Seorang anak lelaki, yang harus menyaksikan kematian ibunya di ulang tahunnya yang ke 9. Tumbuh dengan hati yang dingin, seolah tak tersentuh. Tetapi ia sudah terbiasa, dengan sahabatnya. Petualangan bersama para roh, kuy kita baca🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nike Julianti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keterkejutan Dokter Dania
"Dia adalah anak dari pemilik rumah sakit ini."
JEDEEERRR
"B-bohong... kalian pasti lagi prank aku kan? Arimbi? Anak pemmilik rumah sakit ini? Anak pak Danang? Kalian pasti lagi bercanda, ini bukan april mop loh." ucap dokter Dania, ia tak ingin percaya dengan fakta yang baru saja ia dengar
"Aku senior Arimbi, itu artinya aku juga senior kamu dokter Dania. Aku berada dua tingkat di atas kalian, aku tau dan kenal betul siapa Arimbi. Aneh rasanya, kalo kamu tidak tau siapa Arimbi, padahal satu kampus. Sebelum menyebarkan berita jahat ini, apa kamu sudah mencari tau sebelumnya? Tentang siapa Arimbi? Alasan kenapa dia memilih mengambil beasiswa, daripada menggunakan harta orang tuanya? Apa kamu mencari tau, kenapa dia tak suka bersosialisasi?" dokter Diana diam, ia tak bisa menjawab pertanyaan yang di lontarkan dokter Mili.
"Semua orang yang kenal dengannya, akan tau semua jawaban itu? Itu artinya, kamu hanya lah orang yang iri dengki, dengan kemampuan dokter Arimbi. Arimbi tidak suka bersosialisasi, karena dia tak suka di manfaatkan orang lain. Karena latar belakang yang ia miliki, apalagi banyak yang mendekatinya. Hanya karena dia memiliki kakak tampan.... termasuk aku dulu. Tapi aku hanya mengaguminya, tidak ada niat untuk mendekatinya." dokter Mili mengatakan kalimat pengakuan, hanya di dalam hati. Ia menghela nafas, saat ia mengingat suka diam-diam nya.
"Arimbi memilih kuliah menggunakan beasiswa, itu karena tantangan dari ayahnya. Bila Arimbi berhasil, kuliah tanpa menggunakan uang keluarganya. Maka pak Danang, akan mewarisi rumah sakit ini padanya. Arimbi memiliki rencana, yang ingin mensejahterakan orang-orang tak mampu. Semuanya bisa terkabul, bila ia memegang penuh rumah sakit ini. Program yang ia rancang banyak, Salah satunya, memberikan edukasi pada warga, yang jauh dari pengetahuan. Jauh dari kota, juga jauh dari pendidikan. Agar tak sampai mengorbankan kan banyak orang, saat salah satu penyakit atau di saat ibu hamil dan melahirkan. Dan masih banyak cita-cita, yang ingin ia wujudkan." dokter Dania semakin mati kutu
Sedangkan perawat dan dokter, yang ada di sana. Terkagum-kagum, mendengar penuturan dokter Mili.
"Ini nih yang di sebut orang kaya sejati, memikirkan orang-orang yang ada di bawah. Bukan hanya terus mencari keuntungan, dengan banyak cat cet cot... harus melakukan pelunasan, baru di tindak." ucap perawat Indah
"Aku pasti jadi fans garis keras dokter Arimbi, wajahnya yang kaya kulkas. Ternyata memiliki hati, seperti tungku yang menyala." sambung perawat Andin
"Lagian, siapa yang bilang dokter Arimbi itu judes. Dia sering kok traktir pegawai, yang satu shift dengannya. Saya salah satunya, saya selalu mendapatkan traktiran dokter Arimbi." ucap seorang petugas keamanan, yang sejak tadi diam menyimak
"Dokter Mili, dokter tau darimana?" tanya perawat Indah
"Keluarga ku dan keluarga Arimbi bersahabat, jadi aku tau semuanya." jawab dokter Mili
'Termasuk Abraham, yang sangat dingin pada wanita. Sampai aku memilih mundur, karena berpikir kalo dia belok. huhuhuh.... cinta ku sejak usia 10 tahun, kandas..' lanjutnya dalam hati
"Waaaahhh.... pantesan dokter tau semuanya, lalu menurut dokter... orang yang menyebarkan fitnah, harus di apakan?" tanya dokter Cika, seraya menatap sinis dokter Dania
"Di laporkan tentunya, karena sudah merusak nama baik seseorang. Apalagi yang di fitnahnya, orang yang memiliki kedudukan." jawab dokter Mili
BRUGH
Dokter Dania jatuh terduduk, karena merasa shock bukan main. Iri? Benar, dia sangat iri pada Arimbi sejak kuliah dulu. Karena banyak yang memuji kepintaran Arimbi, padahal dia juga tak kalah pintar dengan Arimbi. Sama-sama anak beasiswa, tapi Arimbi lebih beruntung. Melihat barang-barang yang di pakai Arimbi, lebih bagus dari miliknya. Padahal dia sudah memeran kan dirinya, menjadi mahasiswi teladan yang baik. Namun harus kalah oleh Arimbi yang terlihat sangat cuek, tak peduli dengan orang-orang sekitarnya.
