NovelToon NovelToon
Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Kubuang Dirimu Sebelum Kau Madu Diriku

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintamanis / Poligami / Konflik Rumah Tangga-Konflik Etika / Pelakor / Suami Tak Berguna / Selingkuh / Janda / Konflik etika / Tamat
Popularitas:10.1M
Nilai: 4.8
Nama Author: Gresya Salsabila

Follow IG 👉 Salsabilagresya
Follow FB 👉 Gresya Salsabila

"Aku tidak bisa meninggalkan dia, tapi aku juga tidak mau berpisah denganmu. Aku mencintai kalian, aku ingin kita bertiga hidup bersama. Kau dan dia menjadi istriku."

Maurena Alexandra dihadapkan pada kenyataan pahit, suami yang sangat dicintai berkhianat dan menawarkan poligami. Lebih parahnya lagi, wanita yang akan menjadi madu adalah sahabatnya sendiri—Elsabila Zaqia.

Akan tetapi, Mauren bukan wanita lemah yang tunduk dengan cinta. Daripada poligami, dia lebih memilih membuang suami. Dia juga berjanji akan membuat dua pengkhianat itu merasakan sakit yang berkali lipat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Gresya Salsabila, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Curiga

Jarum jam sudah menunjukkan pukul 11.00 malam, Mauren duduk sendiri di ruang makan sambil menyesap teh hijau yang baru saja diseduh.

Berkali-kali Mauren melirik ponsel, berharap ada telepon atau sekadar chat dari suaminya. Namun, ponsel itu tetap diam. Jeevan tak jua mengirim kabar setelah menelepon tadi sore, yang mengatakan bahwa hari ini akan lembur.

"Ke mana sih dia?" Mauren bergumam sembari melipat tangan di dada. "Benarkah di kantor sangat sibuk? Jadi harus lembur tiap hari. Tapi ... biasanya nggak selarut ini," sambungnya.

Perlahan, ucapan wanita yang mendatanginya tadi siang terngiang dalam ingatan. Mauren berpikir keras, akhir-akhir ini sikap Jeevan memang sedikit berubah. Selain sering lembur sampai larut, suaminya itu juga jarang meminta jatah. Hampir genap satu bulan, Jeevan tak pernah menyinggung hal intim. Padahal, dulu tak pernah absen, kecuali dirinya sedang lelah dan menolak.

"Kalau dipikir-pikir, udah lama juga Mas Jeevan nggak membahas anak. Aneh sih, mengingat dulu dia gencar banget bujuk aku untuk punya anak," ucap Mauren seorang diri.

Sembari menatap ponsel yang masih diam, Mauren mengingat-ingat hal sepele terkait perubahan sikap suaminya. Mulai dari ponsel yang disandi—yang katanya agar tidak dilihat sembarangan oleh rekan kantor, juga keposesifan yang sedikit mengendur.

Dulu, Jeevan sering kesal jika Mauren pulang lebih lambat darinya, apalagi jika tetap sibuk pada akhir pekan. Namun, hal itu tidak berlaku untuk sekarang. Jeevan tak pernah keberatan lagi meski Mauren pulang terlambat atau tetap bekerja pada hari Minggu.

Awalnya, Mauren senang karena suaminya makin pengertian. Harapannya, sang suami memang mendukung karier yang hampir mencapai puncak. Akan tetapi, kini hal itu membuat Mauren gusar. Jangan-jangan memang benar rumah tangganya dimasuki orang ketiga.

Ketika Mauren masih sibuk dengan pikirannya, tiba-tiba ada suara langkah yang makin mendekat.

"Itu pasti Mas Jeevan." Mauren bergumam sambil beranjak. Lantas, melangkah cepat menuju sumber suara.

Dalam hitungan detik, Mauren sudah melihat Jeevan. Lelaki itu tampak kelelahan, terbukti dari wajahnya yang kusut dan juga pakaian yang berantakan—jas disampirkan di bahu, sedangkan kemeja digulung asal dan dua kancing atasnya terlepas.

"Sayang, kok belum tidur?" tanya Jeevan seraya mengulas senyum masam.

"Nungguin kamu, Mas," jawab Mauren dengan nada manja.

"Kan tadi udah kukasih tahu kalau lembur. Kamu capek loh kalau nungguin aku." Jeevan bicara sambil mengusap lembut rambut Mauren.

"Nggak apa-apa." Mauren tersenyum. "Mau kopi? Kebetulan aku masih minum teh," sambungnya.

"Boleh."

Usai mengiakan tawaran istrinya, Jeevan turut melangkah ke ruang makan. Ia duduk di sana sambil menunggu Mauren menyeduh kopi untuknya.

Jeevan bersandar sambil mengembuskan napas panjang. Dia memikirkan sedikit masalah yang tiba-tiba merumit.

"Ah," dengkus Jeevan.

"Mas, ini kopinya!"

