NovelToon NovelToon
Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Tertawan Pesona Ibu Susu Bayaran

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu susu / Nikah Kontrak / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Hernn Khrnsa

Dalam satu waktu, Giana kehilangan dua hal paling berharga dalam hidupnya. Bayi yang ia nantikan sejak lama, dan suami yang memilih pergi saat ia sangat rapuh. Di tengah duka yang belum sembuh, satu-satunya penghiburnya hanyalah suara tangis bayi yang baru lahir.

Namun, takdir justru mempertemukannya dengan Cameron Rutherford, presdir kaya dan dingin yang tengah mencari ibu susu untuk keponakannya yang baru lahir. Sebuah kontrak pun disepakati. Giana mendadak jadi Ibu susu bagi keponakan sang presdir.

Awalnya, semua berjalan seperti biasa. Giana melakukan tugasnya dengan baik. Tetapi kemudian, semuanya berubah saat Cameron merasa terpesona oleh ibu susu keponakannya sendiri.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hernn Khrnsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 05

“Hari ini kita akan pulang.”

Hanya satu kata itu yang diucapkan Cameron sambil berjalan masuk ke dalam mobil. Tanpa banyak kata, Giana pun mengikuti langkahnya dan memasuki mobil.

Mobil itu melaju tanpa banyak suara, sehalus bayangan yang melintas di jalanan kota. Giana duduk di kursi penumpang dengan tangan yang saling menggenggam di atas pangkuan, seolah itu satu-satunya cara untuk menjaga dirinya tetap utuh.

Ia belum benar-benar percaya dengan keputusan yang telah ia ambil. Semuanya terasa terlalu cepat. Kemarin ia masih terbaring di ranjang rumah sakit, kehilangan segalanya. Hari ini, ia berada di dalam mobil mewah milik seorang pria asing, menuju tempat yang bahkan belum bisa ia bayangkan.

Sesekali, Giana melirik ke arah pria di sampingnya. Cameron. Sejak meninggalkan rumah sakit, pria itu hampir tidak mengatakan apa pun. Tatapannya lurus ke depan, fokus pada jalan, dengan ekspresi yang sama. Tenang, dingin, dan sulit ditebak. Seolah apa yang mereka lakukan ini hanyalah urusan biasa.

Padahal bagi Giana, ini adalah lompatan besar yang mengubah arah hidupnya. Ia menarik napas pelan, lalu mengalihkan pandangannya ke luar jendela. Pemandangan mulai berubah. Gedung-gedung biasa perlahan tergantikan oleh kawasan yang lebih tenang dan tertata.

Jalanan menjadi lebih lengang, pepohonan berdiri rapi di sepanjang sisi, dan rumah-rumah yang dilewati bukan lagi sekadar tempat tinggal, melainkan bangunan megah dengan pagar tinggi serta penjagaan ketat. Perut Giana terasa mengencang saat satu pikiran muncul tanpa bisa dicegah.

“Seberapa kaya dia?” gumamnya hampir tak terdengar.

Mobil itu akhirnya melambat ketika sebuah gerbang besar terbuka secara otomatis di hadapan mereka, seolah telah mengenali kedatangan tanpa perlu diperintah. Giana tanpa sadar menegakkan tubuhnya. Mobil masuk perlahan, melewati jalan setapak panjang yang diapit taman luas dan terawat sempurna. Sebuah air mancur berdiri di tengah halaman, memantulkan cahaya matahari sore yang mulai meredup.

Dan di sanalah rumah itu berdiri. Atau lebih tepatnya, sebuah mansion yang megah dan nyaris terasa tidak nyata.

Giana terpaku selama beberapa saat. Matanya membesar, napasnya tertahan selama beberapa detik. Bangunan itu menjulang dengan pilar-pilar tinggi, jendela besar, dan arsitektur elegan yang tampak sempurna dari setiap sudut. Ia bahkan lupa bagaimana cara berkedip.

