NovelToon NovelToon
Dua Wajah Cinta

Dua Wajah Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Poligami / Pelakor
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Lima tahun menikah, Stella merasa hidupnya sempurna bersama Abbas, suami yang penyayang. Kehadiran Annisa—yang diperkenalkan Abbas sebagai adik sepupu yatim piatu—bahkan disambut Stella dengan tangan terbuka layaknya adik kandung sendiri.
​Namun, fatamorgana itu hancur saat Stella menemukan slip reservasi hotel di saku jas Abbas. Bukan sekadar perjalanan bisnis, slip itu mencantumkan paket Honeymoon Suite untuk Mr. Abbas & Mrs. Annisa.
​Kebenaran pahit terungkap: adik sepupu yang datang ternyata adalah istri siri suaminya selama setahun terakhir. Terjebak dalam pengkhianatan di bawah atap yang sama, Stella harus memilih: bertahan demi janji suci yang telah ternoda, atau pergi demi harga diri saat Annisa mulai menuntut pengakuan sah sebagai istri kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 9

...Mobil Stella menderu masuk ke pelataran rumah sakit dengan kecepatan yang tidak biasa....

...Begitu mesin mati, ia bergegas keluar dengan langkah yang jauh lebih mantap dari kemarin....

...Amarah telah memberinya kekuatan yang tidak ia duga sebelumnya....

...Sesampainya di rumah sakit, Askhan sudah menunggunya di depan lobi VIP....

...Wajah dokter muda itu tampak sangat tegang, namun ada binar lega saat melihat sahabatnya sampai dengan selamat....

..."Ikut aku, Stella. Ada yang ingin kutunjukkan padamu," bisik Askhan serius....

...Namun, kejutan sesungguhnya menunggu di dalam ruangan konsultasi Askhan....

...Stella terpaku di ambang pintu saat melihat sosok-sosok yang sangat ia kenali....

...Askhan ternyata sudah memanggil Mama Stella dan kedua adik kembarnya, Axel dan Alexander, untuk hadir di sana....

..."Mama..." suara Stella pecah....

...Tanpa aba-aba, Stella langsung memeluk tubuh Mamanya dengan sangat erat, menumpahkan segala sesak yang ia tahan sejak semalam....

...Mama Stella mengusap punggung putrinya dengan penuh kasih, matanya berkaca-kaca....

...Sementara itu, kedua adik kembarnya berdiri dengan raut wajah yang keras....

...Ketegangan terpancar jelas dari rahang mereka yang mengatup rapat....

..."Apa yang terjadi, Kak? Kenapa Askhan bilang Kakak dalam bahaya?" tanya Alexander dengan suara berat, menuntut penjelasan....

...Stella melepaskan pelukannya, lalu duduk di antara keluarganya....

...Dengan tangan yang sedikit gemetar namun suara yang tegas, Stella menceritakan semuanya kepada mereka....

...Mulai dari kejadian pingsan yang tidak wajar, sandiwara Abbas di kamar mereka, hingga rekaman video pelayan yang memasukkan obat ke minumannya pagi tadi....

..."Aku merasa seperti orang asing di rumahku sendiri," ucap Stella lirih....

..."Sepertinya Annisa bukan sepupu Mas Abbas, tapi aku masih belum punya buktinya. Aku merasa mereka sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar perselingkuhan."...

...Axel mengepalkan tinjunya hingga buku-buku jarinya memutih....

..."Kalau benar dia bukan sepupunya, berarti ini penipuan terencana. Kita tidak bisa diam saja, Kak!"...

...Askhan kemudian melangkah maju, meletakkan sebuah map di atas meja....

..."Dan ada satu hal lagi yang harus kalian tahu. Hasil tes toksikologi terbaru menunjukkan bahwa dosis yang diberikan pada Stella bukan hanya untuk menidurkan, tapi perlahan-lahan bisa merusak fungsi saraf jika dikonsumsi dalam jangka panjang. Mereka ingin membuat Stella terlihat 'sakit jiwa' atau 'tidak cakap' di depan hukum."...

