Diusir dan dihinakan akibat video fitnah keji, Aaliyah Humaira, putri seorang kyai besar, terpaksa menanggalkan identitasnya dan bersembunyi di balik niqab dan kode peretas legendaris 'H_Zero'. Namun, takdir pelariannya justru membawanya ke dalam pelukan Zayn Al-Fatih, CEO berdarah dingin penerus klan aristokrat mafia Eropa yang hidupnya dipenuhi ancaman pembunuhan. Saat rahasia triliunan dolar dan masa lalu leluhur mereka saling bertabrakan, Aaliyah dan Zayn harus menyatukan kejeniusan siber dan kekuatan militer untuk melawan sindikat pembunuh bayaran, dewan bangsawan yang rasis, dan konspirasi global. Ini bukan sekadar kisah cinta antara gadis pesantren dan sang Raja Es; ini adalah perang epik di mana iman, kecerdasan, dan peluru menjadi penentu kedaulatan sebuah negara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mysterious_Man, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 30: MENEMBUS SARANG IBLIS
Suara deru baling-baling helikopter medis yang membelah langit malam terasa seperti raungan keputusasaan. Di dalam kabin yang berguncang akibat sisa-sisa badai, lampu darurat berwarna putih menyilaukan menerangi wajah Zayn Al-Fatih yang seputih kapas. Masker oksigen menutupi separuh wajahnya, sementara berbagai kabel monitor menempel di dadanya yang telanjang dan dipenuhi memar.
Aaliyah Humaira duduk bersimpuh di lantai kabin, tepat di samping brankar Zayn. Tangannya yang masih gemetar dan berlumuran darah kering menggenggam erat telapak tangan pria itu.
Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... ujian ini datang bergelombang tanpa henti, seolah ingin menghancurkan setiap pilar pertahananku. Di depanku, pria yang mengorbankan nyawanya untukku sedang berada di ambang maut. Dan di tempat lain, ayahku... satu-satunya darah dagingku, diculik oleh iblis berwajah manusia. Mengapa dadaku harus menanggung rasa sakit yang begitu brutal ini? Hamba merasa seperti akan hancur berkeping-keping, ya Rabb. Namun, jika hamba hancur malam ini, siapa yang akan menyelamatkan mereka?
Ben, kepala pengawal Zayn, duduk di seberang Aaliyah. Wajah pria bertubuh kekar itu tampak sangat suram. Ia memegang tablet komunikasi satelitnya dengan rahang yang mengeras.
"Ben, katakan padaku semuanya," suara Aaliyah memecah bisingnya mesin helikopter. Nada suaranya tidak lagi bergetar oleh tangis, melainkan terdengar sangat dingin dan menuntut.
Ben mendongak, terkejut melihat perubahan aura dari wanita ber-niqab di depannya. Tidak ada lagi pelayan yang menunduk takut; yang ada di depannya kini adalah sosok nyonya besar Al-Ghifari yang sesungguhnya.
"Kelompok Sultan menggunakan taktik penyerbuan gerilya, Nona," lapor Ben cepat. "Mereka melumpuhkan sistem keamanan CCTV Rumah Sakit Medika selama tiga menit menggunakan semacam virus EMP lokal. Dalam waktu singkat itu, mereka masuk ke ruang VVIP, melumpuhkan dua penjaga kami, dan membawa Kyai Abdullah melalui jalur pembuangan limbah medis di basement."
"Bagaimana dengan mesin ventilatornya? Ayahku tidak bisa bertahan lama tanpa itu!" potong Aaliyah panik.
"Mereka membawa tabung oksigen portabel dan mesin ventilator mobile rumah sakit, Nona. Sultan sepertinya tidak ingin Kyai Abdullah mati di jalan. Dia ingin menjadikannya sandera hidup untuk memancing Anda dan Tuan Muda."
Aaliyah memejamkan mata rapat-rapat. Logika H_Zero-nya kembali berputar menyusun kepingan-kepingan data.