Pikirannya mulai dipenuhi berbagai pertanyaan yang berseliweran tanpa jawaban, berapa banyak orang yang tinggal di sana, berapa harga satu benda di dalamnya, dan bagaimana mungkin ia bisa berada di tempat seperti ini.

Namun, satu pertanyaan yang paling mengganggunya adalah siapa sebenarnya Cameron Rutherford?

Mobil berhenti, tetapi Giana masih belum bergerak. Ia tetap menatap bangunan di hadapannya, mencoba mencerna kenyataan yang terasa begitu jauh dari dunianya.

“Giana.”

Suara Cameron membuyarkan lamunannya. Ia tersentak kecil dan segera menoleh, Cameron sudah membuka sabuk pengamannya dan menatapnya dengan ekspresi yang sama seperti sebelumnya.

“Ayo turun, kita sudah sampai,” katanya singkat.

Giana mengangguk cepat, sedikit gugup karena ketahuan melamun. Ia membuka pintu mobil dan melangkah keluar, meski kakinya sempat terasa goyah saat menyentuh tanah.

Udara di sana terasa berbeda, lebih sejuk, tenang, dan entah kenapa, terasa lebih asing baginya.

Beberapa orang berseragam rapi sudah berdiri di dekat pintu utama, menyambut kedatangan mereka dengan sikap profesional. Pemandangan itu membuat Giana kembali menelan ludah. Ia merasa seperti orang asing yang tersesat di dunia yang bukan miliknya.

Tanpa banyak bicara, Cameron berjalan lebih dulu dengan langkah panjang dan mantap, seolah semua ini adalah bagian dari rutinitasnya. Giana buru-buru menyusul dari belakang, berusaha menjaga jarak, seperti seseorang yang takut melangkah melewati batas yang tidak ia pahami.

Pintu besar itu terbuka, dan saat Giana melangkah masuk, ia kembali dibuat terdiam. Interior rumah itu sama megahnya dengan bagian luar. Lantai marmer mengkilap, langit-langit tinggi dengan lampu kristal yang menggantung indah, serta dekorasi yang tampak mahal di setiap sudut.

Langkah kaki mereka bergema pelan, menciptakan suasana yang terasa semakin luas dan kosong.

Namun Cameron tidak berhenti di sana. Ia terus berjalan melewati lorong panjang, lalu menaiki tangga besar menuju lantai atas.

“Ayo, akan aku tunjukkan di mana kamarmu,” ucapnya singkat tanpa menoleh.

“Baik,” sahut Giana mengangguk pelan, meski ia tahu pria itu tidak melihatnya. Ia tetap mengikuti, berusaha menyesuaikan langkah dengan ritme Cameron yang tegas dan pasti.

Mereka berhenti di sebuah lorong yang lebih tenang. Suasananya berbeda, tidak semegah sebelumnya, tetapi terasa lebih hangat.

Cameron berhenti di depan sebuah pintu dan membukanya. “Kau akan tidur di sini, dan tugas utamamu hanyalah menyusui anakku,” terangnya lugas lalu melirik arloji di pergelangan tangannya.

“Akan ada perawat yang membantumu mengurusnya nanti. Jika kau memerlukan sesuatu, kau bisa menemui Bibi Sarah, dia akan membantumu dan menjelaskan beberapa hal,” katanya tersenyum tipis seraya menunjuk kepala pelayan yang berdiri di belakangnya.

Giana mengangguk singkat pada Sarah sebagai bentuk sapaan ramah. Ia berdiri di ambang pintu, matanya perlahan mengintip ke dalam. Kamar itu begitu luas untuk ia tempati sendirian.

“Istirahatlah lebih dulu. Maaf aku harus pergi sekarang juga. Bibi Sarah, tolong urus dia,” pesannya sebelum akhirnya benar-benar pergi dari sana.

“Ayo, Nona. Biar Bibi tunjukkan beberapa hal serta jelaskan aturan yang harus dipatuhi di rumah ini,” kata Sarah, mengajak Giana untuk melakukan room tour.

