Gisel (23 tahun) adalah definisi "matahari" berjalan: ceria, blak-blakan, dan punya selera humor yang terkadang sedikit ‘nakal’. Hidupnya jungkir balik saat ia dipaksa menikah dengan Dewa, CEO dingin yang aura intimidasi-nya bisa membekukan ruangan. Dewa bukan cuma sekadar duda kaya, ia adalah pria yang menutup rapat hatinya demi mendiang istrinya dan ketiga anaknya yang super nakal.
Mampukah ocehan ceplas-ceplos Gisel mencairkan gunung es di hati Dewa? Dan bagaimana jadinya jika si gisel positive vibes ini harus menghadapi tiga anak tiri yang siap mengujinya, sementara sang suami masih bayang-bayang masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nia nuraeni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7: Keberangkatan yang "Dingin" dan Titipan Hati
Pagi harinya, suasana meja makan masih sepi. Gisel turun dengan penampilan fresh dan aroma white tea yang menenangkan. Namun, ada satu kursi yang kosong.
"Bi, Raka ke mana? Belum turun?" tanya Gisel pada salah satu ART.
Bibi menggeleng cemas. "Belum, Non. Den Raka belum pulang dari semalam."
Gisel langsung mengeluarkan ponselnya, mencoba menghubungi Raka berkali-kali. Namun, hasilnya nihil. Ponsel cowok SMA itu tidak aktif. Gisel melirik ke arah Dewa yang sedang tenang memotong roti bakarnya, seolah tidak terjadi apa-apa.
"Mas, anak kamu belum pulang semalam. Kamu nggak khawatir?" tanya Gisel, suaranya sedikit lebih serius.
Dewa hanya menatap Gisel datar dari balik kacamata bacanya. "Dia sudah besar. Paling menginap di rumah temannya. Saya ada hal yang lebih penting sekarang."
Dewa meletakkan garpunya. "Gisel, saya harus melakukan perjalanan bisnis ke Amerika selama satu minggu. Urusan mendesak. Saya titip anak-anak. Pastikan mereka sekolah dan tidak membuat masalah."
Gisel melongo. "Satu minggu? Mas, Raka lagi hilang kontak, Alya lagi masa puber, dan kamu mau pergi gitu aja?"
Gisel menoleh ke arah Alya (16 thn) yang duduk di seberang. Gadis cantik itu memakai headset besar, wajah juteknya terfokus pada layar ponsel. Ia bahkan tidak melirik saat ayahnya bicara soal pergi ke luar negeri. Selesai makan, Alya langsung berdiri dan pergi begitu saja tanpa pamit, seolah Dewa dan Gisel hanya pajangan di rumah itu.
"Tuh, Mas liat kan? Anak-anak kamu butuh kamu, bukan cuma asisten pribadi yang lapor lewat telepon," protes Gisel.
Dewa tidak menjawab. Ia berdiri, merapikan jasnya yang membungkus bahu lebarnya dengan sempurna, lalu berjalan menuju mobil jemputan yang sudah menunggu di depan.
Gisel tidak menyerah. Ia menggendong Digo (4 thn) dan menyusul Dewa ke halaman. Saat Dewa baru saja mau menutup pintu mobil dengan wajah cueknya, Gisel menahan pintu itu dengan tangannya.
"Turun dulu, Mas," perintah Gisel tegas tapi tetap dengan nada ceplas-ceplosnya.
Dewa mengerutkan dahi. "Gisel, saya sudah terlambat ke bandara."
"Turun. Sekarang. Atau aku teriak kalau Mas Dewa belum bayar 'jatah' semalam ke aku?" ancam Gisel nakal sambil mengedipkan mata.
Dewa mendesah frustrasi, tapi ia akhirnya turun dari mobil. Begitu kakinya yang panjang menapak aspal, Gisel langsung menyodorkan Digo ke pelukan Dewa.
"Pamitan yang bener sama anak bungsu kamu, Mas. Dia bukan paket JNE yang bisa ditinggal gitu aja tanpa kata-kata," ucap Gisel sambil bersedekap. "Peluk Digo, bilang kalau Papa sayang dia dan bakal pulang cepat. Bisa kan? Masa CEO hebat kalah sama urusan meluk anak?"
Dewa mematung sejenak memegang tubuh mungil Digo. Perlahan, ia mendekap anak itu. "Papa pergi sebentar ya, Digo. Baik-baik di rumah sama... Kak Gisel."
Digo tersenyum lebar dan mencium pipi Dewa. "Hati-hati Papa Ganteng!"
Setelah Digo turun, Dewa menatap Gisel. Untuk sesaat, tatapannya sedikit melunak. "Terima kasih, Gisel. Dan soal Raka... tolong cari dia."
"Tenang aja, Mas CEO. Urusan Raka biar aku yang handle. Mas fokus aja kerja, biar nanti pas pulang, aku kasih hadiah 'selamat datang' yang Mas nggak bakal bisa lupain seumur hidup," bisik Gisel sambil merapikan kerah baju Dewa, sengaja membiarkan jarinya bersentuhan dengan kulit leher Dewa yang mulus.
Dewa berdehem keras, wajahnya kembali memerah. Ia langsung masuk ke mobil tanpa menoleh lagi, tapi Gisel tahu, di balik kaca mobil yang gelap itu, Dewa sedang memperhatikan gerak-geriknya.