Dihimpit hutang dan keputusasaan, Agus, seorang pria penuh ambisi yang gagal, meyakinkan istrinya, Endang, untuk melakukan pesugihan Lanang Sewu, meskipun ritualnya menuntut pengorbanan keintiman yang sakral. Untuk mempertahankan kehormatan istrinya, Agus merencanakan penipuan tingkat tinggi: menyewa Sari, seorang wanita yang memiliki kemiripan fisik dengan Endang, dan menyamarkannya secara spiritual menggunakan sihir. Penipuan ini berhasil. Mereka hidup dalam kemewahan sementara waktu, menikmati hadiah dari Raden Titi Kusumo, entitas pesugihan yang karismatik tapi terluka secara emosional. Namun, kecerdasan spiritual Titi Kusumo perlahan mencium kepalsuan itu. Ketika penyamaran terbongkar, semua kekayaan lenyap, dan Titi Kusumo memulai pembalasan keji, menargetkan tidak hanya nyawa Agus dan Endang, tetapi juga orang-orang tak bersalah di sekitar mereka, memaksa pasangan itu menghadapi kebenaran pahit bahwa penebusan sejati tidak dapat dibeli.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Towang Risawang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Endang dalam Persembunyian
Robeknya ilusi itu tidak terjadi. Sebaliknya, sebuah suara ledakan keras di kejauhan, seperti pohon raksasa tumbang, mengalihkan perhatian Raden Titi Kusumo. Agus, memanfaatkan sepersekian detik yang diberikan oleh intervensi gaib (atau kebetulan) Mbah Jari, menyeret Sari dan berlari tanpa menoleh ke belakang.
Ia mengemudi kembali ke rumah lama mereka dengan kecepatan gila, keringat dingin membasahi punggungnya. Ia harus menyembunyikan Endang yang asli. Ia harus menempatkan Sari di posisi yang seharusnya menjadi milik Endang.
Ketika mereka tiba, rumah itu gelap. Endang sudah menunggu di kamar penyimpanan yang lembap di belakang rumah—tempat yang disiapkan Agus sebagai bunker rahasia.
Agus mendorong pintu depan dengan tergesa-gesa, menyeret Sari yang kini berjalan seperti boneka kayu. Sari sudah tidak lagi berontak; jiwanya yang terkoyak tampaknya telah menyerah total pada aura Endang yang dipaksakan.
“Endang! Kau di mana?” panggil Agus, suaranya parau.
Dari kamar penyimpanan, Endang muncul. Matanya yang lebar dipenuhi ketakutan dan kebingungan.
“Gus! Kenapa kau lama sekali? Siapa itu?” Endang melihat sosok Sari, dan ia terdiam.
Di bawah cahaya remang-remang lampu bohlam 10 watt, kemiripan itu sungguh menakutkan. Sari adalah Endang, hanya saja Sari terlihat lebih kurus dan matanya memancarkan kekosongan yang dingin.
“Dia Sari,” kata Agus cepat, tanpa basa-basi. “Dia sudah siap. Kau harus segera kembali ke tempat persembunyianmu, sekarang!”
Agus mendorong Endang, yang masih terpaku, kembali ke kamar penyimpanan. Ia mengunci pintu dari luar.
“Agus, buka! Kau tidak bisa melakukan ini!” teriak Endang, suaranya tertahan di balik pintu kayu yang tebal.
Agus mengabaikannya. Ia menarik Sari ke kamar tidur utama, di mana mereka seharusnya beristirahat setelah 'perjalanan' mereka.
“Dengarkan aku baik-baik, Sari,” Agus berbisik, memegang bahu Sari. “Kau harus tidur di ranjang ini. Kau harus berpura-pura tenang. Pangeran Titi Kusumo akan datang sebentar lagi. Dia akan datang ke kamar ini.”
Sari, dengan suara Endang, berbicara dengan monoton. “Dia sudah datang, Agus. Dia sudah mencium aroma Endang yang tulus ini. Dan dia juga mencium kebohongan. Dia tahu aku tidak pernah memakai sepatu sutra.”
Agus menghela napas, frustrasi. “Itu hanya detail kecil! Kau harus fokus pada intinya. Pikirkan keluargamu. Pikirkan lima ratus juta itu. Jangan biarkan Sari yang lelah muncul! Jadilah Endang yang mencintai suaminya.”
Dari kamar penyimpanan, Endang memukul-mukul pintu.
“Kau pengecut, Agus! Kau menjadikannya tumbal untukku! Kau menjual kehormatan wanita lain!”
Agus berbalik dan berjalan cepat ke kamar penyimpanan. Ia menyandarkan tubuhnya ke pintu.
“Diam, Endang! Kau merusak semuanya!” bisik Agus, marah.
“Aku tidak peduli!” balas Endang, suaranya bergetar. “Kau bilang kita hanya akan mencari tahu! Kau bilang kita tidak akan pernah melibatkan orang lain! Kau berbohong padaku, Gus. Kau membawa pelacur ke rumah kita, dan kau memaksanya tidur dengan siluman!”
“Dia bukan pelacur lagi, dia adalah Endang!” balas Agus. “Dan aku tidak berbohong! Aku melakukannya demi kita! Demi kekayaan kita! Kau tidak ingin hidup di vila mewah? Kau tidak ingin mobil sport? Semua itu ada di tangan Sari malam ini!”
“Aku tidak butuh kekayaan yang dibangun di atas darah dan air mata orang lain, Agus!” seru Endang, suaranya mengandung air mata. “Aku lebih baik hidup miskin dan murni!”