Dan yang membuatnya semakin benci, pria yang ia taksir. Malah terang-terangan mengejar-ngejar Arimbi. Tanpa dokter Dania tau, pria itu adalah sepupu Arimbi. Salah nya dokter Dania, sudah terlalu benci. Sehingga tak mencari tau, siapa Arimbi yang sebenarnya. Hati dan pikirannya, sudah di penuhi oleh spekulasinya sendiri.
Tak saling kenal, tak pernah saling sapa. Tapi membuat kesimpulan sendiri, tentang seseorang. Yang berakhir merugikan diri sendiri, sampai ke jurang paling dalam.
"Jangan-jangan, laki-laki yang pernah dokter Dania liat jalan sama Arimbi. Salah satunya itu lagi..." ucap rekan perawat Andin dan Indah, seraya menatap ke depan. Serentak semua orang, melihat ke arah pintu masuk. Muncul bang Abraham, dengan pakaian casual nya.
DEG
Dokter Mili langsung menunduk, ternyata jantungnya tak bisa di tipu. Rasa ini... masih ada.
"Hai Mil, Arimbi ada?" tanya bang Abraham
"Ada bang, tadi ke ruangannya sama... Arimbi tadi manggilnya Ghaffar" bang Abraham mengangguk
"Ok, thanks ya. Kalo gitu aku masuk ke ruangan Arimbi, kalo bisa... kamu ikut nyusul aja." ucap bang Abraham
"Iya bang, kalo kerjaan beres. Mili nyusul, kalo belum..." Mili menggelengkan kepalanya, Abraham terkekeh.
"Santai aja Mil , kek rumah sakit siapa aja." balas bang Abraham
"Ehhh... tugas bang, tugas. Jangan suka nyepelein, berhubungan sama nyawa manusia ini." ucap dokter Mili
"Ok ok... ya udah, abang ke atas ya." Abraham menepuk pelan kepala Mili
DEG
Demi apa, jantung Mili hampir lompat keluar. Tapi ia sangat pandai menyembunyikan semuanya, membuat semua orang tak ada yang menyadarinya. Abraham pergi, hanya melihat sekilas pada dokter Dania. Tanpa mau bertanya, ia pun meninggalkan Mili dan rekannya.
"KYAAAA.... GANTENG BANGET PAK ABRAHAM" teriak tertahan rekan dokter Mili, membuatnya sadar dari kenyataan.
"Pantesan dokter Mili, bilang banyak yang suka. Duhh... aku aja klepek-klepek ini, cuma sadar diri aja. Definisi pungguk merindukan bulan, yang sebenarnya aku mah." ucap perawat Indah, dokter Mili menyetujui ucapan si perawat.
'Benar, perasaan ku juga bagai pungguk merindukan bulan.' dokter Mili menghembuskan nafas panjang
"Sebaiknya kalian kembali ke tempat masing-masing, tinggalkan saja dia. Biarkan dia merenungkan kesalahannya, cek pasien di setiap ruangan. Jangan sampai ada, yang merasa di rugikan. Ingat, senyum dan ramah ya." titah dokter Mili
"SIAAAPPP DOKK" mereka pun bubar, dengan tugas mereka masing-masing. Meninggalkan dokter Dania, yang terduduk dengan pandangan kosong.
.
.
"Jadi setiap hari, kerjaan kak Arimbi kaya gini?" tanya Ghaffar, memperhatikan Arimbi sibuk dengan salah satu mayat.
"Hemm... pekerjaan kakak sangat penting dalam sistem peradilan pidana dan perdata. Di sini kakak bertindak sebagai saksi ahli dalam pengadilan, menyampaikan hasil pemeriksaan medis yang objektif dan ilmiah. Informasi yang diberikan bisa sangat krusial dalam menentukan arah penyidikan atau putusan hakim." jawab kak Arimbi, seraya sibuk mengidentifikasi mayat. Karena kondisi wajah mayat, tidak dapat di kenali. Tambah lagi tak ada kartu identitas, sehingga membuatnya mengambil sampel. Untuk di lakukan DNA, ia mengambil rambut dan kuku.
Ghaffar mengangguk, ia lebih fokus pada sosok yang berdiri di samping kakak angkatnya.
"Apa kakak sudah tau identitas jenazah?" tanya Ghaffar, kak Arimbi menggelengkan kepalanya
"Belum, karena itu kakak akan melakukan beberapa hal, untuk bisa mengetahuinya." jawab kak Arimbi
"Kalo Ghaffar bilang, Ghaffar tau. Kakak percaya?" Arimbi langsung menegakkan kepalanya, menatap Ghaffar.
...****************...
Jangan lupa like, komen, gift dan vote nyaaaa.....🥰