NovelToon NovelToon
Pesona CEO Latin

Pesona CEO Latin

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Beda Usia / Naik Kelas / CEO / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama
Popularitas:1.2k
Nilai: 5
Nama Author: Chndrlv

Gadis piatu yang menanggung semua hutang ayahnya yang penjudi harus berjuang sendiri di ibukota. Rela hidup miskin di perantauan agar semua hutangnya segera lunas, hingga ia bertemu dengan pria yang menawarkan hidup berkecukupan.
Apakah Hana akan menerimanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chndrlv, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

(Siapa?)

"Aku merindukan Hana."

Desah Louis meneguk minuman yang dibuat oleh dirinya sendiri.

"Aku juga." Salsa merebahkan kepalanya di atas meja.

"Ini waktu yang lama tanpa kabar darinya."

"Kenapa kau tak telepon saja?"

"Aku takut mengganggu liburannya. Ini pertama kalinya dia benar-benar pergi liburan."

"Benarkah?"

"Ya, kau tahu Louis, setiap tahun ia cuti hanya diisi dengan pekerjaan tambahan. Dirinya benar-benar tak pergi barang hanya sehari."

"Aku merasa sedih mendengarnya."

"Aku tak bisa membayangkan bagaimana nasibku jika posisinya dibalik." Salsa bergidik.

"Hei, tamuku meminta pelayanan exclusive." Louis menatap layar ponsel yang menampilkan sebuah pesan.

"Apa itu untukku?"

"Tentu saja. Yang kosong hanya dirimu."

"Okay, saatnya mencari uang." Salsa berdiri merenggangkan otot untuk bersiap melayani tamu malam ini.

Salsa sedang berdiri di tepi jalan sembari merokok, di tangannya sebuah ponsel mahal sedang memutar sebuah video keseharian seorang pria.

Sebuah notifikasi pesan masuk membuat video terjeda. Salsa memilih membuka pesan tersebut.

"Apa kau free malam ini?"

"Untukmu aku bebas malam ini, tuan."

"Temui aku di hotel xxx, nomor xx."

"Baik, tuan tampan."

Bibir yang mengapit rokok itu tersenyum, ia memasukkan ponsel ke dalam tas, lalu menyebrang jalan menuju minimarket yang buka 24jam.

Salsa memilih beberapa camilan dan air mineral untuk kebutuhannya di apartemen yang diberikan oleh seorang sugar daddy.

Meskipun hanya beberapa kali main, ia sangat beruntung bisa mendapatkan apartemen tanpa terikat kontrak. Sangat murah hati sekali pria tersebut.

Ia berdandan dengan maksimal untuk bertemu dengan pria bule untuk menghabiskan malam panas.

"Kau sangat sexy, Salsa! Aww~" Ia memuji penampilan dirinya yang terpantu di cermin. Puas dengan hasilnya, ia segera pergi menuju hotel agar tak terlambat.

"Kau senang, Na?"

"Sangat. Terima kasih sudah membawaku kemari."

"Senang sekali perjalanan panjang kita bisa membuatmu terkesan."

Yumna bersorak riang, ini perjalanan pertamanya yang lama.

Sebelumnya ia hanya sampai dua hari melakukan petualangan ke beberapa wisata.

"Apa cuti selanjutnya kita bersama lagi?"

"Kita lihat saja nanti."

"Ya! Semoga hari baik selalu untuk kita~"

Meskipun lelah yang membuat tubuhnya remuk, Hana berusaha untuk pergi ke hotel agar bisa tidur nyenyak sebelum ia kembali ke perantauan esok hari.

Masa cutinya masih dua hari, namun Hana ingin memastikan tubuhnya fit lebih dulu sebelum kembali bekerja.

Setelah membersihkan diri di hotel, ia tertidur pulas sepanjang hari.

Hana terbangun ketika menjelang sore, tubuhnya sudah lebih baik dengan beristirahat dengan benar kali ini. Ia bersiap mandi untuk pergi keluar membeli makan malam.

