“Kita cerai.”
Sepuluh tahun pernikahan hancur oleh satu kalimat dingin dari Kaisyaf. Pria yang dulu menunggu Ayza selama empat tahun.
Pria yang pernah menjadi rumahnya itu kini berubah menjadi orang asing. Ia jarang pulang, menjauh dari keluarganya, bahkan meninggalkan jejak yang seolah membuktikan bahwa ia memiliki wanita lain.
Namun Ayza tidak pergi. Ia bahkan rela dimadu asalkan suaminya tidak meninggalkannya.
Fahri, adik angkat yang diam-diam mencintai Ayza sejak lama, tak tahan melihatnya terus disakiti. Sementara Reza, mantan suami yang pernah kehilangan Ayza, kembali dengan penyesalan yang belum selesai.
Hingga kebenaran tentang Kaisyaf akhirnya terungkap, dan menghancurkan hati Ayza lebih dari pengkhianatan apa pun.
Kini Ayza harus memilih: tetap setia pada cinta yang telah pergi, kembali pada masa lalu, atau menerima seseorang yang sejak lama menunggunya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
27. Ketika Batas Tidak Lagi Cukup
Reza menarik napas dalam. Menyandarkan tubuhnya ke kursi.
“Aku sudah pernah gagal,” ucapnya pelan, seolah melanjutkan sesuatu yang belum selesai sejak tadi. “Dan kali ini… aku gak mau itu terulang.”
Bibir Rahman melengkung tipis. Namun ada rasa pahit di sana.
“Dulu Ayah sama Bunda sudah carikan yang baik,” katanya dengan suara terukur. “Kamu yang abaikan.”
Tatapannya menajam sedikit.
“Kamu ceraikan… demi perempuan yang bahkan tidak seujung kuku pun sebanding dengan pilihan kami.”
Kalimat itu tidak keras, tapi tepat sasaran.
Reza menjatuhkan matanya ke lantai beberapa saat sebelum akhirnya kembali bicara.
“Itu memang salahku.” Ia tidak membantah. Namun— “Jadi… tolong jangan desak aku lagi, Yah, Bun.”
Nada suaranya kembali lebih ringan. Tapi ada batas di sana.
“Kalau pengen cepat punya cucu… carikan saja jodoh buat Fahri.”
Lalu ia menambahkan dengan santai—
“Dia masih muda.”
Rahman dan Siti saling pandang sekilas.
Reza melanjutkan, kali ini lebih santai. Terlalu santai.
“Tapi aneh juga sih…” gumamnya. “Sampai sekarang dia gak pernah dekat sama perempuan mana pun.”
Siti langsung menoleh. “Maksud kamu?”
Reza mengangkat bahu ringan. “Hanya Ayza satu-satunya wanita yang pernah dekat sama dia.”
Kalimat itu jatuh… pelan. Tapi cukup membuat udara berubah.
“Jangan-jangan…” lanjutnya, nada suaranya tipis, “…dia nunggu Ayza menjanda.”
“Reza.”
Suara Rahman langsung memotong tegas. Garis wajahnya menegang. “Fahri bukan orang seperti itu.”
Siti ikut mengangguk cepat.
“Benar,” sahutnya. “Fahri itu anak yang tahu batas. Dia sangat menghormati Ayza.”
Sudut bibir Reza terangkat tipis. Namun tidak benar-benar hangat.
“Lalu kenapa sampai sekarang dia belum menikah?”
Tidak ada yang langsung menjawab.
Reza mencondongkan sedikit tubuhnya. Tatapannya bergantian antara Rahman dan Siti.
“Kalau bukan karena Ayza…” lanjutnya dengan nada rendah, “...lalu karena apa?”
Siti mengernyit. “Maksud kamu apa, Rez?”
Reza terdiam sejenak. Seolah ragu. Namun justru itu… membuat kalimat berikutnya terasa lebih sengaja.
“Bun…” ucapnya perlahan, “…Fahri itu sudah tiga puluh tahun.”
Ia sedikit mencondongkan tubuhnya ke Siti.
“Tapi tidak pernah benar-benar dekat dengan perempuan mana pun.”
Reza mengusap dagunya seolah berpikir.
“Menurut Bunda… itu gak aneh?”
Siti langsung terlihat tidak nyaman. Rahman menghela napas berat. Namun belum bicara.
Dan Reza, sedikit menyandarkan tubuhnya kembali. Ekspresinya tenang. Seolah hanya melempar pertanyaan biasa. Padahal yang ia lakukan… jelas.
Memancing.
Rahman memerhatikan Reza lebih lama dari sebelumnya. .
“Dari tadi, kamu banyak bicara soal Fahri.”
Reza tidak langsung bereaksi. Hanya mengangkat alis sedikit.
“Ya karena memang itu faktanya, Yah.”
Rahman tidak mengangguk. Tidak juga membantah.
“Fakta…” ulangnya tak lebih dari gumaman. “...atau kamu yang ingin mengarahkannya ke sana?”
Kalimat itu halus, tapi menusuk.
Siti langsung menoleh ke Rahman. Sedikit kaget.
Reza tersenyum ringan. “Ayah terlalu jauh mikirnya.”
Namun Rahman tidak melepas pandangannya.
“Tidak,” ucapnya tenang. “Justru Ayah rasa… Ayah mulai paham.”
Untuk beberapa detik… tidak ada yang bicara.
Lalu—
“Kamu masih mengharapkan Ayza.”
Kalimat itu jatuh tanpa emosi. Tapi langsung mengenai.
Siti langsung menatap Reza. “Rez…?”
Reza terdiam. Bukan kaget… tapi tidak menyangka akan diucapkan sejelas itu.