...Mendengar itu, Mama Stella menutup mulutnya karena terkejut....

...Stella menatap kedua adiknya dan Askhan secara bergantian....

..."Aku tidak akan membiarkan mereka menang. Aku akan kembali ke rumah itu, tapi kali ini, aku adalah pemburunya, bukan mangsanya."...

...Axel dan Alexander saling pandang, rahang mereka mengeras menahan amarah yang meledak-ledak....

...Sebagai adik, mereka tidak bisa menerima jika kakak perempuan satu-satunya diperlakukan sehina itu oleh pria yang dulu berjanji di depan altar untuk menjaganya....

...Si kembar menganggukkan kepalanya serempak, namun sorot mata mereka memancarkan tekad yang sama: pembalasan....

..."Ini sudah keterlaluan. Papa harus tahu ini, Kak!" tegas Axel dengan suara rendah yang mengancam....

..."Papa tidak akan membiarkan bajingan itu menginjak-injak harga diri keluarga kita, apalagi sampai meracunimu!"...

...Alexander segera merogoh ponselnya, hendak menghubungi ayah mereka yang saat ini sedang mengurus ekspansi bisnis di London. Namun, sebelum jemarinya menyentuh layar, Stella dengan cepat menahan tangan adiknya....

..."Jangan hubungi Papa," ucap Stella dengan nada memohon namun penuh ketegasan....

..."Kenapa, Kak? Papa punya kuasa untuk menghancurkan Abbas dalam semalam!" protes Alexander tidak mengerti....

...Stella menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatap tajam ke arah kedua adik kembarnya dan Mamanya....

..."Kesehatan Papa sedang tidak stabil belakangan ini. Aku tidak mau berita ini membuatnya serangan jantung di sana. Lagipula, jika Papa tahu sekarang, dia akan langsung bertindak kasar dan Abbas akan waspada. Kita akan kehilangan momentum untuk menjebak mereka saat mereka sedang merasa di atas angin."...

...Mama Stella menghela napas panjang, lalu menyentuh pundak kedua putranya....

..."Kakakmu benar. Kita harus bermain cantik. Jika Papa tahu, urusannya akan menjadi perang terbuka. Kita butuh Abbas tetap merasa bahwa Stella masih 'si istri bodoh' yang bisa dia kendalikan."...

...Stella berdiri, menghapus sisa air mata di pipinya. "Biarkan Papa fokus dengan pekerjaannya di sana. Di sini, biar aku, kalian, dan Askhan yang menyelesaikan tikus-tikus itu. Aku ingin mereka jatuh sehancur-hancurnya, bukan hanya sekadar bercerai."...

...Axel dan Alexander akhirnya terdiam, meski napas mereka masih memburu....

...Mereka tahu kecerdasan kakak mereka. Jika Stella sudah memutuskan untuk melawan dengan caranya sendiri, maka itu akan menjadi akhir yang mengerikan bagi Abbas dan Annisa....

..."Baiklah, Kak. Kami akan tutup mulut di depan Papa," ucap Axel akhirnya....

..."Tapi dengan satu syarat: kami akan mengawasi rumah itu 24 jam dari luar. Jangan bantah kami soal ini."...

...Stella menganggukkan kepalanya, menyetujui syarat dari adik-adik kembarnya....

...Keamanan dirinya memang prioritas utama sekarang, apalagi setelah tahu pelayan di rumahnya sendiri pun sudah berkhianat....

...Dengan dukungan keluarga dan Askhan, Stella merasa kekuatannya kembali penuh....

...Sementara itu, di kamar hotel mewah yang masih menyisakan aroma pengkhianatan, suasana mulai berubah sibuk....

...Abbas bersiap untuk pulang ke rumah, ia mengenakan kemeja rapinya dan merapikan jam tangan mahalnya di depan cermin....

...Annisa, yang masih berbaling malas di atas ranjang dengan selimut melilit tubuhnya, menatap Abbas dengan cemberut....

..."Mas, besok saja kita pulang. Aku masih kangen," rengek Annisa manja, tangannya terulur seolah ingin menarik Abbas kembali ke pelukannya....

