"Jika besok pria tua itu datang lagi untuk menagih jawabanmu, katakan padanya kau lebih memilih membusuk di sel ini," suaranya rendah, nyaris seperti desisan yang berbahaya.
Aku tersentak, mencoba mencerna kalimatnya. "Apa? Kau... kau menyuruhku tetap di penjara ini?"
"Ya," sahutnya pendek. "Aku tidak ingin menikah. Terlebih lagi, aku tidak ingin menikah denganmu. Kau tidak tahu apa yang akan kau hadapi jika melangkah masuk ke mansion utama sebagai istri seorang Grisham. Di sana, kau tidak akan hanya melihat darah, tapi kau akan mandi di dalamnya."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MissSHalalalal, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
17
Goresan kuas terakhirku menyapu kanvas tepat saat cahaya matahari berubah menjadi oranye keemasan, menembus jendela dan menyinari debu-debu yang menari di udara. Aku begitu terhanyut dalam perpaduan warna gelap dan semburat cahaya di lukisanku hingga tidak menyadari pintu kamar telah terbuka.
"Hutan yang suram," suara bariton yang dingin itu memecah keheningan.
Aku tersentak dan hampir menjatuhkan palet di tanganku. Darrel berdiri di sana, masih dengan kemeja kantornya yang kini lengannya digulung rapi, menutupi bekas luka semalam. Ia berjalan mendekat dengan langkah angkuh, kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana. Matanya yang tajam meneliti setiap detail lukisan abstrakku seolah sedang mencari rahasia di balik sapuan catnya.
"Sejak kapan kau mulai melukis?" tanyanya tanpa menoleh padaku. Matanya masih terkunci pada kanvas.
"Sejak aku bisa memegang pensil," jawabku pelan sambil meletakkan kuas. "Ayahku yang mengajariku. Dia bilang, lukisan adalah cara bicara saat kata-kata sudah tidak lagi cukup."
Darrel terdiam sejenak, lalu ia menoleh ke arahku dengan tatapan menyelidik. "Kau punya bakat. Teknikmu... kau menggunakan teknik glazing yang sulit. Jika kau bisa melukis seperti ini, kenapa kau tidak mengambil jurusan seni di kampus? Kenapa memilih jurusan pendidikan?"
Pertanyaan itu membawa kembali kenangan manis sekaligus getir tentang masa laluku. Masa di mana duniamu hanya sebatas toko bunga dan cita-cita sederhana.
"Mendiang ayah dan ibuku yang menginginkannya," kataku dengan senyum tipis yang getir. "Ayah memang mengajariku melukis, tapi dia dan Ibu selalu bilang bahwa menjadi tenaga pendidik adalah pekerjaan yang sangat mulia. Mereka ingin aku menjadi orang yang berguna bagi orang lain, memberikan ilmu yang bisa mengubah hidup seseorang. Baginya, melukis hanyalah hiburan untuk jiwa, tapi mendidik adalah investasi untuk masa depan."
Aku menunduk, menatap bercak cat di ujung jariku. "Aku ingin mewujudkan impian mereka. Menjadi guru adalah satu-satunya cara aku merasa tetap terhubung dengan mereka setelah mereka tiada."
Darrel terdiam cukup lama, matanya kembali menatap lukisanku. Ada kilat aneh yang melintas di matanya—mungkin simpati, atau mungkin dia sedang teringat akan mimpinya sendiri sebagai dokter yang juga harus ia kubur demi ambisi ayahnya.
"Mulia," gumamnya sinis, namun nada bicaranya tidak sekasar biasanya. "Pekerjaan mulia sering kali menjadi beban bagi mereka yang menjalaninya karena terpaksa. Tapi melihat lukisanmu... sepertinya kau tidak benar-benar meninggalkan jiwamu di sana."
Ia melangkah maju, jarinya yang panjang hampir menyentuh permukaan kanvas yang masih basah, namun ia menariknya kembali.
Jari Darrel menggantung di udara, hanya beberapa milimeter dari permukaan kanvas yang masih basah. Aku bisa melihat otot rahangnya mengetat dan matanya mendadak meredup, seolah bayangan masa lalu baru saja menghantamnya dengan keras. Ia menatap inisial D.M.N pada kuas yang tergeletak di samping palet, lalu menarik tangannya kembali dengan sentakan cepat, seakan kanvas itu adalah api yang membakarnya.
"Kakakku..." suaranya tercekat, nyaris seperti bisikan yang menyakitkan. "Dia juga sering menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk mencari gradasi warna yang tepat. Dia melihat dunia dengan cara yang sama sepertimu."
Keheningan yang menyesakkan menyelimuti ruangan itu. Darrel seolah terjebak dalam memori tentang pria yang memiliki peralatan lukis ini, pria yang seharusnya berada di sini menggantikannya. Namun, dengan cepat ia mengerjapkan mata, mengunci rapat kembali emosi yang sempat bocor ke permukaan.
"Marta!" teriaknya, suaranya kembali menggelegar dingin, memanggil pelayan senior itu yang rupanya sudah berjaga di depan pintu.
Marta segera masuk dengan kepala tertunduk. "Ya, Tuan Muda?"
"Bawa pelayan-pelayanmu ke sini. Mandikan dia, siapkan kulitnya, dan pastikan setiap inci tubuhnya terawat sempurna," perintah Darrel sambil menunjuk ke arahku tanpa menatap mataku. "Aku ingin dia tampil cantik dan elegan. malam ini bukan sekadar pesta, itu adalah panggung. Aku tidak ingin ada satu pun cela pada Nyonya Grisham saat dunia melihatnya."
