Langit tidak pernah lagi memerah sejak Harmoni tumbang. Yang tersisa hanya kelabu pucat, puing kuil, dan seorang pemuda bernama Ling Xu—berambut putih bercorak warna-warna aneh, berdiri di tebing tertinggi, menyaksikan lembah yang dulu suci kini dipenuhi tiang-tiang pancang ritual mengerikan.
Mereka menyebut diri mereka Ilahi Kedua. Tapi siapa sebenarnya mereka? Dan apa yang benar-benar terjadi pada sore ketika Harmoni runtuh? Ling Xu hanya memiliki mimpi buruk yang sama, luka yang tak pernah sembuh, dan ingatan tentang ibunya yang ia goreskan kembali setiap malam. Sementara ayahnya—yang pernah berkata "jangan benci"—kini tak lagi punya kepala untuk mengucapkannya.
Di tengah sunyi yang lebih mengerikan dari jeritan, Ling Xu merangkai ritual sendirian di atas altar ayahnya yang bersisa. Ia bersumpah. Bukan untuk berduka, tapi untuk bersiap. Tapi pertanyaannya tetap menggantung di angin yang bau anyir: apakah ia benar-benar sendirian?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Girenda Dafa Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tawa yang Hangat, Belati yang Dingin
...Chapter 20...
Di kedai arak, suasana seperti biasa.
Hangat, riuh, penuh tawa.
Huan Zheng duduk di sudut favoritnya, dikelilingi oleh wajah-wajah yang sudah ia kenal selama tiga minggu terakhir—Nelayan Tua dengan kumis tebal yang selalu bercerita tentang putrinya yang cantik, Pedagang Kerang dengan tawa kerasnya yang menggelegar seperti petir di dasar laut, Gadis Karang yang matanya berbinar setiap kali Huan Zheng membuka mulut untuk bercanda.
"Minum, Tuan Pemalas!" seru Nelayan Tua sambil mengangkat gelas, arak berwarna biru pucat itu tumpah sedikit di sudut bibirnya yang kering.
"Hari ini kota kita selamat dari badai laut selatan. Pantas kita rayakan!" Huan Zheng tertawa—tawa yang hangat, tawa yang tulus, tawa yang tidak pernah ia tunjukkan di depan Ling Xu—lalu mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
"Untuk badai yang tidak jadi datang!" ucapnya, dan semua orang di meja itu ikut bersorak, gelas-gelas berdenting seperti lonceng-lonceng kecil yang merayakan sesuatu yang tidak pernah benar-benar ada.
Tapi di tengah dentingan gelas dan tawa yang memekakkan telinga itu, Huan Zheng mendengar sesuatu yang lain.
Bukan suara, melainkan ketiadaan suara.
Sunyi yang tiba-tiba menyelinap di antara celah-celah keramaian, seperti ular yang merayap di antara rerumputan tinggi tanpa menimbulkan suara.
Ia menoleh ke pintu kedai, dan di sana, berdiri di bawah cahaya lampu ubur-ubur yang berkedip-kedip, puluhan bayangan mulai muncul—satu per satu, dua per dua, sampai seluruh pintu dan jendela kedai tertutup oleh tubuh para kultivator berjubah hitam, dengan lencana naga mutiara di dada kiri mereka, dengan aura Qi yang begitu pekat hingga udara di sekitarnya terasa seperti air yang mulai membeku.
"Apa—"
Huan Zheng belum selesai bicara ketika Nelayan Tua di sampingnya berdiri, menarik kursinya ke belakang, lalu berjalan ke sisi lain ruangan—bergabung dengan para kultivator berjubah hitam itu, diikuti oleh Pedagang Kerang, diikuti oleh Gadis Karang, diikuti oleh semua wajah yang selama tiga minggu ia anggap teman.
"Maaf, Tuan Pemalas," ucap Nelayan Tua, suaranya tidak lagi hangat, tidak lagi ramah, melainkan datar seperti batu karang yang tidak pernah tersentuh ombak.
"Kami hanya menjalankan perintah."
Huan Zheng terdiam.
Ia menatap gelas arak di tangannya—arak biru pucat yang kini terlihat seperti racun—lalu ia tersenyum, senyum yang pahit, senyum yang getir, senyum yang mengakui bahwa Ling Xu benar, bahwa ia bodoh, bahwa ia telah membiarkan kehangatan palsu membutakan matanya.
"Jadi," ucapnya pelan, suararnya masih terdengar malas tapi ada getaran di baliknya yang tidak pernah ada sebelumnya, getaran seorang pria yang baru sadar bahwa ia telah ditikam oleh tangan-tangan yang kemarin masih mengusap punggungnya dengan ramah, "selama tiga minggu ini, kalian hanya... berpura-pura?"
Para kultivator itu tidak menjawab dengan kata-kata. Mereka menjawab dengan pedang, dengan tombak, dengan rantai berlapis Qi yang melesat dari segala arah seperti hujan yang tiba-tiba berubah menjadi belati.
Huan Zheng bergerak—gesit, cepat, seperti yang selalu ia lakukan—menghindari serangan pertama, kedua, ketiga, sambil membalikkan meja kayu sebagai tameng sementara, kakinya menyapu rendah menjatuhkan dua kultivator di sebelah kirinya, tangannya meninju dada seorang lawan hingga tulang rusuknya retak dengan suara seperti kayu kering dipatahkan.
