NovelToon NovelToon
PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

PEWARIS YANG MENGGUNCANGKAN ISTANA

Status: sedang berlangsung
Genre:Anak Genius / Penyesalan Suami / Sistem
Popularitas:106.1k
Nilai: 5
Nama Author: Ramanda

Enam tahun lalu, Alisha Husnah melangkah keluar dari kediaman mewah keluarga Raffasyah dengan hati hancur. Sebuah skandal menjijikkan yang dirancang rapi memaksanya percaya bahwa suaminya, Fardan, telah berkhianat. Alisha pergi, membawa rahasia besar tentang janin yang dikandungnya.

Kini, takdir membawa mereka bertemu dalam sebuah proyek besar. Fardan, sang CEO dingin yang menyimpan dendam atas kepergian istrinya, memberikan ultimatum kejam: kembali padanya atau kehilangan hak asuh atas putra mereka, Ghifari.

Namun, baik Fardan maupun keluarga besar Raffasyah tidak menyadari satu hal. Ghifari bukan sekadar bocah biasa. Dibalik wajah imutnya, tersimpan kecerdasan genius yang ia warisi dari ayahnya. Sementara orang tuanya terjebak dalam perang dingin dan sisa-sisa cinta yang luka, Ghifari mulai bergerak dibalik layar.

Dia bukan hanya ingin menyatukan Ayah dan Ibunya saja. Tapi misinya ingin membongkar topeng busuk para penghuni "istana" yang memisahkan keluarganya. Si kecil siap.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

MISI MUSTAHIL GHIFARI.

Mentari pagi baru saja menyapa jendela mansion megah keluarga Raffansyah, namun aroma sedap nasi goreng mentega dan telur mata sapi sudah menyeruak ke seluruh ruangan. Di dapur, Alisha tampak gesit bergerak. Meski kini ia memegang tongkat estafet kepemimpinan di Henry Corp cabang Jakarta, ia tidak pernah membiarkan asisten rumah tangga menyentuh urusan dapur untuk suami dan anaknya.

Alisha tahu betul, dua pria kesayangannya itu memiliki lidah yang sangat pemilih. Fardan dan Ghifari punya selera yang kembar identik, mereka hanya akan makan dengan lahap jika masakan itu diolah langsung oleh tangan Alisha. Setelah memastikan piring-piring tertata rapi, Alisha pun melangkah menuju tangga.

"Fardan! Ghifari! Ayo turun, sarapan sudah siap!" teriak Alisha dengan nada lembut namun tegas.

Tak lama kemudian, terdengar suara langkah kaki yang kompak. Dua pria itu muncul dengan setelan yang hampir serupa. Fardan dengan jas kerja berwarna biru gelap yang gagah, dan Ghifari dengan seragam sekolahnya yang mungil namun tetap terlihat sangat rapi. Mereka segera duduk di kursi masing-masing.

"Harumnya luar biasa. Aku bisa menghabiskan dua piring kalau begini caranya," puji Fardan sembari mengecup pipi istrinya sebelum duduk.

"Ayah, ingat kolesterol. Jangan terlalu rakus," sahut Ghifari datar sambil mulai menyendok nasinya dengan sopan.

Alisha tertawa kecil sambil menuangkan susu ke gelas anaknya. "Sudah, jangan bertengkar di meja makan. Oh iya, Ghifari, ingat janji semalam dengan Ayah?"

Fardan langsung menatap putranya dengan tatapan penuh arti. "Benar. Hari ini adalah misi pertamamu untuk menjadi anak berumur lima tahun yang normal. Tidak ada peretasan, tidak ada analisis data, dan yang paling penting, tidak ada tablet."

Ghifari menghentikan suapannya, lalu mendengus pelan. Wajahnya tampak sedikit menderita. "Ayah, memisahkan aku dari tablet itu seperti memisahkan ikan dari air. Ini adalah pelanggaran hak asasi anak."

"Tidak ada komplain, Jagoan. Kau harus belajar bermain perosotan atau mengejar bola seperti teman-temanmu," tegas Fardan dengan senyum kemenangan.

Setelah sarapan usai, keluarga itu segera bergegas menuju mobil. Dewa sudah menunggu di balik kemudi dengan sigap. Rute perjalanan mereka selalu sama, mengantar Ghifari ke sekolah elitnya, lalu Alisha ke Henry Corp, dan terakhir barulah Fardan ke kantor Raffansyah Group.

Sesampainya di depan sekolah, Fardan menahan tangan Ghifari sejenak sebelum bocah itu turun. "Ingat, simpan otak profesor itu di dalam tas. Jadilah bocah lima tahun yang ceria."

