NovelToon NovelToon
BATAS 2 TAHUN

BATAS 2 TAHUN

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Perjodohan / Nikahmuda
Popularitas:966
Nilai: 5
Nama Author: Ainun masruroh

Aleea nama panggilannya, Putri dari seorang pemilik pesantren yang cukup ramai di kotanya, aleea dikenal ramah dan santun, dia juga mengajar di pesantren milik abahnya namun aleea juga sibuk dengan dunianya sebagai penulis.

Areez seorang ustadz muda yang mengajar di pesantren milik abahnya aleea, tingginya yang semampai dengan badannya yang gagah membuat setiap orang melihat tak berkedip mata. sangat tampan memang tapi areez tidak banyak bicara hanya seperlunya, kecuali abahnya aleea.

Kebanyakan lingkungan pesantren memegang teguh adat dan senioritas, begitupun pesantren milik abahnya aleea. perbedaan umur terkadang seperti jurang yang dalam, rasa sulit untuk mengungkapkan terbatas rasa sopan seringkali menjadi pikiran.yang lebih tua merasa umurnya menghalangi untuk menunjukkan perasaan sedangkan yang lebih muda selalu bersikap sopan, bahkan terasa terlalu sopan hingga sulit di bedakan, entah itu rasa hormat, takdim atau justru menyimpan perasaan lain.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ainun masruroh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

langkah baru

Lampu-lampu pentas sudah berganti warna, pergantian acara akan di mulai, acara berikutnya adalah bakat dan minat santri, gema suara Dr. Gunawan yang masih terngiang di kepalaku. Aku duduk di teras depan rumah dengan Abah, sedang-kan ibu berbaur dengan tamu juga walisantri lainnya di barisan belakang. Rasanya seperti baru saja menyelesaikan lari maraton yang menentukan hidup dan mati. Napasku yang tadi tertahan di tenggorokan kini keluar sebagai embusan lega yang panjang. Namun, aku tahu betul, ini bukanlah garis finis. Ini hanyalah garis start dari sebuah perjuangan yang lebih sunyi: menghadapi realita setelah panggung megah itu dibongkar.

​Aku bangkit dan melangkah keluar gerbang rumah, menyaksikan tamu dan santri masih duduk anteng disana menyaksikan penampilan. Udara malam yang dingin menusuk kulit, tapi pikiranku mendidih. Aku melihat bayangan santriwati yang berjalan terburu-buru menuju asrama untuk persiapan penampilan malam. Di antara mereka, aku melihat nisa. Dia tidak langsung masuk ke asrama,dia berdiri di dekat pohon dan memandangku dengan ekspresi yang sulit aku mengerti, dia menghampiriku perlahan.

​"Mbak," suaranya lirih, hampir tenggelam dalam desau angin.

​Aku mendekat, merangkul pundaknya yang ringkih. "Bagaimana, Laila? Kamu dengar tadi apa yang dikatakan dokter dan Bapak Bupati?"

​Laila mendongak. Matanya yang biasanya redup karena beban pikiran, malam ini tampak berkaca-kaca oleh sesuatu yang disebut harapan. "Ayah tadi duduk di barisan ketiga, Mbak. Dia diam saja sepanjang acara. Tapi saat Dr. Gunawan bicara tentang risiko perdarahan dan rahim yang belum siap... aku melihat tangan Ayah gemetar. Dia memegang lututnya dengan sangat kencang."

​Aku tersenyum tipis, menguatkan genggamanku di pundaknya. "Itu awal yang baik, Laila. Rasa takut seorang ayah seringkali berasal dari ketidaktahuan. Malam ini, kita memberinya pengetahuan."

​Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Saat aku melangkah menuju teras dan menghampiri Abah untuk memberikan laporan singkat, aku melihat kerumunan orang tua santri berkumpul di teras depan. Suasana terasa panas. Suara-suara berat bernada protes terdengar bersahutan. Langkahku melambat, jantungku kembali berdegup kencang. Aku mengenali mereka—beberapa wali santri senior yang memiliki pengaruh besar di kampung-kampung sekitar.

​"Ini keterlaluan, Abah!" suara itu milik Pak Haji Mansur, salah satu penyumbang tetap pesantren sekaligus tetangga yang dikenal keras kepala. "Anak-anak kami diajari untuk menunda ibadah nikah. Apa ini cara pesantren menjauhkan santriwati dari sunnah? Bagaimana kalau mereka terjerumus zina karena sekolahnya terlalu lama?"

​Aku menarik napas panjang, merapikan kerudungku, dan memantapkan hati. Ini adalah konfrontasi yang sudah kuprediksi. Aku tidak boleh mundur. Dengan langkah tenang, aku masuk ke tengah lingkaran itu.

​"Assalamualaikum, Bapak-Bapak," sapaku dengan nada yang tetap rendah dan hormat.

