Cakrawala Dirga Samudra adalah seorang Pangeran kerjaan Nirlata yang dibuang kedalam jurang saat umurnya baru menginjak 6 tahun. namun bukannya mati, di dalam sana ia justru bertemu sosok misterius yang membuat dirinnya menjadi penyihir gila. 7 tahun berlalu ia kembali dengan kekuatan baru untuk menuntut balas, merebut takhta yang seharusnya menjadi miliknya, dan mengungkap rahasia di balik tembok istana
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AbdulRizqi60, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
flashback
Suara itu adalah milik Samudra. Samudra membuka mata kanannya yang tidak terluka secara perlahan sambil meringis kesakitan, seluruh tubuhnya sakit semua seolah tulang tulang di dalam tubuhnya patah semua, Samudra sama sekali tidak mengetahui apa yang membuat dirinya masih hidup setelah jatuh dari atas jurang.
"Hssttt... aduh... sakit.." rintihnya pelan.
"Ke.. kenapa? Kenapa? Kenapa? Kenapa aku bisa berakhir seperti ini? Kenapa Paman menghianatiku? Kenapa aku tidak mati dan justru aku merasakan rasa sakit seperti ini. Kenapa? Apakah dewata tidak sayang padaku, apakah ini siksaan dari dewata tapi... aku bukan orang jahat, dewata hanya menyiksa orang jahat." Ucap Samudra pada dirinya sendiri.
Nguk... nguk... nguk...
Hanya suara hewan malam yang menyahuti ucapan Samudra. Di dasar jurang ini benar benar sepi dan sangat gelap, saking gelapnya dasar jurang ini sampai sampai Samudra tidak bisa melihat pemandangan sekitar, benar benar tempat yang sangat gelap.
"Sakit sekali.... dari pada aku merasakan sakit seperti ini lebih baik aku mati... dewata tolong cabut nyawaku, dan temukan aku dengan ibuku." Ucapnya lirih.
"Dewata mendengar keresahanmu, namun kamu belum waktunya untuk mati." Suara berat tiba tiba terdengar di depan Samudra.
Ekspresi sedih di wajah Samudra langsung berubah drastir, campuran kaget dan ketakutan.
"Si.. si... siapa kau?!" Tanyanya spontan..
"Aku? Aku adalah sosok yang kau sebut sebagai dewata." Jawabnya singkat.
Detik berikutnya empat Siluet mata merah menyala terlihat.
Samudra semakin terkejut, insting bertahan hidupnya menyuruh ia untuk kabur, namun ketika Samudra menggerakan satu saja anggota tubuhnya bagian itu langsung terasa sakit.
"Kenapa kau takut? Bukankah kau mengatakan kau adalah orang baik? Dewata tidak akan menyiksa orang baik, bukan?" Ucap suara misterius itu lagi.
"Pe... pergi... ka.. kau.. kau bukan dewata... kau monster! Mana mungkin dewata matanya ada empat."
"Hahaha... kau lucu sekali bocah... katakan padaku, apa yang ingin kau inginkan?" Tanya suara itu.
"Aku, hanya ingin mati. Tidak ada yang perlu aku pertahankan lagi, dihianati itu rasanya sakit sekali. Aku sudah tidak memiliki hasrat untuk hidup lagi. Aku ingin bertemu ibu."
"Sayang sekali aku tidak bisa mengabulkan keinginanmu yang itu, kamu tau.. takdir kematian manusia sudah tercatat, jika waktunya sudah tiba maka manusia akan mati, dan saat ini bukan waktunya kamu mati."
"Apakah benar kau bisa mengabulkan keinginanku, Dewata?" Tanya Samudra.
"Tentu saja."
"Kalau begitu keinginanku kamu pergi dari sini, biarkan aku mati secara perlahan di sini sendirian."
"Dari pada kau mati konyol seperti ini bocah, bagaimana kalau kau membalas dendam? Apakah kau tidak mengingat senyuman dari pamanmu itu yang kau anggap baik namun justru menghianatimu dan berniat membunuhmu?"
"Aku bisa melihat semuanya tentangmu bocah, kau harus mengetahuinya bahwa ibumu Dyah Suhita ada yang tidak kau ketahui tentang kematiannya.."
Mata Samudra terbelalak, "ma... maksudmu apa?!! Ibu tewas karena di bunuh bandit gunung, aku melihatnya sendiri..."
Flashback...
Gunung Pawitra adalah Gunung yang terletak di pinggiran Negara Garuda.
Samudra yang saat itu berusi 4 tahun tampak sedang duduk di perkebunan tumbuhan tumbuhan yang biasa di buat untuk obat herbal.
