Teratai Di Atas Abu
Setelah Klan Teratai Suci dihancurkan oleh Menara Darah Hitam, Lian Hua menjadi satu-satunya yang selamat dari malam penuh darah itu. Dengan meridian rusak dan bakat yang dianggap rendah, ia tumbuh di tengah hinaan dunia persilatan.
Namun di balik liontin teratai peninggalan klannya, tersembunyi kekuatan kuno yang mampu mengguncang dunia kultivasi.
Di antara dendam, pengkhianatan, dan perang antar sekte, Lian Hua menapaki jalan kultivasi demi mengungkap kebenaran kehancuran klannya—dan membalas semua darah yang telah tertumpah.
Karena bahkan di atas abu kehancuran… teratai tetap bisa mekar kembali.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wiwi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 11
Teratai Di Atas Abu
Bab 11 — Pedang Kayu dan Hinaan
Setelah ujian Tangga Seribu Anak, nama Lian Hua sedikit banyak mulai dikenal, namun bukan karena dikagumi. Orang-orang hanya menganggapnya pemuda yang keras kepala dan tahan sakit, tapi tetap saja dianggap tak berbakat, tak punya dasar ilmu persilatan, dan takkan pernah bisa melangkah jauh. Di mata para murid senior, ia hanyalah anak kampung yang beruntung diterima, tak pantas disejajarkan dengan murid-murid yang memiliki bakat dan warisan ilmu tinggi.
Di Sekte Gunung Awan Putih, seni pedang adalah ajaran utama. Setiap pagi, di lapangan latihan besar, seluruh murid berkumpul mempelajari gerakan dasar, mulai dari cara memegang pedang, tegak badan, hingga alur ayunan dan tusukan. Di sinilah Lian Hua berada setiap hari, memegang sebilah pedang kayu kasar yang diberikan pengurus sekte — benda yang beratnya ringan, tak berharga, dan mudah patah, berbeda jauh dengan senjata bagus yang dimiliki murid-murid lain.
Zhao Feng adalah salah satu murid senior angkatan atas, dikenal karena keahlian pedangnya yang cukup baik, dan sifatnya yang angkuh serta suka merendahkan orang lain. Sejak pertama kali melihat Lian Hua, ia sudah merasa tak suka. Baginya, ada murid yang dianggap sampah tapi berani tampil beda dan tenang seperti itu, adalah hal yang menjengkelkan.
Pagi itu, saat instruksi dasar selesai diberikan, para murid mulai berlatih berpasangan. Zhao Feng sengaja melangkah menghampiri Lian Hua, diiringi beberapa pengikutnya yang selalu ikut menyanjung. Ia memandang rendah pedang kayu di tangan Lian Hua, lalu tertawa sinis.
"Heh, lihat ini. Pedang kayu, gerakan kaku, tenaga tak ada... Kau ini benar-benar bercanda saja di sini," ucap Zhao Feng keras-keras, hingga banyak kepala menoleh ke arah mereka. "Seni pedang adalah ilmu yang membutuhkan bakat dan dasar yang kuat. Orang sepertimu, meski berlatih seratus tahun pun, hanya akan memegang kayu belaka, takkan pernah tahu rasa tajamnya besi atau makna sejati sebuah pedang."
Lian Hua diam saja. Ia tak menatap balik, hanya menegakkan badan, memegang gagang kayu itu dengan erat, lalu kembali mengulangi gerakan dasar yang baru diajarkan: tusukan lurus, ayunan melengkung, elakan samping. Gerakannya memang belum halus, masih kaku dan lambat, namun setiap kali ia bergerak, ia melakukannya dengan penuh perhatian, seolah di tangannya bukan ada kayu, melainkan senjata pusaka paling berharga.
Tindakan diam itu makin membuat Zhao Feng geram. Baginya, diam itu sama saja dengan penghinaan.
"Berani kau mendiamkanku?!" bentak Zhao Feng. Ia melangkah maju, mencabut pedang kayu halus miliknya yang terbuat dari kayu keras pilihan, lalu mengarahkannya ke dada Lian Hua. "Baiklah, hari ini aku akan mengajari kau satu pelajaran penting: di dunia persilatan, orang lemah tak berhak memegang senjata, tak berhak bermimpi, dan tak berhak berdiri sama tinggi dengan orang hebat."