​Semua mata tertuju padaku. Pandangan mereka menghujam, penuh curiga dan kemarahan. Pak Haji Mansur menunjukku dengan jarinya yang memakai cincin batu akik besar. "Ini dia penggeraknya! Anak muda yang membawa pemikiran-pemikiran kota ke dalam pesantren kita."

​Abah, yang duduk di kursi rotannya sambil memutar tasbih, menatapku dengan sorot mata yang sulit diartikan. Beliau tidak membela, tapi juga tidak memotong. Beliau memberiku panggung untuk membuktikan argumenku.

​"Pak Haji, dan para orang tua yang saya muliakan," aku memulai, mencoba menjaga suaraku agar tidak bergetar. "Menikah adalah ibadah, itu benar. Tapi apakah kita ingin memberikan ibadah yang cacat kepada Allah? Dr. Gunawan tadi sudah menjelaskan, memaksa anak yang belum siap secara fisik untuk hamil sama saja dengan menaruh nyawanya di ujung tanduk. Apakah membiarkan anak kita dalam bahaya kematian itu bagian dari sunnah?"

​"Itu urusan medis! Urusan ajal itu di tangan Allah!" potong Pak Haji Mansur kasar.

​"Betul, Pak Haji. Ajal di tangan Allah, tapi ikhtiar untuk menjaga nyawa adalah kewajiban kita sebagai manusia," balasku cepat. "Rasulullah mengajarkan kita untuk tidak memberi beban kepada orang lain melebihi kemampuannya. Seorang anak perempuan berusia delapan belas tahun, apakah dia mampu memikul beban mendidik generasi baru jika dia sendiri masih butuh bimbingan? Kita tidak sedang melarang nikah, kita sedang mempersiapkan ibu yang tangguh agar cucu-cucu Bapak tidak menjadi anak yang lemah."

​Perdebatan itu berlangsung sengit selama hampir dua jam. Aku dihujani pertanyaan yang menyudutkan, mulai dari soal ekonomi—bahwa menikahkan anak berarti mengurangi beban keluarga—hingga soal moralitas. Aku menggunakan setiap data yang kudapat dari seminar sore tadi. Aku menjelaskan bahwa kemiskinan justru sering berawal dari pernikahan dini yang tidak terencana. Aku menjelaskan tentang hak pendidikan yang akan membuat santri-santriwati ini mampu membantu ekonomi keluarga di masa depan dengan cara yang lebih bermartabat.

​Satu per satu, para orang tua itu mulai terdiam. Bukan karena mereka sepenuhnya setuju, tapi karena mereka tidak punya argumen untuk membantah kenyataan medis dan sosial yang kupaparkan. Abah akhirnya berdehem, memberi tanda bahwa diskusi malam itu harus berakhir.

​"Sudah malam," ucap Abah tenang. "Apa yang disampaikan anakku ini bukan untuk merusak adat, tapi untuk menjaga keselamatan. kalian semua ingin yang terbaik untuk anak kalian, bukan? Saya minta waktu untuk merenungkan ini bersama para pengasuh lainnya."

​Setelah mereka bubar, aku masih berdiri di teras, merasa lemas. Abah menatapku lama. "Kamu sudah berani, aleea. Tapi ingat, mengubah air yang tenang menjadi berombak itu mudah, yang sulit adalah memastikan ombak itu membawa kapal kita ke pelabuhan, bukan malah menenggelamkannya." ucap Abah sambil merangkul pundakku yang sudah kutahan agar tidak gemetar dan runtuh.

​Malam itu, aku tidak bisa tidur. Aku menghabiskan waktu di meja kecilku, menyusun draf kebijakan baru untuk pesantren. Aku menamainya "Program Mandiri Santriwati". Isinya bukan hanya soal larangan nikah dini, tapi solusi konkret: kursus keterampilan, kelas persiapan pranikah yang komprehensif, dan jaringan beasiswa. Aku tahu, jika aku hanya melarang tanpa memberi jalan keluar, aku akan gagal.

​Keesokan paginya, aku mendapati sebuah kejutan di depan pintu kamarku. Ibu yang sedang membawa surat kecil dengan tulisan tangan yang rapi. “Mbak, ayahku minta maaf. Tadi pagi saat sarapan, dia bilang dia akan membatalkan pertemuan dengan keluarga calon mempelai itu. Dia ingin aku ikut tes masuk perguruan tinggi tahun depan. Terima kasih, Mbak.” anisa

​Air mataku jatuh tanpa bisa dibendung. Surat itu lebih berharga daripada semua tepuk tangan di aula kemarin. Riak yang kubuat semalam mulai menggerakkan air yang tenang.

ibu memeluk aku erat dan mengusap punggungku lembut

" terimakasih banyak mbak aleea, sudah membantu ibu dan santri lainnya, ibu bangga, terimakasih sudah keluar dari hari-hari mbak leea yang sepi " ucap ibu lembut dan mengelap air mataku yang tak sengaja jatuh.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!