"Baik, Tuan. Segala perlengkapan mandi rempah dan perawatan spa sudah kami siapkan," jawab Marta patuh.
Darrel menatapku sekali lagi, tatapannya kini berubah menjadi penilaian yang objektif dan dingin, seperti seorang kolektor yang sedang memeriksa aset berharganya. "Jangan kecewakan aku."
Setelah Darrel melangkah pergi dengan langkahnya yang angkuh, Marta memberikan isyarat kepada tiga orang maid muda untuk masuk. Mereka membawa berbagai macam minyak esensial, masker wajah organik, dan peralatan perawatan kuku yang lengkap.
"Mari, Nyonya. Mari kita mulai transformasinya," ucap Marta lembut.
Aku membiarkan mereka menuntunku ke kamar mandi. Di sana, bak mandi marmer besar sudah dipenuhi dengan air hangat berwarna susu dengan taburan bunga mawar dan minyak cendana yang menenangkan. Para pelayan mulai membasuh rambutku dan memijat kulitku dengan lulur halus.
Sambil memejamkan mata, aku merasakan setiap sentuhan mereka mencoba menghapus sisa-sisa "Lily sang penjual bunga" yang sederhana. Mereka membentukku kembali, mengoleskan krim-krim mahal yang membuat kulitku bersinar, dan merapikan penampilanku hingga ke detail terkecil.
*
Malam yang mencekam sekaligus megah itu akhirnya tiba. Setelah berjam-jam tubuhku dipoles, rambutku ditata dalam sanggul modern yang elegan, dan wajahku dirias dengan sentuhan bold namun tetap berkelas, aku melangkah keluar dari kamar. Gaun malam berbahan satin hitam yang memeluk tubuhku dengan sempurna menjuntai hingga ke lantai, membuat setiap langkahku terasa berat namun penuh wibawa.
Aku menuruni tangga marmer dengan perlahan. Di ujung tangga, Darrel sudah berdiri menungguku. Ia mengenakan setelan tuksedo hitam yang dijahit sempurna, membuat bahu tegapnya terlihat semakin kokoh. Begitu mendengar suara langkahku, ia berbalik.
Langkahku terhenti sesaat ketika mata tajamnya menatapku tanpa berkedip. Ia meneliti penampilanku dari ujung rambut hingga ujung sepatu hak tinggiku. Tatapannya begitu intens, seolah ia sedang mencoba mengenali sosok asing yang kini berdiri di hadapannya.
"Marta," bisikku pelan sambil sedikit menoleh ke arah pelayan setiaku itu. "Kenapa dia menatapku seperti itu? Apa ada yang aneh? Apakah riasanku terlalu tebal?"
Marta hanya tersenyum geli, matanya berbinar bangga melihat hasil transformasiku. Ia tidak menjawab, namun aku sempat mendengar gumaman sangat samar dari arah Darrel—sebuah kata pendek yang nyaris tak terdengar namun sanggup membuat jantungku berdesir.
"Cantik."
Namun, secepat kata itu terucap, secepat itu pula ekspresi dingin kembali membeku di wajahnya. Darrel melangkah mendekat, aroma maskulin yang kuat langsung mengepung indra penciumanku. Ia berdiri tepat di depanku, auranya begitu dominan hingga aku harus mendongak untuk menatapnya.
"Dengarkan aku baik-baik, Lily," ucapnya dengan nada rendah yang penuh otoritas. "Mulai detik ini, angkat kepalamu. Jangan pernah menunduk seolah kau adalah orang yang bisa diinjak. Kau adalah Grisham malam ini."
Ia merapikan sarung tangan hitam yang ia kenakan untuk menutupi tangan yang mungkin akan ia gunakan untuk menarik pelatuk jika keadaan memburuk.
"Jangan bicara pada siapa pun yang tidak kukenal. Jika ada yang mencoba memancing pembicaraan, diamlah dan biarkan aku yang menangani. Dan yang terpenting," ia menatapku dengan tatapan memperingatkan, "patuhi seluruh protokol keamananku. Jika kukatakan lari, kau lari. Jika kukatakan tunduk, kau tunduk. Jangan membantah satu kata pun jika kau ingin pulang dengan nyawa utuh."
Aku mengangguk pelan, meskipun tanganku yang tersembunyi di balik lipatan gaun mulai terasa dingin. "Aku mengerti, Darrel."
Darrel kemudian mengulurkan lengannya yang kokoh ke arahku. "Gandeng lenganku. Jangan lepaskan kecuali aku yang memintanya."
Aku menyambut lengannya, merasakan otot keras di balik kain tuksedo mahalnya. Kami berjalan menuju limusin hitam yang sudah menunggu di depan lobi. Di sepanjang jalan keluar, para pengawal memberikan hormat dengan kepala tertunduk. Di saat itulah aku menyadari, sandiwara ini bukan lagi sekadar pesta, melainkan medan perang di mana satu kesalahan kecil bisa menghancurkan segalanya.
***
Bersambung ...
makin seruu dan bikin penasaran🥰
double up dong biar makin puas 😂
apakah Lily juga anak dari klan mafia juga? jadi penasaran 🤨🤨🤨
Lily ikuti kata Darren, cukup kamu tersiksa 30 hari + 9 bulan. setelahnya kamu bisa bebas ( mungkin 🤔)
seru banget ceritanya