Giana mengangguk, “Baik, Bibi. Tapi panggil saja aku Giana, jangan panggil Nona, aku sama seperti yang lainnya di sini,” katanya tersenyum sungkan.

“Tapi … baiklah, Giana. Ayo ke sini.”

Namun, belum sempat mereka melangkah, salah seorang perawat mendatangi Giana dengan bayi yang menangis keras.

“Sepertinya Tuan Muda Cayden haus,” kata perawat itu lalu menyerahkan sang bayi ke dalam pelukan Giana.

Layaknya seorang ibu, Giana langsung menimang Cayden dan mengajaknya ke dalam kamar untuk menyusuinya.

“Cayden haus, ya? Ayo minum susu dulu,” katanya dengan lembut dan penuh perhatian.

***

“Hati-hati di sana, Kak. Kabari aku jika kau membutuhkan sesuatu,” kata Cameron mengantar sang kakak ke bandara.

Cassandra meliriknya sekilas lalu menyahut pelan. “Sebaiknya kau jangan menghubungiku lagi, Cameo. Sesampainya di sana, aku akan sangat sibuk dan tak akan memiliki waktu.”

Cameron menunduk, merasa sesak sekaligus sedih. Ia ingin mencoba membujuk sang kakak sekali lagi untuk menemui anaknya, tetapi melihat raut wajah masam Cassandra, ia memilih memendam keinginan itu dalam diam.

“Aku tahu kau tidak membutuhkannya, tetapi ambillah ini,” katanya seraya mengulurkan sebuah black card kepada Cassandra.

Cassandra balik menatapnya tajam. “Kau pikir aku ini siapa, Cameo? Aku tidak akan menerimanya, karena aku tahu, kau pasti akan menggunakan kartu itu sebagai alat untuk melacak keberadaanku, kan?” sinisnya.

Cameron menggeleng kuat. “Tidak, kenapa kau berpikir seperti itu, Kak?”

“Sudahlah, Cameo. Hentikan omong kosong ini. Kembalilah sana dan ingat, jangan pernah memberitahukan hal ini kepada siapapun! Meskipun itu adalah ayah dan ibu,” katanya dengan nada mengancam.

Pada akhirnya, Cameron hanya bisa pasrah pada keputusan sang kakak untuk pergi jauh dari kehidupannya dan melupakan bayi yang baru saja dilahirkannya. Ia tetap berdiri di sana hingga Cassandra tak terlihat oleh pandangan matanya.

1
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Cerita yg sangat seru 👍🏻👍🏻👍🏻
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Harusnya kamu berterima kasih pada Giana 😒
@◌ᷟ⑅⃝ͩ●Marlina●⑅⃝ᷟ◌ͩ☘𝓡𝓳
Kamu yg harusnya di usir Regina 😤
༄༅⃟𝐐.𝓪𝓱𝓷𝓰𝓰𝓻𝓮𝓴_𝓶𝓪
rasain luuhh.. bela aja teruus calon mantu manjamu ituu
E Putra
bagus ceritanya
mawar hitam
tanda kutipnya ketinggalan nih
mawar hitam
gugup
mawar hitam
gumamnya
mawar hitam
km salah paham ih 🤣
mawar hitam
🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mawar hitam
Make-up artist
mawar hitam
???
mawar hitam
bener2 deh si Rengginang ini 😶
mawar hitam
terpisah kalimatnya 😐
mawar hitam
kurang titik nih
mawar hitam
cakeeep, gini dong ah, tegasss
mawar hitam
dih lebay bgt
awesome moment
giana ditolong ibu panti asuhan. dibawa ke panti. tinggal dan bekerja di panti, krn disana, giana dan cay aman dan hidup layak meski...sebatas rakyat kebanyakan. bukan sbg horang kayah dan...smua tu menyiksa cameron. krn giana pergi bawa cay dan...tdk mintol samsek. kn hp ketinggalan😉😉😉
mawar hitam
hadeuhhh provokator
mawar hitam
km yg sialan 😐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!