Ghifari hanya memutar bola matanya malas, lalu menyalami kedua orang tuanya. Ia melangkah masuk ke gerbang sekolah dengan tangan kosong, tanpa tablet kesayangannya. Baginya, berjalan di antara anak-anak yang berlarian sambil berteriak tidak jelas adalah sebuah cobaan mental yang berat.

Di area bermain, Ghifari memilih duduk di bangku taman sendirian. Ia mengeluarkan sebuah buku bacaan tentang sejarah peradaban dunia untuk membunuh rasa bosannya. Baginya, melihat anak-anak lain berebut ayunan adalah pemandangan yang tidak logis dan membuang energi.

"Hei, kenapa kamu sendirian?" sebuah suara cempreng namun lembut menyapa pendengarannya.

Ghifari mendongak. Di depannya berdiri seorang gadis kecil berambut ikal dengan pita merah besar di kepalanya. Wajahnya sangat cantik dengan mata bulat yang berbinar. Ghifari tertegun sejenak. Secara biologis, ia harus mengakui bahwa susunan genetika gadis di depannya ini menghasilkan visual yang sangat harmonis.

"Aku sedang melakukan observasi literatur," jawab Ghifari dengan gaya bicara yang terlalu kaku.

Gadis itu mengerutkan kening, tampak bingung. "Maksudnya kamu lagi baca buku? Nama aku Bella. Kamu siapa?"

"Namaku Ghifari," jawabnya singkat sambil kembali menatap bukunya.

"Ayo main lari-larian sama aku dan yang lain! Seru tahu!" ajak Bella sambil menarik-narik ujung seragam Ghifari.

Ghifari menepis tangan kecil itu dengan sopan. "Maaf, Bella. Berdasarkan hukum termodinamika, berlari tanpa tujuan yang jelas hanya akan membuang kalori dan menghasilkan keringat yang tidak perlu. Aku lebih suka di sini."

Bella memiringkan kepalanya, semakin bingung dengan perkataan Ghifari. Namun, ia tidak menyerah. Ia duduk di samping Ghifari dan mengintip buku tebal itu. "Itu buku apa? Banyak gambarnya tapi tulisannya susah. Ajarkan aku baca, dong?"

Ghifari menoleh. Melihat tatapan memohon dari Bella, pertahanannya sedikit runtuh. Ia teringat kata ayahnya untuk bersikap seperti anak kecil yang suka berteman. "Kau ingin belajar? Baiklah. Ini adalah sejarah tentang Piramida di Mesir."

Dengan telaten, Ghifari mulai menjelaskan isi buku itu. Anehnya, ia tidak merasa bosan. Melihat cara Bella mendengarkan dengan mulut sedikit terbuka dan mata yang antusias, Ghifari merasa ada semacam kepuasan intelektual yang berbeda.

"Wah, kamu pintar sekali, Ghifari! Kamu seperti pahlawan yang tahu segalanya!" seru Bella kegirangan.

Pipi Ghifari mendadak terasa sedikit panas. "Ini hanya pengetahuan dasar, Bella. Tidak perlu berlebihan."

"Kalau begitu, sebagai gantinya karena kamu sudah mengajariku, kamu harus ikut aku ke kotak pasir! Kita bangun istana piramida dari pasir!" Bella langsung menarik tangan Ghifari dengan kuat.

Kali ini, Ghifari tidak menolak. Ia membiarkan dirinya diseret menuju kotak pasir. Meski dalam hatinya ia mengeluh tentang butiran silika yang akan masuk ke celah sepatunya, ia mulai mengikuti instruksi Bella.

"Ghifari, istananya harus tinggi! Biar aku jadi putrinya, dan kamu jadi pangerannya yang jaga istana!" perintah Bella sambil tertawa riang.

Ghifari terdiam, lalu sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di wajahnya. "Pangeran, ya? Baiklah, Putri Bella. Tapi istana ini harus memiliki sistem drainase yang baik agar tidak runtuh kalau kena air."

Selama sisa jam istirahat, Ghifari benar-benar melupakan tabletnya. Ia justru sibuk mengatur strategi pembangunan istana pasir bersama Bella. Sesekali ia tertawa kecil saat Bella salah menaruh cetakan pasir. Tanpa ia sadari, ia mulai menikmati peran barunya sebagai anak kecil biasa.

Saat jam pulang tiba, Fardan dan Alisha sudah menunggu di depan gerbang. Mereka sangat terkejut melihat Ghifari keluar sambil bergandengan tangan dengan seorang gadis kecil berbaju merah.

"Ayah! Bunda! Lihat, istana pasir buatanku berhasil bertahan selama dua jam!" seru Ghifari sambil melambaikan tangan.

Fardan hampir menjatuhkan kacamata hitamnya karena kaget. "Alisha, apakah itu benar anak kita? Dia bicara tentang istana pasir, bukan tentang enkripsi data?"

