Nara tumbuh di keluarga yang mengajarinya satu hal sejak kecil jangan merepotkan.
Dua puluh dua tahun kemudian, Nara lulus kuliah. Bukan dengan pesta tapi dengan catatan pengeluaran ibunya sejak ia lahir, dan permintaan untuk mulai "membalas."
Nara butuh kerja. Butuh uang. Butuh keluar.
Ia datang ke Adristo Group untuk interview posisi admin. Yang tidak ia tahu ia salah masuk ruangan. Dan orang di depannya bukan HRD.
Ia Rayan Adristo. CEO. Tiga puluh tahun. Dingin, efisien, dan sedang mencari istri kontrak untuk enam bulan ke depan demi menghentikan ibunya yang terus-terusan mengatur kencan buta tanpa izin.
Still Me adalah cerita tentang perempuan yang tumbuh tanpa kehilangan dirinya. Tentang belajar bahwa mencintai seseorang tidak berarti menyerahkan diri. Dan bahwa menjadi utuh bukan tentang menemukan orang yang melengkapi tapi tentang akhirnya berani berdiri sebagai dirimu sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
STILL ME CHAPTER 31: Benturan Realita
Hari Senin memiliki cara yang brutal untuk mengingatkanmu pada posisimu di rantai makanan ekosistem dunia.
Semalam, aku tidur di atas kasur king size bernilai puluhan juta, setelah dirawat dengan standar rumah sakit VIP oleh seorang triliuner. Pagi ini, aku kembali tergencet di antara gerbong KRL rute Depok-Sudirman, menghirup aroma campuran parfum murah dan keringat ratusan pekerja komuter lainnya.
Mesin biologisku sudah kembali normal. Radang tenggorokanku hilang, demamku turun. Ingatan tentang Rayan yang tertidur di kursi kamarku hari Sabtu lalu sudah ku- zip dan kumasukkan ke dalam folder paling dalam di otakku. Kami adalah dua orang dewasa yang rasional; sebuah momen kelemahan di akhir pekan tidak lantas mengubah kontrak satu miliar kami menjadi naskah komedi romantis.
Tadi pagi sebelum berangkat, interaksi kami di area dapur berjalan sangat singkat.
"Udah sembuh. Mesinnya udah di-restart," kataku kasual saat mengambil botol air dingin dari kulkas.
Rayan, yang sudah rapi dengan setelan jas tiga potongnya dan sedang menyesap espresso, hanya menatapku sekilas dari balik cangkirnya. "Bagus. Pastikan Anda tidak tumbang lagi. Jadwal saya terlalu padat minggu ini untuk mengakomodasi urusan logistik medis."
Terdengar sangat dingin dan formal. Namun, aku cukup tahu diri untuk menyadari bahwa pria itu sudah memerintahkan asisten rumah tangga harian untuk mengisi penuh laci dapurku dengan vitamin impor dan madu manuka.
Aku tiba di PT Bina Tirta pukul delapan lewat lima belas menit.
Begitu kakiku menginjak lantai ruko berkarpet tipis ini, realita langsung menamparku tanpa ampun. Pak Hadi, manajer operasional divisi logistik kami, sedang mondar-mandir di antara kubikel dengan wajah sepucat kertas fotokopi.
"Nara! Syukurlah kamu udah masuk. Katanya Sabtu kemarin kamu sakit?" sergap Pak Hadi begitu aku baru menaruh tas di kursiku.
"Iya, Pak. Cuma demam biasa. Ada apa nih pagi-pagi udah tegang?" tanyaku, menyalakan CPU komputermu yang loading-nya memakan waktu lebih lama dari proses penuaan dini.
"Adristo Group," desis Pak Hadi, menyebut nama konglomerasi raksasa itu seperti menyebut nama malaikat pencabut nyawa. "Mereka tiba-tiba minta rekap SLA (Service Level Agreement) tiga bulan terakhir dari semua vendor tier dua. Katanya ada audit efisiensi dari pimpinan pusat. Kalau nilai kita di bawah delapan puluh persen, kontrak kita sebagai sub-vendor logistik mereka bakal diputus bulan depan!"
Aku mematung selama dua detik.
Audit efisiensi dari pimpinan pusat. Tentu saja aku tahu siapa pimpinan pusat yang dimaksud. Pria yang tadi pagi berdiri di dapurku sambil meminum espresso.
Bina Tirta hanyalah satu dari ratusan perusahaan kecil yang hidup bergantung pada remah-remah proyek distribusi Adristo Group. Bagi Rayan, memutus kontrak vendor sekelas kami mungkin semudah menggeser kursor lalu menekan delete. Tapi bagi Pak Hadi, aku, dan dua puluh karyawan di lantai ini, pemutusan kontrak itu berarti kiamat finansial.
"Data yang diminta apa aja, Pak?" tanyaku, langsung mengaktifkan mode pekerja keras.
"Semuanya, Ra! Tingkat keterlambatan pengiriman, rasio kerusakan barang, sampai serapan biaya operasional. Mereka minta datanya dikirim ke email divisi Procurement mereka maksimal jam dua siang ini. Tolong ya, Ra. Cuma kamu yang ngerti narik data mentah di sistem secepat itu."
"Oke, Pak. Saya kerjain sekarang," kataku singkat.
Pak Hadi buru-buru pergi. Aku menghela napas panjang, menatap layar monitorku yang akhirnya menyala.
Di Sayap Barat penthouse, Rayan mengendalikan perusahaan ini dengan memutar puluhan triliun rupiah. Sementara di ruko ber-AC kurang dingin ini, aku harus memeras otak, menyusun puluhan ribu sel di Excel agar perusahaanku tidak ditendang oleh perusahaannya.