Ia tertawa kecil. Tipis. “Kalau pun iya…” jawabnya santai, “…apa salah?”
Rahman langsung menggeleng. “Salah atau tidak… itu bukan poinnya.”
Tatapannya mengunci.
“Yang Ayah lihat sekarang… kamu bukan sedang memperbaiki kesalahanmu.” Suaranya merendah, menekan. “…kamu sedang berusaha mengambil sesuatu… sebelum orang lain mendapatkannya.”
Kalimat itu… telak.
Tidak ada kata yang keluar dari mulut Reza. Namun wajahnya sedikit kaku. Dan itu sudah cukup… sebagai jawaban.
Siti mulai gelisah.
“Rez… kamu serius?”
Napas Reza keluar lebih berat dari biasanya. Matanya turun sebentar. Lalu kembali naik. Lebih dingin.
“Kalau dia memang sudah tidak bahagia…” suaranya rendah, seolah menahan sesuatu. "..kenapa aku tidak boleh jadi orang yang membuat dia bahagia?”
“Karena dia masih istri orang," tandas Rahman.
Tidak ada jeda. Tidak ada kompromi.
Reza tersenyum tipis. Kali ini… lebih tajam.
“Untuk sekarang.”
Rahman tidak langsung berbicara. Ia hanya menatap Reza. Lama. Seolah memastikan sesuatu yang sejak tadi ia duga… kini benar.
“Cukup.”
Satu kata itu membuat suasana langsung berubah.
Siti menoleh. Reza mengangkat sedikit alisnya.
Rahman menyandarkan tubuhnya ke kursi. Sorotnya tetap lurus.
“Ayah tidak peduli kamu masih punya perasaan atau tidak.”
Nada suaranya tenang. Namun justru itu… yang membuatnya terdengar tegas.
“Tapi selama Ayza masih berstatus istri orang…” suaranya turun, berat. “…kamu tidak akan mendekatinya.”
Tidak ada ruang tafsir. Tidak ada celah.
Reza terdiam. Lalu tersenyum kecil.
“Yah—”
“Ayah belum selesai.” Rahman memotong. Kali ini sedikit lebih keras.
Reza langsung menutup mulut.
Rahman mencondongkan tubuhnya sedikit ke depan. “Ayah tidak mau dengar kabar kamu mendekati dia.” Tidak mau lihat kamu cari celah.”
“Apalagi…” tatapannya menajam, “…memanfaatkan kondisi rumah tangga orang lain.”
Setiap kalimatnya turun perlahan. Tapi menghantam satu per satu.
Siti menelan ludah. Ia tahu… ini bukan sekadar nasihat.
Reza mengembuskan napas, lalu bersandar lagi.
“Kalau dia sendiri yang datang?” tanyanya santai.
Rahman tidak goyah.
“Kalau dia datang sebagai perempuan yang sudah bebas… itu urusan nanti.” Nada suaranya tetap datar. “Tapi selama belum…”
Kata-kata itu menggantung di udara.
“…kamu mundur.”
Reza menatap meja sebentar. Lalu tersenyum kecil. Tidak hangat.
“Ayah masih menganggap aku anak kecil?”
Rahman menggeleng pelan.
“Tidak. Justru karena kamu sudah dewasa… Ayah berharap kamu tahu batas.”
Kalimat itu… final. Tidak ada tekanan berlebihan. Tapi jelas, tidak bisa ditawar.
Reza tidak menjawab. Namun garis rahangnya mengeras tipis, tapi cukup.
Ia mendengar, tapi belum tentu menerima.
***
Mobil Ayza berhenti di garasi. Ia baru saja menjemput Alvian dari sekolah.
Mereka turun bersama. Saat berjalan menuju pintu, langkah kecil Alvian terdengar ringan di sampingnya.
Namun baru beberapa langkah, suara mesin mobil lain memasuki pekarangan.
Ayza langsung berhenti. Tatapannya tertuju ke arah gerbang. Di sampingnya, Alvian ikut menoleh.
Sebuah mobil perlahan masuk… dan tanpa perlu waktu lama, ia mengenalinya.
Napasnya tertahan. Bukan karena terkejut. Tapi karena… ia tahu, sesuatu yang belum siap ia hadapi, akhirnya datang.
...🔸🔸🔸...
..."Kadang yang paling berbahaya bukan orang yang memaksa masuk,...
...tapi yang sabar menunggu sampai pintu itu terbuka sendiri."...
..."Tidak semua yang kembali datang untuk memperbaiki,...
...ada yang datang hanya untuk mengambil."...
..."Batas itu dibuat untuk menjaga,...
...tapi akan selalu ada yang menganggapnya tantangan."...
..."Yang pernah kehilangan, tidak selalu belajar melepaskan,...
...kadang justru belajar merebut."...
..."Saat seseorang mulai mengincar yang bukan miliknya,...
...yang retak bukan hanya hubungan… tapi juga harga diri."...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Fahri tahu Alvian lagi kepikiran sesuatu.
Fahri memahami itu.
Alvian lupa nama tamunya yang dijemput di bandara.
Waktu itu Fahri sudah sebut nama Divya.
Alvian belum pernah dengar nama Divya.
Divya mengerti apa yang telah dikatakan Fahri. Dia memilih tetap jalan.
Berani menjalani satu tahun yang belum tentu Fahri memilihnya.
Divya sedang bersama Yasmin.
Yasmin sebagai sahabat, nasehatnya baik. Memberi saran kalau Divya mau berhenti, ini waktunya.
Juga memberi saran kalau mau ketemu Ayza.
Divya secepat itu menemui Ayza.
Memperkenalkan dirinya yang dijodohkan Fahri.
Sudah - begitu saja Divya datang untuk bertemu Ayza.