Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.
Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 1: Meja Hijau dan Skenario Busuk
Asap tipis dari rokok elektrik melayang-layang di bawah lampu gantung yang menyorot tajam ke atas meja biliar berlapis laken hijau. Di ruangan VIP itu, suara dentuman bola yang saling berbenturan terdengar seperti musik bagi Arlan. Arlan tidak pernah benci suara itu, karena biasanya, dentuman itu adalah pertanda kemenangannya. Namun malam ini, udara terasa berbeda.
Arlan berdiri tegak, memutar-mutar stik biliar di jemarinya yang panjang dan bersih. Ia mengenakan kemeja hitam yang dua kancing teratasnya dibiarkan terbuka, memperlihatkan garis rahangnya yang tajam dan ekspresi wajah yang selalu tampak seolah-olah ia baru saja memenangkan lotre kehidupan. Bagi Arlan, cermin adalah sahabat terbaiknya. Setiap kali ia melewati permukaan kaca, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak melirik, sekadar memastikan bahwa tidak ada satu pun helai rambutnya yang keluar dari tempatnya.
"Gue nggak mungkin kalah," gumam Arlan. Suaranya rendah, penuh dengan keyakinan yang berlebihan—ciri khas seseorang dengan Narcissistic Personality Disorder (NPD) yang merasa bahwa semesta selalu berutang padanya. "Bola itu cuma kurang dorongan dikit."
"Kurang dorongan atau lu emang lagi sial, Lan?" Reno, teman satu gengnya yang bertubuh tambun, tertawa keras sambil menenggak minuman kalengnya. "Faktanya, bola delapan itu berhenti tepat di bibir lubang. Dan menurut hukum meja ini, lu kalah telak dari gue."
Arlan meletakkan stiknya ke rak kayu dengan gerakan yang sengaja diperlambat. Ia membenci kekalahan. Baginya, kalah adalah noda dalam reputasi sempurnanya sebagai 'pangeran' SMA Nusantara. Di sekolah, Arlan adalah pusat gravitasi. Semua mata harus tertuju padanya, semua pujian harus mengalir ke telinganya. Kekalahan di meja biliar ini terasa seperti penghinaan pribadi.
"Lu tahu aturannya, kan?" sahut Gani, anggota geng lainnya yang sedari tadi hanya menonton dari sofa kulit. "Siapa pun yang kalah dalam game terakhir, harus nurutin apa pun permintaan si pemenang. Dan malam ini, Reno adalah 'Tuhan' lu."
Arlan menyugar rambutnya ke belakang, menunjukkan seringai tipis yang tidak mencapai mata. "Sebut aja. Lu mau apa? Sepatu edisi terbatas yang lu incer itu? Atau gue bayarin cicilan motor lu bulan ini? Gue nggak punya waktu buat drama."
Reno menggeleng, senyumnya tampak licik. "Uang itu gampang buat lu, Lan. Gue mau sesuatu yang lebih... menantang. Sesuatu yang bakal bikin nama lu jadi legenda, atau justru bikin lu kelihatan tolol."
Arlan menyandarkan punggungnya ke dinding, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Nggak ada yang bisa bikin gue kelihatan tolol, Ren. Go ahead."
Reno mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia menggeser layar beberapa kali sebelum menyodorkannya tepat di depan wajah Arlan. Di layar itu, terpampang sebuah foto yang diambil secara sembunyi-sembunyi. Foto seorang gadis yang sedang duduk sendirian di sudut paling pojok perpustakaan sekolah.
Gadis itu adalah definisi dari kata 'tak kasatmata'. Rambutnya yang hitam kusam dikuncir kuda dengan asal-asalan, menyisakan beberapa helai yang berantakan di sekitar dahi. Kacamata berbingkai hitam tebal bertengger di hidungnya, sering kali melorot karena ia terlalu fokus menunduk membaca buku tebal di depannya. Seragamnya tampak terlalu besar, dikancingkan hingga paling atas, seolah ia ingin menghilang ke dalam kain tersebut.
"Lulu," bisik Reno dengan nada mengejek. "Si gadis 'bayangan'. Orang-orang bahkan sering lupa kalau dia satu angkatan sama kita. Dia polos, kuper, dan menurut rumor, dia nggak pernah sekalipun ngobrol sama cowok selain ayahnya atau tukang kebun sekolah."
Arlan menatap foto itu dengan kilat kejijikan yang tidak ditutup-tutupi. "Lu bercanda? Lu mau gue beliin dia baju baru? Atau lu mau gue kasih dia sedekah?"
"Nggak, Lan. Taruhannya simpel," Reno memajukan wajahnya, suaranya berubah menjadi bisikan yang penuh racun. "Gue mau lu jadiin dia pacar lu. Pacar resmi. Lu harus bawa dia ke kantin, gandeng tangan dia di koridor, dan bikin dia ngerasa kalau dia adalah cewek paling cantik di dunia karena dapet perhatian dari seorang Arlan."