Sultan tidak membunuh Ayah di tempat karena dia tahu membunuh pria tua di ranjang rumah sakit tidak akan memberikan kepuasan dendam yang ia cari. Dia ingin kami menyaksikan kehancuran itu. Dia memancing kami keluar. Dia ingin aku datang merangkak padanya.
"Beri saya laptop saya, Ben," perintah Aaliyah seraya melepaskan genggaman tangannya dari tangan Zayn dengan berat hati.
"Nona, Anda harus istirahat. Biarkan tim siber kami yang melacaknya—"
"Berikan laptop saya sekarang, Ben!" bentak Aaliyah. Matanya berkilat tajam di balik celah cadarnya. "Tim siber Anda dikelabui oleh Rian selama berbulan-bulan tanpa sadar. Anda butuh saya jika ingin menemukan ayah saya sebelum fajar menyingsing!"
Ben terdiam, lalu dengan patuh ia mengeluarkan laptop perak itu dari ransel kedap air dan menyerahkannya.
Aaliyah meletakkan laptop itu di pangkuannya. Ia menghubungkan perangkat itu ke jaringan satelit helikopter. Jari-jemarinya kembali menari di atas keyboard. Ia tidak meretas rumah sakit; itu percuma, jejaknya pasti sudah dihapus oleh Rian. Ia meretas sistem Dinas Perhubungan DKI Jakarta.
Batin Aaliyah: Sultan tidak mungkin menggunakan mobil biasa untuk membawa pasien kritis beserta peralatan medis yang besar. Dia pasti menggunakan ambulans palsu atau mobil van logistik berukuran besar. Jalur pembuangan limbah Rumah Sakit Medika terhubung langsung dengan Jalan Tol Dalam Kota. Aku harus memindai semua kamera lalu lintas dalam radius lima kilometer dari rumah sakit pada rentang waktu sepuluh menit yang lalu.
Layar laptop Aaliyah menampilkan puluhan jendela kecil berisi rekaman CCTV jalan tol yang buram karena hujan. Ia memasukkan algoritma pencarian visual untuk mendeteksi kendaraan tipe Van berukuran besar yang melaju dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Filter plat nomor palsu... cari kendaraan yang tidak terdaftar di database Samsat," gumam Aaliyah pelan, sepenuhnya terfokus pada layar.
Tiga menit kemudian, sebuah titik merah berkedip di peta digitalnya.
"Dapat!" Aaliyah menunjuk ke layar. "Sebuah mobil van hitam Mercedes Sprinter melaju ke arah utara. Mereka menggunakan plat nomor palsu yang terdaftar sebagai sepeda motor. Mobil itu baru saja keluar di gerbang tol Pelabuhan Tanjung Priok."
Ben segera melihat peta tersebut. "Pelabuhan? Itu adalah area yang sangat luas, Nona. Ada ribuan kontainer di sana. Lokasi yang sempurna untuk menyembunyikan sandera dan menyergap tim penyelamat."
"Sultan memiliki gudang tua di sektor barat pelabuhan. Ayahnya dulu menggunakan gudang itu untuk penyelundupan barang ilegal sebelum perusahaannya bangkrut dua puluh tahun lalu," Aaliyah menganalisis data historis yang pernah ia retas sebelumnya. "Dia membawa ayahku ke tempat di mana kehancuran keluarganya dimulai."
Tepat saat itu, helikopter medis mulai menurunkan ketinggiannya. Mereka mendarat di landasan pacu atap sebuah rumah sakit swasta elit di pusat Jakarta yang telah disewa secara eksklusif oleh jaringan Al-Ghifari.
Pintu helikopter terbuka. Tim medis yang sudah bersiaga segera merangsek masuk, memindahkan tubuh Zayn ke atas brankar roda dengan sangat cepat.
Aaliyah berlari mengikuti brankar itu menyusuri lorong rumah sakit hingga mereka tiba di depan pintu ruang operasi. Seorang dokter bedah menahan langkah Aaliyah.
