Setelah ayahnya hilang dalam kecelakaan mobil, Ella hidup dengan satu tujuan yaitu menemukan kebenaran tentang ayahnya.
Sementara Leo seorang jaksa muda hidup dengan satu prinsip yaitu menegakkan hukum tanpa pengecualian.
Ketika mereka bertemu di pesta dansa, keduanya tak sadar mereka berada di sisi yang berlawanan dari permainan yang sama.
Ketika perasaan mulai tumbuh, satu pertanyaan tak bisa dihindari, apa yang harus dimenangkan? Kebenaran atau cinta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria Susanti Harahap, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CGS 18
Miniatur sepatu kaca!
Ia menatapnya. Lama. Matanya menyipit sedikit, bukan karena bingung, tapi karena sesuatu mulai tersusun.
Ella. Sepatu kaca. Kasus Pak Tanto. Semua yang tadinya berdiri sendiri mulai terhubung. Dan untuk pertama kalinya, bukan hanya sebagai jaksa tapi sebagai seseorang yang tertarik pada sesuatu yang belum ia pahami sepenuhnya Leo menyadari satu hal: gadis itu bukan sekadar saksi. Bukan sekadar anak dari seorang tersangka. Ia adalah kunci.
Sejak saat itu, tanpa ia sadari sepenuhnya pencarian Leo tidak lagi hanya tentang hukum. Tapi tentang Ella.
***
Begitu terlepas dari jaksa muda itu, Ella segera menuju Tante Rosa. "Kita harus pergi. Ada yang mengenali aku, Jaksa!" ucap Ella dengan khawatir.
"Kita lewat sini!" lelaki yang memberi topeng itu segera menggiring Ella dan Tante Rosa menuju belakang ruangan pesta. Mereka menyusup diantara pengunjung yang mulai terbawa dalam suasana mewah malam ini.
Ella dan Tante Rosa dengan mudah menyelinap di antara pengunjung. Ella juga sempat melihat dengan ujung matanya, jaksa muda itu masih berusaha mengejarnya tanpa menarik perhatian pengunjung lain namun akhirnya ia gagal.
"Lewat sini!" pemuda yang memberi topeng itu menggiring Ella dan Tante Rosa hingga tiba di belakang hotel. "Saya antar pulang." ucapnya.
"Tidak perlu. Aku bawa mobil sendiri!" ujar Ella.
"Mobil anda akan saya kirim sesegera mungkin. Bahkan mobilnya akan lebih dahulu masuk garasi sebelum ibu tiri anda pulang." katanya, sambil mengulurkan tangan, meminta kunci mobil Ella. "Kalau kita memutar kembali ke parkiran depan, pasti jaksa itu akan menemukan anda. Dia pasti juga sudah menyuruh orang untuk menjaga kendaraan anda, maka anda tidak akan bisa lolos lagi!"
"Dia benar Ella, berikan saja kuncinya. Kita percayakan semuanya padanya." kata Tante Rosa sembari masuk ke mobil lelaki itu.
Ella menurut, ia memberikan kunci mobilnya. Tak lama kunci itu dilempar ke arah belakang dan tiba-tiba saja ada seseorang menggunakan toxedo menangkapnya.
"Kamu siapa sebenarnya?" tanya Ella, sambil masuk ke mobil, di kursi depan, tepat di samping lelaki itu.
Ia diam, melirik sekilas ke atas Ella, lalu mulai menyetir mobil membelah jalanan kota Jakarta. Saat itulah Ella merasa ia berani sekali percaya begitu saja pada lelaki itu yang jelas-jelas tidak dikenalnya.
"Tante?" Ella melirik oda tantenya yang duduk tenang di belakang.
"Saya Niko, Nona Ella. Saya sebelumnya bekerja dengan Tuan Tanto." jawabnya.
"Niko? Bekerja dengan ayah? Enggak, aku nggak akan percaya begitu saja." Ella mulai waspada.
"Nona, saya memang bukan pegawai resmi di kantor ayah anda, saya adalah orang yang diberi kepercayaan untuk menyelesaikan tugasnya." ujar Niko, ia juga menjelaskan beberapa bukti agar Ella percaya. "Jadi sekarang apa anda percaya?"
"Ya, kami percaya!" jawab Tante Rosa.
"Tante?" Ella menyela.
"Jadi anda masih butuh bukti apalagi Nona Ella?" tanya Niko.
"Jangan panggil Nona, panggil Ella saja." cetus Ella.
"Oke, baik. Ella. Sekarang katakan apakah kamu sudah menemukan sepatu kacanya?" tanyanya.
"Sudah. Ada di aku," Ella menarik kalungnya, ia ingin memperlihatkan sepatu kacanya, tetapi gadis itu kaget mendapati sepatu kacanya tinggal sebelah.