Lamunan Jeevan buyar ketika istrinya datang. Wanita cantik nan anggun yang dinikahi sejak dua tahun lalu, sudah duduk di hadapannya dengan senyum yang mengembang. Ah, Mauren, di sela-sela kesibukan dia tetap menunjukkan perhatian untuknya.

"Terima kasih ya, Sayang."

Belum sempat Mauren menyahut, tiba-tiba ponsel Jeevan bergetar. Baru saja Mauren melirik, Jeevan sudah mengambilnya dengan cepat, sehingga tidak tahu siapa yang menelepon.

"Kok, dimatiin? Siapa yang telpon" tanya Mauren.

"Hanya klien baru, Sayang. Udah kubilang besok aja, tapi tetap ngeyel. Ya udah kumatiin aja, kesel nanggepi yang kayak gini." Jeevan menjawab tenang.

"Oh." Antara percaya dan tidak, tetapi Mauren memilih diam.

"Hmm sangat manis, Sayang. Penatku langsung hilang abis minum kopi buatan kamu," rayu Jeevan.

"Bisa aja kamu, Mas." Mauren tersenyum kaku. Pikirannya masih menerka-nerka siapa gerangan yang menelepon, benar-benar klien atau orang lain.

"Mas!" panggil Mauren setelah hening cukup lama.

"Hmm."

"Aku ada tawaran job di luar kota, kira-kira semingguan. Menurutmu ... harus kuambil apa enggak?" dusta Mauren.

Jeevan menatap sekilas, "Jika itu bisa menunjang keriermu, ambil saja. Aku mendukung apa pun keputusanmu."

"Kamu mau nganter, kan?" tanya Mauren.

Jeevan tersenyum masam, "Nggak bisa, Sayang. Di kantor sangat sibuk, persiapan launching produk baru. Maaf, ya."

Mauren menggigit bibir. Selama ini, Jeevan tidak pernah mengizinkan dirinya pergi ke luar kota tanpa ditemani. Namun, sekarang berbeda. Dengan mudah Jeevan memberikan izin, bahkan sambil tersenyum lebar.

"Kamu benar-benar berubah, Mas," batin Mauren.

________

Pagi-pagi sekali Elsa sudah terjaga. Bukan memasak atau membereskan tempat tidur, melainkan duduk termenung di dekat jendela kamar. Pandangannya lurus ke depan, tampak kosong dan sayu. Entah hal berat apa yang mengganggu pikirannya.

Tak lama kemudian, ponselnya berdering nyaring. Elsa bergegas bangkit dan mengambil ponsel yang masih tergeletak di ranjang. Lalu, keningnya mengerut setelah membaca nama sang penelepon—Mauren.

"Tumben dia nelpon aku sepagi ini." Elsa mengusap tombol hijau dan menempelkan ponselnya di telinga. "Hallo," ujarnya.

"Hallo, El. Udah bangun, kan?" tanya Mauren dari seberang sana.

"Baru aja. Ada apa, tumben nelpon pagi-pagi?" Elsa balik bertanya.

"Aku mau minta tolong sama kamu," jawab Mauren setelah diam cukup lama.

"Minta tolong apa?"

Kemudian, Mauren menceritakan tentang perubahan sikap Jeevan, sangat rinci, bahkan bagian yang tidak meminta jatah juga diungkapkan secara gamblang.

"Aku jadi curiga. Jangan-jangan ... dia memang ada simpanan di luar sana," ucap Mauren setelah bicara panjang lebar.

Elsa tak langsung menjawab. Dia malah menjauhkan ponselnya sambil menghela napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Dia lakukan berulang kali, seolah ingin melepas beban yang menyesakkan.

"Menurutmu gimana, El?" tanya Mauren karena Elsa tak jua memberikan tanggapan.

"Belum bisa ambil kesimpulan aku, Ren. Akhir-akhir ini, di kantor emang sibuk banget. Bolak-balik rapat untuk persiapan launching produk baru, belum lagi ngurus kerja sama dengan pihak sana-sini. Kalau sering lembur, itu kayaknya emang soal pekerjaan deh, Ren," jawab Elsa.

"Begitu ya? Di kantor, dia nggak terlihat dekat dengan siapa gitu? Atau mungkin sering keluar atau gimana?"

"Kalau keluar ... ya agak sering sih, Ren. Tapi, itu untuk ngurus kerjaan. Kadang aku juga ikut, tapi ... nggak lihat Pak Jeevan ada ketemu sama siapa gitu," jawab Elsa memberikan penjelasan.

"Mmm, gitu." Mauren diam sejenak. "Tapi, aku kok belum tenang ya, El. Kamu bisa nggak bantuin aku? Tolong selidiki Mas Jeevan dan cari tahu kenapa dia berubah. Beneran karena pekerjaan atau mungkin ... ada hal lain," sambungnya.

"Baiklah, nanti akan kuselidiki. Sekecil apa pun informasi yang kudapat, nanti kukasihtahukan ke kamu," jawab Elsa.

