Clarissa Mahendra adalah ratu kampus yang ditakuti cantik, angkuh, dan tak segan menghancurkan siapa pun yang mendekati cowok pujaannya. Namun, di balik riasan tebal dan gaya hidup mewahnya, Clarissa menyimpan rahasia mematikan: Vonis Leukemia Stadium 3.
Di tengah perjuangan hidup dan mati, ia justru terasing di rumahnya sendiri. Ayahnya sosok yang dingin, dan kakak kembarnya, Bastian, membencinya karena menganggap Clarissa penyebab kematian ibu mereka saat melahirkan.
Kini, Clarissa sengaja memakai topeng "jahat" agar dunia membencinya. Ia ingin pergi dalam sunyi, tanpa ada yang merasa kehilangan. Namun, mampukah ia terus bersandiwara saat waktu yang ia miliki perlahan habis sebelum malam menjemputnya selamanya?
"Satu rahasia, seribu kebencian, dan satu takdir yang tak bisa dihindari."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
GERBANG TERAKHIR
Pagi di Novena kali ini datang dengan kabut tipis yang menyelimuti gedung-gedung tinggi di sekitar rumah singgah. Clarissa berdiri di depan jendela besar, menatap butiran embun yang menempel di kaca. Besok adalah hari di mana ia akan kembali ke rumah sakit untuk menjalani siklus kemoterapi terakhir. Sebuah babak penutup dari rangkaian perjuangan panjang yang telah menguras air mata, tenaga, dan egonya.
Ia mengenakan jilbab berbahan kaos yang nyaman, dengan bross kupu-kupu pemberian Adrian tersemat manis di bahunya. Di tangannya, ia memegang segelas susu khusus pasien kanker yang masih mengepulkan uap.
"Melamun lagi?" suara bariton itu terdengar dari arah dapur.
Clarissa menoleh dan tersenyum. Adrian datang membawa sepiring kecil buah potong. Pria itu tampak lebih kurus sejak tiba di Singapura, namun matanya memancarkan keteguhan yang luar biasa.
"Bukan melamun, Adrian. Aku cuma lagi menghitung hari. Rasanya aneh ya, dulu aku benci banget sama rumah sakit, tapi sekarang aku merasa besok adalah hari di mana aku akan menjemput kebebasanku."
Adrian meletakkan buah di meja dan berdiri di samping Clarissa, ikut menatap ke luar jendela. "Kamu pasti bisa, Sayang. Besok adalah gerbang terakhir. Setelah ini, kita akan pulang ke Jakarta dengan kemenangan."
Siang harinya, Clarissa meminta Adrian untuk membimbingnya membaca Al-Qur'an. Sejak mulai berhijab, Clarissa memang bertekad untuk memperbaiki bacaannya. Mereka duduk di atas karpet tebal di ruang tengah, dengan cahaya matahari sore yang masuk dengan lembut.
"Aku malu, Adrian. Bacaan aku masih terbata-bata," bisik Clarissa saat ia kesulitan melafalkan sebuah ayat.
Adrian menatapnya dengan penuh kelembutan. "Jangan malu. Tuhan nggak melihat seberapa lancar bacaan kamu, tapi seberapa tulus usaha kamu. Ayo, kita coba lagi pelan-pelan. Aku tuntun."
Suara mereka berdua memenuhi ruangan, bersahut-sahutan dalam irama yang damai. Bagi Clarissa, momen ini jauh lebih romantis daripada makan malam mewah yang pernah ia lalui dulu. Ada ketenangan yang meresap hingga ke sel-sel tubuhnya, memberikan kekuatan yang tidak bisa diberikan oleh obat mana pun.
"Adrian," panggil Clarissa setelah mereka menutup mushaf.
"Iya, aku di sini."
"Kalau nanti di rumah sakit aku sempat nggak sadar lagi karena efek obat... tolong bacakan ayat-ayat ini di telingaku ya? Aku mau suara kamu jadi hal terakhir yang aku dengar sebelum aku tertidur."
Adrian terdiam sejenak, tenggorokannya terasa tercekat. Ia mengangguk mantap. "Aku janji. Aku nggak akan berhenti bicara sama kamu, supaya kamu selalu tahu kalau aku nungguin kamu bangun."
Malam itu, Bastian memasak makanan spesial untuk mereka. Ia mencoba membuat soto ayam kesukaan Clarissa, meski rasanya mungkin tidak persis sama dengan yang ada di Jakarta. Suasana di meja makan terasa lebih hangat dari biasanya.
"Dek, besok Papa bakal terbang langsung dari Jakarta ke Singapura. Papa mau ada di sana saat siklus terakhir ini selesai," ujar Bastian sambil menyodorkan mangkuk soto.
"Serius, Kak? Papa nggak sibuk?" tanya Clarissa dengan mata berbinar.
"Papa bilang, nggak ada meeting yang lebih penting daripada nemenin putrinya lulus dari 'sekolah kehidupan' ini," jawab Bastian sambil tersenyum.
Adrian menatap mereka berdua dengan rasa haru. Ia melihat bagaimana keluarga ini yang dulunya dingin dan masing-masing, kini bersatu erat karena ujian ini. Penyakit Clarissa memang mengambil banyak hal, tapi ia memberikan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga: sebuah keluarga yang sesungguhnya.
Setelah makan malam, saat Clarissa bersiap untuk tidur, Adrian menemaninya sebentar di ambang pintu kamar. Udara malam Singapura mulai terasa dingin.
"Adrian," panggil Clarissa pelan.
"Kenapa, Sayang? Kamu takut?"
"Sedikit. Tapi aku inget ciuman kita waktu itu. Itu bikin aku ngerasa kalau dunia ini masih punya banyak hal indah yang harus aku lihat bareng kamu."
Adrian tersenyum malu-malu, ia mengusap pipi Clarissa dengan punggung jarinya. "Ciuman itu adalah janji, Clar. Dan aku bukan tipe pria yang suka ingkar janji. Besok, saat kamu ngerasa sakit atau mual, bayangkan kita lagi jalan-jalan di pinggir pantai Jakarta, hirup udara segar, dan aku lagi pegang tangan kamu erat banget."
Clarissa mengangguk. "Terima kasih, Adrian. Terima kasih sudah mencintai aku yang seperti ini."
"Tidur ya. Simpan tenaga kamu buat besok. Aku sayang banget sama kamu."
"Aku juga sayang banget sama kamu."
Malam itu, Clarissa tidur dengan tasbih biru melilit di tangannya. Di balik jilbab tidurnya yang sederhana, ada wajah yang damai. Ia siap. Ia siap menghadapi gerbang terakhirnya. Bukan dengan keangkuhan, tapi dengan iman dan cinta yang telah menempanya menjadi emas yang murni.