“Kalian para wanita selalu bicara omong kosong tentang moralitas!” bentak Agus, kepengecutan dan kepanikannya berubah menjadi amarah. “Kau tidak tahu bagaimana rasanya gagal, Endang! Aku sudah dipecat tiga kali! Kita hampir diusir dari rumah ini! Kemiskinan itu bukan hanya penderitaan, itu adalah kehinaan!”
Agus menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri. Ia harus meyakinkan Endang. Jika Endang tidak tenang, energinya akan mengganggu Topeng Sukma Ganda yang dikenakan Sari.
“Dengar, Sayang,” kata Agus, nadanya melunak, penuh manipulasi. “Ini hanya satu malam. Satu malam ini, dan kita kaya raya. Sari akan aman. Mbah Jari sudah menjanjikan perlindungan spiritual. Kita akan mendapatkan uangnya, kita akan memutus perjanjian, dan Sari akan bebas dengan lima ratus juta. Dia setuju, Endang. Dia setuju.”
“Dia setuju karena kau memaksanya! Kau mengancamnya!” tuntut Endang. “Aku mendengarmu menelepon Kuskandar! Aku tahu kau memerasnya!”
Agus membeku. Ia tidak tahu Endang mendengar percakapan itu.
“Aku tidak memerasnya, aku hanya...”
“Kau mengambil kehidupannya, Agus! Kau mengambil jiwanya!” Endang memukul pintu sekali lagi. “Lalu kau mengunci istrimu yang asli di ruang penyimpanan, seperti tikus. Kau lebih mencintai uang daripada aku, Gus!”
“Aku melakukan ini untuk kita!” Agus berbalik, tidak tahan lagi mendengar suara Endang. “Kau harus diam sekarang! Dia akan datang!”
Agus kembali ke kamar utama, di mana Sari duduk di tepi tempat tidur, menatap kosong ke dinding.
“Ingat, Endang,” kata Agus, berbicara kepada Sari. “Kau harus terlihat seperti wanita yang mencintai suaminya. Pangeran itu haus akan koneksi spiritual. Berikan dia itu.”
“Cinta yang palsu?” Sari bertanya, suaranya Endang, tetapi nadanya ironis.
“Ya! Cinta yang palsu. Itu keahlianmu, bukan?” Agus membalas dengan sinis.
Sari tidak menjawab. Ia hanya berbaring di ranjang, memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk memancarkan aura ketulusan yang dipinjamnya.
Agus menghela napas lega. Setidaknya Sari patuh. Ia berdiri di sudut ruangan, di balik bayangan, bersiap menjadi penonton yang cemburu dan pengecut.
Tiba-tiba, udara di dalam kamar itu menjadi dingin, sangat dingin, seolah semua kehangatan telah disedot keluar. Bau melati yang kuat, bercampur dengan aroma dupa kuno yang tajam, memenuhi ruangan.
Jendela kamar yang terkunci mulai bergetar pelan. Tidak ada angin, tetapi tirai tipis itu bergerak seolah ada seseorang yang berdiri di depannya, menghembuskan napas dingin.
Agus merasakan rambut di tengkuknya berdiri. Ia tahu, Raden Titi Kusumo sudah tiba.
Ia melirik ke arah Sari. Sari terbaring kaku, tetapi ia membuka matanya. Mata itu, mata Endang, menatap ke arah pintu.
Pintu itu didorong terbuka perlahan, bukan oleh tangan, melainkan oleh tekanan energi yang tak terlihat.
Raden Titi Kusumo melangkah masuk.
Ia tidak lagi mengenakan beskap yang elegan seperti saat di pondok Mbah Jari. Ia mengenakan zirah kuno yang tampak seperti terbuat dari perak tua, bersinar redup dalam kegelapan. Wajahnya yang tampan kini terlihat lebih tajam, lebih berbahaya, dan matanya memancarkan cahaya biru pucat yang sama.
Titi Kusumo mengabaikan Agus yang tersembunyi di sudut. Pandangannya sepenuhnya tertuju pada sosok Endang palsu di ranjang.
“Kau tidak seharusnya membuatku menunggu, Sayang,” kata Titi Kusumo, suaranya merdu, tetapi nada ancaman tersembunyi di dalamnya.
Sari, dalam peran Endang, memaksa dirinya tersenyum.
“Maafkan aku, Raden,” bisik Sari. “Aku hanya ingin memastikan aku terlihat terbaik untukmu.”
Titi Kusumo melangkah mendekat, perlahan, seperti predator yang menghargai setiap langkahnya. Ia berdiri di sisi ranjang.
“Aku tidak peduli bagaimana penampilanmu, Endang,” bisik Titi Kusumo, tangannya yang dingin menjulur ke wajah Sari. “Aku hanya peduli pada apa yang ada di dalam. Aku mencium aroma pengorbanan yang tulus, dan aku menyukainya.”
Ia menyentuh pipi Sari. Sari gemetar, tetapi ia menahan diri untuk tidak menjerit.
“Kau tahu, aku hampir curiga padamu tadi,” lanjut Titi Kusumo, senyumnya menghilang. “Sandal jepit itu… sungguh tidak pada tempatnya. Tapi ketulusan di matamu memadamkan keraguanku.”
Titi Kusumo bergeser, dan pandangannya kini tertuju pada perut Sari. Ia meletakkan tangannya di sana, dan Sari tersentak hebat, merasakan energi dingin itu menembus Topeng Sukma Ganda.
“Aku akan mengambil apa yang menjadi hakku malam ini, Endang,” katanya, dan ia menekan sedikit lebih keras ke perut Sari.
Dari kamar penyimpanan, Endang yang asli tiba-tiba menjerit, jeritan yang bukan karena ketakutan, tetapi karena rasa sakit fisik yang tak tertahankan.
Agus, di sudut kamar, tiba-tiba merasakan panas membakar di dadanya, seolah jantungnya baru saja diremas!