Tanpa peringatan, Zhao Feng mengayunkan pedang kayunya ke arah tangan Lian Hua. Ia tak menggunakan tenaga dalam, hanya ingin mempermalukan dan membuat pemuda itu menjatuhkan senjatanya karena sakit.
Prak!
Benturan terdengar keras. Tangan Lian Hua terasa perih hebat, namun ia tak melepaskan pegangannya. Ia mundur selangkah, tetap berdiri tegak, menatap lawannya dengan tenang.
"Masih berani bertahan?" Zhao Feng tersenyum dingin. Ia mulai bergerak, menyerang bertubi-tubi. Gerakannya cepat, luwes, dan penuh gaya, membuat para murid yang menonton berseru kagum. Di sisi lain, Lian Hua hanya bisa bertahan seadanya. Ia belum menguasai teknik apa pun, hanya mengandalkan insting dan ketahanan raga yang telah ditempa bertahun-tahun. Ia menghindar, menangkis, mundur, terus berusaha menjaga keseimbangan.
Setiap benturan membawa rasa sakit yang menjalar ke bahu, namun Lian Hua tak pernah menjerit, tak pernah memohon berhenti. Keringat bercucuran deras, wajahnya pucat, namun matanya tetap terbuka, mengamati setiap gerakan Zhao Feng, mencoba memahami ritme dan celah serangannya.
"Hanya begini kemampuanmu?!" seru Zhao Feng makin sombong. "Dasar sampah tetaplah sampah! Kau pikir dengan berdiri saja kau bisa jadi pendekar? Lihatlah dirimu, kau hanya bahan tertawaan sekte ini!"
Ia mengerahkan sedikit tenaga dalam ke dalam pedang kayunya, lalu dengan kekuatan penuh mengayunkan senjatanya ke bawah, tepat menghantam bilah kayu kasar di tangan Lian Hua.
Krak!
Suara patah terdengar nyaring di seluruh lapangan. Pedang kayu milik Lian Hua terbelah dua tepat di tengah, potongan ujungnya terlempar jauh jatuh ke tanah.
Di saat yang sama, hantaman keras itu meneruskan tenaganya ke tangan Lian Hua, membuatnya terhuyung mundur beberapa langkah. Telapak tangannya berdarah, memar besar terlihat di kulitnya, dan sisa gagang kayu yang ia pegang kini hanya sependek jari.
Suara tawa dan bisikan langsung meledak di sekeliling.
"Hahaha! Sudah kuduga, pedang kayu pun tak sanggup kau pegang!"
"Lihat, patah begitu saja. Dia memang tak punya apa-apa selain keberanian kosong!"
"Murid sampah memang murid sampah, tak ada bedanya meski sudah berbulan-bulan di sini."
Zhao Feng tertawa puas, menunjuk ke arah potongan kayu yang tergeletak di tanah. "Nah, sudah patah. Sekarang kau tak punya senjata lagi. Sudahlah, pulanglah. Tempatmu bukan di sini."
Namun di tengah ejekan itu, di tengah tatapan meremehkan dan simpati yang rendah itu, Lian Hua tak beranjak.
Ia menatap potongan bilah kayu yang patah di tanah, lalu menatap tangan kanannya yang berdarah dan memar. Perlahan, ia mengangkat kepalanya kembali. Wajahnya tak ada rasa malu, tak ada rasa marah meledak-ledak, tak ada rasa sedih atau putus asa. Ia hanya mengenggam sisa gagang kayu pendek itu dengan tangan yang masih gemetar karena sakit, lalu menegakkan punggungnya setinggi mungkin.
Meski senjatanya patah, meski tubuhnya terluka, meski semua orang di sana menganggapnya rendah... Lian Hua tetap berdiri tegak di tempatnya, diam dan tenang bagai sebatang pohon muda yang tak akan roboh diterpa angin kencang.
Ia menatap lurus ke arah Zhao Feng, suaranya pelan namun cukup jelas terdengar oleh semua orang di dekatnya.
"Kayu ini memang patah... tapi aku belum kalah. Selama aku masih berdiri, selama napas ini masih berhembus... aku masih berhak belajar, masih berhak memegang pedang, dan masih berhak melangkah ke depan."
Di pinggir lapangan, Gu Qing Cheng yang melihat semuanya dari tadi, menatap sosok pemuda itu lekat-lekat. Di dalam hatinya, ia tahu satu hal: meski pedang kayunya patah hari ini, keteguhan dan semangat di dalam diri pemuda itu, takkan pernah bisa dipatahkan oleh siapa pun atau apa pun.