"Maaf, Nyonya. Anda tidak bisa masuk. Luka infeksi dan pendarahan di kepalanya sangat kritis. Kami harus segera melakukan operasi pengangkatan serpihan tulang dan pembersihan jaringan," ucap dokter itu dengan nada mendesak.
Aaliyah membeku di depan pintu otomatis yang tertutup rapat. Matanya menatap nanar lampu indikator bertuliskan 'OPERASI BERLANGSUNG' yang menyala merah.
Zayn... pria yang selalu berdiri di depanku layaknya karang yang tak tertembus badai, kini terbaring lemah di bawah pisau bedah. Kau telah membuktikan cintamu dengan darahmu, Zayn. Kau telah menebus dosa masa lalu keluargamu berkali-kali lipat. Sekarang, istirahatlah. Biarkan aku yang memikul pedang ini. Aku tidak akan membiarkan pengorbananmu malam ini sia-sia.
Aaliyah berbalik. Ia menghampiri Ben yang sedang mengatur formasi pasukan taktis di lorong rumah sakit.
"Ben, siapkan satu mobil untukku. Aku akan pergi ke pelabuhan itu sekarang," ucap Aaliyah tegas.
Ben menatap Aaliyah seolah wanita itu baru saja kehilangan kewarasannya. "Nona Aaliyah, itu bunuh diri! Anda tidak terlatih untuk pertempuran fisik! Tuan Muda akan membunuh saya jika saya membiarkan Anda pergi ke sarang Sultan sendirian. Saya akan mengirim tim taktis alfa untuk menyerbu gudang itu."
"Jika kau mengirim tim taktis bersenjata lengkap, Sultan akan langsung mencabut selang oksigen ayahku begitu dia melihat kalian di monitor CCTV-nya!" Aaliyah mencengkeram kerah seragam taktis Ben dengan tangan bergetar. "Dia menginginkanku, Ben! Dendamnya adalah padaku dan Zayn! Jika aku datang sendirian, egonya akan memaksanya untuk menemuiku dan bicara. Itu akan memberiku waktu untuk meretas bom atau sistem medis yang dia tahan, dan memberikan ayahku waktu untuk bernapas!"
"Tapi Nona—"
"Ini bukan permintaan, Ben. Ini adalah perintah!" Aaliyah menegakkan tubuhnya, menatap Ben dengan otoritas yang membuat pria kekar itu bungkam. "Aku adalah istri dari Zayn Al-Fatih. Di saat suamiku tidak berdaya, aku yang memegang kendali atas nama keluarga ini. Siapkan mobilnya. Kau dan timmu boleh mengikutiku dari radius satu kilometer. Tapi biarkan aku masuk ke dalam gudang itu sendirian."
Ben menelan ludah yang terasa pahit. Ia melihat keteguhan di mata wanita ber-niqab itu. Keteguhan yang sama persis dengan yang dimiliki oleh Tuan Mudanya.
"Baik, Nyonya," Ben akhirnya menunduk hormat. "Saya akan membekali Anda dengan earpiece komunikasi mikro dan alat pelacak GPS di bawah sol sepatu Anda. Tolong... kembalilah dengan selamat. Tuan Muda tidak akan sanggup hidup jika kehilangan Anda."
Dua jam kemudian, angin laut yang bercampur aroma karat dan garam menyambut Aaliyah saat ia turun dari mobil hitamnya di kawasan Sektor Barat Pelabuhan Tanjung Priok. Suasana di sana gelap gulita, hanya diterangi lampu jalan yang berkedip-kedip rusak. Tumpukan kontainer besi menjulang tinggi seperti labirin raksasa yang siap menelan siapa saja yang tersesat di dalamnya.