...Abbas tersenyum dan mendekat, memeluk tubuh wanita itu yang tampak sedikit manja....

...Ia mengecup dahi Annisa dengan lembut namun penuh maksud....

..."Sabar, Sayang. Kita harus pulang sekarang karena Stella sedang ada di rumah mamanya," ucap Abbas dengan nada licik....

..."Ini kesempatan bagus bagi kita untuk masuk ke rumah tanpa harus berakting terlalu keras di depannya."...

...Abbas teringat laporan dari pelayan yang mengirimkan pesan kepadanya tentang Stela yang mengunjungi Mamanya....

...Bagi Abbas, ini adalah pertanda bahwa "obat" dosis tinggi semalam bekerja dengan baik—membuat Stella merasa tidak enak badan sehingga memilih mencari perlindungan ke rumah ibunya....

..."Kalau dia di rumah mamanya, berarti rumah kosong, kan? Kita bisa lebih bebas masuk dan menyimpan sisa 'persediaan' obat itu di tempat yang aman," tambah Abbas sambil terkekeh sinis....

...Annisa akhirnya luluh dan mulai bangkit untuk berpakaian....

..."Benar juga, Mas. Biarkan saja dia mengadu pada mamanya. Toh, semua orang akan mengira dia hanya sedang stres atau sakit sakitan."...

...Mereka berdua tertawa bersama, membayangkan betapa malangnya Stella yang mereka pikir sedang menangis di pelukan ibunya....

...Lampu-lampu kota mulai menyala satu per satu, berpendar di bawah langit sore yang beranjak jingga....

...Di parkiran hotel resort yang asri, Abbas tampak terburu-buru merapikan koper-kopernya ke dalam bagasi mobil....

...Pikirannya bercabang, antara gairah yang masih tersisa dan keharusan untuk mempertahankan sandiwaranya di rumah....

...Agar Stella tidak curiga, Abbas memutuskan untuk pulang terlebih dahulu....

...Ia meminta Annisa agar pulang besok menggunakan taksi, sebuah permintaan yang sempat ditolak dengan cemberut manja oleh kekasih gelapnya itu....

..."Sabar, Sayang. Hanya satu malam lagi. Kita harus main aman. Lagipula, jika pelayan melihat kita pulang bersamaan, sandiwara sepupu ini bisa terbongkar," bujuk Abbas sambil mengecup bibir Annisa sebelum melesat pergi meninggalkan hotel....

...Annisa menganggukkan kepalanya dan menuruti perkataan suaminya....

...Sementara itu, di halaman rumah sakit, jam menunjukkan pukul lima sore....

...Udara terasa sedikit dingin setelah hujan rintik-rintik reda....

...Stella berdiri di samping mobilnya, menatap Mama, Askhan, dan kedua adik kembarnya bergantian....

...Stella berpamitan dengan Mamanya dan Askhan, mencoba memasang wajah setegar mungkin meski hatinya berdegup kencang membayangkan harus kembali ke rumah yang kini terasa seperti penjara itu....

..."Aku harus segera pulang sebelum mereka sampai rumah," ucap Stella dengan nada mendesak....

..."Aku tidak mau Abbas curiga jika aku tidak ada di rumah saat dia datang. Aku harus tetap menjadi 'istri bodoh' yang menyambut suaminya."...

...Mama Stella memeluk putrinya erat-erat, air mata menggenang di sudut matanya....

..."Hati-hati, Sayang, dan jangan gegabah," bisik Mamanya dengan penuh kekhawatiran....

..."Ingat, keselamatanmu adalah yang utama. Jika terjadi sesuatu, langsung hubungi kami."...

...Stella mengangguk pelan, melepaskan pelukan Mamanya....

...Ia menatap Askhan yang memberikan tatapan penuh dukungan....

..."Aku pergi dulu, Khan. Terima kasih atas semuanya."...

...Stella masuk ke dalam mobilnya dan melesat pergi, memorinya merekam setiap detik rencana yang sudah mereka susun bersama di ruangan Askhan tadi....

