberitahukan keinginannya sekaligus rencana dia.
"Tapi uangmu aman kan Al?," kang Asep bertanya lagi.
"Aman kok kang, ini mau tanya ketua desa dimana beli bibit cabe yang bagus," jawab Aldi, lalu menjelaskan niat kedatangannya.
"Ya sudah kalau uangmu aman, tapi kalau dia bikin ulah lagi bilang pada warga desa biar di sikat mereka," ucap Kang Asep.
"Siap kang," balas Aldi.
Kemudian duduk memesan kopi pahit, ketua desa berpamitan pergi terlebih dahulu nanti akan kembali lagi. Dia juga meminta Aldi jangan pulang terlebih dahulu, Aldi kini mengobrol dengan kang Asep.
Lalu beberapa pemuda desa lainnya juga datang ke pos ronda, kini pos ronda sangat rame dengan bapak-bapak dan pemuda desa yang datang.
"Al, besok mau ikut aku gak?," tanya Niko teman sekampungnya.
"Mau kemana Ko?," Aldi bertanya kemana tujuan kepergian Niko.
"Aku mau ke kota sebentar saja, mau melihat adikku yang berada di sana," balas Niko.
"Okelah boleh, sekalian aku mau menjual sesuatu nantinya," ujar Aldi, dia mengingat emas batangan yang berada di rumahnya. Aldi berencana akan membuat ATM dari penjualan emas batangan itu.
Rencana Aldi membeli televisi lalu membeli ponsel Android agar bisa mengirim pesan kepada kerabat dekatnya. Aldi juga berencana memperbaiki masalah kelistrikan di rumahnya agar lebih terang tidak memakai damar lagi.
"Besok jam delapan pagi aku susul," ucap Niko.
"Siap bos," balas Aldi, dia melanjutkan obrolannya dengan kang Asep sambil menyeruput kopinya.
Tawa bapak-bapak yang sedang bermain kartu jepit sehingga menjadi tantangan tersendiri agar tidak terkena jepit jemuran yang lumayan sakit.
Suasana sangat seru dan sangat ramai, namun pandangan Aldi terpaku pada pohon randu tua yang sangat besar, sosok itu tinggi besar seperti raksasa.
Badannya berbulu dengan mata menyala merah menatap tajam kepada Aldi yang menyadari kehadirannya, Aldi langsung memalingkan wajahnya tidak ingin fokus kepada makhluk yang tak kasat mata.
Namun indra keenamnya benar-benar sangat sensitif tidak seperti sebelumnya sehingga Aldi berusaha untuk menyesuaikan dirinya yang sudah berbeda dari sebelumnya.
Aldi tidak habis pikir begitu banyak sosok di pohon randu tua besar di ujung jalan empat ratus meteran dari pos ronda, namun penglihatan Aldi begitu jernih melihat sosok-sosok tak kasat mata.
°°°°°
Ceritanya udah bagus, hanya tinggal memperbaiki peletakkan tanda baca.