Arlan tertawa, sebuah tawa yang kering dan menghina. "Lu nyuruh gue turun kasta? Lu tahu sendiri level gue kayak gimana. Cewek-cewek di sekolah ngantre cuma buat dapet like di Instagram mereka dari gue. Dan sekarang lu mau gue gandeng... makhluk itu?"
"Kenapa? Takut?" tantang Gani dari pojok ruangan. "Takut kalau pesona 'Dewa' lu itu nggak mempan sama cewek yang dunianya cuma buku sama pelajaran? Atau jangan-jangan lu takut beneran jatuh cinta?"
Kata-kata 'takut' dan 'jatuh cinta' adalah pemicu yang sempurna bagi ego Arlan yang rapuh namun besar. Baginya, tidak ada satu pun wanita yang tidak bisa ia taklukkan. Baginya, cinta adalah kelemahan, dan ia adalah makhluk paling kuat yang pernah ada.
"Gue nggak pernah takut," desis Arlan. Matanya kembali menatap foto Lulu di layar ponsel. Di kepalanya, ia sudah menyusun sebuah skenario manipulatif. "Oke. Gue terima taruhan sampah ini. Dua bulan. Gue bakal bikin dia bertekuk lutut. Gue bakal bikin dia ngerasa kalau hidupnya nggak berguna tanpa kehadiran gue."
"Ada syarat tambahan," potong Reno. "Lu nggak boleh cuma jadiin dia pacar. Lu harus bikin dia bener-bener jatuh cinta sampai dia mau ngelakuin apa aja buat lu. Terus, di malam perpisahan atau di acara puncak sekolah nanti... lu harus campakkan dia di depan semua orang. Lu kasih tahu dia kalau dia cuma bahan taruhan di meja biliar ini."
Arlan terdiam sejenak. Membayangkan wajah polos gadis itu hancur di depan umum memberikan kepuasan tersendiri bagi sisi narsistiknya. Ia merasa seperti sutradara yang sedang memegang kendali atas hidup orang lain. Orang seperti Lulu, menurut pikirannya, memang diciptakan hanya untuk menjadi pelengkap atau objek dalam hidup orang-orang hebat seperti dirinya.
"Itu bagian favorit gue," jawab Arlan dengan suara dingin. "Bikin orang sadar di mana tempat mereka sebenarnya. Dia harus tahu kalau dia nggak selevel sama gue."
"Ingat, Lan. Dia polos banget. Kalau lu kasar dikit aja, dia bakal kabur. Lu harus main cantik. Love bombing, perhatian palsu, semuanya. Lu harus jadi 'pahlawan' buat dia sebelum lu jadi 'iblis'-nya," Reno memperingatkan.
Arlan melangkah menuju cermin besar yang ada di ruangan itu. Ia merapikan kerah kemejanya, memandangi pantulan dirinya sendiri dengan kepuasan yang mendalam. Ia merasa sangat tampan, sangat berkuasa. Di matanya, Lulu hanyalah sebuah trofi kecil yang murah, yang harus ia ambil hanya untuk membuktikan bahwa ia bisa.
"Dia bakal sujud di kaki gue dalam waktu kurang dari sebulan," ucap Arlan penuh kesombongan. "Cewek kayak gitu biasanya gampang banget dimanipulasi. Kasih perhatian dikit, dia bakal ngerasa dapet keajaiban dunia. Dia terlalu tolol buat tahu kalau dunia itu jahat."
Teman-temannya bersorak, merayakan dimulainya sebuah permainan yang kejam. Mereka tidak peduli pada perasaan Lulu. Bagi mereka, ini hanyalah hiburan untuk mengisi kebosanan di SMA.
Arlan mengambil kunci mobilnya di atas meja. "Gue cabut duluan. Besok pagi, pertunjukan dimulai. Gue bakal pastiin besok adalah hari pertama dalam hidup Lulu di mana dia ngerasa... penting. Sebelum akhirnya gue bikin dia ngerasa nggak berharga selamanya."
Saat Arlan melangkah keluar dari ruangan VIP itu, angin malam berhembus kencang, seolah memberi peringatan akan badai yang akan ia ciptakan. Namun, Arlan tidak peduli pada peringatan alam. Ia hanya peduli pada pantulan dirinya sendiri, pada egonya yang setinggi langit, dan pada kemenangan yang harus ia raih kembali.
Ia tidak tahu bahwa Lulu, dengan segala kepolosannya yang dianggapnya sebagai ketololan, akan menjadi satu-satunya cermin yang memperlihatkan betapa buruknya jiwa yang ia bangga-banggakan itu. Perjalanan menuju kehancuran ego Arlan baru saja dimulai di atas meja hijau yang dingin.