NovelToon NovelToon
Antara Cinta Dan Takdir

Antara Cinta Dan Takdir

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Dunia Masa Depan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Shofiyah 19

Cinta sejati itu mengikhlaskan, merelakan dan melepaskan. Membiarkan bahagia orang yang kita cintai. Meskipun bahagianya dengan orang lain dan bukan bersama kita. Manusia hanya bisa berencana tapi tetap Allah yang menentukan bagaimana ke depannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shofiyah 19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

Umi Syakira berdecak kagum melihat Asya yang begitu pandai memasak. Ia tersenyum senang melihat Asya yang sangat telaten. Umi Syakira hanya membantu sesekali saja.

"Kamu kelihatan pandai banget ya memasaknya," puji Umi Syakira

"Saya sudah biasa memasak kalo lagi di rumah," jawab Asya sambil tersenyum

"Beruntung banget ya nanti kalo punya menantu kayak kamu," ucap Umi Syakira

"Umi bisa saja," jawab Asya terkekeh

Masakan sudah siap. Asya dan Umi Syakira menata semua masakannya di meja. Tak lama kemudian terdengar langkah kaki menuju meja makan.

Terlihat kyai Ahmad dan gus Kafka berjalan beriringan lalu duduk di meja makan. Asya yang menyadari kehadiran keduanya langsung saja berpamitan untuk kembali ke asrama.

Asya merasa tak enak jika berlama-lama diantara mereka. Tapi Umi Syakira menahan Asya agar ia ikut makan malam bersama dengan keluarga ndalem.

"Kamu jangan ke asrama dulu. Makan bareng aja," ucap Umi Syakira

"Tidak perlu Umi, saya kembali ke asrama saja," tolak Asya dengan halus

"Jangan nolak rezeki. Kamu ikut saja lagian ini banyak banget masakannya," ucap kyai Ahmad sambil tersenyum

"Tidak baik loh nolak ajaran guru," ucap gus Kafka terkekeh

"Em iya," ucap Asya tersenyum canggung

"Ayo duduk," ucap Umi Syakira sambil tersenyum

Akhirnya mau tak mau Asya ikut masak bersama keluarga ndalem. Mereka makan dengan begitu khidmat. Hanya terdengar dentingan sendok yang bersahutan.

_Asrama_

"Lama banget kamu Sya," ucap Rara begitu Asya memasuki kamar

"Harusnya aku kembali tadi, Ra," ucap Asya singkat

"Terus?," tanya Rara penasaran

"Diajak makan," jawab Asya singkat

"Wah cie makan malam sama camer," ucap Rara lalu cekikikan

"Apaan sih," jawab Asya sewot

"Udah, nggak usah malu. Biasanya juga kamu cuek bebek," ucap Rara sambil tertawa

"Jangan mulai deh," ucap Asya malas

"Hahaha," tawa Rara pecah

Di sisi lain, seorang pemuda tengah duduk di samping ndalem. Ia termenung sambil menatap indahnya langit. Gus Kafka tengah memikirkan bagaimana nanti akhirnya dengan Asya.

"Kafka..Kafka," panggil Abi Ahmad

Gus Kafka masih bergeming. Ia bahkan tak mendengarkan panggilan abi nya sama sekali. Gus Kafka sibuk dengan pemikirannya sendiri.

"Kafka," panggil Abi Ahmad lagi sambil menepuk pundak putranya itu

"Astagfirullah, maaf Abi," ucap gus Kafka kaget

"Kamu kenapa melamun kayak gitu?," tanya Abi Ahmad heran

"Tidak kok, Abi," ucap gus Kafka meringis

"Apa kamu sedang memikirkan seorang gadis?," tebak Abi Ahmad terkekeh

Gus Kafka hanya tersenyum malu mendengar penuturan dari abi nya yang sangat benar itu.

"Jangan terlalu memikirkan orang yang belum halal bagimu. Jika kamu mencintainya maka nikahi dia," ucap Abi Ahmad sambil tersenyum

"Iya Abi," jawab gus Kafka sambil tersenyum

"Ya sudah, Abi ke dalam dulu. Kamu juga cepet istirahat soalnya sudah malam ini," ucap Abi Ahmad

Gus Kafka menganggukkan kepalanya mendengar penuturan abi nya.

"Abi masuk dulu. Assalamualaikum," salam Abi Ahmad lalu masuk ke ndalem

"Waalaikumsalam," jawab gus Kafka

Skip

Hari ini seluruh santri disibukkan dengan kegiatan kerja bakti. Semuanya sudah mendapat bagian masing-masing. Saat ini, Asya dan Rara kebetulan mendapat bagian di ndalem. Tentunya dengan beberapa santriwati yang lainnya.

