Chapter 1 - 20 = Prologue Arc ( Arc Pembuka )
Chapter 21 - 30 = Daily Life in Thunder Division ( Arc Kehidupan Sehari-hari di Divisi Petir )
Chapter 30 - ? = Seven Divisi Tournament Arc ( Arc Turnamen Tujuh Divisi )
Di masa lalu yang jauh, dua sahabat—Dongfang dan Yuwen Feng—berdiri di puncak dunia kultivasi sebagai yang terkuat. Namun takdir memisahkan mereka. Dikhianati oleh jalan yang berbeda, Yuwen Feng jatuh ke dalam kegelapan dan bersumpah menghancurkan dunia, sementara Dongfang terpaksa menyegelnya demi menghentikan kehancuran—dengan harapan suatu hari sahabatnya akan bertobat.
Bertahun-tahun kemudian, seorang anak bernama Long Chen terus dihantui mimpi tentang masa lalu yang tidak ia pahami. Hidup damainya di Desa Daun Maple berubah menjadi tragedi ketika desanya dihancurkan oleh sosok misterius dari aliran kegelapan. Dalam sekejap, ia kehilangan segalanya—keluarga, rumah, dan masa kecilnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon muhammad rivaldi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 29 - Satu Permintaan Kecil
Subuh baru saja menyentuh Hutan Bambu Ungu, kabut tipis masih menggantung rendah di antara batang-batang bambu yang menjulang, sementara cahaya pertama matahari perlahan menembus sela-selanya, menciptakan bayangan lembut yang bergerak perlahan di tanah yang masih basah oleh embun malam. Udara terasa dingin, namun suasana tidak lagi sepenuhnya tenang, karena di depan halaman rumah, seorang pemuda berdiri dengan pedang di tangannya, mengayunkannya berulang kali tanpa henti.
Long Chen.
Tubuhnya bergerak dengan ritme yang stabil, setiap ayunan pedang dilakukan dengan presisi yang semakin matang, tidak ada gerakan yang sia-sia, tidak ada tenaga yang terbuang percuma. Langkah kakinya mengikuti aliran qi yang ia kendalikan, menciptakan keseimbangan antara kekuatan dan kontrol yang telah ia asah selama bertahun-tahun.
Petir tipis sesekali berkilat di sepanjang bilah pedangnya, berderak halus mengikuti arah tebasan, seolah menyatu dengan setiap gerakan yang ia lakukan.
Sreet… sreet…
Suara ayunan pedang itu terus berulang, mengisi keheningan pagi dengan irama latihan yang tidak kenal lelah.
Keringat mulai mengalir dari pelipisnya, meskipun udara masih dingin, tubuhnya tetap panas karena fokus dan usaha yang ia curahkan.
Namun ia tidak berhenti, tidak melambat; tatapannya tetap tajam dan pikirannya tetap terarah, karena hari ini adalah hari sebelum Turnamen Tujuh Divisi dimulai.
“Junior… sudah bangun sepagi ini?” suara lembut terdengar dari belakang, memecah ritme ayunan pedang yang sejak tadi mengisi keheningan pagi.
Long Chen langsung menghentikan gerakannya, menarik napas pelan sebelum menoleh ke arah suara itu, lalu melihat Mei Ling yang baru saja keluar dari dalam rumah, duduk di kursi rodanya dengan wajah yang tenang.
“Senior Mei Ling…” ucapnya, lalu segera berjalan mendekat tanpa ragu. “Kau juga sudah bangun,” lanjutnya dengan nada lebih ringan.
Mei Ling tersenyum tipis, matanya memantulkan cahaya pagi yang mulai muncul. “Aku memang selalu bangun saat subuh untuk melihat matahari terbit,” jawabnya lembut, seolah itu sudah menjadi kebiasaan yang tidak pernah ia lewatkan.
Ia menatap Long Chen sejenak, tatapannya hangat namun sedikit dalam, lalu berkata pelan, “Junior… bisakah kau menemaniku berjalan-jalan sebentar?”
Tanpa berpikir panjang, Long Chen langsung mengangguk. “Tentu saja, Senior,” jawabnya dengan tulus.
Ia kemudian berdiri di belakang kursi roda itu, tangannya perlahan menyentuh pegangan, dan perlahan mendorong kursi roda Mei Ling menyusuri jalur sempit di antara bambu-bambu ungu yang masih diselimuti kabut tipis, roda kayu itu bergerak pelan di atas tanah yang lembap, meninggalkan jejak samar yang segera memudar oleh embun pagi. Angin pagi berhembus lembut, membawa hawa segar yang menyentuh kulit dan menggerakkan daun-daun bambu hingga terdengar suara gesekan halus yang menenangkan.
Suasana di sekitar terasa sunyi, bukan karena kosong, melainkan karena damai, seolah dunia memberi ruang bagi mereka untuk menikmati momen itu tanpa gangguan.
Setelah beberapa saat berjalan menyusuri jalur bambu yang masih diselimuti sisa kabut pagi, Mei Ling akhirnya membuka suara dengan nada pelan, seolah tidak ingin merusak ketenangan yang ada. “Apakah kau sempat tidur tadi malam, junior?” tanyanya lembut.
