NovelToon NovelToon
Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Sistem Penakluk Para Dewi Jilid 2

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Bad Boy / Fantasi
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Sastra Aksara

Lupakan apa yang kalian ketahui tentang Zhang Yuze yang lama. Di Jilid 2 ini, panggung kehidupan akan menjadi jauh lebih luas dan berbahaya.

​Bukan lagi sekadar urusan asmara di bangku sekolah, Zhang Yuze akan mulai melangkah ke dunia bisnis yang penuh intrik, berhadapan dengan tokoh dunia bawah tanah yang kuat, hingga terjebak di antara pesona selebritas papan atas yang memabukkan. Akankah Kitab Santo Cinta cukup untuk melindunginya saat kekuatan rahasia mulai mengincar dirinya? Ataukah godaan dari para wanita menawan di sekelilingnya justru akan menjadi bumerang bagi takdirnya?

​Persiapkan diri kalian. Ambisi yang lebih besar, romansa yang lebih membara, dan rahasia pusaka yang lebih dalam akan segera dimulai.

​Pastikan kalian berada di barisan terdepan saat langkah baru ini dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 30

​Mendengar suara sirene polisi yang mendekat, Yudha mengangguk pada ibu itu dan segera berbalik untuk pergi.

​"Nak, siapa namamu?" tanya ibu itu cemas.

​Yudha menghentikan langkahnya sejenak, lalu menoleh sedikit. "Ibu cukup tahu kalau aku adalah Iblis Hitam." Setelah mengatakan itu, sosoknya menghilang ditelan kegelapan malam.

​Setelah pergi dari lokasi, Yudha tidak langsung pulang. Ia teringat pada seorang gadis kecil yang pernah ia temui sebelumnya. Gadis itu buta, dan Yudha merasa bersalah karena sudah lama tidak mengunjunginya seperti janji yang pernah ia ucapkan. Terlebih lagi, Yudha ingin menguji apakah mantra "Cahaya Suci" dari Cermin Pusaka bisa menyembuhkan mata gadis itu.

​Meski sudah lama berlalu, Yudha masih bisa menemukan lokasi rumah Lulu melalui peta dari sistem cerminnya. Berdasarkan koordinat, gadis itu tampak sedang beristirahat.

​Dengan kemampuan geraknya yang lincah, Yudha masuk ke dalam rumah Lulu tanpa suara. Benar saja, ia melihat Lulu sedang terlelap. Namun, saat Yudha mendekat ke tepi ranjang, Lulu terusik.

​"Apakah itu Kak Yudha?" Lulu tiba-tiba duduk dan bersuara dengan nada penuh harap sekaligus terkejut.

​Yudha tersentak. Menatap mata Lulu yang sayu tanpa binar, ia teringat bahwa orang yang kehilangan penglihatan biasanya memiliki pendengaran yang luar biasa tajam. Mereka bisa mengenali pola suara yang bahkan tidak disadari orang normal.

​"Lulu, Kakak datang menjengukmu," ujar Yudha lembut sambil duduk di tepi ranjang.

​Aroma lembut khas anak-anak—yang lebih harum dari parfum mana pun—tercium oleh Yudha. Melihat Lulu yang hanya mengenakan gaun tidur tipis dengan kulit yang tampak pucat di bawah remang lampu, Yudha sempat merasa iba.

​Yudha mengutuk dirinya sendiri karena sempat terpikir hal yang tidak-tidak. Gadis ini masih sangat kecil, dan hidupnya penuh penderitaan. Tiba-tiba, sesuatu yang tak terduga terjadi. Lulu memeluk lengan Yudha erat-erat, air mata mulai mengalir di pipinya. "Kak, aku kira Kakak sudah tidak mau berteman dengan Lulu lagi. Kakak adalah satu-satunya teman yang Lulu punya."

​Hati Yudha seolah teriris. Kesepian yang dialami gadis ini pasti sangat luar biasa. Di saat anak-anak lain bermain di bawah sinar matahari, Lulu harus berteman dengan kegelapan abadi. Yudha memantapkan tekadnya; ia harus menyembuhkan mata Lulu. Gadis ini punya fitur wajah yang cantik, mirip dengan Luna Maya. Yudha yakin jika mata Lulu sembuh, ia akan tumbuh menjadi gadis yang luar biasa cantik.

​Begitu kesadarannya pulih sepenuhnya, Yudha tiba-tiba merasakan sensasi ganjil di jemarinya. Ada sesuatu yang lembut, halus, namun terasa kenyal dan sensitif di bawah telapak tangannya. Yudha tersentak. Saat matanya beralih ke bawah, jantungnya seakan berhenti berdetak; tangannya tak sengaja menyentuh bagian dada Lulu yang mulai tumbuh.