"Ohhh senangnya bisa kebagian di ndalem," ucap Rara terkekeh

"Kenapa?," tanya Asya bingung

"Siapa tau aja nantinya bisa nonton drakor dadakan," ucap Rara sambil mengelap meja

"Drama apaan sih?," ucap Asya sambil mengepel lantai

"Drakor seorang gus dan santri yang dimabuk cinta," ucap Rara lalu tertawa pelan

"Mulai deh," ucap Asya malas

"Ya nggak papa dong, buat hiburan. Sebelum nantinya fokus sama ujian kelulusan," ucap Rara santai

"Nggak kerasa ya Ra. Kita udah mau lulus aja sekolahnya," ucap Asya terkekeh

"Iya nih Sya. Perasaan kayak baru kemarin daftar buat mondok sama sekolah di sini," ucap Rara sambil tersenyum

"Iya. Waktu begitu cepat berlalunya," ucap Asya

"Rencananya kamu mau lanjut kuliah apa nikah muda nih Sya?," tanya Rara terkekeh

"Apaan sih nikah-nikah mulu pikiran kamu," jawab Asya lalu mendengus kesal

"Ya siapa tau aja kan tiba-tiba gus Kafka lamar kamu. Masak sih nggak kamu terima?," ucap Rara sambil menatap jail Asya

"Udah deh jangan goda aku terus kayak gitu," ucap Asya kesal

"Tapi kalo kenyataan gimana?," goda Rara

"Ra-,"

"Assalamualaikum," salam seseorang memotong ucapan Asya

Mata Asya langsung melotot saat tau siapa yang datang. Sedangkan Rara malah menaik turunkan alisnya menggoda Asya.

"Waalaikumsalam," jawab Asya dan Rara kompak

"Serius banget bicaranya," ucap gus Kafka sambil tersenyum

"Sudah dari tadi, Gus?," tanya Rara basa basi

"Lumayan," jawab gus Kafka terkekeh membuat Asya melotot

'Kalo dari tadi berarti denger pembicaraanku dengan Rara dong?' batin Asya

"Berarti denger semuanya dong?," ucap Rara sambil tersenyum

"Tidak semuanya sih tapi yang akhir-akhir aja," ucap gus Kafka terkekeh

Asya sedari tadi menunduk. Ia memegang erat alat pel lantai. Gus Kafka tersenyum melihat tingkah Asya yang begitu menggemaskan di matanya. Lalu ia menundukkan pandangannya.

"Asya," panggil gus Kafka lembut

"Iya gus," jawab Asya pelan

"Saya ingin menyampaikan sesuatu kepada kamu," ucap gus Kafka lalu menghela nafasnya pelan

"Dan untuk Rara, kamu bisa jadi saksi dengan apa yang akan saya utarakan," lanjut gus Kafka sambil menatap Rara sekilas

"Siap sedia Gus," jawab Rara terkekeh

Gus Kafka menghela nafasnya. Ia terdiam sejenak lalu mulai bicara dengan serius.

"Nanti setelah lulus sekolah, apa kamu bersedia untuk saya lamar, Asya?," tanya gus Kafka serius

Deg..

Jantung Asya berdetak lebih cepat saat mendengar penuturan dari gus Kafka. Rara yang juga mendengarnya langsung tersenyum senang. Inilah yang Rara inginkan, melihat sahabatnya bersanding dengan orang yang tepat.

Asya terdiam sejenak. Pikirannya sangat kacau, ia sangat bimbang. Antara mengiyakan atau tidak. Rara yang melihat keterkejutan sahabatnya, langsung menyenggol pelan lengan Asya. Refleks, Asya langsung menoleh.

"Ayo jawab, jangan diam saja," bisik Rara pelan

"Aku bingung," bisik Asya

"Ikuti kata hatimu. Aku tau jika sebenarnya kamu juga mulai ada rasa kan sama gus Kafka?," bisik Rara lagi membuat Asya terdiam

"Bagaimana Asya?," tanya gus Kafka lagi saat tak mendengar ucapan apapun dari mulut Asya

Asya menoleh pada Rara yang menganggukkan kepalanya. Asya menghela nafasnya pelan.

"Tidak ada alasan untuk menolak niat baik seseorang. Apalagi niat ini adalah bentuk salah satu ibadah. Mau menolak pun saya juga ragu. Tapi, apakah gus yakin untuk memantapkan hati kepada saya?," ucap Asya tegas

"Jika saya tidak yakin, saya tidak akan bertindak sejauh ini Asya," jawab gus Kafka sambil tersenyum

"Jika gus Kafka memang serius, datangi orang tua saya. Karena bagaimanapun saya masih milik mereka sebelum menjadi seorang istri," ucap Asya yang menundukkan pandangannya

"Kamu serius?," tanya gus Kafka yang bahagia

"In sya Allah," jawab Asya sambil menganggukkan kepalanya

"Setelah kamu lulus, secepatnya saya akan datangi orang tua kamu," ucap gus Kafka tegas

Asya hanya menunduk dan menganggukkan kepalanya. Rara langsung memeluk sahabatnya dari samping. Ia berharap semoga Allah mempermudah niat baik gus dan sahabatnya ini untuk menjalankan salah satu ibadah yang dianjurkan.

1
Mrs. Ren AW
mampir baca, semoga menarik ceritanya 😍
Mrs. Ren AW: siaaaappp kak author 😍
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!