"Astaga, uangku menipis."

Gumamnya ketika melihat saldo di rekeningnya yang tersisa sedikit. Ia mengingat bagaimana dirinya dengan ringannya mengeluarkan uang untuk perjalanannya kemarin. Ingin marah pun percuma, semua sudah terlanjur. Selanjutnya ia harus kembali mengumpulkan uang yang sudah ia hamburkan.

Menyantap makan malam dengan nikmat, tanpa sengaja tatapannya terpaku pada dua orang pria yang ia ingat satu kereta saat ia menuju kampung halamannya. Tanpa niat berpikir lebih dalam, Hana mengedikkan bahu lalu melanjutkan makan malamnya.

"Aku akan pulang besok."

"Katamu satu minggu?"

"Rencana berubah."

"Astaga, aku menantikanmu. Kabari aku setelah kau sampai di apartemen."

"Apa kau merindukanku?"

"Tentu! Waktu luangku begitu lama berputar tanpa kabarmu."

"Kau berlebihan."

"Sungguh! Bagaimana liburanmu, apa menyenangkan?"

"Sangat! Tubuhku lelah, tapi jiwaku puas."

"Bagus! Kau mendapatkannya, Na. Aku ikut senang mendengarnya."

"Aku membawakanmu sesuatu."

"Aku berharap kau tak kurang apapun saat kembali."

Hana tersenyum membaca pesan terakhir Salsa. Ia beruntung mempunyai sahabat seperti Salsa yang mendukungnya.

Ia meletakkan ponselnya di nakas dan mulai memejamkan mata. Penerbangannya akan dijadwalkan pada pagi hari, ia harus bangun lebih awal untuk pergi ke bandara.

"Maaf, Na. Aku tak bisa mengantarmu ke bandara. Tubuhku sangat lemas."

"Tak apa, aku mengerti. Istirahatlah, sampai jumpa di kantor, Yumna."

"Ya, sampai jumpa. Kabari aku jika kau sudah sampai."

"Baiklah."

Hana menyimpan ponsel di saku jaket setelah menutup telepon. Ia menuju gate yang tertera di tiket pesawat.

Matahari mulai tinggi, Hana sudah mendarat dengan selamat di depan gedung apartemen. Ia menghembuskan napas lega, tubuhnya terasa sangat lelah, segera ia langkahkan kakinya memasuki gedung.

"Nona Hana?"

Hana menoleh ketika ia menunggu pintu lift.

"Tu- Halo Ruby." Hampir saja Hana memanggil Ruby dengan sebutan Tuan.

Wajah Ruby seketika heran mendengar panggilan Hana yang berubah.

"Tuan Luca meminta saya berhenti memanggil anda tuan."

Hana mencoba menjelaskan. Ruby segera tersenyum paham.

"Anda baru saja sampai?"

"Ya, baru saja. Kenapa anda ada di sini? Apa tuan Luca juga ada di apartemennya?"

"Beliau ada di kantor, saya sedang ada pekerjaan di sini."

Hana mengangguk pelan. Pintu lift terbuka, mereka masuk bersama.

"Saya duluan."

Hana pamit pergi ketika lift sudah di lantai tujuannya.

Ruby mengangguk sopan.

Hana menguap beberapa kali ketika masuk ke apartemen. Ia memeriksa semua ruangan namun terlihat rapi dan bersih seperti rutin dibersihkan.

Hana mengedikkan bahu lalu masuk ke kamar untuk melanjutkan tidur.

Beberapa hari berlalu, Hana kembali bekerja sedangkan Luca seperti biasa sering memanggil Hana ke ruangannya untuk alasan sepele atau hanya untuk sekedar menonton dirinya bekerja.

"Tuan, sebaiknya anda memeriksa pembangunan yang ada di sana."

"Kenapa harus begitu? Apa kau tak bisa menghandle?"

