Dua tahun lalu Fahri dipaksa menikah oleh sang kakek yang sudah renta dan sakit-sakitan. Demi bakti terhadap orang tua yang sudah membesarkannya itu, Fahri menikahi seorang gadis bernama Bella, gadis cantik berusia 21 tahun pilihan sang kakek.
Tanpa sepengetahuan kakeknya, Fahri membuat surat perjanjian dengan Bella, mereka menikah hanya untuk mewujudkan keinginan orang tua itu, perjanjian berakhir ketika sang kakek sudah tiada.
Setelah waktu yang ditunggu-tunggu tiba, Fahri menceraikan Bella tiga hari setelah kakeknya meninggal.
Pasca perceraian banyak hal yang terjadi dengan Bella tanpa sepengetahuan Fahri. Hingga pada saat kebenaran terkuak, Fahri menyesal menceraikan Bella.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kopii Hitam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 22.
"Bawa ini ke rumah sakit, pastikan hasilnya akurat!" perintah Fahri kepada Reza.
Tadi malam ketika Bella tertidur pulas, Fahri mencabut sehelai rambutnya dan pagi ini memberikan sampel tersebut kepada Reza, meminta Reza membawanya ke rumah sakit untuk dilakukan tes DNA.
Tidak ingin membuat Bella kepikiran, Fahri terpaksa menyembunyikannya. Sebelum hasilnya keluar, cukup dia dan Reza saja yang tau.
"Woii, kalian lihat gak story Pak Fahri beberapa hari lalu?"
"Aku lihat,"
"Aku juga lihat,"
"Emang apa story nya?"
"Wuiih, ketinggalan kereta kamu."
"Apa sih?"
"Beh, ternyata Pak Fahri beneran sudah nikah."
"Masa' sih?"
"Nih, aku lihatin, aku sempat screenshot, takut keburu hilang."
"Wow, so sweet."
"Jadi benar dong si Bella itu pelakor?"
"Bukan pelakor lagi, tapi murahan,"
Para karyawan di divisi keuangan kembali bergosip membicarakan atasan mereka yang tak lain Fahri, ruangan sebesar itu menjadi riuh setelah salah seorang dari mereka menunjukkan bukti.
Dari ujung sana, Bella hanya diam mendengarkan meski sayup-sayup di telinga, dia tersenyum dan nyaris tertawa. Tunggu saja sampai kebenaran terungkap, mereka semua tidak akan sanggup menatap wajah Bella.
Di meja lain, Venny juga diam, dia sudah melihat story Fahri dua hari lalu, hatinya hancur karena gagal mewujudkan keinginan menjadi nyonya Fahri, istri direktur utama perusahaan.
Akan tetapi dia belum menyerah, Bella saja bisa jadi selingkuhan, kenapa dia tidak. Dia tidak mungkin kalah dari Bella, segala cara akan dia coba untuk menaklukkan Fahri.
Tepat saat Bella tidak ada di tempat, Venny mengetuk pintu ruangan Fahri. Setelah diizinkan masuk, dia melangkah ke arah meja kerja atasannya itu, membawa secangkir kopi.
"Kamu,,, Bella mana?" tanya Fahri dengan alis bertaut. Sejak Bella bekerja di sana, hanya dia yang diberi izin membuatkan kopi, Fahri hanya ingin meminum kopi buatan istrinya.
"Maaf, Pak... Bella ada urusan, jadi menyuruh saya mengantar kopi ini. Tapi Bapak tenang saja, ini kopi buatan Bella kok." jawab Venny yang berdiri di seberang meja.
"Kenapa masih berdiri? Keluar sana!" usir Fahri.
Venny mendengus dan berbalik badan, seketika seringai licik melengkung di sudut bibirnya, dia melangkah pelan ke arah pintu.
Glug...
Fahri meneguk kopi tersebut, keningnya mengernyit menatap cangkir yang dia pegang, rasanya tidak sama dengan buatan Bella. Selang beberapa detik dia merasa pusing dan kembali menaruh cangkir di meja.
Hah...
Menit berikutnya Fahri merasa ada yang salah dengan tubuhnya, terasa gerah, panas seperti terbakar. Dia membuka jas yang melekat di tubuhnya, mengendurkan dasi hingga melepas beberapa baris kancing kemejanya.
Dari balik pintu yang terbuka sedikit, Venny tersenyum sumringah, dia masuk dan menutup pintu.
"Fahri, Fahri...." Venny mendekat sambil jalan meliuk-liuk, mengunci Fahri yang tersandar di kursi dengan tatapan nanar.
"Apa yang kau berikan padaku?" sergah Fahri yang masih sangat sadar, namun efek obat mulai menjalar ke seluruh tubuh.
"Hahaha..." Venny tertawa lepas. "Bukan apa-apa, hanya sedikit bumbu penyemangat." katanya dengan jari telunjuk menempel ke jempol, mengedipkan sebelah mata dengan centil.
"Dasar gila," umpat Fahri lalu sekuat tenaga mendorong Venny yang sudah semakin mendekat, bahkan menekan tubuhnya.
Venny terhuyung ke belakang, Fahri bangkit hendak menjauh tapi Venny mengejarnya, memeluknya dari belakang.
"Jangan pergi, obat itu terlalu kuat, kamu bisa mati." ungkap Venny sambil meraba dada Fahri yang menganga, alisnya naik dengan bibir tersenyum miring.