"Kalian pikir kalian bisa menangkapku?" teriaknya, suaranya setengah tertawa setengah mengamuk, dan untuk beberapa saat, ia benar-benar percaya bahwa ia bisa keluar dari kedai ini tanpa luka, bahwa ia—Huan Zheng, salah satu dari tiga Roda Kultivasi—tidak akan pernah jatuh ke tangan serigala-serigala kecil seperti ini.
Tapi kemudian, sesuatu berubah.
Kultivator yang dadanya ia hancurkan bangkit kembali, dan aura Qinya—yang sedetik lalu melemah—kini membara lebih kuat dari sebelumnya, naik dari Langit Terang Tingkat Kesatu ke Tingkat Kedua, lalu ke Tingkat Ketiga, seperti api yang disiram bensin.
"Apa—"
Huan Zheng mundur selangkah, matanya membelalak saat melihat fenomena yang tidak masuk akal.
Setiap kali ia melukai mereka, setiap kali ia mendekatkan mereka pada kematian, ranah kultivasi mereka melonjak, tubuh mereka pulih, dan mata mereka berubah menjadi lebih kosong, lebih buas, seperti binatang yang sudah kehilangan naluri untuk bertahan hidup dan hanya memiliki naluri untuk menyerang.
"Alat penetralisir!" bisiknya tiba-tiba, saat sebuah bola cahaya keemasan melesat dari belakang barisan musuh dan meledak di atas kepalanya, menyebarkan debu berkilau yang menempel di kulitnya seperti serbuk sari dari bunga neraka—dan di saat itu juga, ia merasakan sesuatu yang belum pernah ia rasakan dalam puluhan tahun.
Tubuhnya menjadi berat.
Bukan berat karena lelah, bukan berat karena terluka, melainkan berat seperti sedang berenang di lautan madu yang kental, di mana setiap gerakan membutuhkan sepuluh kali lipat tenaga, setiap napas terasa seperti menghirup pasir, setiap detik yang berlalu terasa seperti setahun.
"Alat penetralisir... adaptasiku terblokir..." gumamnya, dan serangan berikutnya tidak bisa ia hindari—sebuah tombak berujung tiga menembus bahu kirinya, diikuti oleh rantai yang melilit kakinya, diikuti oleh tinju yang menghantam perutnya hingga ia tersungkur di lantai kayu yang basah oleh arak dan darah.
Huan Zheng jatuh berlutut di antara pecahan gelas dan meja yang hancur, napasnya terengah-engah, darah mengalir dari sudut bibirnya.
Bukan karena luka yang fatal, karena tidak ada luka yang fatal mengingat pondasi kultivasinya yang telah menembus 10 Kristal Angkasa Raya, melainkan karena tubuhnya terasa seperti dipenuhi timah cair, setiap otot berteriak protes, setiap sendi berderit seperti pintu berkarat yang dipaksa terbuka.
Di tengah kepungan para kultivator yang mulai mengikat tangan Huan Zheng dengan rantai berlapis emas, seorang panglima dengan jubah brokat biru melangkah masuk ke kedai arak.
Ia tersenyum lebar, gigi emasnya berkilat di bawah cahaya lampu ubur-ubur yang berkedip putus asa, seraya mengusap-usap jemarinya yang gemuk seperti sedang menghitung koin yang belum jatuh ke telapak tangan.
"Akhirnya... akhirnya kita berhasil menangkap salah satu dari tiga Roda Kultivasi," ucapnya, suaranya terdengar seperti gemericik air liur yang menetes di atas batu basah.
"Bayangkan berapa banyak imbalan yang akan kita terima dari Pengadilan Tertinggi Kemanusiaan. Belum lagi hadiah dari para bangsawan yang selama ini memburu identitasmu, Tuan Pemalas."
Ia mendekati Huan Zheng yang berlutut, menunduk, lalu mencubit dagu pria itu dengan jari-jarinya yang gemetar karena kegembiraan yang tak tertahankan.
"Kau tahu, Huan Zheng, kau sangat berharga. Lebih berharga dari seribu budak dewi. Lebih berharga dari sepuluh ribu keping Lintang."
Huan Zheng tidak menjawab.
Ia hanya memejamkan mata, membiarkan rasa malu membakar tenggorokannya lebih panas daripada arak yang ia minum tadi malam, ketika tiba-tiba dari luar kedai, terdengar suara yang tidak asing di telinganya: suara langkah kaki yang ringan tapi cepat, diikuti oleh desisan udara yang terbelah, diikuti oleh suara sesuatu yang menusuk daging.
Bukan daging Huan Zheng, melainkan daging seorang kultivator berjubah hitam yang berdiri paling dekat dengan pintu.
"Lepaskan dia," ucap suara itu, dingin seperti air yang membeku di dasar palung, dan ketika Huan Zheng membuka matanya, ia melihat Ling Xu berdiri di ambang pintu yang runtuh—jubahnya robek di tujuh belas tempat, rambut putihnya dengan urat warna itu berkibar-kibar meskipun tidak ada angin di dasar laut, dan di ujung jari-jarinya, benang-benang abu-abu kehijauan menjulur seperti akar-akar pohon yang lapar akan darah.
"Atau kau akan merasakan apa yang disebut wabah Kanker, bukan sebagai rumor, bukan sebagai cerita pengantar tidur, melainkan sebagai kenyataan yang akan membusukkan dagingmu dari dalam sementara kau masih bernapas dan merasakan semuanya."
Bersambung….