"Menurut saya, akan lebih baik jika tuan yang langsung turun tangan."

"Benarkah?"

"Anda juga bisa merehatkan diri sejenak di villa yang berada tak jauh dari perkebunan teh."

Luca diam tanpa menjawab usulan Ruby, ia masih memiliki banyak pekerjaan yang harus diselesaikan walaupun sudah dibagi dengan asisten pribadinya.

"Hana, kemari."

Luca yang sedang menonton tv memanggil Hana ketika perempuan yang terlihat sudah siap untuk tidur.

"Ya, tuan?"

"Kemasi pakaianmu, besok ikut aku ke lokasi proyekku."

"Ya, tuan?"

Hana mengerjapkan matanya

"Jangan tidur larut malam, besok kita berangkat pagi-pagi." Luca melangkah menuju kamarnya yang berada di lantai dua meninggalkan Hana yang masih kebingungan.

Perempuan bersurai panjang itu mencoba melakukan perintah majikannya walaupun ia masih belum mengerti.

"Halo, Sa?"

Hana menjawab telepon dan menekan tombol loud speaker untuk mendengar sembari merapikan pakaiannya ke dalam tas.

"Na, apa kau sudah tidur?"

"Belum, ada apa?"

"Aku ingin bertemu denganmu."

"Lain kali saja, ada yang ingin kau ceritakan, Sa?"

"Ya. Besok apa bisa kita bertemu?"

"Aku tak bisa besok."

"Lusa?"

"Belum tahu, apa mendesak?"

"Tidak juga. Tapi jika tidak diceritakan rasanya mengganjal."

"Bagaimana jika kau kemari? Kita bertemu di restoran di dekat apartemen?"

"Bagus! Aku segera ke sana!"

Salsa menutup telepon, Hana menatap jam yang belum terlalu malam. Ia mengambil jaket bulu untuk mencegah udara dingin meskipun ia sedang memakai baju tidur panjang.

"Hana!"

Perempuan bermanik coklat itu menoleh ketika ia menunggu di meja yang terletak di sudut ruangan. Ia berdiri untuk menyambut sahabatnya yang datang dengan senyuman.

"Kau sudah lama menunggu?"

"Tidak, aku baru saja turun."

"Syukurlah, aku mempercepat perjalananku kemari. Di luar sana ada sedikit kemacetan."

Hana hanya tersenyum menanggapi.

Mereka berdua memesan kopi dan cake untuk menemani mereka atau lebih tepatnya Salsa bercerita pada Hana yang siap memasang telinganya.

"Kau terlihat mengantuk, lekas naik dan tidurlah. Terima kasih atas waktumu malam ini, Na."

Salsa bergelayut manja memeluk Hana yang tingginya hanya sebatas leher Salsa.

"Kau sudah lebih baik?"

"Ya, berkatmu aku selalu baik-baik saja setelah bertemu."

"Kau berlebihan, Sa. Aku hanya mendengarkan."

"Itu sangat cukup bagiku, Na. Aku hanya butuh didengar, dan kau memberikan yang ku butuhkan."

Salsa tersenyum riang, perempuan bersurai merah itu tak pernah berdandan simple, ia selalu bermake up bold untuk menunjang penampilannya yang seperti seorang sosialita.

"Hati-hati di jalan."

"Ya, sampai jumpa, Na."

Salsa melambaikan tangannya ketika ia siap menginjak gas meninggalkan apartemen dimana Hana tinggal.

Tanpa menunggu mobil yang dikendarai Salsa menghilang dari pandangannya, Hana segera naik ke lantai atas untuk bersiap tidur karena matanya sudah terlalu mengantuk.

BRUG!

Tanpa sengaja ia bertabrakan dengan seorang pria, Hana yang menunduk dan buru-buru meminta maaf lalu beranjak pergi tak sempat mengenali pria yang baru saja ia tabrak.

Aroma parfum yang sempat Hana hirup terasa tak asing baginya, namun ia memilih melupakannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!