NovelToon NovelToon
Jebakan Hati Gadis Cupu

Jebakan Hati Gadis Cupu

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Bad Boy
Popularitas:6.3k
Nilai: 5
Nama Author: who i am?

Bagi Arlan, harga diri adalah segalanya. Namun, ketika sebuah kekalahan memaksanya memacari gadis paling "tak kasatmata" di sekolah, ia memulai permainan manipulasi yang paling berbahaya—tanpa sadar bahwa kepolosan adalah senjata yang paling mematikan bagi egonya.

Arlan tidak pernah kalah. Dengan wajah rupawan dan kekuasaan di tangannya, dia adalah "Tuhan" di SMA Nusantara. Hingga satu malam, sebuah taruhan konyol di meja biliar mengubah segalanya. Taruhannya sederhana: Taklukkan Lulu, si gadis kutu buku yang kuper, polos, dan selalu menunduk, lalu campakkan dia di malam perpisahan.
Bagi Arlan, ini hanyalah tugas mudah. Dia akan menggunakan pesonanya, melakukan love bombing, dan membuat Lulu bertekuk lutut. Namun, Lulu bukanlah lawan yang biasa. Kepolosan Lulu yang keterlaluan membuat semua taktik manipulasi Arlan mental. Saat Arlan mencoba menyakitinya, Lulu justru membalas dengan ketulusan yang menampar ego narsistiknya.
Siapakah yang akan hancur lebih dulu? Arlan dengan egonya, ata

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon who i am?, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 27

Malam itu, kamar Lulu terasa seperti penjara bawah tanah. Suara rintik hujan yang tersisa di talang air terdengar seperti bisikan-bisikan ejekan yang ia terima di sekolah tadi. Lulu berbaring di atas tempat tidur tanpa mengganti sprei yang sudah lembap karena keringat dinginnya. Ia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Pikirannya sudah sampai pada tahap di mana ia membayangkan bagaimana rasanya jika ia benar-benar menghilang. Tanpa Sisil, tanpa bimbingan Bu Sarah, dan dengan tatapan kecewa orang tuanya yang selalu menusuk setiap kali mereka berpapasan di ruang tengah, Lulu merasa eksistensinya tidak lagi memiliki makna.

Ia meraih ponselnya yang retak, benda yang selama tiga hari terakhir hanya menjadi sumber rasa sakit. Ia hendak mematikannya secara permanen saat tiba-tiba sebuah notifikasi muncul. Jantungnya berhenti berdetak sesaat.

Arlan: Lu, aku tahu kamu di rumah. Keluar sebentar ke jendela kamar kamu. Aku di bawah.

Lulu terperanjat. Rasa sakit, amarah, dan logika yang sempat terbangun seolah luruh begitu saja hanya dengan satu baris pesan itu. Dengan tangan gemetar, ia menyibakkan gorden kamarnya yang berada di lantai dua. Di bawah sana, di pinggir jalan yang gelap, lampu mobil BMW hitam itu menyala redup. Arlan berdiri bersandar di pintu mobil, mengenakan jaket hoodie hitam, menengadah menatap jendela kamar Lulu.

Lulu segera membuka jendela. Angin malam yang dingin menusuk kulitnya, namun ia tidak peduli.

"Arlan?" bisiknya, nyaris tidak terdengar.

Arlan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya memberikan isyarat tangan agar Lulu turun, atau setidaknya tetap di sana. Kemudian, ia meletakkan sebuah kantong kecil di atas pagar rumah Lulu dan segera masuk kembali ke dalam mobil. Tanpa menunggu, mobil itu melesat pergi, meninggalkan kepulan asap tipis di udara malam yang lembap.

Lulu berlari turun dengan sangat pelan, menghindari derit lantai agar tidak membangunkan Ayahnya. Ia membuka pintu depan dengan hati-hati dan memungut kantong plastik itu. Di dalamnya terdapat sebuah cokelat kesukaan Lulu dan sebuah catatan kecil di atas kertas mahal yang harum.

Aku tahu Shinta keterlaluan. Aku cuma lagi emosi kemarin karena aku nggak mau kamu rusak. Aku butuh waktu buat mikir, tapi tolong jangan menyerah dulu. Aku nggak mau liat kamu hancur sebelum waktunya. Maafin aku ya? Tetap bertahan sampai tanggal 25. Aku punya kejutan besar buat kamu di hari pengumuman nanti. – A.

Lulu memeluk kertas itu di dadanya. Air matanya jatuh membasahi plastik cokelat tersebut. Baginya, catatan ini bukan sekadar permintaan maaf; ini adalah tali penyelamat yang dilemparkan ke orang yang hampir tenggelam. Ia tidak menyadari bahwa tali itu adalah jerat yang sedang disiapkan untuk menggantungnya lebih tinggi. Arlan tidak ingin Lulu bunuh diri atau pindah sekolah seperti Sisil sekarang. Jika Lulu menghilang sekarang, maka taruhan besar pada tanggal 25 Juni akan batal, dan Arlan akan kehilangan momentum kemenangannya di depan Reno dan gengnya. Arlan butuh Lulu tetap hidup, tetap hadir di sekolah, dan tetap mencintainya sampai hari "eksekusi" itu tiba.

Keesokan harinya, Lulu berangkat sekolah dengan perasaan yang berbeda. Meskipun bullying masih terjadi, meskipun mejanya masih penuh coretan, ia memiliki "rahasia" kecil di saku seragamnya—catatan dari Arlan. Hal itu membuatnya mampu menulikan telinga dari teriakan-teriakan kasar para siswa di koridor.

"Liat deh, si cewek hotel hari ini mukanya nggak sepucat kemarin," bisik salah satu siswi saat Lulu berjalan melewati kantin.