...Di kaca spionnya, ia melihat mobil SUV hitam milik si kembar mengikuti kakaknya menggunakan mobilnya dari belakang, perlahan tapi pasti, menjaga jarak yang aman namun siap bertindak kapan pun dibutuhkan....

...Malam ini, di rumah mewah itu, panggung sandiwara akan kembali digelar. Namun, kali ini, sutradaranya bukan lagi Abbas, melainkan Stella—sang mangsa yang telah berubah menjadi pemburu....

...Sesampainya di rumah, ia segera mandi dan mengganti pakaiannya dengan daster rumahan yang nyaman, mencoba membuang sisa-sisa aroma rumah sakit yang masih melekat....

...Setelah itu, ia menuju ke dapur untuk memastikan keadaan....

...Di sana, ia melihat Bibi yang sudah memasak sop buntut, aroma gurihnya memenuhi ruangan, seolah-olah rumah ini adalah tempat paling damai di dunia....

...Tak lama kemudian, ia mendengar suara mobil suaminya menderu di halaman....

...Jantung Stella berdegup kencang, namun ia segera memasang topeng "istri penurut"....

...Ia bergegas menuju pintu depan dengan senyum manis yang dipaksakan....

..."Sayang..." panggil Abbas saat melangkah masuk, wajahnya tampak dibuat seolah kelelahan....

...Stella berlari memeluk tubuh suaminya dengan erat, sebuah pelukan yang kini terasa seperti memeluk duri....

..."Kamu pasti capek, Mas. Mandi dulu ya, aku sudah menyiapkan air hangat di atas," ucap Stella lembut, suaranya tidak bergetar sedikit pun....

...Abbas menganggukkan kepalanya, merasa puas karena rencananya berjalan lancar....

...Stella tampak seperti biasa, tidak ada tanda-tanda kecurigaan....

...Di kamar, Abbas melepaskan jasnya dan melemparkannya ke atas ranjang sebelum masuk ke kamar mandi....

...Begitu pintu kamar mandi tertutup dan suara kucuran air terdengar, Stella bergerak cepat....

...Stella merapikan jas milik suaminya, namun jemarinya menyentuh sesuatu di saku dalam....

...Ia menarik selembar kertas kecil dan tidak sengaja melihat slip hotel atas nama Mr. Abbas dan Mrs. Annisa — paket honeymoon....

...Stella langsung membelalakan matanya dan menutup mulutnya, menahan jeritan yang hampir lolos dari tenggorokannya....

...Nama Annisa tertulis jelas di sana sebagai istrinya....

...Dengan tangan gemetar, ia membuka tas Abbas yang tergeletak di meja kerja....

...Di antara tumpukan dokumen, ia menemukan sesuatu yang lebih mengerikan: buku nikah mereka berdua....

...Dunia Stella serasa runtuh. Mereka bukan sekadar berselingkuh, tetapi mereka telah menikah secara siri atau diam-diam....

...Ia mengambil ponselnya dan segera merekam buku nikah serta slip hotel tersebut sebagai bukti yang tak terbantahkan....

...Air mata kemarahan mengalir di pipinya, namun ia tahu ini bukan waktunya untuk menyerah....

...Setelah itu, Stella segera menghapus air matanya, menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan gemuruh di dadanya, dan kembali ke ruang makan seolah-olah ia baru saja merapikan pakaian suaminya dengan penuh cinta....

...Di meja makan, sop buntut masih mengepulkan uap panas, namun bagi Stella, kehangatan rumah ini sudah mati total....

...Kini, ia hanya menunggu saat yang tepat untuk membakar habis semua sandiwara ini....

1
PURPLEDEE ( ig: _deepurple )
Halo aku mampir kak👋
my name is pho: terima kasih kak
total 1 replies
cinta semu
beruntung Stella punya teman yg cerdas ...😎
cinta semu
smg aja Stella instingnya tajam ...
tiara
wah wah ternyata sudah setahun toh mereka menikah siri,tunggu saja kalau stella tau rasain kalian
tiara
wah ga beres Si Abbas nih, sepertinya, ga tau diri tuh orang
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!