"Ella, bagaimana mungkin kamu menghilangkannya!" Tante Rosa melonjak kaget.
"Fiufff, yang hilang hanya sebelah. Yang ada flashdisknya masih ada di sini." Ella mencoba tersenyum getir. Ella mengingat-ingat dimana sepatu kacanya jatuh sebelah. "Jangan-jangan jaksa itu yang ambil."
"Apa? Kamu kenapa bisa seceroboh itu, Ella?" Tante Rosa mulai mengomel.
"Kalau yang hilang tidak ada flashdisknya, seharusnya masih aman sih." celetuk Niko.
"Nah, Niko benar!" Ella tersenyum lebar karena mendapatkan dukungan meski sebenarnya hatinya juga deg-degan.
Perjalanan pulang terasa lebih sunyi dari biasanya, meski tidak ada satu pun dari mereka yang benar-benar tenang. Di dalam mobil, Ella masih mencoba menstabilkan napasnya, sementara bayangan wajah Leo terus muncul di kepalanya, cara ia menyebut namanya, cara matanya berubah saat mengenalinya, dan yang paling mengganggu benda kecil yang kini tidak lagi ada di lehernya. Sepatu kaca itu. Ia menggenggam ujung gaunnya pelan, menahan rasa panik yang mulai naik ke permukaan.
“Kita tidak punya waktu untuk panik,” kata Tante Rosa akhirnya, memecah keheningan dengan nada yang lebih terukur dari biasanya. “Sekarang kita anggap satu hal, Leo sudah tahu kamu ada di sana. Dan dia pegang sesuatu dari kamu.”
Ella menatapnya. “Sepatu itu…”
“Ya,” potong Tante Rosa. “Dan itu berarti mulai sekarang, setiap langkah kamu harus bersih.”
Niko, yang sejak tadi duduk di depan, ikut berbicara tanpa menoleh. “Kita balik ke posisi awal. Kamu tidak tahu apa-apa. Kamu tidak pernah ke sana. Kamu hanya anak yang lagi kena masalah karena kasus ayahnya.”
Ella mengernyit. “Tapi dia lihat aku.”
“Dia lihat,” jawab Niko tenang. “Tapi dia belum punya cerita lengkap. Itu yang kita manfaatkan.”
Tante Rosa mengangguk. “Mulai sekarang, kamu jangan bereaksi berlebihan. Kalau dia datang dan kemungkinan besar dia akan datang, kamu jawab seperlunya. Jangan bohong yang terlalu jauh, tapi jangan juga membuka apa pun.”
Ella diam. Ia mencoba mencerna.
“Dan yang paling penting,” lanjut Tante Rosa, “jangan terlihat takut.”
Kalimat itu sederhana. Tapi sulit. Karena yang Ella rasakan sekarang justru sebaliknya. Ia hanya gadis muda berusia delapan belas tahun, belum siap dengan segala hal yang akan terjadi.
Mobil berhenti di halaman rumah lebih cepat dari biasanya. Mereka sengaja pulang lebih dulu, memberi jarak dari tamu-tamu lain, memberi waktu untuk menyusun diri sebelum semuanya kembali normal atau setidaknya terlihat normal.
Begitu masuk, Ella langsung ke kamarnya, mengganti pakaian, menghapus riasan, mengembalikan dirinya menjadi versi yang dikenal semua orang di rumah itu. Tidak ada gaun. Tidak ada pesta. Tidak ada jejak.
Beberapa menit kemudian, suara mobil lain terdengar. Mobilnya. Ia mengintip dari jendela. Orang suruhan Niko benar-benar mengantar mobilnya Ella dan memasukkan ke dalam bagasi.
Satu jam kemudian Bu Vero dan Sisil pulang. Suasana rumah kembali seperti sebelumnya, tenang di permukaan, tapi penuh sesuatu yang tidak terlihat.
Ella masih belum beranjak dari depan jendela kamarnya. Ia masih memperhatikan halaman rumahnya yang mulai gelap sebab lampu teras remang-remang. Ia seperti menunggu seseorang.
"Ella, natural saja." kata Tante Rosa.
"Aku nggak bisa." ujar Ella. Ia malah merasa tak bisa tenang jika semuanya tak selesai malam ini juga. "Nah, itu dia datang!" Ella menunjuk mobil hitam yang berhenti di depan pagar rumah mereka.
Ia menoleh ke arah pintu kamarnya, seolah suara itu bisa menembus sampai ke sana. Terlalu cepat. Ia datang terlalu cepat. Jantungnya kembali berdetak lebih keras. Menunggu namanya dipanggil.
Semua yang baru saja mereka rencanakan akan langsung diuji. Ia menarik napas dalam. Mengingat satu hal: jangan terlihat takut.
***