NovelToon NovelToon
Asmara Setelah Menikah

Asmara Setelah Menikah

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Nikah Kontrak / Obsesi / Keluarga / Penyesalan Suami / Cinta setelah menikah
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: yesstory

Tara dan Devan sudah menikah selama tiga tahun. Hanya Tara yang jatuh cinta di sini. Selama tiga tahun, Tara berusaha membuat Devan jatuh cinta. Apakah Tara berhasil saat ia tahu persis pernikahannya dengan Devan berbeda dengan pernikahan normal lainnya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yesstory, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Tara melangkah lesu begitu turun dari mobilnya. Membuka pintu rumahnya, Tara langsung duduk lemas di sofa. Duduk bersandar, memejamkan mata. Dia tak percaya bertemu dengan Devan… dan bersama Alan.

Devan sempat melihatnya tadi dan hendak menghampiri, namun begitu melihat Tara sedang bersama seseorang yang pernah dia benci di masa lalu, Devan mengurungkan niatnya dan menatap Tara acuh.

Tara sendiri langsung berpamitan pulang pada Dea, tanpa menjelaskan apapun. Dea mengerti dan ikut keluar dari cafe, tanpa menoleh lagi ke arah Devan.

Tara tak menyangka jika Devan akan kembali bersama Alan setelah berpisah dengannya. Tapi, bukankah apa yang dilakukan Devan, tak ada urusannya lagi dengannya?

Hidup Devan sudah bebas. Tara hanya menyayangkan saja jika Devan tak belajar dari masa lalu. Tara teringat akan ucapan Devan yang menyatakan mencintainya. Apa itu hanya ucapan sandiwara saja agar Tara tak meminta cerai dengannya?

Tara menggeleng pedih. Devan sangat pintar bersandiwara. Tara sempat memercayai ungkapan cinta Devan, namun akal sehatnya tetap menginginkan perceraian. Dan sekarang Tara bersyukur juga bersedih setelah melihat Devan bersama Alan. Bersyukur, karena Tara tetap mengajukan perceraian walau Devan mengatakan mulai mencintainya. Dan bersedih karena Devan tetap tak berubah, dan mungkin akan lebih parah lagi setelah perceraian mereka.

Ponsel Tara berdering. Tara mengambilnya dari dalam tas. Mengernyit saat nama David yang muncul di layar. Dia menelepon. Tara menghela napas pelan dan menerima panggilan tersebut.

“Halo.”

“Hai, Tara. Lagi apa? Kok dari suaranya kayak yang lemes gitu?”

“Enggak kok. Aku baru aja pulang dari cafe. Ngasih surat lamaran kerja.”

David yang berada di ruangan bengkelnya, terkejut. “Kamu nglamar kerja di cafe?”

“Enggak. Aku nitipin surat lamaran kerja sama teman dan ketemuan di cafe.”

“Kantoran?”

“Iya. Aku bosen di rumah. Di kantor temanku, ada lowongan kerja, ya udah aku nglamar aja ke sana.”

“Ya sudah. Semoga aja keterima ya.”

“Iya, Vid. Semoga saja.”

“Oh iya. Aku baru saja ngirim sesuatu ke rumah kamu. Semoga kamu suka ya.”

Tara mengernyit. “Kirim apa?”

“Tunggu aja. Aku udah ngirim dari tadi sih. Mungkin sebentar lagi sampai di rumahmu.”

Benar saja. Tak lama kemudian, pintu rumah Tara di ketuk. Tanpa mematikan panggilan, Tara beranjak berdiri, melangkah ke pintu.

“Permisi. Benar ini rumah Haris Rinelda?”

Tara mengangguk. “Benar.”

“Ini ada kiriman atas nama Antara Rinelda yang beralamat di sini,” ucap kurir itu menunjuk kiriman yang dibalut kertas memanjang.

“Saya Antara Rinelda, Mas.”

Kurir itu mengangguk dan menyerahkan kiriman itu pada Tara. Tara mengernyit saat memegangnya. Terasa ringan sekali.

Setelah menandatangani tanda serah terima, Tara menutup pintu dan duduk kembali di sofa.

“Halo, Ra. Apa kirimanku sudah sampai?”

Tara terkesiap. Dia lupa jika David masih di ujung sambungan sedari tadi. “Eh.. iya, Vid. Aku buka ya.”

Tara mulai membuka kertas itu dan menatap terkejut saat melihat beberapa tangkai mawar merah cantik. Dibawahnya ada kertas kecil dengan tulisan ‘semoga mawar ini mengurangi kesedihanmu.’

“Kamu kirim bunga, Vid? Kenapa di bungkus kertas? Bagaimana kalau layu? Sayang kan mawar secantik ini kalau layu.”

Tara memandangi mawar cantik itu. Hatinya menghangat. Bibirnya tersungging senyum. Seketika lupa akan kesedihannya beberapa saat lalu.

“Iya. Kalau aku kirim bunga tanpa dibungkus kertas, nanti ketahuan kalau aku kirim bunga. Jadi kertas itu untuk penyamaran saja. Aku ingat dulu kamu selalu melompat riang dan tersenyum manis sekali saat aku membawakan mawar merah setiap tanggal jadian kita. Itulah sebabnya aku mengirim bunga yang sama. Sebenarnya aku pingin memberikannya sendiri. Aku ingin lihat reaksi wajahmu. Tapi aku ada urusan di bengkel. Jadinya aku kirim lewat kurir.”