​Yudha menarik napas panjang, berusaha menenangkan gejolak di dadanya. Meski ia tak ingin berpikiran macam-macam, ia sadar Lulu sedang tidur tanpa mengenakan bra, membuat sentuhan itu terasa begitu nyata di kulitnya. Demi menghindari pikiran yang melenceng lebih jauh, Yudha segera menarik tangannya dengan gerakan halus dan hati-hati agar tidak membangunkan gadis itu.

​Berusaha mencairkan suasana yang mendadak canggung—setidaknya bagi dirinya sendiri—Yudha bertanya dengan nada santai, "Lulu, kalau nanti kamu bisa membuka mata, siapa orang pertama yang ingin kamu lihat?"

​Lulu memiringkan kepalanya, tampak berpikir keras sejenak sebelum menjawab dengan tulus, "Hmm! Pastinya Ayah, Ibu, sama Kak Yudha dong, hihi!"

​Mendengar itu, hati Yudha menghangat. Tak disangka, posisinya di hati Lulu sudah setara dengan orang tua gadis itu.

​"Kenapa kamu ingin melihat Kakak?" tanya Yudha penasaran, meski rasa haru masih menyelimutinya.

​"Lulu mau tahu Kak Yudha ganteng atau enggak. Habisnya, suara Kakak kedengaran berwibawa banget, pasti wajahnya juga ganteng."

​"..."

​Yudha tak menyangka jawaban polos itu akan keluar. Ia terkekeh pelan sambil gemas mencubit hidung mungil Lulu. "Lulu, Kakak janji akan berusaha sembuhin mata kamu, ya?" ucap Yudha lembut, menatap lekat wajah gadis di hadapannya.

​Baru saja kalimat itu selesai diucapkan, Yudha merasakan sesuatu mencakar kakinya. Ia menunduk dan terperanjat melihat sepasang mata bersinar yang menatapnya dengan tajam di kegelapan.

​Seekor anjing hitam besar berdiri di sana, menggonggong rendah penuh kewaspadaan, seolah siap menerjang kapan saja. Yudha teringat, ini adalah Si Hitam, anjing liar yang dulu dicari Lulu sendirian. Pertemuan pertamanya dengan Lulu pun terjadi karena anjing ini.

​"Si Hitam, jangan nakutin Kak Yudha, ya! Kalau bandel, Lulu nggak mau ajak ngomong lagi lho," tegur Lulu sambil tertawa. Senyum lebar terkembang di wajahnya, menunjukkan betapa ia sangat menyayangi hewan tersebut.

​"Kak, apa mata Lulu benar-benar bisa sembuh?" tanya Lulu lagi, kali ini dengan gurat harapan yang dalam.

​"Lulu, kamu mau ikut Kakak? Kakak mau cari seseorang yang ahli untuk memeriksa mata kamu," ujar Yudha sungguh-sungguh, teringat pada kemampuannya sendiri dan rencananya untuk menggunakan energi dari Cermin Pusaka.

​Lulu terdiam sejenak, lalu menjawab, "Lulu mau ikut, Kak. Tapi Kakak tolong tulis surat buat Ayah sama Ibu ya, jelasin semuanya. Lulu nggak mau mereka panik."

​Yudha mengangguk mantap. Rasa kagumnya pada Lulu kian bertambah; gadis ini begitu dewasa dan pengertian. Sesuai permintaan Lulu, Yudha menuliskan sepucuk surat dan meletakkannya di atas meja, menjelaskan alasan ia membawa Lulu pergi. Setelah itu, mereka berdua pun berangkat.

​Yudha memacu mobil Mercedes-nya menembus malam menuju Titanium Entertainment, pusat hiburan miliknya. Ia sempat bingung ingin membawa Lulu ke mana selarut ini. Membawanya ke rumah sendiri rasanya kurang tepat, apalagi ada ibunya di sana. Akhirnya, ia memutuskan untuk menitipkan Lulu di kantornya, mengingat ada Jevan dan anak buahnya yang bisa menjaga dan menyiapkan kamar.

​Begitu sampai, Jevan terbelalak melihat Yudha membawa gadis remaja berusia sekitar empat belas tahun. Ia segera menarik Yudha ke sudut ruangan dengan senyum penuh arti yang menyebalkan.

​"Gila lo, Yud? Jangan bilang lo mau main sama anak di bawah umur? Tapi kayaknya matanya ada masalah ya?" bisik Jevan.

​Keringat dingin mengucur di dahi Yudha. "Emang muka gue kelihatan kayak predator apa?"

​"Kelihatan banget! Muka lo tuh muka-muka mesum tahu nggak!" seru Jevan serius. Namun kemudian ia melirik Lulu lagi. "Tapi selera lo boleh juga. Manis anaknya."

​Jevan menatap sosok Lulu yang berdiri di bawah temaram lampu lobi. Gadis itu tampak seperti malaikat yang tersesat di tengah hiruk-pikuk dunia malam yang gemerlap. Dalam hati, Jevan makin mengutuk Yudha karena mengira sahabatnya itu berniat merusak gadis sepolos itu.

1
Tri Rahayu Amoorea
👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!