Alisha tersenyum sangat lebar. "Sepertinya misimu berhasil, Fardan. Lihat, dia bahkan punya teman spesial."

Bella melambaikan tangan pada Ghifari sebelum masuk ke mobil jemputannya. "Dadah Pangeran Ghifari! Besok ajarkan aku lagi, ya!"

Ghifari hanya mengangguk kecil dengan wajah yang kembali disetel datar, meski telinganya memerah. Begitu ia masuk ke mobil, Fardan langsung merangkulnya.

"Jadi, bagaimana rasanya menjadi pangeran tanpa mahkota teknologi, Jagoan?" goda Fardan.

Ghifari berdehem, mencoba memperbaiki posisi duduknya. "Yah, tidak buruk. Bella cukup kooperatif untuk ukuran anak seusianya. Tapi Ayah, besok aku butuh buku tentang arsitektur kuno, aku harus memastikan istana pasir kami besok lebih stabil."

Alisha tertawa dan memeluk anaknya. "Apapun untukmu, Ghifari. Bunda senang kamu punya teman."

Fardan menatap istrinya dengan penuh arti. Ia merasa hidupnya kini benar-benar lengkap. Gangguan dari keluarga lamanya sudah lenyap, perusahaannya stabil, dan kini putranya mulai menemukan warna-warna indah di masa kecilnya. Namun, Fardan tahu, tantangan baru akan muncul, terutama jika Ghifari mulai mengenal rasa suka pada lawan jenis secepat ini.

"Ayah, kenapa melamun? Ayo jalan, aku lapar. Tadi energi mekanikku habis banyak karena membangun piramida," protes Ghifari memecah lamunan ayahnya.

"Siap, Tuan Muda Pangeran Pasir! Kita pulang dan makan masakan Bunda," sahut Fardan sambil memberikan kode pada Dewa untuk melaju.

Mobil mewah itu meluncur membelah kemacetan Jakarta, membawa keluarga kecil yang kini jauh lebih bahagia dan penuh dengan tawa yang tulus. Masa depan tampak sangat cerah di depan mata mereka.

1
Jaya Fandi
klonada Ghifari semua lewat,, lanjuuut ka
Aghitsna Agis
alhamdullilah akhirnya terselamatkan dari fitnah hati2 fahmi mulai srkarang putus aja persahabatan dgn mereka nga ada manfaatnya yg ada merusak menghamburkan uang orang
Lia siti marlia
untung ada ghifari jadi selamat lah fahmi dan uang nya dari orang orang licik 🤭👍
Lia siti marlia
semoga fahmi konsisten pada niat mulia nya gak tergoda dengan hal hal yang merugikan 👍🤭
Aghitsna Agis
semoga saja betul seterus insyaf tdk terhasut lagi oleh teman2nya ustad kecil tolong pantau terusya om fahminya biar ingat
Jaya Fandi
semakin seruu lanjuuut
Jaya Fandi
tersentuh aku KA,,, lanjuuut
Lia siti marlia
yeee selamat yah fahmi akhinya kamu sadar ....dan selamat berjuang buat mendapat restu camer🤭😍
Aghitsna Agis
auo semangat fahmi taoi thor jgn fulu langdung terima sm syaudahbya biar berusaha terus untuk mendaoatkannya biar fahmi lebih lama lavi fi ponfok abahnya secara tdk langsung akan menggali ilmu agamanya lagi
Julidarwati
kekuatan dahsyat
Aghitsna Agis
thor cpt up lgi dong penasaran nih
Aghitsna Agis
thor fahmi jgn cuman satu hari fipondoknya bebrrapa hari biar denger ceramah tentang kehidupan dan maksiat biar sadar dan secara perlahan meninggalkanya
Aghitsna Agis
wah fahmi srmoga tidak berubah fikiran dan tdk sadar kena jebakan batman
Lia siti marlia
wes wes fahmi kena jebakan indah 🤭🤭🤭
Aghitsna Agis
aduhh gjifari kok bisa ya kefikiran sampai kesitu orang fewasa klah sm fikiran bocil fahmi baru sagu lirikan udah langdung tetpesona udah sekalian fahmi firukiah aja biar jebiasaan je klub malamnya berhenti
Pujiastuti
semangat fahmi buat mendapatkan hati syadiah 💪💪💪💪
Lia siti marlia
cie cie fahmi langsung terpesona sama sadiah 🤭🤭🤭 semangat fshmi buat menangin hatinya💪💪
Uba Muhammad Al-varo
Fahmi......... selamat berjuang demi mendapatkan cintanya Syadiah
Enny Suhartini
lanjut kakak
Jaya Fandi
Ghifari emang yaa,,,luar biasa,, lanjuuut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!