Dyah Suhita adalah seorang penyihir tipe medis. Ia mampu menciptakan obat dari tumbuhan tumbuhan herbal, menyembuhkan penyakit dan sebagainya kecuali bertarung.
Kala itu, ia sedang mengajari Samudra tentang jenis jenis tanaman obat.
"Nah yang ini namanya Kunyit darah keunikannya untuk menghentikan pendarahan."
"Ini namanya Jahe Api keunikannya mampu menyembuhkan luka bakar akibat sihir elemen api dan mempercepat regenerasi kulit."
Samudra yang tidak paham hanya diam memperhatikan.
"Ibu, apakah Kakak Arya juga tau semua jenis tanaman ini?" Tanya Samudra.
Dyah tersenyum, "tidak, kak Arya belum mengetahuinya Samudra. Walaupun kakak Arya jenius, namun ia masih kecil tidak beda jauh dari Samudra. Oleh karena itu Samudra tidak perlu berkecil hati apabila sering di bandingkan karena tidak sejenius kakak Arya, bagaimana pun juga kalian berdua tetap anak ibu."
Samudra menunduk, "aku paham ibu, hanya saja aku juga ingin melebihi Kak Arya, semua orang selalu memuji kakak Arya karena terkenal sangat jenius di academy Sihir." Lirih Samudra.
"Tidak apa... Samudra masih terlalu kecil, ibu yakin Samudra juga tidak kalah jenius dari kakak Arya." Ucap Dyah Suhita sambil mengelus kepala Samudra.
Wus...
Bruk...
Karung goni terlihat melayang di udara dan mendarat di hadapan mereka berdua.
"Letakan semua tumbuhan herbal itu di situ! Atau aku akan menghabisimu!" Suara seseorang terdengar.
Sring!
Sesosok misterius dengan kain hitam yang menutupi wajahnya berdiri di sana sembari menodongkan pedang ke arah Samudra dan Dyah..
"Siapa kau? Apakah kamu bandit gunung?" Tanya Dyah.
"Tentu saja, apakah kau tidak melihat pakaianku? Cepat letakan semua tumbuhan itu ke situ, atau aku akan menghabisimu dan putramu."
"Pengawal!!" Teriak Dyah.
"Hahaha... berteriaklah sampai suaramu hilang! Semua pasukan Hierarki lemah yang kau bawa itu sudah aku lumpuhkan... hahaha.." ucap sosok itu dengan tawa menjengkelkannya.
Mendengar hal itu Dyah menjadi gugup, ia sendiri adalah penyihir tipe medis, ia hanya bisa menyembuhkan bukan bertarung.
"Ba... ba... baik... tapi tolong jangan lukai kami." Ucap Dyah yang mulai memasukan tumbuhan herbal itu ke dalam karung goni itu.
"Orang jahat! Pergi dari sini.." Samudra tiba tiba berlari menuju ke arah bandit gunung itu.
Secara sekilas Samudra melihat mata perampok itu bercahaya ungu.
Duagh!
Perampok itu menendang tubuh Samudra begitu saja hingga terguling guling.
"Hahaha... bocah lemah."
"Jangan sakiti anakku!" Ucap Dyah langsung berlari dan memeluk Samudra yang meringkuk di tanah memegangi perutnya.
Crok!
"Hehe.... mati deh..." ucap bandit gunung itu yang sudah berada di belakang Dyah dan menusukan pedangnya tempat di jantung.
"Ibu...!!! Tidaaakkk...!!" Teriak Samudra.
"Orang jahat... akan aku bunuh kau!!" Teriak Samudra dan langsung bangkit namun ketika ia hendak berlari akar akar pohon tiba tiba mencuat dari dalam tanah dan melilit kakinya.
"Aku bawa ibumu ya sayang, sampai bertemu lagi bocah manis." Ucap bandit itu. Tubuh Dyah tiba tiba tersedot masuk ke dalam cincin bandit itu.
"Ibu...!!!!"
Flashback off...
"Ibuku di bunuh oleh bandit, aku mengingat semuanya."
"Aku mengetahui apa yang tidak kau ketahui bocah, kalaupun ibumu di bunuh bandit apakah kau tidak ingin membalasnya?"
"Tentu saja aku ingin membunuh bandit itu!"
"Hahaha... itu bisa di jadikan motivasimu untuk tetap hidup.. aku akan memberikanmu sesuatu untukmu balas dendam dan membuatmu menjadi seseorang yang sangat kuat. Habisi seluruh orang orang yang menghianatimu, lalu kuasai dunia!!!"
Mata kiri Samudra yang terluka akibat tebasan belati Kerta Sena secara perlahan terbuka. Betapa terkejutnya Samudra, ia bisa melihat pemandangan di dasar jurang ini termasuk melihat sosok misterius yang berbicara dengannya.