Aaliyah melangkah sendirian menembus genangan air sisa hujan. Gamis hitamnya berkibar ditiup angin laut yang kencang. Ransel kedap air berisi laptopnya terpasang erat di punggungnya. Jantungnya berdetak liar memukul-mukul tulang rusuknya, ketakutan manusiawinya meronta-ronta meminta untuk lari. Namun ia terus melangkah maju.
Batin Aaliyah: Takut... ya Allah, hamba sangat takut. Kegelapan ini terasa seperti mulut raksasa yang siap mengunyah tulang-tulang hamba. Namun setiap kali hamba ingin berbalik mundur, hamba mengingat wajah keriput Ayah yang bernapas melalui mesin. Hamba mengingat darah Zayn yang menetes demi melindungiku. Ketakutan ini tidak ada artinya dibandingkan penderitaan mereka. Hamba adalah H_Zero. Hamba adalah Hafizah. Hamba berjalan dengan ayat-Mu sebagai tameng hamba.
Aaliyah berhenti di depan sebuah gudang tua raksasa yang pintu kayunya sudah setengah lapuk. Tidak ada penjagaan di luar. Itu sangat mencurigakan. Sultan sengaja membiarkan jalannya terbuka lebar, seolah mengundangnya masuk ke dalam jaring laba-laba.
Dengan satu dorongan pelan, Aaliyah membuka pintu gudang yang berderit nyaring.
Di dalam gudang yang sangat luas dan kosong itu, sebuah lampu sorot tunggal menyala terang di tengah ruangan. Di bawah sorotan lampu itu, Kyai Abdullah duduk terikat di atas kursi roda medis. Matanya terpejam, wajahnya pucat pasi, dan sebuah mesin ventilator mobile berdesis memompa oksigen ke paru-parunya. Namun yang membuat darah Aaliyah membeku adalah rompi berbahan peledak C4 yang dipasangkan ke tubuh rentanya, dengan kabel yang terhubung langsung ke mesin ventilator.
"Ayah!" Aaliyah hendak berlari mendekat, namun suara tepuk tangan yang menggema di seluruh gudang menghentikan langkahnya.
Prok. Prok. Prok.
Dari atas tangga besi di lantai dua gudang, Sultan berjalan turun dengan santai. Wajahnya yang memiliki luka parut di telinga kiri tampak sangat puas. Di tangannya, ia memegang sebuah remote kontrol berlampu merah.
"Selamat datang di titik akhir permainan, Aaliyah Humaira," suara Sultan menggema, penuh dengan kesombongan yang menjijikkan. "Aku harus mengakui, nyalimu jauh lebih besar dari yang aku perkirakan. Kau datang sendirian ke sarang iblis untuk menyelamatkan orang tua renta ini."
"Lepaskan ayahku, Sultan," ucap Aaliyah dingin, suaranya dikeraskan agar tidak bergetar. "Dendammu adalah padaku dan Zayn. Ayahku hanya saksi kebenaran dua puluh tahun lalu. Jangan menjadi pengecut dengan menyiksa orang yang sedang koma."
Sultan tertawa keras. Tawa yang terdengar sangat gila. "Pengecut? Ayahmulah yang pengecut! Dia bisa saja diam saat melihat ayahku korupsi! Dia bisa saja menyelamatkan nyawa ibuku dari kemiskinan dengan menutup mulutnya! Tapi dia memilih menjadi 'orang suci' dan menjebloskan keluargaku ke dalam neraka!"
Sultan melangkah hingga ia berada hanya sepuluh meter dari Aaliyah. Ia menatap Aaliyah dengan jijik. "Dan di mana pahlawanmu? Si Raja Es yang sombong itu? Ah... biar kutebak. Dia sedang sekarat di meja operasi karena ledakan yang aku buat, bukan? Ironis sekali. Keluarga Al-Ghifari selalu sok menjadi pahlawan, tapi mereka selalu mati dalam usahanya."
Aaliyah mengepalkan tangannya di balik kain gamisnya.