Long Chen tersenyum kecil di belakangnya, meskipun senyum itu tidak sepenuhnya ringan. “Tidur sih… tapi hanya beberapa jam saja, Senior,” jawabnya jujur. Ia menarik napas perlahan, lalu melanjutkan dengan nada yang sedikit lebih dalam, “Entah kenapa aku tidak bisa benar-benar tenang untuk tidur.”
Langkahnya tetap stabil saat mendorong kursi roda itu, namun pikirannya jelas masih dipenuhi banyak hal. “Mungkin karena ini pertama kalinya aku ikut turnamen, apalagi turnamen antar divisi,” lanjutnya.
Mei Ling mengangguk pelan, wajahnya menunjukkan pengertian yang tulus. “Wajar,” katanya lembut. “Kalau aku berada di posisimu… mungkin aku juga akan merasakan hal yang sama.”
Long Chen menatap ke depan, langkahnya tetap pelan namun tatapannya berubah lebih serius, seolah pikirannya kembali tertuju pada tujuan yang tidak bisa ia abaikan. “Senior… aku akan berusaha sekuat mungkin,” ucapnya dengan nada tegas. “Setidaknya… aku harus masuk empat besar. Aku harus…”
Namun sebelum ia melanjutkan, Mei Ling memotongnya dengan lembut, suaranya tenang namun penuh keyakinan. “Junior, aku percaya padamu bahwa kau akan mencapai empat besar,” katanya sambil tersenyum hangat.
Ia menoleh sedikit, matanya lembut namun tulus. “Kau pasti bisa. Yang terpenting… kau harus percaya pada dirimu sendiri.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun cukup untuk membuat langkah Long Chen terasa lebih ringan.
Mereka terus berjalan tanpa terburu-buru, menyusuri jalur yang semakin terbuka hingga akhirnya tiba di tepi tebing, tempat yang sama seperti malam sebelumnya, namun kini disinari cahaya pagi yang perlahan menyebar.
Langit terbuka luas di depan mereka, warna jingga keemasan mulai menghiasi cakrawala, sementara matahari perlahan naik dari balik pegunungan, memancarkan cahaya hangat yang menyentuh wajah mereka.
Mei Ling memandang ke kejauhan, matanya mengikuti garis cakrawala yang mulai diterangi cahaya pagi, sementara angin lembut meniup rambutnya perlahan, menciptakan suasana yang tenang namun penuh makna. “Kalau kau bisa masuk empat besar…” ucapnya pelan, suaranya lembut namun terdengar jelas di tengah keheningan itu.
Ia berhenti sejenak, seolah mengumpulkan keberanian untuk mengungkapkan sesuatu yang sederhana namun sangat berarti baginya. “Aku punya satu permintaan,” lanjutnya.
Long Chen langsung menatapnya, ekspresinya berubah serius. “Apa itu, Senior?” tanyanya tanpa ragu.
Mei Ling tersenyum, senyum kecil yang hangat namun menyimpan harapan. “Aku ingin sekali… melihat festival kembang api,” katanya pelan.
Tangannya menggenggam satu sama lain di atas pangkuannya, seolah menahan rasa yang telah lama ia simpan. “Senior Mo Fan pernah bilang… tiga minggu lagi akan ada festival di bawah gunung,” lanjutnya, matanya mulai berbinar kecil.
“Seumur hidupku… aku belum pernah melihat kembang api,” ucapnya dengan jujur, suaranya tetap lembut. “Aku hanya bisa membayangkan seperti apa bentuknya…”
Ia tertawa kecil, ringan namun tulus. “Kata mereka… itu sangat indah.”
Kemudian ia menoleh ke arah Long Chen, tatapannya penuh harap namun tidak memaksa. “Jadi… kalau kau berhasil masuk empat besar dan diizinkan turun gunung,” katanya perlahan, “aku ingin sekali… kita pergi bersama melihat kembang api di festival itu.”
Long Chen terdiam sejenak, menatap Mei Ling dengan ekspresi yang perlahan berubah, bukan lagi sekadar serius, melainkan penuh keteguhan yang tidak mudah digoyahkan. Ia lalu tersenyum, kali ini bukan senyum biasa, melainkan senyum yang membawa keyakinan.
“Aku janji, Senior,” ucapnya dengan tenang namun tegas. “Aku akan berusaha sekuat tenaga untuk mencapai keinginanmu.”
Tatapannya tidak bergeser.
“Aku akan membawamu ke sana,” lanjutnya. “Kita akan melihat kembang api bersama.”
Kata-kata itu sederhana.
Namun terasa nyata.
Mei Ling tersenyum mendengarnya, senyum lembut yang dipenuhi harapan, seolah untuk pertama kalinya keinginan kecil itu terasa mungkin untuk diwujudkan.
Di bawah langit yang perlahan berubah terang, matahari akhirnya terbit sepenuhnya, sinarnya menyinari tebing dan hutan di sekitarnya, membawa cahaya baru ke dalam hari yang baru saja dimulai.
End Chapter 29