"Benarkah?" Nafas Fahri tak beraturan, dia berbalik badan dan menyentuh leher Venny sambil menatapnya penuh nafsu.
Venny tersenyum sumringah, sepertinya Fahri sudah masuk jebakannya. "Bapak tenang saja, biar saja bantu." Venny bergegas membuka kancing kemejanya, akan tetapi Fahri malah mencengkram kuat lehernya.
Bug...
Venny tersungkur di lantai sesaat setelah Fahri mendorongnya kasar. "Lebih baik aku mati daripada menyentuh wanita licik sepertimu." hardik Fahri kemudian berjalan terhuyung-huyung ke arah pintu.
Krek...
Pintu terbuka dari luar, Bella muncul di ambang pintu.
"Sayang..."
Fahri benar-benar tidak kuat, dia nyaris tumbang. Beruntung Bella dengan sigap menangkapnya, Bella pun ikut terhuyung namun kuda-kudanya masih kuat menopang tubuh.
Ehm...
Seketika bibir Bella tenggelam di dalam mulut Fahri yang tiba-tiba menerkamnya, Fahri me1umatnya dengan beringas, menghisapnya kuat hingga Bella kesulitan mengambil nafas, Bella berusaha mengimbanginya.
"A-apa yang kalian lakukan?" gagap Venny yang baru saja bangkit dari lantai, matanya membulat melihat pemandangan di hadapannya.
Dia sudah berusaha kuat agar Fahri mau menyentuhnya, tapi Fahri malah mendorongnya dan memilih menyentuh Bella yang baru saja datang.
Mendengar suara Venny, mata Bella yang tadinya tertutup menikmati ciuman panas itu, sekarang terbuka lebar.
Bella menatap nyalang ke arah Venny, membiarkan Venny melihat Fahri mencium dan meraba tubuhnya, menggerayangi lehernya yang saat ini dipenuhi kecupan dan tanda merah kebiruan, membiarkan Venny melihat betapa bergairahnya Fahri mencumbu tubuhnya.
"Bagaimana, lihat sendiri bukan?" ucap Bella dengan senyum miring, mencoba memanasi Venny yang sudah melewati batas.
Venny menghentakkan kaki, tangannya mengepal dengan wajah dirundung kekecewaan dan kekesalan yang amat sangat.
"Kenapa masih berdiri? Belum puas melihat kami seperti ini... Apa ingin menyaksikan kami melakukan hal yang lebih gila lagi?" tutur Bella, saat ini kepala Fahri sudah mendarat di dadanya, Fahri membuka kancing kemejanya satu persatu.
Tidak tahan melihat semua itu, Venny akhirnya pergi membawa amarah yang memuncak.
Setelah Venny menghilang dari pandangan, tubuh Bella tiba-tiba terangkat, Fahri membawanya ke sofa.
Ehm...
Lagi-lagi Fahri me1umat bibir Bella dengan rakus seperti serigala kelaparan, menyesapnya dalam-dalam dan membelit lidah, bibir Bella hilang timbul dibalik mulut Fahri yang terbuka.
Sambil membiarkan Fahri menggerayangi setiap inci tubuhnya, Bella meraba saku celana Fahri, mengambil ponsel lalu mengetik pesan bersusah payah dan mengirimnya pada Reza. Dia meminta Reza berjaga di luar, tidak seorangpun diperbolehkan masuk.
Dengan nafas memburu dan jantung berdegup kencang, Fahri melepas kemejanya, menanggalkan celana dan membuka paksa pakaian Bella hingga robek, dia benar-benar kehilangan kendali seperti kerasukan.
Ah...
Bella menjerit kecil ketika kejantanan Fahri yang sudah mengeras, menusuk dalam di intinya. Menekan-nekan tubuhnya dengan cepat dan kuat.
"Pelan-pelan, Fahri..." jerit Bella sambil merengek kesakitan. Meski sudah beberapa kali melakukannya, tapi cukup perih apabila Fahri memaksanya masuk.
Bella tidak habis pikir, obat apa yang diberikan Venny sehingga membuat Fahri jadi beringas seperti ini. Biasanya Fahri melakukannya dengan lembut, tapi kali ini tenaga Fahri sangat kuat.
Bella capek, dia tidak kuat mengimbangi permainan Fahri, tubuhnya di bolak-balik seperti telur dadar, dia bahkan harus di atas, di bawah, di samping dan di depan. Dia belum pernah mencoba gaya tersebut sebelumnya, pinggangnya serasa mau lepas, kakinya gemetaran, nafasnya terengah-engah seiring keringat yang bercucuran, rasanya Bella ingin pingsan.
Ah....
Erang Fahri seperti sapi disembelih, dia menumpahkan darah putihnya di inti Bella, tubuhnya tumbang setelah satu jam berpacu mengejar hasrat yang tak terkendali.
Di atas sofa sekecil itu, tubuh keduanya terbaring lemah, saling memeluk dengan nafas tak beraturan, keringat bercucuran, basah sebadan-badan.
"Terima kasih,,, sayang. Maaf aku agak kasar." ucap Fahri dengan perasaan bersalah, suaranya terdengar serak, dia pun mencium kening Bella lama.
Bella sudah tidak bisa bergerak lagi, tulangnya serasa rontok, bahkan sekedar bicara saja sulit. Kepalanya tenggelam di dada Fahri, perlahan matanya terpejam.
emang curiga sihhh . masa orang tua sangat-sangat kejam kaya gtu 😡