Batin Aaliyah: Jangan terpancing emosi. Dia sedang mengulur waktu. Aku harus mengaktifkan 'sniffer' di laptopku untuk meretas sinyal remote bom di tangannya. Aku butuh jarak yang lebih dekat. Aku harus memancingnya.
"Kau tidak akan pernah menang, Aditya," panggil Aaliyah, sengaja menggunakan nama asli Sultan.
Sultan tersentak. Wajahnya mendadak merah padam mendengar nama masa kecilnya disebut. "Jangan panggil aku dengan nama itu!"
"Kenapa? Kau malu menjadi Aditya, anak dari seorang pencuri yang membakar pesantren demi uang asuransi?!" Aaliyah mengambil langkah maju, memprovokasi. "Ayah Zayn masuk ke dalam api untuk memperbaiki kesalahan ayahmu! Pria tua Ki Darma yang kau bunuh malam ini adalah saksi kekejaman ayahmu! Keluargamu tidak pernah menjadi korban, Aditya. Kalian adalah pencipta neraka kalian sendiri!"
Kemarahan Sultan meledak. Ia mengangkat remote bom itu tinggi-tinggi. "Diam kau, wanita munafik! Aku akan menghancurkanmu bersama pria tua ini berkeping-keping!"
"Kalau begitu tekan tombolnya!" tantang Aaliyah, terus melangkah maju. Tangannya di belakang punggung perlahan membuka ritsleting ranselnya, meraba tombol power laptopnya tanpa melihat. "Tekan tombolnya sekarang juga! Kenapa kau ragu? Karena kau tahu, jika kau meledakkannya sekarang, kau tidak akan pernah bisa melihat kami memohon ampun padamu! Egomu yang cacat itu menginginkan pengakuan, bukan sekadar kematian kami!"
Sultan menggertakkan giginya. Napasnya memburu. Aaliyah benar, egonya menginginkan kehancuran mental, bukan sekadar kematian instan.
Sultan tersenyum licik, sebuah ide iblis muncul di otaknya. Ia menurunkan remote itu.
"Kau benar, Aaliyah. Kematian instan terlalu mudah untuk kalian berdua," Sultan menunjuk ke arah Aaliyah. "Kau selalu bersembunyi di balik kain hitam itu, merasa suci, merasa tidak tersentuh oleh dosa. Kau merasa lebih baik dari Sabrina, bukan?"
Sultan menarik sebuah pistol dari balik jaketnya dan mengarahkannya tepat ke kepala Kyai Abdullah yang tak berdaya.
"Aku punya tawaran yang jauh lebih menarik," suara Sultan berubah menjadi bisikan sosiopat yang mengerikan. "Buka cadarmu, Aaliyah. Buka pelindung sucimu itu, dan bersujudlah di kakiku. Menangislah dan memohon ampun padaku atas dosa ayahmu. Jika kau melakukannya, aku akan melepaskan rompi bom ini dari ayahmu."
Jantung Aaliyah seakan berhenti berdetak. Angin laut yang masuk dari celah gudang terasa membekukan seluruh aliran darahnya.
Batin Aaliyah menjerit: Ya Allah... dia menyuruh hamba menanggalkan kehormatan hamba di depannya? Dia ingin merendahkan martabat hamba sebagai seorang Muslimah dan sebagai seorang wanita! Dia ingin menelanjangi harga diri yang hamba pertahankan mati-matian di tengah badai fitnah Sabrina. Jika hamba menolak, peluru itu akan menembus kepala Ayah. Jika hamba menuruti, hamba menyerahkan jiwa hamba kepada iblis ini. Ujian macam apa ini, ya Rabb?!
Aaliyah berdiri mematung di tengah gudang yang temaram. Waktu terasa berjalan sangat lambat. Moncong pistol itu menempel dingin di pelipis ayahnya. Sultan menatapnya dengan senyum kemenangan yang paling menjijikkan, menunggu runtuhnya mahkota sang Mutiara dari Timur.
moga ditengah badai dusta ketulusan hati menghancurkan fitnah keji