Tara tersenyum. Dia juga mengingat semua kenangannya bersama David. Tara pernah mencoba melupakannya, namun malah teringat terus. Alhasil Tara menyimpannya saja dalam hati. Mencoba berdamai dengan rasa sakit.

“Thanks. Bunga ini cukup kok buat mengalihkan rasa sedihku.”

Tara tersenyum tulus walau David tak melihatnya. Beberapa saat lalu dia bersedih, dan sekarang dia bisa tersenyum. Dan itu karena David.

“Syukurlah. Aku pingin rasanya lihat senyumanmu. Tapi kamu pasti lagi malu-malu kucing. Pipimu merona dan malu untuk ku lihat. Aku bisa membayangkannya.”

Tara tertawa pelan. “Aku tahu maksudmu melakukan ini, Vid. Tapi aku nggak bisa ngasih harapan apapun ke kamu.”

“Aku tahu. Aku cuma ingin menghibur hatimu saja. Menemanimu saat lagi sedih. Aku ingin menebus semua rasa bersalahku saat aku meninggalkanmu dulu. Dulu aku pernah membuatmu sakit hati. Menangis tiap hari. Dan kini aku akan membuatmu tersenyum bahkan tertawa setiap hari. Itu janjiku pada diriku sendiri, Ra.”

Tara tersenyum tipis. Setidaknya dia sudah menegaskan hal itu. Jujur, Tara mulai menyukai kehadiran David lagi di hidupnya, tapi hatinya masih belum pulih dari rasa sakit setelah pernikahannya hancur. Tara belum siap membuka hati untuk orang lain. Namun jika David mau berusaha, ya silakan saja. Tara mengijinkan karena statusnya pun sekarang single.

“Jangan dibuang ya. Taruh saja di vas. Mungkin aku akan mengirimnya setiap hari.” Suara David kembali terdengar.

“Iya. Aku juga suka kok sama bunganya. Daripada membeli bunga mawar setiap hari, mending kamu bawa bibit tanaman mawar lalu ditanam di sini.”

Terdengar suara tawa renyah David. “Apakah ini tawaran untuk berkebun bersama di akhir pekan?”

Tara tertawa renyah. “Boleh juga. Kita bisa ajak Abang Haris berkebun juga.”

“Oke, Ra. Mungkin akhir pekan ini aku akan ke rumahmu untuk berkebun bersama.”

Tara tersenyum. “Terserah kamu saja.”

David di ujung sambungan pun tersenyum lebar bahkan sampai beranjak dari duduknya dan mengepalkan tangannya ke atas. “Yes”

“Ya sudah, Vid. Aku mau mencari vas dulu untuk bunga ini.”

“Oke. Besok aku akan kirimkan lagi agar bunga mawar itu tak kesepian hari ini di vas barunya.”

Tara menggeleng geli dan menutup teleponnya. Memandangi mawar cantik di tangannya dan terus tersenyum.

‘Aku nggak tahu, setelah ini apakah aku masih diberi kesempatan untuk bisa merasakan cinta yang bahagia seperti orang-orang di luar sana. Tapi setidaknya, aku berusaha melanjutkan hidup dengan bahagia. Aku percaya takdir Tuhan pastilah yang terbaik.’

***

“Udah nggak usah lo pikirin.”

Devan menoleh. Menghela napas berat.

“Dia udah tahu tentang kita. Dan sekarang bukan urusannya lagi untuk ikut campur urusan lo, kan?” Alan bersuara lagi, memecah keheningan di antara mereka.

Sudah setengah jam di dalam cafe, tapi Devan yang tadinya riang, berubah jadi pendiam setelah melihat Tara berada di cafe yang sama dengannya. Devan juga tak menyapa Tara, begitupun sebaliknya.

“Bukan itu yang gue pikirin. Cuma gue heran aja ngliat Tara ketemuan sama cewek itu,” jawab Devan lalu mengambil cangkir kopinya yang sudah mulai dingin karen didiamkan cukup lama.

Alan mengernyit, tak paham. “Kenapa lo jadi mikirin cewek yang bersama mantan bini lo? Jangan-jangan dia mantan lo,” selidik Alan.

Devan tertawa tanpa suara. “Lo kayaknya lupa kalau gue nggak pernah punya mantan cewek. Cuma Tara cewek yang gue kenal.”

“Lalu kenapa lo mikirin cewek tadi?”

“Dia mantannya Haris.”

Alan terbelalak. Dia tentu tahu siapa Haris. “Haris normal?” tanya Alan sangat pelan, namun Devan bisa mendengarnya.

“Setengah,” jawab Devan singkat.

“Terus kenapa lo peduli? Lo mau balik lagi ke Haris?” tanya Alan masih dengan nada pelan.

Devan tak menjawab. “Gue cuma nggak suka Tara berhubungan lagi sama cewek itu.”

“Itu bukan urusan lo, Dev. Kayaknya Lo emang susah ya move on dari mantan lo itu?” Alan tersenyum sinis.

Devan menggeleng. “Sudahlah. Nggak usah dibahas lagi. Gue nggak mau mood kita jadi buruk karena hal ini.”

Alan mendengus jengkel. “Lo yang mulai.”

“Sorry.”

Bersambung …

1
Atik R@hma
ok ka yes,salam kenal🤣🤣
yesstory: Terima kasih banyak kak Atik yang setia baca karyaku. Semoga suka ya.
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!