"Mungkin dia dapet 'job' baru semalam," sahut yang lain sambil tertawa.

Lulu terus berjalan. Ia merasa Arlan sedang mengawasinya dari jauh, melindunginya secara rahasia. Ia tidak tahu bahwa di kantin kelas XII, Arlan sedang duduk bersama Reno, Arkan, dan Gani sambil menyesap kopi dengan santai.

"Gimana, Lan? Umpan lo dimakan?" tanya Reno sambil menyeringai.

Arlan mengeluarkan ponselnya, memperlihatkan pesan balasan dari Lulu tadi pagi yang berisi: 'Terima kasih Arlan, aku bakal bertahan buat kamu. Aku sayang kamu.'

Arkan tertawa terbahak-bahak sampai tersedak. "Gila ya, udah dijebak di hotel, difitnah satu sekolah, sahabatnya pindah, gurunya dipecat, tapi dikasih cokelat sebiji langsung luluh lagi. Lo bener-bener pawang monster, Lan!"

"Dia itu ibarat mesin yang udah gue rusak dalemannya," ucap Arlan datar, matanya menatap tajam ke arah pintu kantin di mana Lulu baru saja lewat. "Gue cuma perlu pastiin mesinnya tetep nyala sampai tanggal 25 Juni. Gue nggak mau taruhan 60,000 CAD ini hangus cuma karena dia mutusin buat nyerah tengah jalan. Dia harus ada di sana, di depan semua orang, pas gue kasih 'kejutan' terakhir itu."

Gani menggelengkan kepala. "Gue kadang ngeri liat cara lo mainin psikologi orang. Dia bener-bener nganggep lo pahlawan sekarang, padahal lo yang nyiapin lubang kuburannya."

"Itu namanya seni, Gan," jawab Arlan dingin.

Di sisa hari itu, Lulu benar-benar seperti orang yang terhipnotis. Ia bahkan tidak peduli saat Reno sengaja menabrak bahunya di perpustakaan sampai kacamatanya terjatuh. Ia hanya memungut kacamatanya, tersenyum tipis, dan pergi. Di pikirannya, hanya ada satu tujuan: 25 Juni. Ia membayangkan hari itu Arlan akan naik ke atas podium, memegang tangannya di depan seluruh sekolah, dan membersihkan namanya dari segala fitnah Shinta. Ia membayangkan Arlan akan berkata bahwa semua ini adalah ujian cinta mereka.

Lulu menghabiskan waktu istirahatnya di taman belakang sekolah, tempat di mana ia dulu sering belajar bersama Sisil. Ia merasa kesepian tanpa Sisil, namun ia segera menepis perasaan itu. Sisil nggak paham Arlan, pikirnya. Sisil terlalu berburuk sangka.

Ia tidak menyadari bahwa Sisil, di sekolah barunya, sedang berusaha keras menghubungi pihak yayasan untuk memberikan kesaksian tentang apa yang sebenarnya terjadi, namun suaranya terlalu kecil untuk melawan kekuasaan keluarga Wiraguna. Sisil tahu tanggal 25 Juni adalah hari yang berbahaya bagi Lulu, tapi Lulu sendiri justru berlari menuju hari itu dengan sukacita yang mengerikan.

Sore itu, saat Lulu pulang, ia melihat Ayahnya sedang berdiri di halaman rumah, menatap pohon mangga yang dulu sering dipanjat Lulu. Hubungan mereka masih sangat renggang.

"Lulu," panggil Ayahnya pelan.

Lulu berhenti, namun tidak menoleh. "Iya, Yah?"

"Ayah dengar Sisil sudah pindah sekolah. Apa kamu tidak merasa ada yang salah dengan semua ini? Teman-temanmu pergi, gurumu pergi, nilaimu hancur. Ayah cuma mau kamu jujur, Nak. Apa kamu diancam oleh anak laki-laki itu?"

Lulu mengepalkan tangannya. "Nggak ada yang ancam Lulu, Yah. Arlan itu orang paling baik yang Lulu kenal. Ayah aja yang nggak pernah mau ngerti."

Lulu langsung masuk ke dalam rumah, membanting pintu kamarnya. Ia merasa Ayahnya adalah penghalang bagi kebahagiaannya bersama Arlan. Ia mengambil kalender yang kemarin sempat ia sobek-sobek. Dengan teliti, ia menempelkan kembali sobekan kertas itu menggunakan isolasi bening. Ia memperbaiki angka 25 Juni yang tadinya ia coret.

Kini, tanggal itu tidak lagi terlihat seperti hari eksekusi. Di mata Lulu yang sudah terdistorsi oleh manipulasi Arlan, tanggal itu terlihat seperti hari pernikahan, hari penebusan, hari di mana semua penderitaannya akan berakhir dengan pelukan Arlan.

Ia tidak tahu, bahwa "penebusan" yang disiapkan Arlan adalah sebuah pengkhianatan publik yang akan membuat foto hotel itu terasa seperti lelucon ringan. Arlan sudah menyiapkan naskah terakhir, dan Lulu dengan senang hati menghafal setiap barisnya tanpa sadar bahwa ia sedang menuju panggung pembantaian karakternya sendiri.

1
Valent Theashef
mreka bakal ketemu lagi tp entah brp th..
lily
cerita yang menarik semoga sampai tamat
Valent Theashef
bgus,liat coba end ny apakh mreka brsma ???
Siska Dores
😍
Valent Theashef
penuh tantangan suka deh film novel kyk gni,
Dewi Yanti
ko ada cowo ky reno yg jahat bgt
Siska Dores
next kak
Siska Dores
lanjutt kak
Siska Dores
next kak
Siska Dores
greget bngt
Siska Dores
next kak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!