Selama empat jam berikutnya, aku tidak beranjak dari kursiku. Aku bahkan tidak turun ke lantai bawah untuk membeli makan siang. Aku berkutat dengan sistem database yang sering lag, merangkum angka, membuat Pivot Table, dan membungkusnya ke dalam grafik presentasi yang memadai.
Ada beberapa data keterlambatan dari pihak vendor truk kami, dan aku harus menggunakan kreativitas analisku untuk menutupi gap tersebut agar nilai SLA Bina Tirta tetap terlihat hijau di atas kertas. Rasanya seperti sedang memoles mobil rongsok agar terlihat layak jual di mata inspektur.
Pukul 13:45, lima belas menit sebelum tenggat waktu.
"Udah beres, Pak," laporku pada Pak Hadi, mengirimkan file itu ke emailnya. "Bapak tinggal forward ke alamat email Procurement Adristo Group. Nilai SLA kita saya kunci di angka delapan puluh empat persen. Aman."
Pak Hadi nyaris bersujud syukur. "Makasih banyak, Ra! Tolong langsung print satu rangkap buat pegangan saya, ya."
Aku mengangguk. Aku menekan tombol print, lalu berjalan menuju pojok ruangan tempat mesin printer uzur itu berada.
Tentu saja, realita kelas pekerja tidak pernah semulus itu. Kertas baru keluar separuh, lampu merah di panel printer menyala berkedip-kedip, diiringi suara decitan gir yang menyedihkan. Paper jam. Macet.
Aku menghela napas, membuka cover printer, dan menarik paksa kertas yang tersangkut hingga tangan kananku penuh dengan noda serbuk toner hitam.
Di atas sana, dia punya asisten yang membelikannya kursi seharga puluhan juta. Di bawah sini, tanganku belepotan tinta karbon dari printer bekas, batinku sinis, membandingkan dua kutub kehidupanku sambil mencuci tangan di wastafel pantri yang sempit.
Pukul 14:15. Aku kembali ke kubikel sambil membawa segelas kopi saset. Perutku mulai meronta minta diisi.
Pak Hadi keluar dari ruangannya, wajahnya terlihat jauh lebih lega dari sebelumnya. Ia menepuk tangannya, menarik perhatian beberapa staf di divisi operasional.
"Teman-teman, kabar baik!" seru Pak Hadi. "Email balasan dari tim eksekutif Adristo Group baru saja masuk."
Aku mengangkat alis. Cepat sekali mereka memvalidasi data ratusan halaman itu.
"Data kita dinyatakan valid. Tapi yang lebih penting," Pak Hadi tersenyum lebar, "Adristo Group menyatakan bahwa mengingat rekam jejak pengiriman kita yang cukup stabil, audit lapangan yang rencananya mau dilakukan bulan depan, resmi ditiadakan. Kontrak kita diperpanjang otomatis untuk enam bulan ke depan!"
Beberapa staf bertepuk tangan lega. Aku hanya ikut mengangguk pelan sambil menyesap kopi sasetku.
Audit lapangan dibatalkan. Itu aneh. Adristo Group terkenal dengan birokrasinya yang tanpa ampun. Membatalkan audit lapangan hanya karena "rekam jejak stabil" bukanlah gaya perusahaan Rayan, apalagi setelah krisis sabotase minggu lalu yang seharusnya membuat mereka jauh lebih protektif terhadap vendor.
Ponsel di saku celanaku bergetar singkat.
Aku menaruh gelas kopi, menarik ponselku keluar dari saku celana bahan murahan ini. Ada satu pesan masuk dari nomor yang tidak kutuliskan namanya, hanya berupa titik (.).
Rayan: Saya sudah menerima lampiran data vendor Bina Tirta dari departemen pengadaan. Format Pivot-mu sangat mudah dikenali. Itu ciri khasmu.
Jantungku melonjak satu ketukan. Rayan turun tangan langsung melihat data level vendor kecil?
Belum sempat aku membalas, pesan kedua masuk.
Rayan: Saya mencoret jadwal audit lapangan ke kantormu. Beban kerjamu sebagai analis data di sana sudah cukup berat tanpa harus meladeni prosedur sirkus dari tim audit saya. Rayan: Turun ke lobi gedungmu. Asisten saya menitipkan makan siang di resepsionis. Jangan membuat asam lambungmu kembali berulah dan merugikan aset perusahaan.
Aku menatap layar ponsel itu selama beberapa detik. Jempolku melayang di atas keyboard virtual.
Ini bukan intervensi yang dramatis. Ia tidak datang ke mari dengan mobil mewahnya untuk unjuk gigi. Ia tidak membelikanku gedung ini. Ia menggunakan wewenang korporatnya dalam senyap, hanya untuk memastikan aku tidak kelelahan bekerja, dan memastikan aku makan siang.
Sebuah senyum tipis, sangat tipis hingga nyaris tak terlihat, terbentuk di wajahku.
Nara: Diterima, Bos. Terima kasih pembatalan auditnya. Pak Hadi nyaris jantungan dari pagi.
Rayan: Saya tidak peduli pada jantung manajermu. Makan siangmu, sekarang.
Aku mengunci layar ponselku dan bangkit dari kursi, melangkah menuju lobi bawah dengan langkah yang jauh lebih ringan daripada saat aku datang pagi tadi. Realita dunia kelas pekerjaku memang brutal dan melelahkan, tapi entah bagaimana, mengetahui ada seorang pria arogan di lantai empat puluh yang diam-diam memanipulasi birokrasi demi memberiku waktu istirahat siang... membuat kerasnya hari Senin ini terasa sangat bisa ditoleransi.