"Terima kasih banyak ya, El. Aku seneng kamu mau bantuin aku. Di kantor cuma kamu orang yang kupercaya. Tahu sendiri, kan, aku jarang ke sana. Semua karyawan pasti mihaknya ke Mas Jeevan."

"Aku yang lebih berterima kasih, Ren. Bantuan ini nggak seberapa jika dibandingkan dengan bantuanmu ke aku." Elsa berucap sambil memejam dan memijit pelipis.

"Aku cuma ngasih jalan aja, El. Sedangkan keberuntungan selanjutnya, itu berkat kecerdasan kamu."

"Selalu begini kamu 'tuh." Elsa tertawa.

Mauren pun turut tertawa. Lantas, dia kembali bicara serius, "Aku beneran berterima kasih, El. Kamu mau bantuin aku, padahal itu sangat menambah kesibukanmu. Nanti kalau udah selesai, aku kasih ganti untuk lelahmu, El."

"Jangan mikir jauh, kayak sama siapa aja. Aku ikhlas kok bantuin kamu. Kita ini sahabat, Ren, kamu nggak usah sungkan," sahut Elsa.

Tak lama kemudian, sambungan telepon berakhir. Namun, Elsa tak langsung beranjak dari tempatnya. Dia masih terpaku sambil menatap layar ponselnya.

"Sepertinya ini bisa kujadikan jalan untuk memperbaiki masalah." Elsa mengulum senyum. "Ah, semoga saja," sambungnya.

Bersambung...

1
Siti Aisyah
pelakor ooh pelakor..😄😄
Siti Aisyah
kurang badas aah maureen nya....apalagi dia mau memberi kesempatan ke 2..🥴🥴
Siti Aisyah
sikap pelakor memang begitu yaa...tidak tau diri dan tidak tau malu...membenarkan kelakuan yg minus gitu...suami nya jg ngomong nya kayak nya gak punya otak ..egois ..ingin enak sendiri 🤣
Siti Aisyah
nah sekarang baru perang dimulai krn sdh ketangkap pelakor nya
Siti Aisyah
saat ini maureen blm tau aja wajah asli sahabat nya...krn blm melihat sendiri
Yuliati Soemarlina
se x pengkhianat akan terus begitu..jgn percaya mauren...
Ray Aza
kalo baca narasi dr awal karakter mauren mmg tdk cocok jd ceo, basic skillnya tdk ada dan tdk pny pendukung yg kompeten sm sekali. kemampuan bisnis tdk bs diasah hny dlm hitungan hari maupun bln. so mlh aneh kl tau2 jd pengusaha yg mumpuni, kecuali sejak awal sdh terlibat dlm perusahaan meski tdk terlalu aktif
PrettyDuck: Halo pembaca setia Noveltoon 🤗
Aku baru merilis cerita berjudul : "In Between" ✨️
Kalau berkenan silahkan berkunjung dan nikmati ceritanya 💕

Mila tidak pernah menyangka kalau 'penghancur' masa remajanya akan kembali lagi jadi bosnya di kantor. Ini bukan cuma soal benci, tapi soal luka yang dipaksa sembuh saat pelakunya ada di depan mata.
total 1 replies
Yuliati Soemarlina
mauren kamu jgn bodoh..buang 2 manusia pengkhianat itu ...
Yuliati Soemarlina
mauren punya suami n sahabat kere..berhati iblus pula..tdk punya perasaan
Yuliati Soemarlina
nah kam benar..suami n sahabatmu elsa menghianatimu...
Yuliati Soemarlina
mauren jgn percaya sm sahabat...org yg kita toling suka menggigit kita..
Ruk Mini
huru hara Rt mmg slalu pny tmpt tersendiri, ringan tpi sgt menguras emosi thor, sgt menghibur tq thir d tgg karya mu selanjut y🙏👍👍👍
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Oke. Jambak dia!
IG👉Salsabilagresya: Gaskaannnnn
total 1 replies
Elisabeth Ratna Susanti
waduh enak banget bilang dagangan.....pengen tak tonjok nih orang
IG👉Salsabilagresya: Tonjok aja kak😃😃😃
total 1 replies
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Suruh Elsa ke Rusia aja
IG👉Salsabilagresya: Mantapp😃😃😃
total 1 replies
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Sahabatnya racun yaa
IG👉Salsabilagresya: Bangett🤧
total 1 replies
ƙꪮꪑꪖꪶꪖకꪖꪹỉ
Ceritanya menarik. Sukses selalu, Thod
Bunda
nyimak,semoga menarik🙏🙏
Nur Aulia
sahabat durzana
Al Fatih
Maureen....,, Maureen...,, percaya sama sahabat sih ga ap2,,tapi ga ad salahnya jaga2 kan,, Krn skrg ini yg paling kemungkinan menyakiti diri kita adalah orang yang paling dekat sama kita. AQ berharap kamu ga akan menyesal....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!